Langit Dan Jingga

Langit Dan Jingga
Kabar Gembira


__ADS_3

Minggu demi minggu, bulan demi bulan Langit dan Jingga lalui dengan menikmati masa kehamilan.


Jingga tetap melanjutkan kuliah, sementara Langit telah lulus strata dua dan sibuk dengan kerjaan dan juga masih meneruskan hobinya. Balap formula dengan tim singa merah.


Kehamilan Jingga saat ini sudah menjelang sembilan bulan, tapi Langit masih ada satu seri balapan terakhir.


"Yank, apa nggak pergi aja ya? Takutnya saat aku jauh, kamu mulai kontraksi" ucap Langit suatu pagi.


Jingga kekeuh bilang tak apa-apa karena tafsiran masih kurang tiga minggu lagi.


"Ntar kalau maju gimana?" Langit masih saja ragu.


"Yank tatap aku" pinta Jingga untuk meyakinkan Langit.


"Semua persiapan melahirkan sudah siap, dokter pun sudah stanby jika aku kerasa sewaktu-waktu. Agus dan Linda siap mengantar. Dan bik Inem yang nantinya akan mendampingi aku. Apalagi yang membuat kamu ragu?" tanya Jingga mantap.


"Aku ingin mendampingimu" kata Langit.


"Ya berdoa saja, semoga aku kerasa di saat kamu mendapat juara umum" kata Jingga memberi semangat agar Langit ikut berangkat.


Jingga tak mungkin membiarkan Langit melewatkan kesempatan untuk mendapatkan cita-cita masa kecilnya itu. Dan tahun ini adalah kesempatan pertama.


Langit masih diam.


"Yank" Jingga memegang tangan Langit yang berada di atas meja.


"Masih ragu?" Jingga memeluk Langit untuk tetap menyemangati sang suami.


"Kamu berangkat saat kehamilan aku masih tiga puluh delapan minggu. Yang tenang aja yank" Jingga sampai kehabisan kata.


"Mana bisa aku tenang, saat calon putraku mau lounching" ucap Langit menegaskan.


Terdengar bel pintu apartemen saat Langit dan Jingga masih berdebat tentang keberangkatan Langit.


Bik Inem tergopoh berjalan ke depan untuk melihat siapa yang datang.


"Siapa bik?" tanya Jingga yang beranjak karena lumayan lama bik Inem tak kunjung balik.


"Ini Non" seru bik Inem tanpa menjawab siapa yang datang.


Langit pun ikut penasaran, dan menyusul langkah Jingga.


"Surprise...." seru bunda, Mega, Awan dan juga Bintang.


"Waaahhhh...kedatangan kalian membuat aku tak galau lagi" seru Langit penuh semangat.


"Emang apa yang sampai membuat kamu galau kak? Kakak nggak punya uang kah?" tanya Awan ikutan penasaran.


"Issshhh anak kecil dilarang ikut-ikut" sela Mega.


"Apaan sih?" sungut Awan.


"Dad mana?" tanya Langit.


"Ntar nyusul belakangan sama uncle Dewa dan aunty Dena" kata bunda.


"Mama Catherine, papa Reno, Opa dan Oma akan berengan Dad" Mega menambahi.


"Kok semua ikut ke sini? Tumben" ulas Jingga.


"Kesini dalam rangka penyambutan anggota baru keluarga Baskoro lah" imbuh Bintang ikut menjawab.


"Lo ikutan ke sini nggak dicariin papa Reno ntar?" tanya Langit. Karena tak biasanya papa Reno tak ngebiarin Bintang pergi begitu lama.


Papa Reno tak ingin Bintang gagal dalam program spesialisasinya.


"Issshhh lo aja sudah wisuda, masa gue suruh kuliah terus. Ya enggak lah" kata Bintang.


"Gini-gini gue sekarang spesialis bedah jantung" lanjut Bintang menyombongkan diri.


"Tanda registrasi lo sudah keluar belum?" tanya Langit yang juga tahu prosedural jadi seorang dokter.


"Makanya gue bisa ke sini lama, karena masih nungguin surat registrasi itu" Bintang menimpali.


"Itu namanya lo belum bisa kerja, jadi sama aja lo pengangguran sekarang" olok Langit.


"Eh, gimana kalau lo ikut lihat seri terakhir tahun ini?" ajak Langit.


"Free ya?" seru Bintang.


"Dokter spesialis kok minta gratisan" tukas Langit tertawa.


"Ha...ha...gue masih pengangguran bos. Emang lo, CEO? Gue mah enggak" Bintang terbahak.


"Makanya lo ikutan gabung dong, biar gua nggak pusing sendirian" pinta Langit supaya Bintang gabung.


"Itu nggak ada di garis nasib gue. Yang benar tuh, aku memang jadi dokter spsialis bedah jantung" tolak Bintang.


"Kak, aku ikut ya? Aku kan juga ingin jadi saksi saat kakak pegang piala tinggi-tinggi. Ntar kufotoin yang banyak dech" rayu Awan agar diajak.


"Emang mau diadakan di mana?" tanya bunda.


Langit menyebut nama negara yang selama ini Mega kuliah di sana.


"Di sana kak?" tanya Mega.


"Oalah bun, harusnya aku tak ikutan ke sini. Ntar biar aku barengan kakak aja ke sininya" sela Mega.


"Ntar kalau Jingga melahirkan sebelum kakak Langit datang, kamu kan bisa menemaninya" bunda menyela.


"Oh benar juga tuh apa kata bunda" tukas Mega.


.


Pertengahan Minggu Langit berangkat ke Japan dengan Bintang dan juga Awan.


Langit akan bertemu dengan tim yang lain saat berada di negara tujuan.


Sampai di Japan nantinya Langit akan langsung turun lintasan untuk uji coba, hari berikutnya babak kualifikasi dan dilanjut dengan lomba inti.


Tiga hari Langit akan berada di Japan.


Bintang sengaja diajakin Langit. Bintang yang notabene jenuh dengan jadwal operasi dan operasi berasa mendapat angin segar saat diajak Langit memacu adrenalin.


Sementara Mega dan bunda siaga untuk nemanin Jingga jika sewaktu-waktu terasa kontraksi.

__ADS_1


Langit sih berharap agar Jingga kerasa saat dia sudah balik ke London.


Sengaja Langit pergi dengan waktu yang mepet. Dan akan pulang lebih cepat.


Malam hari baru sampai, pagi harinya Langit sudah dihadapkan dengan babak uji coba.


Lintasan Japan pernah Langit ikutin saat musim sebelumnya. Tapi saat itu Langit hanya dapat juara dua.


Musim ini, meski sudah bisa dipastikan bahwa Langit akan mendapat kampiun juara. Tapi Langit tetap berusaha keras agar mendapat juara lagi di Japan. Karena dengan menjadi juara di Japan, maka tak ada satupun juara satu luput dari tim singa merah.


Padahal meski tak mendapat juara satu, poin Langit tak ada satupun yang bisa mengejar.


Tim Tiger sudah tidak ada suaranya, apalagi mulai pertengahan musim.


Kegagalan demi kegagalan selalu di dapat oleh Daniel.


Langit menggeber kendaraan yang dirasa Langit semakin enteng. Bagi Langit mobil yang ditumpangi sudah dianggapnya sahabat yang musti Langit ngertiin.


Meski dalam tahap uji coba tak tercatat resmi waktu yang bisa dicapai oleh setiap pembalap saat melahap lintasan, Langit tetap saja mendapatkan waktu yang terbaik.


"Mobil ini tambah sempurna aja uncle" puji Langit.


Lama juga Langit tak bertemu dengan uncle Arga sejak balapan seri terakhir kurang lebih dua bulan yang lalu.


"Gimana kabar lo?" tanya Arga.


"Baik dan seperti biasanya siap menjalankan tugas" kata Langit terkekeh.


"Jingga apa kabar?" tumben uncle Arga menanyakan kabar Jingga.


"Jingga siap-siap" seru Langit.


"Siap-siap?" heran Arga atas jawaban Langit.


"Siap-siap melounching calon putraku" kata Langit menjawab.


"Smoga lancar dan tak ada kendala" doa Arga.


"Aamiin"


"Sekarang kamu istirahat, balik hotel sana. Bukannya semalam kamu sampai selepas tengah malam?" tanya Arga.


Langit mengangguk.


Dia pun balik hotel untuk istirahat seperti yang dibiilang Arga, untuk mempersiapkan fisik saat menghadapi babak kualifikasi besok.


Bintang dan Awan datang belakangan untuk balok ke hotel.


.


Babak kualifikasi ingin cepat dilalui Langit.


Undian saat ini sangat menguntungkan Langit, karena dia mendapat bagian yang pertama kali. Tapi tak begitu menguntungkan tim, karena tak bisa merubah posisi start jika waktu yang didapat Langit tak lebih baik daripada pembalap berikutnya.


"Yang tenang aja uncle. Aku akan berusaha mendapat hasil terbaik" janji Langit.


"Oke, aku tunggu kamu tepatin janji. Ingat, Big Bos saat ini lihat kamu di tribun vvip" beritahu Arga jikalau Arka khusus datang untuk melihat perform Langit di seri terakhir ini.


"So pasti" tulas Langit.


Langit konsen melihat aba-aba.


Tiga... Dua... Satu... Go.....


Ngeeeeenggģggg, terdengar bunyi memekakka telinga saat Langit menggeber mobil yang ditumpanginya.


Sementata Langit tengah fokus dengan babak kualifikasi, di London Jingga sedang meringis kesakitan di tempat tidur.


"Aku salah makan apa sih? Kenapa nih perut berasa mulas sekali" keluh Jingga sembari mengelus perut yang kadang mulas kadang hilanf itu.


Mega masuk menghampiri Jingga dengan membawa jus buah untuk sahabatnya itu.


"Kamu kenapa Jingga?" tanya Mega yang melihat muka Jingga lebih pucat.


"Nggak tahu kenapa, tiba-tiba perut aku berasa sakit" jawab Jingga dengan meringis.


"Jangan-jangan mau lahiran?" tebak Mega.


"Aku panggilin bunda, lo tunggu bentar" seru Mega dan meloncat ke arah kamar bunda.


"Bun... Bun... Bunda" teriak Mega di depan pintu kamar Mutia.


"Ada apa sih? Teriak mulu" tanya Mutia ke gadis bar-barnya itu.


"Jingga mau melahirkan bun" kata Mega membuat bunda kaget dan berjalan cepat ke arah kamar Jingga.


"Beneran apa yang dibilang Mega sayang?" tandas bunda.


"Enggak tahu bun, rasanya hanya mulas tak hilang-hilang" jelas Jingga akan apa yang dirasakan.


"Coba sekarang kamu ke kamar mandi, dan cek sudah ada lendir darah belum dari jalan lahir" bagaimanapun Mutia adalah lulusan akademi kebidanan meski sampai sekarang Mutia tak pernah bekerja di dunia kebidanan.


Jingga keluar kamar mandi disambut Mega.


"Gimana?" kata Mutia menandaskan.


"Lendir darahnya belum ada, tapi keluar air sedikit-sedikit" Jingga menjelaskan kondisinya ke bunda.


"Bisa jadi itu air ketuban. Ayo kita ke rumah sakit" ajak bunda.


"Kak Langit gimana bun?" sela Mega.


"Kita kabarin ntar aja kalau semuanya sudah jelas" saran bunda.


Dengan diantar Agus, ketiga wanita tadi berangkat ke rumah sakit sementara Linda nyusulin dengan membawa perlengkapan.


Hasil pemeriksaan, Jingga sudah pembukaan dan tak diijinkan pulang.


Mega menelpon Langit tapi tak berujung diangkat.


Maka Mega pun menghubungi Bintang untuk memberitahu keadaan Jingga.


"Bagaimana Langit ngangkat telpon lo, sekarang aja dia sedang fokus di lintasan" jelas Bintang.


"Kasih tahu aja kak Langit, jika Jingga sudah dibawa ke rumah sakit. Bunda pesan agar kak Langit fokus aja ke ajang lomba. Dan untuk sementara keadaan Jingga dan juga bayi baik-baik saja" jelas Mega.

__ADS_1


"Kak, kamu dengar nggak sih?" tanya Mega menegaskan karena tak mendapat sahutan dari Bintang.


"Hah, apa kamu bilang Mega? Jingga baik-baik saja?" tanya ulang Bintang, karena memang suara Mega kalah dengan suara dengungan knalpot mobil-mobil yang ikut babak kualifikasi.


Mega pun menutup panggilan karena beberapa kali Bintang tak nyambung dengan apa yang diucapkan oleh Mega.


Mega memutuskan mengirim pesan saja ke Langit langsung.


Tujuannya selesai babak kualifikasi, Langit segera membaca pesan dan segera telpon balik.


"Nggak usah keburu Mega, lagian proses persalinan bisa saja terjadi beberapa jam lagi" kata bunda yang melihat Mega mondar mandir karena ingin segera terhubung dengan kakaknya.


Belum juga tersambung, malah Dad Tian yang menghubungi Mega.


"Sayang, suruh Agus jemput ke bandara. Padahal dia sudah kuhubungin sedari tadi malah ponselnya mati" kata Dad dengan suara jengkel.


Jengkel karena tak kunjung dijemput.


"Low bat kali Dad, ini Agus juga di rumah sakit. Biar dia langsung ke sana aja" bilang Mega.


"Ngapain ke rumah sakit?" tanya Dad Tian.


"Jingga mungkin akan melahirkan" beritahu Mega.


"Mungkin akan? Yang jelas saja Mega" seru Dad.


"Akan melahirkan" ulang Mega menata kalimat.


Mega menyuruh Agus untuk pergi menjemput Dad Tian ke bandara, dan langsung ke rumah sakit saja.


.


Di paddock Langit disambut oleh semua tim, catatan waktunya lumayan baik.


Sulit juga untuk menentukan posisi start dapat yang ke berapa karena Langit mendapat kesempatan pertama.


Kali ini Arga harus menunggu semua tim untuk menyelesaikan lap lintasan pada babak kualifikasi.


"Kamu duluan aja Langit" suruh Arga seperti biasanya.


"Oh ya, tadi ponsel kamu beberapa kali bunyi" beritahu Arga.


Masih memakai baju kebesaran pembalap, Langit raih ponsel yang ada di nakas.


"Mega?" alis mata Langit saling bertaut, pikirannya langsung tertuju pada sang istri.


"Halo Mega? Jingga apa kabar?" tanya Langit harap-harap cemas.


"Jingga dan bayinya baik kak, ini masih pembukaan satu dan disuruh jalan-jalan sama dokter" jepas Mega.


"Kalau begitu kakak balik aja, tak mungkin aku melewatkannya" Langit segera melepas kostumnya dam segera berganti baju biasa.


"Uncle, Jingga mau lahiran. Gimana kalau aku balik hari ini?" pamit Langit membuat Arga bingung.


Bagaimana kelanjutan tim nya, padahal semua sudah berkumpul dan bersiap di area lomba.


"Apa tidak bisa kamu pending?" harap Arga.


"Istriku mau melahirkan, bagaimanapun aku harus ada di sampingnya uncle" imbuh Langit.


"Iya aku tahu, kamu mau jadi suami siaga kan?" tanya ulang Arga dan dijawab anggukan Langit.


"Tapi kamu harus realistis sekarang" tukas Arga.


"Apa maksud uncle?" sela Langit.


"Jarak tempuh Japan London, belum lagi kalau musti transit. Di sana sudah lengkap ada Dad, bunda dan Mega. Semua tim medis juga pasti siaga untuk mengobservasi Jingga. Padahal semua tim di sini sudah siap mendukung semua keperluan kamu menjelang perlombaan besok" ujar Arga agar mata Langit terbuka dengan realitas saat ini.


"Harusnya keadaan Jingga saat ini kamu jadikan motivasi, piala juara bisa kamu jadikan hadiah buat putra kamu yang baru lahir nantinya" saran Arga.


"Tapi, pikiran aku kacau uncle" Arga pun menyodorkan segelas air minum dan menyuruh Langit duduk untuk menenangkan diri.


Kali ini bunda menelpon, dan memberu kabar kepada Langit agar tak panik dengan keadaan Jingga.


Saat ini Jingga dalam keadaan baik.


Langit mengalihkan panggilan telpon ke video karena ingin melihat keadaan Jingga secara langsung supaya hati tenang.


Saat dilihatnya Jingga tersenyum ke arahnya membuat Langit sedikit lega.


"Emang nggak sakit? Katanya kalau melahirkan itu sakit" ucap Langit.


"Sakit sih, tapi masih hilang timbul. Doakan lancar ya yank" tukas Jingga.


"Pasti" tegas Langit.


"Aku doakan papa akan menjadi juara tahun ini, dan membuat anak kita bangga" kata Jingga tersenyum.


"Kamu nggak papa kan? Nggak aku tungguin?" perjelas Langit.


"Di sini sudah lengkap sayang, bahkan Dad juga sudah di jalan dari bandara menuju ke sini. Kamu juga gitu, semangaaattttt" Jingga memberi semangat buat sang suami.


"Oke, aku mau balik hotel. Nanti kita sambung lagi bicaranya" tandas Langit dan panggilan itu pun diakhiri Langit.


Dan sampai hotel sesuai janjinya, panggilan video Langit ke Jingga tak terputus sama sekali.


Saat Jingga meringis menahan nyeri pun Langit bisa lihat dan rasakan. Karena mulai sore tadi, perut Langit tak bisa dikondisikan. Dan musti bolak balik ke toilet.


"Nih perut kenapa sih?" keluh Langit.


Belum juga melihat Jingga kembali, Langit sudah balik ke kamar mandi.


Bintang menyusul Langit ke kamar, hendak memberi kabar jika Jingga akan melahirkan.


Bintang baru membaca pesan Mega barusan.


Sebuah kabar menggembirakan didapat Langit.


Sebuah chat grup masuk ke ponsel, saat Langit menahan rasa mulas yang kembali datang.


"Lo ini kenapa sih?" tanya Bintang karena melihat Langit meringis sambil meremas perut.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading

__ADS_1


__ADS_2