
Keesokan hari, Jingga baru diberitahu Langit jika akan langsung ke London.
"Sarapan yang banyak, abis ini kita langsung ke London" kata Langit.
"Hah?" tukas Jingga.
Masih dalam kebengongan, yang lain baru ikutan gabung bersama.
"Ngapain bengong Jingga?" tanya bunda yang ikutan duduk semeja bersama mereka.
"Itu kak Langit" bilang Jingga.
"Ini bun, kita akan langsung ke London abis ini" kata Langit.
"Biar Jingga bisa langsung kuliah, dan ngejar mata kuliah yang ketinggal" lanjut Langit.
"Tapi Jingga masih masa pemulihan loh" kata bunda mengingatkan.
"Ntar di sana skalian konsul psikolog bun, buat trauma Jingga" ulas Langit.
"Dad sudah siapin semua" sela Dad Tian yang barusan ikut duduk di depan bunda.
"Ya kan bun?" seru Dad.
"Siapin apa nih?" Langit ikutan menyela.
"Ada lah. Katanya semalam suruh nyiapin semua. Orang-orang Dad di sana sudah oke" terang Dad Tian.
Jingga menautkan alisnya.
"Sudah, nggak perlu mikirin apa-apa. Siapin aja fisik kamu untuk perjalanan panjang ke sana" ujar bunda mengelus bahu Jingga.
"Hampir dua puluh empat jam nantinya kamu nggak nginjek tanah" gurau yang lain.
.
Langit beneran mengajak Jingga ke London. Dan tetap saja Jingga akan tinggal di apartemen miliknya.
Tapi ada yang belum diketahui oleh Jingga.
Ternyata keluarga Sebastian juga telah tiba di sana, lengkap dengan Mega.
Saat membuka pintu apartemen.
"Surprise" kata semuanya.
"Loh?" Jingga dibuat bengong.
Sebelum berangkat sengaja Langit menyuruh Jingga istirahat terlebih dahulu dengan alasan perjalanan jauh.
Tapi kenyataan yang sebenarnya, Langit memberi kesempatan keluarganya agar berangkat terlebih dahulu dan menyiapkan semuanya di London.
Di tengah kebengongan Jingga, Langit berjongkok tepat di hadapan Jingga.
"Eh, ada apa nih?" Jingga terjingkat agak menjauh.
Langit sudah menyiapkan hati atas kemungkinan yang terjadi. Mau diterima ataupun ditolak.
"Jingga, sudah lama aku menyiapkan ini. Tapi ternyata malah keduluan takdir sang pencipta, hingga menunggu kamu pulih terlebih dahulu" kata Langit.
"Kakak kelamaen dech" sela Awan.
"Hussssttt, ngerusak acara aja kamu nih" cegah Mega agar sang adik nggak ngelanjutin kata-katanya.
"Itu tuh kak Jingga, kak Langit tuh mau ngucapin 'Will you marry me'. Sedari kemarin kak Langit sudah latihan kak Jingga" kata Awan melanjutkan.
Semuanya menepuk jidat. Momen yang dibangun Langit rusak sudah karena ulah Awan.
"Perasaan aku sudah terwakili oleh Awan tadi, terus jawaban kamu apa Jingga?" tanya Langit.
Jingga berasa diinterogasi oleh seluruh keluarga Sebastian yang ada di sana.
Tatapan mereka seakan mengarah lurus ke Jingga dan menuntut sebuah jawaban.
"Terima...terima...terima...terima..." seru semuanya.
Saat itu juga ada tambahan suara di belakang Jingga yang masih berdiri di pintu apartemen.
Jingga menoleh, ada Keenan dan Adnan. Bahkan ada kejutan, Firman pun juga hadir.
Mereka mengucapkan kata yang sama dengan keluarga Sebastian.
__ADS_1
Awan menghampiri Jingga, "Nih kak, kalau malu ngucapin. Tinggal pilih aja 'yes or no' " imbuh Awan.
Anak sekolah itu benar-benar merusak momen kali ini, membuat Langit sewot dibuatnya.
"Apa kak? Sudah dibantuin juga" seru Awan.
"Terima...terima....terima...." Awan kembali memprovokatori yang lain.
Lama menunggu akhirnya Jingga mengangkat tulisan 'Yes'.
"Gitu aja, lama kali jawabnya" celetukan Awan benar-benar dech. Benar-benar ngeselin.
Jingga membantu Langit bangkit dari jongkok.
"Sampai kesemutan kaki gue" celetuk Langit membuat Jingga tersipu.
Dad Tian pun maju, "Karena Jingga sudah setuju, maka besok kita siapkan kalian menikah" serunya.
Reaksi berbeda ditunjukkan Langit dan Jingga.
Jika Langit tersenyum senang, beda dengan Jingga yang terbengong. Cepat sekali, batin Jingga.
"Kenapa? Ragu?" tukas Langit.
"Cepat kali kak?" ucap Jingga.
"Asal kakak tahu...." sela Awan, tapi mulutnya keburu disumpal Mega dengan sepotong pizza.
"Besok kalian berdua bersiap" imbuh Dad Tian.
"Hari ini akan datang Opa, Oma dan keluarga uncle Reno ke sini" bunda ikutan menambahkan.
Setelah mengobrol sebentar dengan keluarga, Langit dan Jingga menyempatkan ngobrol dengan teman-teman.
"Keenan, Adnan... Tahu nggak saat Jingga sadar, yang ditanyain tuh malah kalian" cerita Langit.
"Oh ya, gue ditanyain nggak nih" sela Firman.
"Nggak ada tuh" balas Mega.
"Kalau lo, yang nanyain bukan Jingga tapi Mega" olok Langit.
"Iya kah???" tanya Firman sok tak percaya.
"Gue cerita pas lo koma, kok masih ingat aja sih? Jangan-jangan kamu hanya pura-pura koma aja Jingga?" canda Mega.
"Firman, siap-siap aja ngadepin Dad Tian" sela Langit.
"Bisa-bisa lo dibuat pias oleh Dad ku" lanjut Langit kembali.
"Issshhh apaan sih kak, nakutin aja" sanggah Mega.
"Mega, masuk" panggil Dad dari dalam.
"Tuh kan, apa gue bilang" tandas Langit terbahak.
Mega masuk sembari menghentakkan kaki. Sebel dengan Dad pastinya.
"Firman, gimana kerjaan lo?" tanya Langit.
"Wah, gue berasa diinterogasi nih" celetuk Firman.
Langit pun tertawa.
"Keenan, Adnan kapan-kapan gue butuh bantuan kalian" seru Langit.
"Apaan nih? Tumben" tanggap Keenan dan Adnan.
"Ada lah! Ntar gue kasih tahu setelah acara semua selesai" tandas Langit.
Adnan yang juga anak dari keluarga berada pun menimpali, "Yang penting hitungannya jelas kak" tukas nya.
"Lo itu memang berasa kalkukator Adnan" olok Keenan.
"Gue ini juga dalam rangka nyariin lo tambahan songong" balas Adnan.
"Ha...ha...benar-benar. Bodoh kali gue" tukas Keenan.
"Santai aja, ntar ada hitungannya dech" ucap Langit.
"Bercanda kak" kata Adnan dan Keenan bersamaan.
__ADS_1
Selama di London, Firman akan menginap di tempat Keenan. Menghemat biaya.
"Kita pamit duluan dech kak, nggak enak gangguin kalian" seru Firman.
Langit hanya bisa menepuk jidat, "Harusnya sedari tadi bro" tukas Langit.
"Besok jangan lupa kesini" pesan Langit.
Saat semua beranjak, tak ada pergerakan dari Jingga.
"Loh, sudah tidur aja dia" celetuk Firman.
"Biarin aja kak, Jingga pasti capek habis perjalanan jauh" ulas Keenan.
Setelah Keenan dan yang lain pamitan, diangkatnya Jingga masuk.
"Wah...wah...bun, anak kamu sudah berani aja angkat anak orang" ujar Dad Tian yang sedang duduk bersama dengan kedua anak nya yang lain. Awan dan Mega.
"Dad malah lebih parah" kata bunda menimpali.
"Emang apa yang dilakukan Dad, bun?" tanya Awan penasaran.
"Rahasia" kata Sebastian menimpali.
Membuat Awan manyun dan kembali fokus dengan game yang dimainkan di ponsel nya.
.
Sebastian telah menyulap apartemen Langit sedemikian rupa.
Persiapan mendadak tak menyurutkan niatnya untuk mempersiapkan acara putranya agar berlangsung lancar.
"Dad, nggak berasa anak kita sudah mau nikah aja" kata Mutia saat tengah bersiap.
"Berasa tua kita" tanggap Dad.
"Kalau aku sih nggak Dad. Aku mah tetap muda" elak Mutia. Sebastian tertawa.
"Oh ya bun, apa bunda kenal dengan cowok bernama Firman? Teman Mega kemarin?" tanya Dad.
"Kenapa? Dia anak baik Dad, dan sekarang kerja di tempat biro hukumnya Tania" seru bunda.
"Oooooo.... Kalau diamati sepertinya anak itu suka dech sama anak kita" imbuh Dad.
"Ya biarin aja lah Dad. Kita sebagai orang tua, awasin aja dulu" ucap Mutia.
"Hhmmmm..." jawab Sebastian, tapi wajahnya menunjukkan hal yang beda.
"Apa? Mau kasih ospek si Firman?" tanggap Mutia yang tau maksud gumaman Sebastian.
Jingga sudah nampak cantik dengan dirias oleh MUA terkenal di sana.
Langit sampai dibuat terpana, saat Jingga keluar dari ruangan sebelah.
"Kedip tuh mata" kata Dad Tian karena melihat Langit masih saja melihat Jingga.
"Apaan sih Dad?" Langit tersenyum simpul karena kepergok Dad.
Keluarga besar Baskoro telah berkumpul juga di sana. Dan ada juga beberapa teman kuliah Jingga.
Acara berlangsung khidmad. Langit mengucapkan ijab kabul dengan lancar.
Sekarang Langit sudah sah menjadi suami Jingga.
Jingga menangis, antara bahagia dan sedih bercampur.
Bahagia karena sudah menjadi seorang istri, sedih karena di saat berada momen bahagianya sudah tak ada ayah dan mama di sisi.
"Kita ini semua keluarga kamu sayang, jadi jangan pernah merasa sendirian lagi" ucap Oma Cathleen menghampiri Jingga.
Selesai acara, semua keluarga Baskoro berpindah ke apartemen Sebastian yang selama ini ditinggali oleh Langit.
Sementara Langit dan Jingga sekarang berada di apartemen yang selama ini Jingga lah yang tinggal di sana.
"Sepi sekarang" kata Jingga saat semua sudah keluar dan pergi ke tempat masing-masing. Jingga yang tengah membersihkan sisa-sisa make up tadi.
"Biar nggak sepi, gimana kalau kita main seru-seruan?" kata Langit absurd.
"Main apaan?" tukas Jingga.
"Sini mendekat, aku bisikin" kata Langit menimpali.
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading