
Sebelum sampai di tempat start nya, sempat dilihatnya Daniel yang mengacungkan jempolnya ke bawah. Dan siapa lagi yang dituju kalau bukan Langit.
Langit tersenyum simpul di balik kaca helmnya, dan tak memperdulikan tingkah Daniel.
"Habis race kedua ini, akan aku cari siapa kamu yang sebenarnya Daniel" janji Langit dalam hati.
"Ada dendam pribadi apa lo ke gue? Hingga begitu nekadnya lo lakuin semua" tanya Langit dalam hati.
Langit kembali diingatlan uncle Arga agar tetap fokus.
Para pembalap telah bersiap semua dengan posisi start masing-masing.
Kali ini tidak hanya Daniel yang perlu diwaspadai. Karena nomor-nomor start di depan Langit ditengarai juga termasuk tim yang biasanya juga ikut membantu Daniel untuk menyikut Langit.
Aba-aba start telah dilepas, semua pembalap telah menggeber kendaraannya dan langsung melaju kencang. Bahkan Langit langsung mengambil posisi ke enam begitu mobil mulai jalan.
Luar biasa. Tapi bagi Langit sih biasa saja.
Langit terus fokus tikungan demi tikungan dan track di depannya.
Beberapa putaran telah terlewati. Langit pun masih berada di urutan ke enam.
Pelan tapi pasti Langit menyalip dari sisi kiri saat belokan tajam di depan. Aksi yang sungguh berani. Sangat berani malah.
Pasti rival di depannya tak mengira jika Langit akan seberani itu, karena resiko salip sangatlah besar.
Tepuk tangan terdengar di ruangan di mana tim Langit berada. Tim yang digawangi oleh Arga.
Kali ini Langit masih berada di posisi lima.
Masih separo putaran yang musti ditempuh.
Pembalap di depan Langit mulai membuat ulah. Jika Langit tak pandai membawa kemudi, mungkin mobilnya sudah terguling sedari tadi.
Langit jadi gemas dibuatnya. Kali ini Langit akan memanfaatkan track lurus untuk membuat rival di depannya tak berkutik.
Dan sesuai niatnya tadi, Langit menyalip di sisi kanan sesaat sebelum belokan tajam ke kanan di depan.
Langit berhasil melewati dua sekaligus rival di depannya.
Masih dua lagi pe-er nya. Sebelum garis finis aku harus bisa melewati mereka. Tekad Langit.
Bisa berada di posisi tiga saja, Langit sudah luar biasa.
Dua musuhnya di depan akan sangat sulit terlewati. Apalagi mereka si tim. Daniel tentu tak akan rela jika podium kali ini akan menjadi milik Langit lagi.
Dan memang benar, Langit sangat sulit mencari celah. Apalagi tinggal dua putaran terakhir.
Mau nyalip lewat kanan atau kiri, mereka berdua sudah tau trik yang akan dipakai Langit untuk mendahului.
"Sialan" umpat Langit saat ini sembari fokus menyetir.
Langit masih memutar otak saat putaran terakhir agar bisa menyodok ke depan.
Baru detik terakhir, Langit seakan mendapatkan ide untuk menduhului keduanya.
Langit seolah melebarkan jarak antara keduanya, untuk membuat mereka lengah.
Keberuntungan memanglah menjadi milik Langit sekarang.
Saat jarak dirinya dengan kedua mobil di depannya agak menjauh, mobil kedua yang dikendarai oleh rekan se tim Daniel mengalami pecah ban. Dan langsung meluncur manis mengenai mobil Daniel, mobil Daniel pun meluncur manis dan oleng.
__ADS_1
Karena jarak Langit lumayan ada jarak, memberi kesempatan Langit untuk menghindari kecelakaan itu.
Dan....
Sempurna...
Langit mendapatkan podium juara untuk kedua kalinya.
Sorak sorai penuntun di tribun sangat ramai sekali.
Anggora tim yang di paddock maupun pit stop bersorak kegirangan.
Senang akan kesuksesan Langit.
Langit tak menyangka, mendapatkan kebetulan yang luar biasa hari ini.
Daniel dan rekan se tim bahkan tak mendapatkan apapun hari ini.
Sambutan dari Arga dan tim langsung didapatkan Langit saat dirinya keluar dari mobil.
Tak menyangka Langit mendapatkan hasil yang luar biasa.
Dengan kompak mereka mengangkat tubuh Langit bersamaan, dan melempar-lempar nya ke udara.
Langit tertawa lebar. Bebannya mendapatkan start ketujuh, dan berhasil mendapatkan podium tentu saja sangat membanggakan dirinya.
Daniel yang melihatnya, tersenyum mengejek.
"Aku tunggu di race berikutnya" teriak Daniel.
Dan Langit mengangkat jempol, siap menghadapi Daniel.
Podium kali memang berasa sangat luar biasa bagi Langit.
Nama Langit membahana di area sirkuit saat disebut. Langit pun naik ke atas untuk menerima tropi penghargaan.
Seperti biasa, saat jumpa pers Langit menyampaikan rasa terima kasih kepada tim pendukung. Semuanya tak terkecuali.
Kali ini Langit tak menyinggung Jingga, karena Langit tak ingin terjadi apa-apa lagi pada kekasihnya itu.
Ponsel Langit langsung saja berdering saat dirinya turun podium.
"Ya uncle" kata Langit sesudah menggeser ikon hijau di ponsel.
"Malam ini kita adakan pesta, dan tak ada penolakan lagi dari kamu" seru Arka.
"Aku akan berangkat bareng anak istri untuk nyusul kalian ke Aussie. Arga juga sudah kuberitahu" sambung Arka. Panggilan itu diputus begitu saja oleh Arka sebelum menjawab.
Memberi kesempatan kepada Langit untuk berpikir membuat akan ada penolakan Langit seperti biasa untuk menghadiri pesta. Maka saat panggilan diputus oleh uncle Arka membuat Langit sewot.
Rencananya untuk langsung balik ke Indo dan segera menemui Jingga tentunya akan terpending untuk esok hari.
.
Suasana pesta sangat meriah. Apalagi ada uncle Arka beserta Aunty Tania yang sangat heboh jika sang suami mengadakan pesta.
"Langit, betewe selamat ya. Berkat kamu, suamiku rela merogoh koceknya untuk pesta ini" seru Tania.
"Kulkas nya aunty cair dong" olok Langit untuk uncle Arka.
"Tentu saja. Pasti uncle kamu tuh sangat senang sekarang. Hingga memaksa aunty ikutan, padahal pekerjaan sedang banyak-banyaknya" keluh Tania.
__ADS_1
"Kamu itu curhat yank?" Kata Arka yang ikutan nimbrung di antara keduanya.
"Tuh, yang hatinya senang karena kemenangan kamu" bilang aunty Tania.
Arka langsung memeluk Langit, tentu saja keberhasilan Langit kali ini sungguh membanggakan buat Arka dan seluruh tim.
Suasana hingar bingar tak berhenti di situ.
Sebuah kejutan telah disiapkan untuk Langit.
Dan benar saja, kedatangan keluarga Sebastian tentu membuat Langit senang. Ada bunda, Dad dan Awan minus Mega yang tengah berada di Japan.
Langit belum melihat ada Jingga di antaranya membuat netranya mencari.
"Nyari siapa?" goda Dad.
"Jingga nggak ikutan, dia masih trauma naik mobil" sambung bunda.
Kalau bunda yang bicara, tentu saja Langit akan percaya langsung. Beda cerita kalau Dad yang lebih banyak bercandanya daripada serius saat sedang bersama anak-anak.
Sebuah pelukan kecil mendarat di pinggang Langit.
Langit tentu saja reflek langsung mengurai pelukan itu. Enak saja main peluk badan orang dari belakang. Pikir Langit.
Langit langsung menengok, dan didapatinya Jingga menatapnya dengan binar bahagia.
Langit tentu saja langsung memeluk tubuh mungil yang ada di depannya.
"Idih, tadi aja pake menolak. Sekarang langsung nyosor aja" seru Dad.
"Lo dulu juga begitu sama Mutia" tukas Tania.
"Jangan buka kartu gue dong. Wibawa gue bisa jatuh di depan anak-anak" ujar Sebastian menimpali.
Tak sedetik pun tangan Langit melepas pegangan ke Jingga.
Suasana pesta yang sangat ramai, dan dihadiri semua anggota tim tanpa terkecuali.
"Kapan kita balik London? Sudah saatnya kuliah kamu diteruskan. Terlalu lama cuti bisa buat kamu keduluan Mega lulus nya" kata Langit di tengah acara pesta.
"Nggak tahu" tukas Jingga.
Sepeninggal ayah dan mama nya dari mana lagi Jingga akan dapat biaya. Meski kuliahnya beasiswa, tapi biaya hidup di sana itu tak murah.
Jingga sangat merasa berhutang budi dengan keluarganya Langit. Apalagi biaya rumah sakit yang tak murah telah ditanggung oleh mereka
"Kenapa?" telisik Langit.
"He...he...enggak kok" jawab Jingga.
"Ada yang dipikirin? Biaya?" tebak Langit. Tapi tebakan Langit selalu benar.
Jingga diam tak menjawab.
Langit beranjak dan menghampiri Dad dan membisikkan sesuatu.
Dad langsung mengangguk setuju.
Kembali Langit duduk dekat Jingga.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1
to be continued, happy reading