Langit Dan Jingga

Langit Dan Jingga
Pole Position


__ADS_3

Langit nampak gelisah saat akan menghadapi babak kualifikasi kali ini.


Belum ada kabar sama sekali dari Dad Tian, uncle Dewa maupun uncle Arka.


Jika dihadapkan dalam situasi begini akan sulit bagi Langit untuk mendapatkan pole position.


Meski Langit akan berusaha sekuat tenaga, tapi keselamatan Jingga tetap yang utama.


Daniel bahkan menghampiri Langit, padahal jelas-jelas Langit sudah berada di paddock tempat tim nya berada.


Langit tak memperdulikan itu.


Sepeninggal Daniel, uncle Arga sebagai ketua tim menghampiri Langit.


"Ingat Langit, Jingga pasti aman. Di sana ada Sebastian, Dewa dan Arka yang pastinya tak akan membiarkan Jingga kenapa-napa" tegas uncle Arga.


"Aku tahu uncle. Tapi sampai saat ini belum ada kabar apapun?" ucap Langit menimpali. Dalam hatinya ragu, ancaman Daniel tak main-main saat ini.


Langit tak mau nyawa Jingga dibuat mainan.


Arga mendekat, tahu jika Langit saat ini dalam keraguan dan kegamangan.


"Langit, lihat uncle! Yakinlah dengan hatimu. Percayakan semua pada diri sendiri. Saat ini Dad, uncle Dewa sudah menuju titik dimana Jingga ditemukan. Jingga diindikasi ada di bawah kungkungan Kenzo. Akan lebih mudah jika hanya Kenzo yang terlibat" terang uncle Arga.


"Daniel dan teman-teman?" sela Langit.


"Mereka disinyalir ada di balik penyanderaan Jingga" imbuh Arga.


Sebuah notif pesan masuk ponsel Langit, dan di sana ada gambar Jingga dalam kondisi terikat dan mulut tersumpal kain.


Tak sempat Langit beritahu keadaan Jingga pada uncle Arga.


Karena bersamaan dengan itu, tiba saatnya giliran Langit untuk mengikuti babak kualifkasi.


"Fokus, pusatkan perhatian ke lintasan" nasehat uncle Arga.


"Kuusahakan uncle" bilang Langit.


"Semangat" seru yang lain.


Langit mengangkat kedua jempol untuk semua anggota tim.


Dan mobil Langit kini sudah berada di garis start.


Tiga...


Dua...


Satu...


Go!!!!!


Langit menginjak pedal gas dalam, mobil pun melesat bak anak panah.


Arahan dari uncle Arga selalu dia dengarkan.


Kondisi lintasan saat ini sebenarnya sangat mendukung perform Langit.


Tapi entah kenapa, beberapa kali saat berada di tikungan mobil yang dikendarai bisa selip. Untung Langit cepat mengatasi keadaan.


"Tim, kenapa tuh mobil? Bukannya persiapan sudah seratus persen?" tanya Arga ke semua tim.

__ADS_1


"Mestinya tidak ada kendala tuan Arga" kata yang lain memastikan.


"Pasti pikiran Langit yang saat ini paling berpengaruh ke performnya jika memang kondisi mobil sedang dalam kondisi terbaik" pikir Arga.


Arga selalu menyemangati Langit untuk fokus saja ke lintasan.


Tinggal putaran terakhir Langit akan mengakhiri babak kualifikasi kali ini.


Arga sampai gemes melihat Langit yang tidak berada di perform terbaiknya.


Langit meningkatkan kecepatan laju mobil saat menjelang finis.


Dan...


Mobil itu telah melewati garis finis.


Tak terlalu mengecewakan, saat ini Langit mendapatkan pole ke lima. Dan masih ada beberapa tim yang belum mendapat giliran untuk melewati babak kualifikasi.


"Sorri uncle" hanya itu yang bisa diucapkan saat dirinya turun dari mobil yang dikendarai.


Arga hanya bisa menepuk bahu Langit untuk menguatkan.


"Makasih, sudah bekerja keras" kata Arga.


Langit hanya diam, kecewa dengan dirinya sendiri itu pasti.


"Enggak papa, besok lakukan yang terbaik" kata Arga bijak. Langit mengangguk kembali.


Tak mungkin dirinya menyalahkan Langit dengan kondisi seperti ini.


Dalam tim, Arga bagai bapak dari semua anggota tim ini.


Orang yang sama, yang mengirim pesan pada Langit sebelum mengikuti babak kualifikasi tadi.


"Your're a smart boy Langit" ketiknya.


Entah apa maksudnya, Langit tak perduli.


Langit coba menghubungi uncle Dewa tapi tak tersambung.


Beralih ke nomer Dad, tidak tersambung juga.


Apa yang terjadi? Kenapa keduanya tak bisa dihubungi? Batin Langit menerka.


Langit mencoba menghubungi uncle Arka sang bos.


Demikian juga Arka, kompak tak bisa dihubungi.


"Ada apa sih dengan mereka? Sengaja ngegantung aku atau bagaimana?" keluh Langit dalam gumaman.


Kali ini Langit merasa sudah merepotkan sekali Dad dan uncle Dewa kali ini.


Karena dirinya tak bisa meninggalkan begitu saja ajang lomba kali ini.


Dan sama halnya saat ini dia dipaksa oleh rival nya untuk menyerah sebelum bertanding, dengan memanfaatkan kondisi Jingga yang berada di tangan mereka.


Ada yang tak diketahui oleh Langit, jika saat ini Jingga berada di bawah kuasa Kenzo. Padahal Kenzo memisahkan diri dari orang-orang yang membantunya mendapatkan Jingga kembali.


Arga menghampiri Langit yang duduk termenung. Belum bersiap untuk balik ke hotel.


"Masih di sini?" tanya Arga.

__ADS_1


"Eh uncle. Ni mau balik" Langit beranjak untuk berganti baju.


"Apa ada ancaman lagi?" tanya Arga.


Langit pun kembali duduk, dan menunjukkan gambar yang terakhir sebelum dia menjalani babak kualifikasi tadi.


"Nih uncle, yang terakhir aku terima" bilang Langit menunjukkan gambar yang diterimanya lima menit sebelum Langit masuk mobil.


Uncle Arga mengernyitkan alis nya, "Jingga masih di sana? Kondisi nya juga masih sama?" seru Arga.


Arga raih ponsel, dia bandingkan gambar Jingga dengan gambar yang dishare oleh Tian sehari sebelumnya. Dan dia bandingkan.


"Adakah yang aneh?" tukas Langit ketika melihat Arga serius menatap kedua ponsel.


"Bukankah ini sama dengan gambar yang kemarin?" seru Arga.


Kembali Langit mengamati apa yang dibilang oleh Arga.


"Hhmm gimana? Benar kan yang aku bilang?" tukas Arga.


Langit masih fokus mengamati, karena belum menemukan titik yang dibilang sama oleh uncle Arga.


"Lihat itu titik yang berwarna kuning, itu hanya pengambilan gambar dari sisi yang berbeda saja. Tapi waktunya sama" seru uncle Arga.


Urusan beginian, uncle Arga pastilah sangat teliti dan bisa diandalkan.


"Betul juga" Langit menyetujui argumen Arga.


Langit memukul kepalanya. Menyadari kebodohannya barusan.


"Tak ada yang perlu disesali, buktikan besok saja" saran uncle Arga.


Mereka berdua balik hotel bersamaan.


Di lobi terlihat senyum sinis Daniel ke arah Langit.


"Curang adalah bukti ketidak percayaan diri seseorang" sindir Langit.


Membuat Daniel menghentikan langkah.


"Siapa yang kamu maksud?" katanya sengit ke arah Langit.


"Siapa saja yang merasa. Apa kamu merasa?" tukas Langit.


Daniel diam. Merasa terpojok kali ini dengan ucapan Langit.


Sampai kamar, Langit baru mendapat kabar dari Dad Tian. Dan sekarang sedang proses pembebasan Jingga dari tangan Kenzo.


Langit tak membalas tapi mendoakan agar Jingga aman dalam proses pembebasannya dari tangan Kenzo.


Besok Langit harus berjuang keras untuk mendapatkan posisi pertama di garis finis.


Barusan dia mendapat kabar dari tim, jika besok Langit akan mendapatkan start urutan tujuh. Setelah semua peserta menyelesaikan babak kualifikasi hari ini.


Akan semakin berat perjuangan Langit untuk naik di podium juara.


Di grub tim yang digawangi Arga itu, semua saling menyemangati. Bahwa tak ada yang tak mungkin di dunia ini.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


to be continued, happy reading

__ADS_1


__ADS_2