Langit Dan Jingga

Langit Dan Jingga
Drama Ngidam Dimulai


__ADS_3

Langit dan Arga sama-sama menikmati suasana pesta kemenangan seri ketiga ini, sebelum ada jadwal lomba berikutnya yang menanti seluruh anggota tim.


.


Pagi sekali Langit telah bersiap untuk kembali ke London dengan naik penerbangan pertama.


Saat breakfast, Langit ikutan gabung dengan meja uncle Arga yang telah lebih dulu datang.


"Pagi uncle, sori habis ini aku duluan balik" kata Langit sekaligus pamitan.


"Cieee yang ingin keburu direpotin istri yang sedang ngidam" canda uncle Arga.


"Ha...ha...ya nggak gitu juga uncle, Jingga nggak mau makan" bilang Langit yang semakin banyak bicara.


"Ooooo, begitulah kalau istri ngidam Langit. Dad kamu aja pernah terbang dari ibukota ke Ambon hanya karena ingin papeda" cerita uncle Arga.


"Tuh saat hamil adik kamu, si Mega" lanjut uncle.


"Lha kalau aku gimana dong? Jingga inginnya karedok. Berat diongkos uncle, London Indo" jawab Langit tergelak.


"Betul...betul...balik sampai London, karedoknya sudah basi...ha...ha..." Arga ikutan tergelak.


"Kemarin utusan kamu dapat nggak?" tanya Arga penasaran.


"Dapat, dengan segala perjuangan memutari kota London yang luas. Akhirnya si Agus memaksa sebuah kedai makanan Indo untuk membuatkan karedok" cerita Langit.


"Terus komen si Jingga gimana?" lanjut Arga.


"Jingga nangis, meski rasanya tak mirip. Tapi bisa lah ngobatin rindu negara nya" kata Agus sih begitu.


"Terus hubungan ngidam sama kangen negara itu apa ya?" Arga tertawa dan Langit hanya bisa mengangkat kedua bahu nya.


"Ya dihubung-hubungin aja uncle" tukas Langit dan ikutan tertawa kembali.


"Jam berapa pesawatnya?" tanya Arga.


"Jam delapan. Habis sarapan aku langsung berangkat, dan ini juga sudah checkout" beritahu Langit.


"Oke, hati-hati. Sampai di race berikutnya" ucap uncle.


"So pasti uncle" tukas Langit mengiyakan apa kata uncle Arga.


Langit beranjak sesudah sarapan, dan kembali pamit ke uncle Arga dan juga anggota tim yang lain yang kebetulan sedang breakfast juga.


"Duluan ya" kata Langit sambil melambaikan tangan ke semuanya.


"Ttdj bro" tukas salah satu nya.


"Siap bro" balas Langit.


"Bye smua" seperti biasa Langit selalu mendahului yang lain untuk balik.


Semua anggota tim kembali ke Ε•utinitas masing-masing sebelum race berikutnya.


Mereka akan berkumpul kembali seminggu sebelum tim turun ke lintasan perlombaan.


Langit pergi ke bandara dengan diantar taxi yang sudah stanby di depan lobi hotel.


Dengan tiket firts class, Langit balik ke London.

__ADS_1


Perjalanan kurang lebih hampir sepuluh jam akan ditempuh oleh Langit.


Welcome to the 'ngidam' history. Mungkin itu kata sambutan yang pas untuk Langit jika sampai London nantinya.


Hanya Agus yang dikabarin Langit jika dirinya akan datang, dan meminta Agus lah yang menjemputnya.


Tak mungkin bagi Langit untuk meminta Jingga menjemput dengan kondisi hamil dan trauma naik mobil nya.


Meskipun trauma Jingga sudah berkurang banyak.


Sudah tidak histeris lagi jika berpapasan dengan mobil besar, truk ataupun bus. Meski genggaman tangannya masih erat terlihat untuk mengurangi rasa takut.


Jingga berusaha keras untuk itu, meski kadang Langit merasa kasihan juga jika sang istri melakukannya.


"Mas Agus, posisi di mana? Pesawat baru aja landing nih. Aku berjalan ke arah pintu keluar" beritahu Langit ke penjemputnya.


"Baik tuan muda, saya tepat berada di depan tulisan exit" jawab Agus untuk menjelaskan posisinya sekarang.


"Tadi lo bilang Jingga mau ke mana?" tanya Langit setelah bertemu Agus.


"Wah, tuan muda nih sudah ngajarin bohong loh" tukas Agus.


"Kan tujuannya baik, aku mau kasih surprise buat istri aku" terang Langit.


"Tadi aku bilang nyonya muda beli BBM tuan muda. Dan nyonya mengiyakan saja, asal pulangnya bawain nasi padang lauk rendang. Terus sambal ijonya yang banyak" jelas Agus.


"Walah, terus nyarinya di mana tuh Gus?" Langit menepuk jidat.


"Aku tahu lokasinya tuan muda, sepertinya ada dekat kedainya tuan Keenan dech" imbuh Agus.


"Oke lah, kita langsung ke sana aja" perintah Langit yang tak ingin anaknya ileran.


"Gus, ntar aku anterin ke tempat Keenan bentar. Lo lanjut ke warung makan padang yang lo maksud ya" tambah Langit.


"Berarti kita ke kedai tuan Keenan dulu?" tanya balik Agus.


Langit mengangguk.


"Tuan, sudah sampai" beritahu Agus saat kedai Keenan terlihat di samping mobil.


Langit turun dan Agus melanjutkan perjalanan setelah Langit berpesan agar tak lama-lama.


"Hai Kak... Selamat ya atas juara umum sementaranya" sambut Adnan yang ternyata juga berada di sana.


"Makasih" Langit pun ikut gabung di meja Adnan. Dan Keenan melambaikan tangan ke arah Langit karena masih sibuk dengan pengunjung yang baru datang di belakang Langit masuk tadi.


"Apa kabar yang aku suruh kapan hari?" tanya Langit.


"Info yang aku dapat pasti kak Langit sudah tahu lah" jelas Adnan.


Adnan membisikkan sesuatu ke telinga Langit.


"Iisssshhh, itu kan sudah basi Adnan. Bukannya lo sudah kasih kabar ke aku menjelang babak kualifikasi" sela Langit.


"He...he...iya sih kak. Ternyata kakak masih inget juga, padahal aku kasih tahunya saat kakak sedang konsen penuh ke kualifikasi" Adnan terkekeh.


"Tapi kakak belum tahu kan siapa mama nya si Daniel itu?" lanjut Adnan.


"Emang siapa dia?" tukas Langit penasaran.

__ADS_1


"Cucu salah satu pengusaha yang cukup punya nama di negara ini" bisik Adnan saat menyebutkan nama perusahaan yang dimaksud.


Adnan tak mau berujung dibui jika seandainya ada yang mendengar dirinya menyebut nama perusahaan itu.


"Sampai begitu takutnya lo" olok Langit.


"Kan kakak juga tahu bagaimana reputasinya" imbuh Adnan.


"Terus kak, mantan papa nya itu dulunya pernah jadi tangan kanan kakeknya Daniel sebelum dirinya balik ke Indo. Papa nya Daniel tidak tahu jika hubungan singkatnya dengan putri sang bos akan melahirkan seorang anak" Adnan masih mengatakan dengan berbisik.


"Hhhmmm rumit juga hubungan mereka" kata Langit mengomentari.


"Kira-kira papa kandung Daniel sudah tahu sekarang? Aku rasa belum? Tapi anehnya kenapa Daniel benci gue?" Langit menunjuk ke diri nya sendiri.


"Nah itu kak, aku belum bisa mengurai benang kusutnya" tambah Adnan.


Barulah Keenan ikutan gabung.


"Sukses kak Langit. Kakak emang is the best" Keenan mengangkat kedua jempolnya untuk Langit.


Langit hanya mengangkat sedikit sudut bibir nya.


"Gimana proposal lo?" tanya Langit.


"Lah, kakak ini gimana? Kan sudah dibicarakan sebelumnya. Terus proposal juga sudah dibawa kakak" timpal Keenan sambil menepuk jidat.


"Apa iya?" sela Langit.


"Suerrrrrr kak Langit" Keenan mengangkat jari telunjuk dan jari tengah menandakan huruf 'v'.


"Oke dech" Langit tersenyum simpul berhasil mengerjai si Keenan.


"Kapan rencana dimulai tuh resto? Kalau bisa sih secepatnya" kata Langit sambil meraih benda pipih yang masuk saku celananya.


"Eh, kakak ternyata masih ingat" ujar Keenan terkekeh juga.


"Lo siap, modal langsung gue turunin" kata Langit untuk memberi semangat Keenan.


Anak muda seperti Keenan harus difasilitasi agar berkembang. Dan Langit punya untuk itu, lantas apa salahnya membantu teman.


"Kak, Keenan dapat bantuan. Sekarang gantian aku dong" rengek Adnan.


"Lo itu mau dibantu apa. Kiriman ortu lo lebih dari cukup untuk foya-foya. Iya kan?" jawab Langit.


"Jangan gitu dong kak, aku kan ingin jadi pembalap seperti kakak juga. Tolong rekomin aku untuk masuk tim mu" mohon Adnan.


"Wah, kalau itu nunggu aku rekom semuanya Adnan. Mulai dari Opa, Oma dan juga orang tua lo" bilang Langit. Membuat Adnan sewot.


Kebetulan ponsel Langit berdering dan itu dari Agus sang sopir yang beli nasi padang sepertinya telah kembali.


"Tuan muda, aku tunggu di depan resto" beritahu Langit.


"Oke, wait" tukas Langit.


Langit beranjak menjauh meninggalkan dua sahabat yang satu sangat senang, sementara yang satunya tengah sewot.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading

__ADS_1


__ADS_2