
Setelah hampir enam belas jam berada di atas awan, sampailah mereka di bandara internasional negara tercinta.
"Akhirnya aku kembali menginjakkan kaki di negeri tercinta" seru Jingga kala kakinya telah berada di tangga pesawat.
Sinar mentari menyinari wajahnya.
"Lama juga tak merasakan hangatnya sinar matahari" gumam Jingga.
"Kak, aku sudah dijemput ayah sama mama. Jadi kakak bisa langsung pulang aja. Salam buat Om Tian sama bunda" bilang Jingga.
"Mega? Nggak kamu salamin" tukas Langit.
"Iya dech. Padahal saben hari juga chat, pakai salam segala. Emang Mega sudah balik ke Indo?" sambung Jingga.
"Nggak tahu, bilangnya sih dua hari lagi" ucap Langit.
Mereka berdua telibat obrolan seru saat berjalan menuju pintu keluar.
"Kakak sama siapa? Pulangnya" tanya Jingga.
"Bintang lah, nggak mungkin Dad yang jemput" ujar Langit.
Sampai di depan ternyata anggota keluarga Langit sangatlah lengkap.
Ada Dad Tian, bunda Mutia, Awan. Bahkan Oma dan Opa Baskoro pun ikutan menjemput cucu nya.
"Langit, mana calon kamu?" tanya Opa yang memang belum kenal dengan Jingga.
Langit yang tak pernah dekat sekalipun dengan seorang cewek, tiba-tiba saja akan melamar seorang gadis.
Maka dari itu Opa harus menyeleksi benar-benar.
Opa takut cewek itu akan melukai hati cucu nya itu.
"Jingga, sini nak!" panggil bunda.
Jingga mendekat dengan rasa gugup mendera. Berasa akan diinterogasi lagi oleh keluarga Langit. Apalagi ada tuan besar yang selama ini belum dikenal Jingga.
"Kita duduk di sana aja Pah" tunjuk Dad Tian ke ruang tunggu di bandara itu.
"Bener tuh, kasihan kalau suruh berdiri terus. Mereka baru sampai" tutur Oma Cathleen menyela.
Opa Baskoro mengamati Jingga dari ujung rambut sampai ujung kaki. Sampai ujung kaki balik lagi ke atas.
"Pah, Jingga tak nyaman tuh" sela Dad Tian.
"Iya...ya...sampai lupa. Nama kamu siapa nak?" tanya Opa Baskoro dengan rasa sabar.
"Jingga Ariana kek" jawab Jingga. Langit telah duduk di samping Jingga.
Ingin membantu Jingga jika Opanya membuat ulah seperti biasa.
"Kenal Langit di mana?" tanya Opa.
"Jingga ini temannya Mega Opa, jadi Langit sudah lama kenal dia. Tapi deketnya baru-baru aja" jelas Langit.
"Aku tak tanya padamu, tapi tanya Jingga" sela Opa membuat Langit manyun.
__ADS_1
"Iissshhhh Opa selalu saja begitu" ujar Langit merasa jengah.
"Ayo Jingga jawablah" sela bunda.
"Sama seperti kak Langit kek. Aku teman seangkatan Mega. Satu jurusan di hukum" jelas Jingga.
"Lantas apa kamu memang menyukai benar cucuku yang bagai kulkas itu?" telisik kakek dengan tatapan tajam ke arah Jingga.
Tak seperti berhadapan dengan Dad Tian yang selalu menunduk. Kali ini Jingga menatap laki-laki yang mengajaknya bicara itu.
"Aku sangat menghargai niat baik kak Langit kek. Aku pun juga suka padanya. Meski orang lain hanya menganggap aku tak sungguh-sungguh dan hanya memanfaatkan kak Langit. Bahkan karena kulkas nya itu membuat aku tambah suka...he...he..." terang Jingga.
"Apa tidak ada niat di balik batu?" sela Opa Baskoro.
"Walau aku dibesarkan dari keluarga biasa, tapi ayah dan mama selalu mengajarkan jika harta bukan lah segalanya. Attitude yang baik selalu menjadi dasar ajaran orang tua aku. Mohon maaf jika sekiranya keluarga kakek, mengira aku hanya memanfaatkan kak Langit. Maka mulai sekarang saya mundur" tegas Jingga dengan tatapan lurus ke arah Opa Baskoro. Tak ada keraguan di netra Jingga.
"Good, kamu lolos" terdengar suara Opa Baskoro bijak.
"Hah?" Jingga bengong. Keluarga Langit sangat suka membuat shock therapi buat Jingga.
"Ayah sama mama kamu apa sudah datang Jingga?" tanya bunda.
"Belum tahu, belum sempat aku telpon" bilang Jingga.
"Telpon aja sekarang, takutnya mereka cariin kamu loh" seru bunda melanjutkan kata.
Jingga raih ponsel yang ada dalam tas untuk menghubungi ayah nya.
Ayah memberitahu jika mereka menunggu kedatangan Mega tepat di arah pintu keluar.
"Oke Yah, aku ke sana" tandas Jingga.
Langit ijin ke semuanya untuk nganterin Jingga. Tak lupa Jingga pun pamitan ke keluarga besar Baskoro.
"Hati-hati sayang. Kirim kabar jika sudah sampai" pesan bunda.
"Makasih bun. Pasti nanti akan aku kabarin" ucap Jingga menanggapi.
Dengan diantar Langit, Jingga melangkah menuju tempat yang disebutkan ayahnya saat nelpon tadi.
"Tuh ayah" tunjuk Jingga ke arah laki-laki yang menjadi cinta pertamanya itu.
"Ayaaaaahhhh" panggil Jingga dan langsung menghambur ke pelukan ayah Pramono. Tak lupa dia peluk juga mama nya.
Langit pun dicuekin.
"Nak Langit, makasih ya sudah nemanin Jingga" kata ayah Pramono mengurai pelukan dan menghampiri Langit.
"Sama-sama Yah. Mumpung Jingga juga balik, berberapa hari lagi Langit akan sowan ke sana" beritahu Langit.
"Iya, aku tunggu nak. Kami pulang duluan ya! Tahu sendiri jarak tempuh ke kota kecil kami perlu waktu yang lumayan" kata ayah Pramono.
"Iya yah. Hati-hati. Bye Jingga" tandas Langit.
Jingga tersenyum dan melambaikan tangan ke arah Langit. Tak ada cipika cipiki di antara mereka.
Jingga berjalan dengan bergelayut manja kepada ayahnya.
__ADS_1
"Issshhhh sudah mau nikah masih manja aja" bilang mama.
"Maaf ya Mah, aku kangen sama suami mama nih" goda Jingga penuh senyum kemenangan.
Jika ada dia, ayah Pramono selalu dia dominasi.
Mama kadang ikutan cemburu karena ulah putri semata wayangnya itu.
"Yah, nanti mampir makan di warung langganan kita yang selalu ramai itu ya" pinta Jingga.
"Aku kangen banget dengan makanan lokal Yah" sambung Jingga.
"Iya nanti kita mampir. Apa sih yang enggak buat putri ayah" tukas ayah sambil menggandeng Jingga.
Mobil yang dikendarai ayah Pramono, melaju dengan kecepatan sedang.
Mama menyodorkan sebotol minuman untuk sang suami.
"Nih yah" kata mama.
"Makasih istriku yang cantik" balas ayah.
"Idih, ternyata kalian lebay juga" olok Jingga.
"Jangan salah, ini adalah efek ditinggalin anak satu-satunya" balas mama.
"Ayah sama mama berasa pacaran selama kamu tak ada" imbuh ayah.
"He...he...bener tuh Yah. Kenapa ayah sama mama nggak buatin adik aja sih buat Jingga?" tanya konyol Jingga.
"Issshhhhh kamu apaan sih? Mama sudah tua Jingga. Kamu aja yang hamil, dan kasih kami cucu" sela mama.
"Ntar kalau Jingga sudah selesai kuliah Mah" jawab Jingga.
"Masih tiga tahun lagi dong? Lama amat" imbuh ayah.
"Biar ayah sama mama puas pacarannya" tukas Jingga terbahak.
Mereka bertiga bersendau gurau. Bahkan kini mobil mereka sudah hampir tiba di gerbang masuk kota tercinta Jingga.
"Wah, nggak berasa sudah sampai sini" celetuk Jingga.
"Yap, jadi mampir cari makan nggak nih? Apa langsung pulang aja" tanya Ayah.
"Makan dulu dong" jawab Jingga tak mau begitu saja melewatkan menu makanan kesukaannya itu.
Karena terburu untuk sampai ke warung yang dituju, ayah lengah saat mereka di perempatan.
Tak sengaja ayah menerjang lampu merah di depannya.
Bersamaan dengan itu sebuah truk dengan muatan berat melaju dari arah samping.
"Ayah hati-hati!" teriak mama gugup. Sementara Jingga tertegun tanpa bisa berkata karena jarak truk dengan mobil itu tinggal beberapa centi.
Dan....brakkkkkkkk...
Mobil yang dikendarai ayah mental beberapa meter karena terdorong oleh laju truk sebelum sang sopir truk menginjak rem dalam.
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading