Langit Dan Jingga

Langit Dan Jingga
Akuisisi


__ADS_3

Jingga, Mega dan juga bunda melanjutkan jalan ke mall.


Keseruan kali ini sangatlah dirasakan Jingga.


"Jingga, jadi nggesek kartu kak Langit nggak nih?" tanya Mega saat sudah berada dalam lobi sebuah mall.


"Mega" panggil bunda.


"Biarin aja bun, pasti selama iki nggak pernah pakai kartunya. Dan dibiarin aja nangkring manis di dompet" olok Mega.


"Kok lo tau" tukas Jingga.


Mega menekan nomor Langit lewat ponsel. Tiga kali nggak terangkat juga.


"Mega, kakak kamu pasti sibuk. Sedang rapat sama Dad. Jangan digangguin ah" cegah bunda agar Mega tak menelpon keempat kalinya.


"Siap bun" jawab Mega.


Mega akhirnya hanya mengirimi pesan ke sang kakak, agar tak kaget jika ada notif m banking beberapa kali.


Itu adalah ulah sang istri.


Mega tersenyum culas, akhirnya ada kesempatan ngerjain kakak nya itu.


"Jingga ke sana yuk" ajak Mega ke tempat yang menurut khalayak itu adalah surga nya wanita.


Barang-barang branded terpajang dan serasa melambaikan tangan untuk dibeli.


Sampai capek Mega menyodorkan barang-barang limited ke Jingga, nyatanya tak ada yang diminati oleh Jingga.


Sementara bunda pergi ke etalase buku-buku yang memang di Indo belum ada.


Semakin lama Mutia semakin betah di situ. Banyak buku menarik yang ada di sana.


Sementara Mega sampai capek menemani, Jingga tak kunjung memilih mana yang ingin dibeli.


Sebuah notif balasan dari Langit sudah masuk ke ponsel Jingga.


"Mana nih notif m banking nya. Sudah dua jam loh" ketik Langit dengan emoji tertawa.


"Iissshhh, Jingga nggak bisa diajak kerjasama nih" gerutu Mega.


"Come on Jingga, mana yang kamu pilih. Capek nih tangan milihin yang cocok buat kamu" seru Mega.


"Loh, bukannya kamu yang ingin beli Mega. Aku ke sini mah niatnya cuman jalan aja" tukas Jingga membuat Mega menepuk jidat.


"Ya udah, kita susulin bunda. Kita cari buku aja" ajak Jingga.


"Hadech, kalau cuman gini ngapain juga jauh-jauh ke London" gerutu Mega yang tak sukses ngerjain Langit.


.


Langit sampai sekarang masih ngikutin rapat di kantor dengan Dad Tian dan uncle Dewa bersama seluruh jajaran direksi anak cabang Blue Sky.


Langit kagum juga melihat sang Dad yang dengan serius memimpin rapat.


Jika sebelumnya hanya sekedar mengikuti, tapi untuk saat ini Langit menyimak serius apa yang menjadi saran-saran Dad untuk perkembangan perusahaan.


Saat rapat ini, Dad juga mengumumkan secara resmi jika Langit adalah pemegang penuh perusahaan jika dirinya berhalangan hadir.


Langit kaget juga atas penunjukan dirinya.


"Dad, aku masih anak bawang" kata Langit menanggapi.


"Tapi Dad yakin kamu mampu" kata Dad dengan tegas.


Saatnya Langit presentasi atas perkembangan perusahaan multimedia yang baru sebulan belakangan ini dia pimpin.


Dalam presentasinya Langit menyebutkan, memang belum banyak perkembangan yang ada. Tapi banyak program baru yang dia susun bersama tim yang ditunjuk langsung oleh Langit. Tentunya program yang banyak menyusur semua kalangan, mulai anak-anak sampai usia tua. Mulai program game, sampai program serius.


Rapat yang kalau di Indo berlangsung sampai tengah malam itu pun diakhiri oleh Dad dengan senyum puas.


Langit menarik nafas panjang.


Capek juga ikut rapat segitu panjang.


"Enakan berada di belakang setir uncle, bisa memacu adrenalin. Dengerin Dad bicara berasa dininabobokkan" canda Langit.


"Jadikan itu hobi, dan di sini adalah tempat utama kamu" sela Dad di antara obrolan Langit dan uncle Dewa.


"Wa, besok balik penerbangan jam berapa?" tanya Dad.


"Pagi sih. Nggak tahu tuh Agus dapat tiket belum?" tukas Dewa menimpali.


"Besok balik uncle?" tanya Langit.


"Iya lah. Perusahaan pusat nggak ada yang nungguin. Dad kamu aja masih betah di sini" imbuh uncle Dewa.


Langit menelpon sang istri yang kelihatannya masih nge mall bersama bunda dan Mega.


Sekali dua kali belum terangkat.


Langit memutuskan menelpon Mega.


Tak tersambung juga.


Tring... Tring... Beberapa kali notif M banking masuk ke ponsel Langit.


"Buku?" gumam Langit.


Jadi sedari tadi ngemall cuman beli buku. Dan itu harganya juga tak seberapa. Batin Langit.


Bener-bener seperti bunda tuh karakter Jingga, tak suka hamburin uang


Dad Tian dan Langit memutuskan menyusul ketiga wanitanya, sementara uncle Dewa balik hotel.


Mau istirahat katanya buat persiapan penerbangan besok. Kata Dewa barusan sebelum balik hotel.


.


Di kediaman mewah nyonya Michelle, sedang duduk wanita berumur itu dan bergelayut manja di lengan Frans.


"Kenapa waktu itu kamu tak bilang kalau dijebak Janetra, tapi malah meninggalkan aku sendiri di sini dalam kondisi hamil?" tanya nyonya Michelle ingin mengetahui cerita yang sebenarnya.


"Karena dia mengaku hamil anakku" jawab Frans.


"Saat itu aku juga hamil Daniel" lanjut Michelle.


"Kamu tak jujur padaku" bela Frans.


"Aku mau jujur, tapi dirimu menghilang duluan" sergah Michelle.


"Aku kira keluarga Supranoto keluarga kaya, nyatanya setelah aku masuk keluarga itu tak jauh beda dengan yang lain. Parasit" cerita Fran berlanjut.


"Lantas, kenapa kamu berakhir di penjara" pinta Michelle agar Frans bicara.


Baca aja di novel 'Wanita Itu Ibu Anakku' batin Frans. Malas saja jika harus bercerita lagi.


"Itu masa lalu dan aku tak mau membahas itu. Yang penting aku sudah balik ke sini, dan berada dekat dengan kamu Michelle" ucap Frans dengan sedikit bumbu rayuan.


"Hhhmmm" Michelle mengangguk.


Dia lah yang selama ini bucin dengan Frans. Kalau Frans sih biasa saja, tak terlalu menunjukkan itu.


Andre masuk dan mendapati sang nyonya tengah mendekap lengan Frans.


"Andre, sini. Kenalin sama tuan Frans. Dia lah papa nya Daniel" kata nyonya Michelle untuk mengenalkan Andre.

__ADS_1


"Aku sudah sering mengunjunginya di penjara, seperti perintah anda waktu itu" jawab Andre dan Frans pun terkekeh.


"Anak buah yang selalu kau suruh untuk ngikutin si Langit anaknya Sebastian itu kah?"


"Apa kamu tahu?" sela nyonya Michelle.


"Lantas, apa benar kasak kusuk yang beredar saat ini. Jikalau kau terlibat penculikan dengan cewek yang sedang dekat dengan putra Sebastian?" tandas Frans.


"Tak benar itu berita" elak nyonya Michelle.


"Coba lihat aja di sos med. Andre, Daniel dan kamu sendiri ada di daftar pencarian teratas hari ini" jelas Frans.


Andre melakukan apa yang dikatakan Frans.


"Sialan, kenapa bisa kelewat sih?" gerutu Andre.


"Ada apa?" tanya Nyonya Michelle yang tak begitu paham dengan sosmed.


"Beraninya mereka mematikan karakter kita di depan publik. Awas saja kamu Langit" kata Andre menggenggam erat tangannya.


Di balik semua itu sebuah akun fanbase baru terbentuk. Sebuah akun yang menayangkan cerita di balik layar kegiatan sehari-hari tim Singa Merah.


Dalam sehari sudah puluhan ribu view dan seribuan lebih yang favoritin. Lumayan lah untuk terobosan baru.


Sementara berita-berita tentang perbuatan Daniel dan nyonya Michelle menggelandang bebas tanpa bisa terkendali.


Perbuatan jahat mereka muncul satu demi satu.


Malah banyak akun yang merepost ulang dan membenarkan semua berita itu.


Daniel datang dengan rasa marah luar biasa.


"Mom's, kenapa semua begini? Ada apa? Kenapa mom tak redam semua berita itu. Itu sangat merugikan reputasi aku mom. Apalagi aku sedang butuh sponsor untuk tim aku" kata Daniel dengan nada tinggi.


"Mana bisa aku redam Daniel, semua portal berita. Apalagi tentang olahraga, tak ada satupun yang memberitakan kebaikan kamu" tukas Mom Michelle dengan rasa marah yang sama.


Frans berdiri menengahi.


"Semua masalah hanya bisa dihadapi dengan kepala dingin" ucapan nya menyela.


"Kepala dingin kalau tak ada uang, itu sama saja" sela Daniel sengit.


Dia sudah pusing mikirin tim yang rasanya sudah mau buyar saja, ditambahi dengan mom nya yang bucin akut dengan Frans.


"Hei, katanya lo pengusaha kaya. Kasih modal agar perusahaan mama kokoh berdiri lagi" seru Daniel mendekat ke Frans.


"Tanpa kau suruh pun akan aku lakukan itu. Sebagai bukti rasa cintaku pada mom kamu" ucap Frans dengan sombongnya.


"Buktikan saja" kata Daniel hendak meninggalkan tempat itu.


"Mau ke mana?" cegah Mom.


"Ke Club. Di rumah hawanya buat malas" kata Daniel sengit.


Nyonya Michelle kembali duduk mendekati Frans.


"Sayang, benar apa kata Daniel. Kapan kau akan invetasikan saham kamu ke perusahaan. Akan aku tunggu secepatnya" seru Michelle.


"Oh ya, kendalikan semua berita yang ada dengan uang kamu dong. Lagian Daniel itu juga anak kamu loh" kata nyonya Michelle dengan santainya.


Uang dari mana. Aku ke sini karena ingin memanfaatkan kamu kembali. Nyatanya lo sudah tak punya apa-apa Michelle. Gerutu Frans dalam hati.


Semakin ke sini berita tentang Daniel semakin fak jelas, dan sebaliknya berita tentang Langit lebih banyak menguntungkan tim singa merah. Tim yang digawangi Arga.


Frans hendak pergi dari kediaman Michelle. Lama-lama di sini bosan juga. Tentunya Frans juga ingin hiburan seperti Daniel.


"Mau ke mana?" tanya Michelle saat Frans berjalan keluar.


"Hhhmmm, bosan di rumah terus" tukas Frans.


"Bosan sama aku?" ucap Michelle dengan bibir cemberut sok imut.


"Sayang, kapan kau gelontorkan uang kamu untuk perusahaan?" tanya Michelle lagi.


Frans kembali duduk. Niatnya untuk keluar dia tahan.


Sepertinya menyarankan Michelle menjual perusahaanya akan lebih baik.


Paling nggak dirinya pasti akan kecipratan juga.


Daripada repot mikirin perusahaan yang nyata-nyata sudah bangkrut.


Pasti bentar lagi, Michelle akan menghadapi tuntutan mantan karyawan yang tak dapat pesangon.


Issshhh masalah akan bertambah pelik aja. Pikir Frans saat ini.


"Yank, setelah aku melihat semuanya. Terlalu berat mengangkat perusahaan kamu untuk kembali pulih" kata Frans hati-hati agar Michelle tak marah.


Dipeluknya Michelle dengan penuh hangat, padahal aslinya berasa ingin muntah juga.


"Terus apa yang harus aku lakukan?" tanya Michelle bagai kerbau yang dicokok hidungnya. Menuruti semua apa yang dikatakan Frans.


"Jual saja" tandas Frans.


"Hah? Apa kamu bilang? Aku nggak salah dengar?" balas Michelle, kaget juga dengan usulan Frans.


"Berapapun dana yang digelontorkan tak akan mampu memulihkan perusahaan kamu" ulas Frans.


Tapi memang pada kenyataannya berat bagi investor masuk, Michelle pun sudah tahu itu.


Tapi perusahaan warisan orang tuanya itu adalah hidup matinya, apa iya harus dia jual ke orang lain.


Michelle sangat merasa bersalah akan hal itu.


"Daripada nggak dapat apa-apa, apa nggak lebih baik kamu masih dapat sisa uang dari penjualan perusahaan" kafa Frans terus saja mengompori.


Michelle terdiam, terlihat menelaah apa yang dikatakan Frans.


"Daniel???" ragu Michelle.


"Dia sudah dewasa, sudah bisa memutuskan untuk masa depannya" imbuh Frans.


"Sponsor tim nya? Aku bingung mikirin itu" tandas Michelle.


"Daniel punya tim, bukan kamu yang musti mikirin" tanggap Frans.


"Benar juga" ujar Michelle seperti mendapat jawaban soal yang selama ini dipikirkan.


"Siapa yang berani menawar perusahaan dengan harga paling tinggi, kamu hubungin besok pagi" saran Frans yang pura-pura baik.


"Hemmm, oke. Tapi malam ini kamu jangan pergi, temenin aku" rengek Michelle yang sebenarnya membuat Frans jengah juga.


.


Pagi sekali ponsel Langit berdering.


"Siapa sih yank, pagi sekali sudah ngagetin orang aja?" tanya Jingga dari balik selimut sambil memeluk sang suami.


Langit meraih ponsel yang terus saja meminta untuk dipegang.


Dengan kedua mata menyipit Langit melihat siapa yang menelpon.


Sebuah nomor tak dikenal.


"Iisshh buat malas aja" seru Langit.


"Siapa?" sela Jingga.

__ADS_1


"Nggak tahu, sudah aku silent" jawab Langit sambil memeluk Jingga kembali.


"Nomor misterius?" Jingga mendongak.


"Heemmm" Langit mengecup bibir yang tepat berada di depan muka nya itu.


"Ihhh nakal ah" ujar Jingga, dengan mempererat pelukan.


"Dingin yank" seru Jingga yang malah bersembunyi di ketiak Langit.


"Kecut nggak?"


"Enggak kok" bilang Jingga.


Aneh-aneh saja kelakuan ibu hamil.


Namanya area situ mana ada yang nggak kecut, meski pakae deodoran merek mahal sekalipun.


Kelanjar keringat paling produktif...he...he...


Getaran ponsel kembali terdengar.


Tangan Langit meraih ponsel meski netranya terpejam.


Dia matikan tuh ponsel, karena hari masih gelap menurut waktu setempat.


"Kok dimatiin? Bisa jadi penting" gumam Jingga dengan kata mulai tak jelas, sudah berada di ambang sadar dan tidur.


"Biarin aja. Ini bukan jam kerja. Kalau sangat penting pasti akan hubungin asisten aku" bilang Langit.


Saat di meja makan, Langit dan Jingga menunggu Dad dan bunda yang belum ikutan gabung.


"Tumben, bunda belum kelihatan" kata Jingga.


"Bik, hari ini masak apa?" tanya Jingga mulai akrab dengan bik Inem yang datang barengan Dad seminggu yang lalu.


"Sesuai reques Non, nasi pecel" kata bik Inem.


"Wah, bik Inem ter the best dech" puji Jingga.


"Biasa aja Non, kan tinggal rebusin sayur. Sambalnya sudah bawa dari sana" kata bik Inem jujur.


"He...he..." kata Jingga terkekeh.


Dad yang barusan gabung, menepuk bahu Langit.


"Sudah baca pesan dari Dewa pagi ini?" tanya Dad.


Langit hanya menggeleng, karena ponselnya dimatiin tadi pagi.


"Ada apa Dad?" tanya Langit.


"Dewa memberitahu jika nyonya Michelle menjual perusahaan dan menyetujui apa yang kamu tawarkan waktu itu bersama Dewa" jelas Dad.


"Iya kah?" tukas Langit.


"Makan dulu, ntar baru bicara lagi urusan kerjaan" sela bunda.


Mereka menikmati makan bersama.


"Awan kok nggak ikutan gabung?" tanya Jingga.


"Masih tidur pasti" imbuh Langit.


Dad dan bunda serta Awan yang rencana nya balik Indo hari ini terpaksa diundur karena kabar penjualan perusahaan garmen itu.


Demikian juga Dewa, merescedule jadwal penerbangannya.


Sementara Mega telah balik Japan sejak dua hari yang lalu, pasca gagal ngerjain sang kakak.


Dewa, Sebastian dan juga Langit menunggu kedatangan Michelle dan Frans di perusahaan yang saat ini dipimpin oleh Langit itu.


Hadir juga di sana tim legal dari kedua belah pihak perusahaan.


Tanpa banyak kata, Langit dan juga nyonya Michelle menandatangani dokumen yang sudah disiapkan oleh asistennya.


Dan alih kendali perusahaan garmen telah beralih ke Blue Sky sepenuhnya.


Dengan rasa berat nyonya Michelle menyalami Langit dan yang lain dan hendak meninggalkan ruangan pertemuan itu.


"Tunggu!" tiba-tiba saja Daniel muncul.


"Mom, tak akan kubiarkan mom menjualnya. Aku juga punya hak di sana" teriak Daniel.


"Tak ada Daniel, karena pewaris sah nya adalah Mom. Mom berhak melakukan apapun atas perusahaan itu, termasuk menjualnya. Dan semua sudah terjadi" jelas nyonya Michelle dengan suara lemas. Karena dari dalam lubuk hati terdalamnya, dia sendiri tak rela hati.


Daniel duduk lemas di tengah ruangan.


"Come on Daniel, hidup harus berjalan. Ada Dad di belakang kamu" kata Frans menyentuh bahu Daniel, tapi langsung ditepis oleh Daniel.


"Laki-laki pecundang" olok Daniel kepada Frans.


"Setelah tak punya apa-apa, kau kembali mendekat. Apa tendensimu menyuruh Mom menjual semua? Uang kan?" kata Daniel emosi.


"Sori tuan, sebaiknya masalah keluarga anda dibicarakan di rumah saja. Urusan di sini aku rasa sudah cukup" kata sekretaris Langit menyilahkan mereka keluar.


Langit kembali duduk, gabung dengan Dad dan juga uncle Dewa.


"Maju mundur perusahaan itu aku serahkan kepadamu Langit" suruh Dad.


"Aku lagi nih yang akhirnya tambah sibuk" seru Langit.


"Lantas nasib singa merah gimana nih? Padahal juara umum sudah jadi target aku Dad" bilang Langit.


"Kalau selama ini bisa balance, kenapa kamu ngeluh sekarang? Ngeluh tanda tak mampu Langit" sela Dewa.


"Selama mampu, ambil tuh kesempatan" imbuh Dad.


"Kamu masih muda, manfaatin energi kamu yang besar sebaik-baiknya. Ntar tua bukan uang lagi yang kamu cari, tapi uang yang akan nyari kamu" kata Dad nyemangatin putra pertamanya itu.


Bertambah lagi tanggung jawab yang musti diemban oleh Langit.


Sore hari menjelang pulang, Langit mendapat kabar jika dirinya bisa wisuda kelulusan strata dua di akhir semester ini.


Berita gembira itu Langit sampaikan saat semuanya berkumpul di meja makan.


Dan semuanya menyambut gembira dan menyampaikan selamat kepada Langit.


"Oke, Dad sama bunda akan balik ke sini saat kamu wisuda ntar" kata Dad. Bunda pun mengangguk menyetujui.


"Untuk Jingga, jangan capek-capek, vitamin nya jangan lupa. Bik Inem biar di sini bantu-bantu kalian" kata bunda.


"Dad sama bunda beneran mau balik besok?" tanya Jingga sedih.


"Iya, sudah lumayan lama loh bunda di sini. Dad juga begitu, sudah seminggu lebih" kata Dad.


"Jadi ingin balik Indo" kata Jingga tiba-tiba.


"Gimana kalau bareng sekalian?" sela Awan antusias.


"Mana boleh sayang? Kehamilan kamu itu masih rawan, belum boleh terbang. Apalagi penerbangan jarak jauh" Jingga malah dibuat manyun oleh Langit.


"Kamu juga musti sabar, ibu hamil itu moodnya luar biasa" kata Dad mengingatkan.


"Mood naik turun bagai gelombang ritme jantung ya Dad?" canda Langit.


Dad mengangguk pasti, karena lebih berpengalaman tentunya.

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


To be continued, happy reading


__ADS_2