
Langit tersenyum sinis tanpa mau menjawab.
Sikap Kenzo masih tetap sama, mencengkeram krah baju Langit.
"Jangan sok baik jika kamu tak mampu melakukan. Bahkan Jingga sudah tak mengharap kamu lagi" seru Langit.
"Cih, jangan sok tahu kamu. Jika memang Jingga tak cinta pada ku, tak mungkin sampai sekarang Jingga masih sendiri" ujar Kenzo kepedean.
"Ha...ha...ternyata kamu tak mengenal Jingga" Langit terbahak.
Sementara Kenzo memicingkan mata nya.
"Kau tak percaya?" tandas Langit.
"Jingga terlalu sakit hati akan pengkhianatan kamu, hingga dia menyamakan semua laki-laki sama macam kelakuan kamu" jelas Langit.
"Jadi jangan sok percaya diri jika Jingga masih menyukai kamu Kenzo" lanjut Langit.
Kenzo terdiam, mencoba menelaah ucapan Langit barusan.
Beberapa petugas sibuk wira wiri menyiapkan kepindahan Jingga tanpa melepas semua alat bantu yang terpasang. Karena hidup Jingga saat ini masih memerlukan support dari alat-alat itu.
Langit hanya bisa mengawasi semua kerja tim itu, tanpa bisa membantu.
Demikian juga Kenzo melakukan hal yang sama.
"Tuan Langit, semua sudah siap. Kendaraan yang membawa pasien ke heli juga tengah menuju ke sini. Paling lama butuh waktu tiga puluh menitan" seru dokter pengagum uncle Bara itu.
Langit mengangguk.
Langit coba hubungin Dad Tian, bahwa Jingga sudah siap-siap pindah.
Dad Tian dan uncle Dewa akan menyusul menggunakan heli yang berbeda, karena saat ini mereka berdua masih rapat jarak jauh dengan beberapa petinggi Blue Sky.
"Oke Dad, Langit akan dampingin Jingga" ijin Langit pamitan.
Mobil ambulan dengan alat-alat canggih disiapkan khusus untuk Jingga.
Siapa lagi kalau bukan Dad Tian yang menyiapkan semua. Beruntungnya Jingga mendapatkan calon keluarga baru yang tak kalah baiknya dengan keluarga kandungnya sendiri.
Jingga masih terdiam dengan mata rapat terpejam. Kalau dilihat seperti laiknya tidur biasa. Tenang dan damai.
Langit juga meminta uncle Bara untuk menyiapkan tim medis dalam penjemputan Jingga. Sehingga selama dalam perjalanan Jingga akan aman, karena ada tim medis yang siap siaga.
Saat Kenzo akan ikut, dengan tegas Langit menolaknya.
"Hah, kamu ini muka tembok atau gimana sih? Siapa lo?" kata Langit dengan emosi, karena sikap pemaksa Kenzo.
Beberapa anggota keamanan yang tugas di rumah sakit, ikut mengamankan Kenzo yang mengamuk karena tak bisa mengantar Jingga.
Langit dengan setia mengikuti dalam mobil dan heli yang akan membawa Jingga ke ibukota.
Bahkan selama di udara, Jingga sempat mengalami henti jantung yang membuat tim medis dengan sigap melakukan resusitasi.
Langit tak henti melafalkan doa apapun yang dia bisa, meminta untuk kesembuhan Jingga.
Tim medis menarik nafas lega, kala gelombang di monitor muncul kembali.
Langit pun demikian.
"Jingga, jangan tinggalin aku" gumam lirih Langit.
Meski kedekatan mereka terbilang baru, seakan sudah ada ikatan yang lama terjalin di antara mereka.
Di depan IGD rumah sakit Suryo Husada, kedatangan Jingga telah disambut oleh petugas emergency yang disiapkan.
Dengan cekatan mereka memindah tubuh Jingga dengan meminimalkan getaran untuk mencegah trauma lebih parah.
Bunda dan Awan telah lebih dulu di sana, menghampiri Langit yang nampak kusut dari biasanya.
Untuk kedua kalinya Langit berposisi di tempat yang sama.
Menunggui Jingga dalam kondisi pasca kecelakaan.
"Gimana Jingga kak?" tanya bunda dengan mengelus pundak putra sulungnya yang kini sudah dewasa itu. Meski begitu, bagi Mutia Langit masih menjadi sosok yang sangat perlu dukungannya kali ini.
"Masih sama bun, koma" jelas Langit.
"Doa kak, itu yang dibutuhkan Jingga saat ini. Kita tak bisa membantunya selain itu" ucap Mutia menguatkan.
__ADS_1
"Iya bun" jawab Langit.
"Setelah semua beres dan Jingga aman di ruang intensif, kamu pulang lah dulu. Istirahat" suruh bunda.
"Jingga pasti tahu nantinya, semua perhatian kamu saat ini" imbuh bunda.
"Makasih bun atas suportnya" timpal Langit.
"Oh ya Kak, keluarga Jingga yang lain? Maksud aku keluarga jauhnya?" sela Awan yang semenjak tadi diam.
"Aku belum berpikir ke sana. Yang aku tahu, ayah dan mama Jingga juga anak tunggal. Masing-masing kakek dan neneknya juga telah tiada, jadi kakak belum tahu siapa keluarga besar yang musti dihubungin" imbuh Langit.
"Sudah, jangan berpikir ke arah sana dulu. Yang penting prioritas kan kondisi Jingga ke depannya" saran Mutia.
"Langit, kamu sudah sampai?" uncle Bara menghampiri mereka bertiga.
"Baru saja uncle" beritahu Langit.
"Sudah dipindah ruang intensif?" tanya uncle.
"Iya uncle, barusan Jingga dipindah ke sana" terang Langit.
"Oke, aku akan lihat kondisi nya" ucap Bara.
"Mendingan kalian ikutan aku dech, jadi kalau kita perlu sesuatu bisa segera terkoneksi" jelas Bara.
Ketiganya mengikuti langkah Bara.
Dan kini Langit, bunda dan Awan tengah duduk di ruang tunggu depan ruang intensif. Sedangkan Bara masuk ruangan untuk melakukan kunjungan pasien.
Bara tak lagi melakukan kegiatan operasi semenjak dirinya lulus sub spesialisasi sebagai konsultan perawatan intensif.
Bara memanggil Langit.
"Duduklah" Bara mempersilahkan Langit.
"Melihat semua hasil dari pemeriksaan sebelumnya, besok akan aku jadwalkan untuk pemeriksaan otak ulang" bilang Bara.
"Kira-kira berapa lama Jingga akan sadar uncle?" tanya Langit.
"Semua tergantung Jingga sendiri. Kondisi tubuhnya aku rasa dalam keadaan stabil. Kadang ada pasien yang merasa nyaman dalam kondisi di bawah alam sadar, sehingga akan lama untuk membuatnya tersadar" jelas Bara.
"Ada" imbuh Bara.
"Sebaiknya kamu pulang aja dulu Langit. Percayakan saja Jingga dalam pengawasan kami" terang Bara.
"Boleh aku tengokin Jingga sebentar saja uncle?" bilang Langit.
"Silahkan saja. Bahkan saben hari pun bisa kamu tengokin dan tungguin dia. Pakai aja baju khusus yang disediakan" jelas Bara.
"Oke uncle, makasih banyak" Langit pun beranjak dan hendak menengok Jingga.
Bergantian dengan bunda nantinya.
.
Sudah hampir dua bulan Jingga berada dalam kondisi yang sama. Kondisi vegetatif. Bagai berada dalam kondisi hidup segan mati tak mau.
Langit juga masih wira wiri Indo London untuk segera menyelesaikan tugas akhir sekalian mengajukan cuti kuliah Jingga yang berlangsung entah sampai kapan.
Bahkan Langit juga disibukkan dengan persiapan lomba balap yang akan dilaksanakan di negara tetangga. Tentunya Langit harus sering latihan menghadap musim baru kali ini.
Keluarga Sebastian saling gantian mengunjungi Jingga.
Apalagi kalau Mega ada, dialah yang paling setia nemanin sahabatnya itu.
Seperti pagi ini, Langit tengah bersiap untuk berangkat ke luar negeri. Karena lomba akan diadakan dua hari mendatang, maka Langit meminta Mega pulang. Seperti jarak dua kilometer aja antara Indo-Japan bagi mereka.
"Mega, aku nitip Jingga. Aku pergi tiga-empat hari ke depan" bilang Langit saat mereka di meja makan.
Dad Tian yang sebelumnya kekeuh menolak Langit jika mau kembali ke arena. Nyatanya tak bisa menolak karena alasan rasional yang diutarakan Langit saat itu.
"Jaga diri, jaga kondisi" pesan Dad.
"Siap Dad. Aku juga nitip Jingga" bilang Langit.
"Tanpa kakak suruh pun, aku akan menunggu Jingga sepenuh jiwa raga" ucap Mega menimpali.
"Makasih" ucap Langit dengan sesingkat-singkatnya sampai membuat Mega sewot.
__ADS_1
Semua anggota tim sudah bersiap di bandara saat Langit tiba di sana.
"Sudah siap?" tanya uncle Arga.
Sementara uncle Arka, sang pemilik tim sengaja ikut untuk perlombaan kali ini. Sengaja memberikan dukungan khusus buat Langit.
"Sudah pamitan belum?" canda uncel Arka dengan penuh canda, coba mengurai suasana.
"Pasti dong uncle. Kemarin aku khusus datang ke rumah sakit untuk pamitan. Paling enggak sekarang ada tambahan semangat untuk menang" tandas Langit tersenyum. Meski ada rasa getir menyesak di dada.
"Oke, kita berangkat!" ajak uncle Arga.
.
Di rumah sakit, Mega tengah duduk di samping Jingga yang masih berada dalam kondisi yang sama.
"Jingga, lo tahu nggak. Hari ini kak Langit mau lomba lho. Apa kamu tak menyesal melewatkan semuanya?" seru Mega terus mengajak ngobrol sang sahabat.
"Kamu itu apa nggak bosan sih, tiduran mulu? Nggak capek apa tuh pinggang kamu?" lanjut Mega.
"Oh ya Jingga, apa kamu tahu beberapa hari yang lalu Firman nembak gue loh. Kira-kira aku harus jawab apa ke dia. Aku tunggu loh saran kamu. Maka lekaslah bangun" bilang Mega.
Meski telah bicara bahkan sudut bibir Mega sampai berbusa, nyatanya belum juga ada respon baik dari tubuh Jingga.
"Aku ke toilet dulu! Percuma nungguin orang yang sombong macam kamu Jingga" seloroh Mega hendak beranjak.
Tak sengaja terlihat gerakan jari tangan Jingga yang masih dipegang oleh Mega.
"Kamu sadar kah?" Mega merasa senang sekali.
Mega tekan tombol di samping bed, untuk memanggil petugas jaga.
"Ada apa Nona?" tanya sang petugas.
"Nona Jingga telah sadar kak. Nih tadi jari-jari tangannya bergerak" jelas Mega.
"Oke, akan kuperiksa dulu" ujar dokter yang kebetulan datang belakangan.
"Anda yakin nona?" tanya sang dokter untuk memastikan, karena hasil pemeriksaannya kali ini menunjukkan belum ada perubahan respon yang signifikan dari pasiennya itu.
Mega mengangguk karena sangat yakin.
"Kalau begitu ajakin ngobrol terus aja Nona, semoga itu bisa merangsang perkembangan ke arah yang lebih baik" jelas dokter jaga saat itu.
"Makasih dok" jawab Mega centil.
Mega melanjutkan obrolannya dengan Jingga dan kali ini dia beralih topik dengan membicarakan Firman.
"Eh, aku kan mau ke toilet. Sampai lupa" kata Mega terkekeh.
Banyak pesan di grub yang mendoakan kesembuhan Jingga, karena berita yang diunggah oleh Mega saat itu.
Sementara itu Langit tengah latihan di sirkuit yang akan dipakai besok.
Dengan semangat Langit geber tuh kendaraan sampai batas maksimal kecepatan.
Hanya dengan berhadapan aspal sirkuit, Langit bisa menghilangkan beban di dada. Kemenangan adalah bonusnya.
"Hati-hati saja, ada Jingga yang menunggumu" bilang uncle Arka.
"Siap uncle" jawab Langit dengan lugas.
"Jangan lupa setelah latihan akan ada babak kualifikasi" uncle Arga muncul tiba-tiba.
"Siap bosssss" tukas Langit tertawa meski dipaksa.
"Main safe aja Langit. Kali ini target kita bukan juara. Ingat itu" uncle Arga kembali menjelaskan misi kompetisi tahun ini. Tim ini hanya ingin menunjukkan tetap survive di tengah gempuran yang dihadaapi sang pembalap utama pasca kecelakaan nya di London.
Saat mobil yang dikemudikan Langit berada di posisi start, tepuk tangan penonton di tribun sangat meriah sekali menyambutnya. Menyambut pembalap yang sempat absen beberapa kali dalam satu musim kemarin.
Langit bersiap untuk mengikuti babak kualifikasi ini dengan bersikap nothing to lose. Berusaha melupakan sejenak apa yang dirasakan selama dua bulan terakhir.
Satu...dua...tiga....bendera starting telah diangkat. Mobil Langit melesat bak meteor, melewati mulus alur lintasan dengan sangat lancar.
Semua sampai menahan nafas saking cepatnya.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading
__ADS_1