
Jingga yang kali ini sedang tertawa karena kelucuan Mega, pun segera menghentikan tawa kala melihat ada yang mendekati meja mereka berdua.
Jingga melihat ke arah kedua orang yang baru datang itu.
"Bisa-bisanya kamu ketawa-tawa di sini. Padahal putraku sedang berusaha untuk menjelaskan semuanya padamu" kata orang yang baru datang.
"Siapa?" tanya Mega yang memang tidak tahu siapa yang datang kali ini.
"Kita orang tua nya Kenzo. Kenapa?" kata sepasang orang tua tadi.
"Oooooo..." ucap Mega sembari membungkam mulutnya.
Bagaimana bisa orang tua nya juga setipe dengan anaknya. Batin Mega.
"Jingga, kapan ada waktu. Om ingin bicara dengan kamu dan Kenzo" kata Om Wawan.
"Untuk apa Om? Bukannya semua sudah jelas. Dan apa Kenzo tidak cerita ke Om tentang masalah kita" Jingga sudah capek membahas hal yang sama dalam beberapa hari ini.
"Kenzo bilang kamu minta putus secara sepihak" terang Om Wawan.
Jingga pun mendongak menatap kedua orang tua itu.
"Apa dia tak bilang alasan aku minta putus Om?" sahut Jingga. Dan dijawab oleh Om Wawan, jika Jingga memutuskan Kenzo secara sepihak.
"Ini" Jingga menunjukkan video yang sengaja direkam Firman dan teman-teman saat di kantin kampus.
"Ini alasan kenapa aku merelakan Kenzo. Ada anak tak berdosa yang musti dia tanggung jawab" bilang Jingga.
"Apa yang kamu bilang benar?" sela mama Kenzo.
"Untuk apa aku bohong" sergah Jingga.
"Kita temuin wanita itu pah. Kita suruh aja gugurin, biarkan Kenzo tetap dengan Jingga" kata mama Kenzo.
"Sebaiknya begitu dan kita masih bisa meneruskan rencana kita untuk besanan dengan Pramono" tukas papa Kenzo menyetujui ucapan sang istri.
"Tapi aku yang nggak mau Om. Maaf" tegas Jingga menyahut.
"Mega, kita sudah selesai kan? Ayo kita pergi" ajak Jingga yang sengaja ingin menghindar dari mereka berdua. Mega pun ikutan beranjak.
"Meski kamu menolak Jingga, aku akan tetap meminta ayah kamu untuk menyetujui nya" seru laki-laki setengah baya itu mengeraskan nada suara nya.
"Anak sama bapak kok sama saja, suka maksa. Gitu kok kamu bisa tahan hampir tiga tahun sama dia" ledek Mega tetap mengikuti langkah Jingga yang terburu.
"Sudah berbuat tak mau tanggung jawab, gitu dibilang laki" seru Mega.
__ADS_1
"Sudah menanam benih, rugi dong jika tak dipanen" ucap Mega lagi.
"Kamu ini kenapa sih, ngedumel bagai ratu tawon. Di sini aku loh yang jadi obyek penderita" tukas Jingga.
"Abisnya, aku tuh gemes sama kamu. Bisa-bisanya bertahan dengan laki macam dia. Tiga tahun lagi" gerutu Mega.
"Sudahlah jangan dibahas lagi. Untuk apa disesali , lagian sudah berlalu juga" terang Jingga.
"Sekarang kita mau ke mana? Katanya hang out?" seru Jingga.
"Nonton aja yuk" ajak Mega.
"Males ah, kemarin kan udah nonton Mega" tolak Jingga.
"Perawatan aja gimana? Di klinik kecantikan langganan bunda" seru Mega.
"Mahal ya? Uang saku aku sebulan bisa langsung ludes dong. Abis itu kamu suruh aku puasa" ucap Jingga menanggapi.
"Ha...ha...terus kita mau ngapain?" Mega malah tertawa.
"Kita ke gamezone aja yuk. Mainan aja di sana" seru Jingga.
Kedua cewek cantik itupun pergi sesuai apa yang dibilang Jingga tadi. Seru-seruan di sana bersama anak-anak kecil.
Ponsel Mega berdering.
"Biasa lah Dad Tian. Siapa lagi!" tandas Mega.
"Ha...ha...makanya cari pacar dong" olok Jingga.
"Mendingan jomblo, daripada diajak tunangan tapi dikhianatin. Nyeseknya tuh di sini" kata Mega menunjuk mata.
"Kok di mata sih?" seru Jingga.
"Kalau nggak di mata di mana lagi? Nyatanya mata lo sudah seperti kran air tadi" bilang Mega.
"Issshhhhh" sungut Jingga.
Kembali ponsel Mega bunyi lagi karena tadi belum terangkat.
"Halo Dad sayang. Nelponin mulu mau nambah uang saku kah buat ku?" sapa Mega kala panggilan tersambung.
"Cepetan balik. Ditungguin bunda tuh" kata Sebastian.
"Bunda aja sudah ngijinin. Pasti hanya alesan Dad aja ya?" seru Mega.
__ADS_1
"Sepi di mansion nggak ada kamu sayang" terang Dad Tian di ujung telpon.
"Bentar lagi juga balik" ulas Mega.
"Dad jemputin. Pasti kakak kamu sedang di bengkel kan?" kata Daddy.
"Kemana lagi kak Langit pergi, pasti lah ke Uncle Arga" jelas Mega.
"Makanya Dad jemputin. Bunda bikin masakan enak loh" pamer Daddy untuk merayu anak perempuan satu-satunya itu supaya lekas pulang.
Mega dan Jingga yang sudah capek pun pulang masing-masing dengan arah yang berbeda.
Jika Mega beneran dijemput Daddy nya, maka Jingga cukup dengan taksi online saja.
.
Awal minggu kesibukan Jingga masih seperti biasa.
Pagi ini Jingga bangun agak kesiangan dan terburu berangkat ngampus.
Jingga yang buru-buru malah disambut oleh Rima di depan kelas nya.
"Sini dulu, gue mau ngomong sama lo" Rima menarik lengan Jingga ke tempat sepi.
"Ngapain sih kak, kelasku jam pertama pak Hakam. Aku nggak mau dihukum lagi karena hal sepele" kata Jingga.
"Sepele maksud kamu? Ini tentang hidup aku dan bayiku" seru Rima.
"Terus aku musti ngapain? Yang hamil kan kamu kak?" sergah Jingga.
"Suruh Kenzo tanggung jawab, dan putusin dia. Kalau perlu kamu pergi jauh sana dari hidup Kenzo" suruh Rima dengan ketus.
"Ha...ha...kamu nggak salah omong kak. Urus saja Kenzo atau siapa namanya itu. Aku sudah nggak ada hubungan dengan dia lagi" tandas Jingga jengah. Saben hari berasa diteror oleh mereka.
"Kalau nggak ada hubungan, kenapa orang tua Kenzo kekeuh ingin menjadikan kamu menantu. Bahkan mereka tega menyuruhku untuk menggugurkan kandungan" ucap Rima menjelaskan.
"Itu kan urusan mereka. Kalau aku nggak mau, apa mereka bisa memaksa" Jingga beranjak dan hendak meninggalkan Rima.
"Jingga, please. Jangan buat aku di posisi terjepit sekarang" Rima bahkan mulai menitikkan air mata.
Beberapa mahasiswa yang lewat pun menjadi salah paham karena nya.
Jingga yang beberapa hari terakhir menjadi trending topik seakan malah dipojokkan dengan situasi seperti ini. Seakan kesalahan ada di pihak Jingga.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
__ADS_1
To be continued, happy reading