Langit Dan Jingga

Langit Dan Jingga
Cinta atau Obsesi


__ADS_3

Di depan gerbang asrama, didapati oleh Langit Jingga tengah berdebat dengan seseorang seperti sosok yang berpapasan dengan Langit tadi.


Langit masih mengamati dari dalam mobil.


Jingga berusaha menolak tarikan si cowok.


Langit membuka kaca mobil meski hawa dingin menusuk tulang.


"Aku tak mau dan tak akan ikut kamu Kenzo" seru Jingga.


"Aku kesini untuk mengikutimu Jingga, perlu kamu tahu itu" seru laki-laki bernama Kenzo itu.


"Ha...ha...aku tak pernah memintamu datang. Pergilah!" suruh Jingga dengan nada halus.


"Aku tak akan pergi jika kamu tak ikut denganku. Sekali ini saja Jingga. Pliisssss!" bilang Kenzo.


"Untuk apa?" tegas Jingga.


"Untuk membicarakan masalah kita" tukas Kenzo.


"Bukan masalah kita, tapi itu masalah kamu kak. Jadi jangan bawa-bawa aku lagi. Selamat sore" ujar Jingga berjalan menjauh.


Tangan Kenzo dengan cepat menarik lengan Jingga hingga Jingga oleng tak bisa menahan beban tubuhnya.


Kenzo dengan cepat menangkap tubuh Jingga dan berusaha memeluk.


Jingga yang menghindar akhirnya terjatuh tepat di sisi mobil Langit yang tengah terbuka kaca mobilnya.


Saat mendongak pandangan mata Jingga tepat mengarah ke arah netra Langit yang kebetulan juga memandang Jingga.


"Kak, help me. Please!" kata Jingga lirih.


Dengan isyarat gerakan bola mata, Langit meminta Jingga untuk naik.


Kenzo kembali mendekat dan berusaha mengunci pergerakan Jingga.


"Hei bung, beraninya jangan sama cewek doang. Ingat jika terjadi penganiayaan maka akulah saksinya" seru Langit dari dalam mobil.


Sepertinya Kenzo tak ingat siapa Langit.


"Jangan ikut campur!" hardik Kenzo.


"Aku pasti akan ikut campur, jika itu berkaitan dengan wanita yang telah menolong ku" ulas Langit.


Kenzo menatap tajam ke arah Langit.


"Jingga, masuk lah" kata Langit dengan tegas.


"Iya" Jingga beringsut masuk asrama tanpa banyak kata. Tak jadi masuk mobil milik Langit.


"Awas saja kamu! Kamu telah menggagalkan rencanaku. Tak akan kubiarkan kamu bebas begitu saja" seru Kenzo penuh emosi.


"Ha...ha...catat baik-baik namaku wahai saudara Kenzo. Namaku adalah Langit Baskoro" sengaja Langit menyebutkan nama besar keluarga nya untuk nantangin Kenzo.


"Pak, kita pergi!" perintah Langit ke sopir setelah semua dirasa aman.


Di jalan Langit menelpon Mega adiknya.


"Hei kak. Apa disitu angin badai dan hujan deras?" sapa Mega di ujung telepon.

__ADS_1


"Nggak tuh. Biasa aja" imbuh Langit.


"Aduuuhhh kakak gue sungguh tak bisa diajakin bercanda. Tumben lo nelpon ada apaan? Kangen sama adik mu yang cantik ini kah kak?" seru Mega.


"Hadech, bisa nggak sih nggak narsis" sergah Langit.


"Ada apaan? Lo telpon kan pasti ada maunya" tebak Mega.


"Bagi nomor nya Jingga dong" pinta Langit.


Mega yang mendengar berasa tak percaya. Kakaknya yang bagai kanebo kering nanyain nomor kontaknya Jingga.


"Kak, lo nggak demam kan?" kata Mega memastikan.


"Heemmm nggak" ujar Langit dengan memegang kening nya sendiri. Bagaimana bisa Mega bilang kalau aku demam. Batin Langit.


"Minggu aja ntar kukasih. Aku mau ke London sama Dad dan yang lain. Ada juga papa Reno, mama Catherine, kak Bintang. Dan tentu saja lengkap sama Oma dan Opa Baskoro" ujar Mega menjelaskan.


"Mega, gue ini nanyain nomornya Jingga. Serah lo dech mau ke sini kek atau nyasar kek" tandas Langit.


"Wah...wah...sialan kakak nih" umpat Mega.


"Nomor Jingga, tak akan kukasih tahu...weeekkkkk" tukas Mega.


"Ayolah Mega, plissss. Aku mau ngucapin makasih kepadanya" Langit sudah lihai bermodus. Padahal tadi dia sudah mengucapkan rasa terima kasih secara khusus kepada Jingga.


"Minggu aja" Mega tetep belum mau kasih nomornya Jingga.


Langit menutup begitu saja panggilannya ke Mega. Dan tak lama muncul notif pesan Mega dengan emoji orang marah.


Langit hanya menaikkan sudut bibirnya. Adik cewek nya yang satu ini memanglah orang yang konyol. Nggak jauh beda sama Dad, apalagi kalau sedang bersama bunda.


.


Jauh sebelum ini sebenarnya Langit kagum akan pribadi Jingga.


Entah sejak kapan rasa itu muncul tanpa bisa dihilangkan.


Momen dirinya saat kecelakaan semakin membuat rasa kagumnya menjadi.


Di ruang recovery saat itu, Langit menggenggam erat tangan Jingga. Meski Jingga tak tahu jika dirinya saat itu telah sadar dari pembiusan.


Mendengar uncle Arga menitipkan dirinya pada Jingga, membuat Langit tentu saja senang saat itu.


Kejadian tadi siang adalah puncaknya.


Selain rasa ingin bertemu yang memuncak, Langit juga ingin mengucapkan rasa terima kasihnya.


Dan saat ada banyak yang ingin minta tanda tangannya, benar-benar dimanfaatkan Langit untuk menahan Jingga agar lebih lama bersamanya.


Modus kah? Tentu saja....he...he...


Jingga yang barusan masuk kamar, menjatuhkan badannya di ranjang.


Hawa dingin yang menusuk membuatnya malas untuk berangkat ke kamar mandi.


Banyak notif pesan masuk.


"Pasti chat grub dech" gumam Jingga menebak. Karena bunyi notif pesan yang beriringan dan hampir bersamaan.

__ADS_1


"Kubuka ah, bisa jadi ada gosip terbaru. Daripada mikirin laki-laki tak jelas tadi" kata Jingga. Laki-laki yang mana nih, tentu saja si Kenzo.


Pesan pertama masuk di grub ternyata dari Mega. Dia sengaja menyolek Jingga untuk membuka obrolan.


"Jingga, boleh nggak nih kukasih nomor kamu ke seseorang?" ketik Mega menggoda Jingga.


"Siapa nih?" ketik Firman kepo. Firman yang sekarang sedang magang di biro hukum Tania. Tentu saja atas rekom Mega yang kenal baik dengan aunty nya itu.


"Hayo, coba tebak!" balas yang lain.


"Aku tahu guysssss" ketiknya lagi.


Firman mengirimkan emoji orang yang nampak berpikir keras.


"Ha...ha...kasih tahu nggak ya?" lanjut ketikan Mega.


"Jingga...oooooyyyyyyy. Bukannya di sana masih sore? Lo di mana?" koar-koar Firman, karena tak ada satupun pesan Jingga masuk.


Ternyata Jingga tertidur. Hawa kali ini sangat mendukung untuk tidur sore. Padahal niat hati ingin menikmati dan ikutan nimbrung chat dengan teman-temannya.


Firman aja yang sudah di jam dua belas malam masih aktif mengetik. Jingga malah nyenyak tidur bestie.


"Jinggaaaaaaaaa..." semua sama ketikannya. Dan masih tak ada respon.


Saat yang sama, masuk juga pesan dari nomor tak dikenal ke ponsel Jingga.


Tentu saja sama, belum ada pergerakan Jingga untuk membalas semua chat itu.


.


Langit yang sudah mendapatkan nomor Jingga dari Keenan langsung mengirim pesan ke Jingga tadi.


"Lama juga responnya" gumam Langit.


Sudah beberapa kali Langit melihat layar ponselnya, tak ada balasan.


"Atau jangan-jangan orang yang tadi ngedatengin Jingga lagi" ujar Langit kuatir.


"Ah mana mungkin dia berani macam-macam di sebuah asrama" Langit mencoba berpikir positif.


"Gini ya rasanya dicuekin" tukas Langit bermonolog.


Kalau biasanya Langit paling anti ngebalesin chat, apalagi dari nomor tak dikenal. Sekarang Langit mendapat balasannya.


.


Di tempat lain, Kenzo berpikir keras bagaimana cara membawa Jingga tanpa kekerasan.


Rasa cinta atau obsesi tak disadari oleh Kenzo.


Rasa ingin memilikilah yang saat ini dirasakan Kenzo. Tak boleh ada yang memiliki Jingga selain dirinya.


Egois memang.


"Kutunggu seminggu lagi. Jika Jingga masih sulit kugapai, aku harus melakukan cara ini agar Jingga mau menyerahkan diri secara sukarela" Kenzo tersenyum smirk.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


To be continued, happy reading

__ADS_1


__ADS_2