
Ternyata di bioskop di mall terbesar sudah ada Firman dan beberapa temannya menunggu kedatangan duo cewek cantik itu.
"Firman, antriin dong tiketnya" suruh Mega yang ikutan gabung duduk dengan para cowok itu.
"Isshhh siapa loe. Pacar juga bukan" seru Firman.
"Cewek is prioritas" sambung Mega.
"Kalau ada maunya aja loe bilang begitu" sambung Firman.
"Lekas lah. Ntar nggak kebagian tiket nyahok kita" ujar Mega.
Firman menyuruh teman yang satunya untuk mengantri tiket yang mengular panjang itu untuk mereka berdelapan. Cowok enam cewek cuman dua, Jingga dan Mega.
"Firman, pulang kita mampir ke kos Jingga semua yuk. Barangkali aja loe mau ketemu sama camer" ucap Mega menggoda Firman.
Firman langsung tuning on. "Orang tua Jingga di sini kah?" tanya Firman.
Dijawab anggukan Mega.
"Kesempatan gue maju nih" canda Firman.
"Lagak loe" olok Mega.
"Ha...ha...." Firman dan yang lain terbahak.
"Mega, lihatlah di belakang loe sebelah kanan!" suruh Firman yang bisa melihat dengan jelas arah yang dimaksud. Sementara Mega pasti kesulitan, karena posisi nya berada di belakang Mega.
"Siapa sih?" tanya Mega ke arah Jingga.
"Ha...ha...your bodyguard" seru Jingga.
Mega bisa menebak siapa yang dimaksud oleh mereka.
Kalau nggak anak buah Dad nya pastilah kak Langit dan kak Bintang.
Tapi kalau teman-temannya mana tahu anak buah Dad. Pasti lah itu duo kakak yang super kompak itu.
"Eh, cari apaan mereka?" sela Firman.
Mega menoleh ke arah mereka dan didapatinya kak Langit yang pasti lagi nyariin onderdil untuk modif mobil sport nya.
"Selalu saja ke sana" gerutu Mega.
Jingga memandang ke arah yang sama, dan kebetulan Langit juga melihat ke arah mereka.
Mega mencibir ketika mereka saling lihat. Sementara Bintang mengacungkan jempolnya, tanda aman.
Hampir satu jam mereka mengantri di depan tiket.
Minuman dan cemilan pun telah dibelikan oleh Firman.
"Makasih Firman, cakep dech" seru Mega.
"Issshhhhh pujian loe nggak ngefek buat gue" jawab Firman.
"Gue tarik kembali dech kata-kata gue" sambung Mega ketus.
Rombongan yang buat ramai suasana bioskop itu pun akhirnya masuk, saat film akan dimulai.
Tak ada gaduh jika tak ada mereka, sampai pengunjung lain pun melihat ke arah mereka. Tapi mana mereka peduli.
.
Seperti rencana Mega, rombongan Firman pun ikutan mampir di kos Jingga.
Gaduh suasana kos pun tak terelakkan.
"Ayah, kenalin saya Firman. Pengagum rahasia Jingga dan Mega" kata Firman penuh candaan.
__ADS_1
Yang lain pun ikutan tertawa.
Mama keluar dengan membawa jajajan yang di bawa dari rumah.
Tentu saja makanan khas kota tempat tinggal Jingga.
"Keluarin semua Mah" seru Firman.
"Enak aja, ntar aku nggak kebagian" tukas Jingga ikutan terbahak.
Di tengah candaan mereka, hadir seseorang yang sangat tidak diharapkan oleh Jingga.
Jingga memandang serius ke ayah Pramono.
Kehadiran Kenzo pasti ada hubungan dengan kehadiran ayah Pramono.
"Duduk Kenzo" suruh ayah yang masih berada di antara teman-teman Jingga.
Kenzo pun menuruti perintah ayah.
Sementara yang lain karena tak enak hati, pamitan terlebih dahulu.
Jingga pun masuk ke dalam kamar untuk membersamai mama nya.
Tatapan tajam ayah Pramono mengarah tepat ke muka Kenzo.
"Jelaskan apa yang terjadi sebenarnya?" tegas ayah.
Kenzo masih terdiam. Terlihat dia menghela nafas, saat akan mengatakan sesuatu.
Ayah Pramono masih menunggu penjelasan dari Kenzo.
"Bagini Yah, Kenzo minta maaf" sebuah kalimat terucap dari bibir Kenzo.
"Sudah jangan kamu teruskan" ucap ayah Pramono menimpali.
"Dengan kamu minta maaf, ayah sudah tahu kalau kamu punya kesalahan. Jikalau kamu memang tak suka dengan anak ayah. Hari ini dengan datangnya kamu ke sini. Aku anggap kamu mengembalikan lagi kepada Ayah. Dan untuk ke depannya jangan pernah kamu dekati lagi Jingga" tegas ayah Pramono.
"Lantas?" telisik ayah.
"Aku mencintai Jingga tulus dari hati" kata Kenzo.
"Kalau kamu tulus, tak mungkin kamu mengkhianati anak ayah. Hubungan harus dibina dari rasa paling percaya" tandas ayah Pramono.
Kenzo menunduk diliputi rasa bersalah.
"Tanggung jawab lah Kenzo. Ayah tak akan membencimu. Mungkin kamu bukan lah jodoh dari Jingga" kata ayah Pramono dengan bijaksana.
"Dan ayah minta, bilang baik-baik ke papa kamu. Pasti papa kamu akan menerima" suruh ayah Pramono.
Kenzo pergi tanpa pamitan ke Jingga.
"Jingga, malam ini ayah dan mama mau menginap di hotel dekat sini aja" kata ayah.
"Kok nggak di sini aja sih Yah" tukas Jingga.
"Ayah takut kamu nggak bisa gerak karena sempit" canda ayah.
Memang di kamar Jingga hanya ada bed single yang cukup untuk satu orang. Biasalah anak kos.
"Apa ikut ayah sama mama sekalian?" tawar mama.
"Enggak Mah, kayak anak kecil aja" tolak Jingga sembari tertawa. Menutupi luka hati karena pengkhianatan Kenzo.
Jingga kembali merapikan sisa-sisa makanan yang ada di meja, dan membereskan semua.
Sementara ayah Pramono melajukan mobil perlahan, karena belum begitu mengenal jalan-jalan di ibukota.
Di tengah jalan, mobil tiba-tiba mogok.
__ADS_1
"Kenapa ini Yah?" tanya mama.
"Enggak tahu. Tadi sebelum berangkat juga baik-baik aja" tukas ayah.
Ayah turun dari mobil untuk mengecek mobil.
Mobil sedan dengan tahun yang lumayan berumur.
"Kenapa Yah mesinnya?" tanya mama ikutan turun.
"Hhmmm sepertinya karena terlalu panas saat perjalanan jauh tadi" bilang ayah.
Ayah tengok kanan tengok kiri barangkali masih ada bengkel buka.
"Buka aplikasi aja Yah, mencari lokasi bengkel terdekat" usul mama.
"Wah, betul juga tuh usul mama" tukas ayah dan mulai pencarian di ponsel.
"Wah, lumayan jauh juga. Satu kilometer dari sini" seru ayah.
"Aku telpon aja dech, semoga aja belum tutup" ujar ayah, karena hari mulai sore menjelang malam.
Saat telpon tersambung, terdengar suara di sana. Ayah menjelaskan kalau dirinya datang dari luar kota dan menjelaskan lokasi keberadaan mobil yang mogok.
Ternyata sambutan ramah di dapat dari montirnya langsung.
"Gimana yah?" tanya mama.
"Mereka mau ambil dengan mobil derek ke sini" kata Ayah.
Tak sampai lima belas menit, mobil ayah sudah berjalan dengan diderek.
Sebuah bengkel yang lumayan besar tersaji di depan.
"Kebetulan bengkel kami buka sampai jam sembilan malam" beritahu salah satu montir di sana.
"Silahkan duduk tuan, akan kami bantu cek" serunya ramah.
Sebuah mobil sport mewah masuk ke dalam bengkel.
"Bang, Uncle Arga ada nggak?" tanyanya dengan wajah datar.
"Ada di dalam. Tumben loe datang jam segini?" seru abang montir yang sedang ngebenahin mobil milih ayah nya Jingga.
"Baru dapat onderdilnya" seru nya sembari berjalan cepat masuk ke dalam.
Tak lama pria muda tadi keluar diikuti laki-laki yang tampaknya berumur menjelang lima puluhan.
"Wah, yang kamu bawa ini bukan pasangannya Langit. Lihat! Nggak bisa dipasang nih" kata Uncle Arga.
"Yaaacchhhhh, percuma dong" seru nya kecewa.
Obrolan pemilik bengkel dengan pria muda yang sepertinya bukan dari kalangan biasa tuh selalu diperhatikan oleh ayah dan mama Jingga.
"Mobil kamu tuh udah bagus, mau kamu apakan lagi?" bilang Uncle Arga.
"Nggak dimarahin tuh sama Daddy kamu?" seru nya.
"Biasa lah Uncle. Kalau nggak ceramah, bukan Dad Tian namanya" ujarnya sembari tersenyum.
"Ha...ha...betul apa kata kamu" tukas orang yang dipanggil uncle Arga itu.
"Jadi beneran nih alatnya nggak bisa dipasang?" tanya Langit menegaskan.
"Hemmm" jawab uncle Arga.
"Tuan...tolong ke sini sebentar!" panggil abang yang ngebenahin mobil milik ayah Jingga.
Arga dan Langit pun mendekat.
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading