Langit Dan Jingga

Langit Dan Jingga
Pra Kompetisi


__ADS_3

Karyawan yang menyambut Langit tadi hanya terbengong, sementara Langit dengan santainya melambaikan tangan ke arahnya.


"Haiiii putraku" sapa Dad sok-sok an.


"Iisssshhh apa sih Dad? Tumben lebay banget" kata Langit.


Ternyata di sana sudah kumpul Arka dan juga Arga.


"Wah sedang kumpul semua ya? Tumben? Apa nggak sibuk nih para CEO senior" canda Langit.


"Bilang aja CEO tua, pakai senior lagi" tukas Arka.


"Ha...ha...aku nggak ngolokin kalian lagi loh ya" Langit terbahak.


"Gimana kabar Daniel?" tanya uncle Arga.


"Loh, yang ditanyain bukan kabar aku. Tapi kok malah Daniel, gimana sih?" tukas Langit.


"Oh ya Dad, ngapain nyuruh aku kesini? Mau ngajakin menggibah. Masih jetlag nih" imbuh Langit bertanya. Padahal Langit merasa kesal juga atas panggilan mendadak Dad saat dirinya turun pesawat.


"Ngapain nggibah? Kurang kerjaan" sela Dewa.


"Habis barusan datang malah nanyain kabar si Daniel" sergah Langit.


"Bukannya Daniel minta sponsor dari kamu?" tanya Dad penuh selidik.


"Dad tahu?" tanya Langit. Meski dalam hati, apa sih yang nggak tahu buat Dad Tian.


Sebastian tidak menjawab.


"Tim Tiger sudah dapat sponsor. Raksasa elektronik saingan Panapion dan juga perusahaan multimedia terkenal dari negara K" beritahu Arga.


"Terus ngapain dia mendatangi aku" tanggap Langit.


'Hanya ingin menguji kamu saja" seru Arka.


"Buat apa? Rugi banget, buang-buang waktu saja" sela Langit.


"Hati-hati sama dia. Lain di mulut lain di hati. Kamu tahu yang namanya Andre? Dia akan terus membayangi dan membantu Daniel" bilang Arka.


"Sekarang bukan motif keluarga saja, tapi di musim depan Daniel ingin menundukkan kamu di lintasan. Entah apapun caranya" lanjut Arka.

__ADS_1


"Bukankah sponsornya juga punya track record tak baik juga?" sela Dewa.


"Heemmm...penggelapan pajak dan juga ilegal loging. Itu kan yang akan kamu katakan" sela Arka.


"Karena rival, aku sudah tahu seluk beluk mereka" tandas Arka.


Dewa mengangguk. Meski lebih pendiam daripada bos nya. Tapi Arka tak kalah cepat bergerak jika sekiranya ada yang menganggu perusahaannya. Itu diakui oleh Dewa sebagai asisten Sebastian.


"Apa mereka mengajak saingan di lintasan? Begitukah?" ulas Langit.


"Pasti itu!" seru Arga.


"Dad, nggak ingin gabung sekalian? Nyeponsori aku" ujar Langit.


"Belum ada keinginan, apalagi uang Arka masih cukup lah untuk biayain tim Singa Merah" celetuk Dad Tian tertawa.


"Isssshhh...Blue Sky nggak ingin kah diiklanin sama tim kita?" ucap Arga.


"Enggak. Blue Sky sudah cukup terkenal. Kalau nggak gitu mana bisa masuk majalah bisnis dan dinobatin jadi perusahaan nomor satu" ulas Tian.


"Sombong" olok Arga.


"Sah-sah aja sombong kalau ada yang disombongin. Sudah sombong tapi zonk, itu yang nggak dibolehin...ha...ha..." kata Sebastian mencari pembenaran yang diucapkannya barusan.


"Tapi alangkah baiknya, lo ikutan terlibat dech" ajak Arka.


"Bukan passion aku di dunia otomotif. Untuk yang satu ini, sorry dech aku nggak mau terlibat" ucap Sebastian.


"Cukup Langit saja yang menjadi bagian dari kalian. Urusan Blue Sky aja sudah buat ribet" Sebastian beralasan.


"Ribet... Tapi tetap saja mengakuisisi perusahaan-perusahaan kolaps" sela Dewa.


"He...he... Nah itu passion aku" Sebastian terkekeh.


"Dan imbasnya berefek ke gue uncle" ucap Langit membenarkan apa kata Dewa. Langit lah yang nantinya disuruh untuk pegang perusahaan yang habis dibeli oleh Dad nya.


"Kamu masih muda. Energi kamu musti dimanfaatin bener tuh" ucap Dad Tian menegaskan.


.


Sampai di mansion, Jingga tak diberi kesempatan sedikitpun untuk gendong Eka.

__ADS_1


"Kamu istirahat aja, Eka biar sama kita" ucap Mega.


"Kamu masih jetlag kan?" imbuhnya.


"Tapi...." belum juga Jingga berkata tapi sudah disela oleh Mega.


"Kalau Eka haus, ntar Eka aku susuin pakai susu hasil pumping kamu aja dech. Bukannya di London, Eka sudah kamu kuasain" ucap Mega.


"Lah, Eka kan anakku. Pantas dong aku kuasain" bela Jingga.


"Ingat, Eka keponakanku juga. Ya kan Eka? Kangen nggak sama aunty?" Mega menciumi gemas pipi embul Eka.


Jingga tersenyum tipis.


"Kok masih diam disitu? Lupa kamar kakak dimana?" Mega medongak menatap Jingga yang belum juga beranjak.


Mutia menghampiri.


"Mandi air hangat dulu sana. Sudah disiapin tuh sama bibi" ucap Mutia.


"Oke bun" barulah Jingga melangkah ke kamar.


"Mega, ajakin Eka ke kamar. Eka pasti capek juga" suruh Mutia.


"Di kamar aku aja bun. Aku kan kangen sama dia" balas Mega.


"Di kamar kakak kamu aja. Kalau haus, Jingga biar nggak susah buat kasih susu" lanjut Mutia.


"Gimana sih bun? Katanya Jingga suruh istirahat" sela Mega.


"Siang ini saja loh, biar Eka sama aku. Ntar kalau Jingga sudah cukup istirahatnya, aku janji kukembaliin dech" imbuh Mega.


"Terserah kamu aja dech. Tapi kasih kesempatan baby E istirahat juga" kata Mutia.


"Siap bun" tukas Mega antusias.


Sementara Jingga tengah berendam menikmati air hangat dan aroma terapi yang telah disiapkan.


Perjalanan terbang di angkasa ternyata membuat lelah juga.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


to be continued, happy reading


__ADS_2