Langit Dan Jingga

Langit Dan Jingga
Jingga Sadar


__ADS_3

Langit mendekat dan memegang tangan Jingga.


"Semoga kau kuat menghadapi semuanya nanti" ujar Langit.


Belum kondisinya sendiri yang rapuh. Saat sadar nanti, cepat atau lambat Jingga akan dihadapkan dengan berita kematian ayah dan mama nya.


"Sudah berapa lama dia tidur Mega?" tanya Langit.


"Mana aku tahu kak, tadi kan yang nungguin bunda" jawab Mega.


"Iya juga sih, tapi kalau melihatnya nyenyak sekali tentunya Jingga belum terbangun sedari tadi" tukas Langit.


"Iya kali kak" bilang Mega.


"Kamu pulang aja sana gih. Pasti lo capek nungguin Jingga berapa hari nih" perhatian Langit ke sang adik.


"Kakak juga pasti sangat capek sekarang. Kita tungguin berdua aja" usul Mega.


"Kamu nggak ingat pesan dad sama bunda tadi sebelum pulang?" tanya Langit.


"Iya sih kak. Tapi kan?" Mega menjeda ucapannya.


"Kakak nggak papa. Ntar juga bisa baring di situ!" tunjuk Langit ke arah bed di samping Jingga.


"Oke lah kak. Kakak juga banyak istirahat ya. Aku pulang dulu" bilang Mega.


"Tinggalin aja mobil kamu. Ntar pulang kamu biar dijemput sopir" saran Langit.


"Heemmm, nggak kelamaen?" sela Mega.


"Nggak lah, sambil nungguin Pandu. Kita makan aja" usul Langit.


"Oke kak. Ceritanya nraktirin gue nih" tanggap Mega dengan hati senang.


"Hhhmmm, tapi di kantin rumah sakit aja ya" ujar Langit.


Senyum mengembang Mega langsung aja terhenti.


"Ha...ha...mendingan kutraktirin. Daripada nggak" ledek Langit.


"Enggak banget dech" sungut Mega.


"Jangan salah ya, menu di sini enak-enak loh. Menu tradisionalnya banyak pilihan. Nggak percaya, ya udah. Keuntungan di gue sekarang" timpal Langit terbahak.


"Iya...iya...aku mau" seru Mega yang pada akhirnya menyetujui usulan sang kakak.


Langit yang duduk di samping ranjang dekat Jingga, akan beranjak.


Tapi saat melangkah menjauh seperti ada yang menahannya. Langit terkejut.


Terlihat Jingga memegang erat tangannya meski dengan mata terpejam.


"Jingga" ucap Langit memanggil.


"Kenapa kak?" sela Mega.


Melihat arah mata Langit, Mega mengikuti.


Ternyata Jingga sedang memegang erat tangan Langit. Air mata Jingga kembali mengalir.


Langit tak jadi beranjak, tapi kembali duduk mendekat.


"Aku di sini Jingga" kata Langit. Diusapnya air mata Jingga yang meleleh.


Perlahan Jingga membuka mata. Arah matanya menoleh ke arah laki-laki yang duduk di sampingnya.


"Kak" panggilnya pelan.


Langit menghela nafas lega. Melihat cidera kepala yang begitu dasyat tentunya Langit sangat bersyukur memori Jingga tak ada yang hilang.


"Iya, aku di sini" ucap Langit.


Jingga tak mengatakan apapun, tapi air mata masih saja mengalir di pipi.


"Nggak usah sedih, masih ada aku, Mega dan yang lain" tanggap Langit.


Mega pun begitu, tak menyangka jika air mata nya pun mengalir.


"Kak, apa aku panggilin yang jaga?" kata Mega beralasan. Padahal melihat sahabatnya yang tengah terbaring itu rasanya nyesek banget di dada.


"Hhmmmm, nggak usah Mega. Aku rasa Jingga sudah capek tiduran. Ya kan Jingga?" kata Langit setengah bercanda.


"Sudah dua bulan lebih sehari loh kamu begini Jingga. Ngerasa tidak?" ucap Langit. Rasa bahagia Langit tak terkira hari ini.


"Makasih Jingga, telah bertahan" ucap Langit sambil mengelus punggung tangan yang bebas infus itu.


"Kak, maaf" ucap Jingga lirih.


"Husssssttt, jangan banyak bicara. Simpan energi kamu untuk hal-hal yang berguna saja. Jangan bicara macam-macam" jari telunjuk Langit telah menempel manis di bibir pucat Jingga.


"Kamu cepat sembuh aja aku senang Jingga" tutur Langit menambahkan.


Mega pun mendekat, memeluk Jingga yang telah beneran sadar. "Selamat datang kembali Jingga" kata Mega dengan tetap memeluk sahabatnya itu.


Sadar pun Jingga tetap menunggu Langit datang.


Terdengar ketukan pintu yang ternyata Uncle Bara yang datang.


"Kebetulan sekali uncle datang. Jingga sudah bangun tuh uncle" bilang Mega.


Uncle Bara pun mendekat.


"Wah, ada yang nggak mau ditinggalin nih sepertinya" olok uncle Bara saat melihat pegangan erat antara Langit dan Jingga.


"Ha...ha....iya nih uncle" tukas Langit ikutan tertawa.

__ADS_1


Wajah pucat Jingga mulai nampak bersemu merah.


"Aku periksa dulu Jingga" ijin uncle Bara.


Jingga pun mengangguk menyetujui.


"Hhmmm melihat perkembangan Jingga yang pesat beberapa hari ini, maka alat-alat yang terpasang nih akan aku lepas semua. Saatnya sekarang Jingga pindah kamar rawat" terang uncle Bara.


"Kirain sudah boleh pulang uncle?" sela Mega.


"Yeeeiii sabar dong. Kalau di rumah siapa yang mau kasih suntikan?" canda uncle Bara.


"Bentar lagi perawat akan datang untuk nglepas semua, kecuali infus ya" ujar uncle Bara.


"Oke uncle" jawab Langit.


Seperti yang dibilang uncle Bara, sepeninggalnya dua orang perawat datang untuk melepas semua selang yang terpasang di tubuh Jingga.


"Kita siapkan untuk kepindahan kamarnya. Sambil nunggu kabar dari ruang yang akan ditempati nona Jingga" ujar salah satu perawat.


Oleh uncle Bara, meski sudah dilepas semua alat-alat. Jingga belum diperbolehkan duduk. Semua harus bertahap.


Kruuukk....kruuuukkkkk....


Terdengar suara usus di perut yang sepertinya sedang demo.


Arah tatapan Langit dan Jingga seketika kompak, mengarah yang sama ke Mega.


Mega tersipu, "Laper gue" celetuk Mega


Membuat Langit terbahak.


"Pesen online aja gimana?" usul Langit.


"Bolehlah. Daripada nggak keisi nih perut" seru Mega menyetujui.


Bukannya Langit tapi malah Mega yang menscrol jenis-jenis makanan di aplikasi.


"Apa ya? Bosen gue makanan Jepang mulu" ucap Mega, kebingungan memilih menu yang akan dimakan.


"Western?" usul Langit.


"Iiissshhhh apa lagi itu. Nggak sesuai sama rasa mulut gue yang sudah tercemar makanan Asia" canda Mega.


"Hhhmm...nasi padang aja kalau gitu. Cepat pesannya dan mengenyangkan" usul Langit.


"Loh, biasanya kakak ribet banget ngitungin kalori. Kok malah nasi padang?" heran Mega.


"Nggak papa, sekali-kali. Energi gue habis buat tadi di sirkuit" terang Langit.


Mendengar suara sirkuit, Jingga menautkan alis.


"Sirkuit????" ujarnya lemah.


Langit dan Mega kembali saling pandang.


"Sirkuit mana? Apa ada yang ikut balap? Bilang ke aku kak" kata Jingga dengan terbata.


Mega menggeleng, mengisyaratkan agar Langit tak memberitahu Jingga yang sebenarnya.


Kruukk...kruukkkk. Terdengar lagi suara itu dari perut Mega. Dan itu sangat membantu memecahkan suasana hening yang tercipta karena ucapan Jingga barusan.


"Ha...ha...lapar mu apa nggak bisa ditahan Mega" tukas Langit terbahak. Jingga pun ikutan mengulum senyum.


"Iya nih, kok nggak dateng-dateng sih pesenan aku?" ujar Mega.


"Bang Pandu sudah lo hubungin belum? Untuk jemput kamu?" tanya Langit.


"Aduh, kelupaan nih" kata Mega menepuk jidat.


"Lo hubungin aja, aku keluar bentar beli makanan. Aku juga lapar banget nih" kata Langit.


"Jingga mau apa?" seru Langit ke arah Jingga.


Hanya gelengan lemah yang didapatkan Langit.


"Terus, yang aku pesen online gimana nasibnya entar?" seru Mega.


"Emang sudah sampai mana sih?" tanya Langit.


"Kalau enggak dicek, mana tahu kak" ulas Mega dan menekan angka sebagai sandi ponsel nya.


Ponsel Mega berdering, dan sepertinya nomor ojol.


"Oke kak, anterin aja di depan ruang instensif. Aku tunggu. Nggak pakai lama" seru Mega.


Dan tangan Mega langsung saja menengadah di depan Langit.


"Apa maksudnya?" tanya Langit.


"Uangnya dong, masak beli nggak pake uang?" Mega menimpali.


"Pake lah, tapi masalahnya aku nggak ada tunai. Yang ada di dompet cuman kartu doang" tanggap Langit.


"Issssshhh kakak, selalu saja begitu" ujar Mega jengah.


Saat ojol datang untuk mengantar makanan, mau tak mau Mega menyerahkan dua lembar uang seratus ribuan. Karena tadi selain pesan makanan, Mega juga pesan minuman di tempat lain.


"Kembaliannya untuk abang aja. Makasih bang" ucap Mega saat makanan yang dipesan olehnya sudah berpindah ke tangannya.


"Sama-sama Nona" ucapnya sambil meninggalkan ruangan itu.


Saat melihat struk, Mega jadi ketawa sendiri.


Ternyata semua belanjaannya tadi hanya menyisakan kembalian seribu rupiah.

__ADS_1


"Sok baik kamu Mega" celetuknya.


Mega langsung aja prepare hendak makan, tapi tak jadi karena perawat datang dan menginfokan jika Jingga mau dipindah ke ruang rawat inap biasa bukan intensif lagi.


Bahkan Langit telah ke admin untuk minta ke ruang vvip pindahnya.


"Mau makan aja, duh repotnya" celetuk Mega.


"Ha...ha...masih kuat nggak dibuat jalan? Kalau nggak sekalian aku bilang mas nya ini biar dibawain kereta biar bisa baring seperti Jingga" olok Langit.


"Issshhhhh amit-amit dech" Mega manyun menanggapi.


Jingga telah dipindah ruangan. Mega pun telah makan bersama Langit, menyisakan tatapan Jingga yang kadang tak bisa diartikan.


Bahkan Mega juga telah dijemput Pandu sang sopir untuk pulang.


Karena sebelumnya beberapa kali Dad Tian menghubungi Mega dan Langit bergantian.


Tinggal Langit dan Jingga berdua di ruangan itu.


Langit mendekati Jingga yang sampai sekarang belum bisa terlelap.


"Nggak tidur?" tanya Langit yang melihat netra Jingga masih belum terpejam.


"Nggak bisa tidur" jawabnya.


Langit usap kening Jingga dengan lembut.


"Tidurlah" suruh Langit.


Tak menunggu lama, Jingga telah terlelap.


Rasa lelah Langit telah menumpuk, beberapa saat setelah Jingga terlelap, Langit pun ikutan.


.


Di luar gerbang rumah sakit, terlihat laki-laki muda lusuh yang mondar mandir bagai gangsingan.


Beberapa kali dia ingin masuk ke area rumah sakit, selalu saja dihadang oleh beberapa laki-laki dengan tubuh tinggi besar.


Dia sendiri juga tak tahu suruhan siapa orang-orang yang melarangnya itu.


Padahal niat hati nya ingin jenguk Jingga yang katanya masih belum siuman.


Siapa lagi laki-laki itu kalau bukan Kenzo.


Sesaat pasca kecelakaan Jingga dan keluarga. Orang tua dan Kenzo yang sedikit membuat onar, apalagi menyinggung CEO Blue Sky dan keluarga mulai diawasi sepak terjangnya.


Kemanapun mereka pergi, tak akan lepas dari pengawasan anak buah Dad Tian dan uncle Dewa.


Dan gerak gerik Kenzo selama ini juga tidak lepas dari pengawasan mereka.


Makanya selama hampir dua bulan ini, meski sering wira wiri di sekitar rumah sakit, tak sekalipun Kenzo bisa menemui Jingga.


Niat Kenzo untuk membawa Jingga secara paksa, terkendala dengan kondisi Jingga yang masih tak sadar.


Saat ini Kenzo hanya bisa bersabar dan menunggu Jingga membaik.


Setelah itu barulah akan Kenzo paksa untuk ikut dengannya.


Niat hati Kenzo sih seperti itu.


Kenzo duduk di sebuah kedai minuman yang sepi, sambil mengamati area keluar masuk rumah sakit.


Tiba-tiba saja ada seseorang menghampiri dan duduk di depannya.


"Tuan Kenzo?" sapa laki-laki itu.


Kenzo mengernyitkan alis, karena merasa tak kenal dengan orang yang menyapanya.


Laki-laki itu mengulurkan tangan, meminta kenalan.


"Andre" laki-laki itu menyebutkan nama.


"Anda sudah tahu nama ku" ucap Kenzo menimpali.


"Ha...ha...sori. Aku sudah mengikuti anda sedari lama. Bahkan saat anda masih di London dulu" serunya dengan terus saja terbahak.


Kenzo menatap tajam ke arah laki-laki di depannya ini.


"Maksud dan tujuan anda?" tukas Kenzo.


"Adalah" jawabnya tanpa berterus terang.


Kenzo tak beralih pandangannya.


"Jangan main teka-teki dengan saya" hardik Kenzo.


"Kalau begitu ikut dengan ku tuan Kenzo. Nanti akan aku jelaskan semuanya" ujar laki-laki yang bernama Andre itu.


Kenzo masih belum beranjak. Dalam hatinya bertanya, 'Siapa dia, berani-beraninya mengajak ku. Kenal juga nggak' batin Kenzo.


"Mari tuan Kenzo, ini ada kaitan dengan nona Jingga loh. Orang yang selama ini kamu ikutin" seru Andre.


"Jingga????" tukas Kenzo.


"Apa tuan tak ingin dibantu oleh kami?" seru Andre.


"Kami? Lebih dari satu orang dong?" tanya Kenzo.


Andre hanya menanggapi dengan senyuman.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


To be continued, happy reading

__ADS_1


__ADS_2