
Dewa mendapatkan telpon dari nomor tak dikenal pagi itu.
Ragu juga mau mengangkat. Bahkan sampai lima kali belum diangkat juga.
"Siapa nih orang ya? Ngotot banget?" gumam Dewa.
"Kok dibiarin aja? Sapa tahu penting" sela Dena yang juga masih rebahan di sampingnya.
"Jingga apa kabar?" tanya Dena.
"Belum ada kabar. Hari ini aku sama Sebastian akan terbang ke kota tempat asal Jingga" bilang Dewa.
Dan...Tring...sebuah notif pesan masuk ke ponsel Dewa.
"Tuan Dewa, saya ketua Rt tempat almarhum tuan Pramono tinggal. Kalau sudah tak repot tolong telpon balik" tulisnya dengan bahasa sopan.
"Owh, pak RT" celetuk Dewa.
"Ngapain ya dia mau bicara?" lanjut Dewa.
"Pak RT siapa? Emang kamu belum bayar uang keamanan dan lain-lain yank?" tukas Dena.
"Iisssshhh...bukan pak RT kita, tapi pak RT tempat rumah tinggal Jingga" beritahu Dewa.
"Cepetan hubungin balik, sapa tahu aja dia tahu keberadaan Jingga" ujar Dena.
Bener apa yang dikatakan istriku, kali aja dia benar. Batin Dewa.
"Halo pak, ini Dewa" sapa Dewa saat panggilan tersambung.
"Begini tuan, apa benar Jingga akan menikah kembali dengan Kenzo anak tuan Wawan. Soalnya di komplek kami heboh dengan berita itu?" tanya pak RT yang ternyata kepo itu.
"Loh, apa Jingga disitu pak?" telisik Dewa.
"Tuan Dewa nggak tahu? Nyonya Wawan ibunya Kenzo sudah memberitahu warga kalaulah Jingga ada di sini. Tapi kita belum bertemu langsung sih" beritahu pak RT.
"Wah kebetulan nih, kita sedang nyari-nyari Jingga sih pak" bilang Dewa.
"Pak, bisa minta tolongkah! Kalau memang Jingga beneran ada di sana, tolong jagain agar dia tak kemana-mana. Hari ini juga kami akan menyusul langsung ke sana" tegas Dewa.
Ada panggilan masuk saat Dewa masih bicara dengan pak RT.
"Oke pak, makasih atas semua informasinya" ucap Dewa mengakhiri panggilan.
"Halo bos" sapa Dewa.
"Jangan pake lama, kutunggu di kantor. Hari ini juga kita susul Jingga ke kompleks perumahannya" perintah Sebastian dengan penuh keyakinan jika Jingga memang berada di sana. Rencana untuk mencari Jingga ke kota asal sudah ada sejak ada masukan dari Arka.
"Bos sudah tahu?" sela Dewa.
"Jangan banyak omong, bersiap dan berangkatlah!" suruh Sebastian dan panggilan itu berakhir dengan sendirinya.
"Yank, aku berangkat dulu!" pamit Dewa ke Dena dengan keburu.
"Bos nungguin?" tanya Dena.
__ADS_1
"Jelas" sambut Dewa.
Dan bos sama asistennya itu sekarang sudah berada di heli yang akan membawa Sebastian dan Dewa ke kota asal Jingga.
Beberapa anak buah di sana pun tengah bersiap karena mendapat perintah mendadak untuk memblokade komplek perumahan Kenzo, jika terjadi hal-hal yang tak diinginkan.
.
Jingga terbangun dari tidur dengan kepala masih sedikit pusing.
"Uurrrgghhh, berat banget nih kepala" keluh Jingga.
Setelah netranya terbuka sempurna, dia pandangi ruangan sekeliling.
"Di mana ini? Harusnya aku kan pulang dari rumah sakit dijemput sama bunda Mutia? Kok aku di sini? Apa iya ini rumah kediaman kak Langit? Nggak mungkin" gumam Jingga sambil menelisik seluruh isi kamar ukuran tiga kali empat meter ini.
Jingga berusaha bangkit dan kebetulan ada seseorang yang masuk begitu saja ke kamar itu.
"Jingga kamu sudah sadar?" celetuknya saat Jingga baru saja berdiri dari ranjang.
Jingga pun menoleh, "Kenzo???" kata Jingga.
Kenzo mendekat dengan wajah bahagia karena Jingga sudah mengingatnya. Upaya meracuni otak Jingga semalam dengan kata-kata rupanya berefek juga.
"Kamu sudah ingat?" celetuk Kenzo.
"Kok aku bisa dengan mu? Di mana kak Langit?" tanya Jingga.
Kenzo sedikit terkejut dengan ucapan Jingga. Apa Jingga sudah mengingat semua. Analisa Langit.
"Kenapa aku di sini? Jawab!" ujar Jingga dengan tegas.
"Cih, itu tak akan terjadi Kenzo. Sejak pengkhianatan kamu, sudah kubuang jauh nama kamu dari sini" tegas Jingga sambil memegang dada.
"Apa kamu sudah ingat semuanya?" tanya balik Kenzo memastikan.
"Barusan aku ingat setelah melihat wajahmu" kata Jingga. Tentu saja membuat Kenzo terkejut.
Melihat Jingga yang mulai memberontak, membuat Kenzo mulai panik.
Dengan sekuat tenaga, Kenzo kunci pergerakan Jingga. Hingga Jingga kembali tak berkutik.
"Maafkan aku Jingga" kata Kenzo dengan tangan kembali mengikat Jingga.
"Kamu memang jahat Kenzo" seru Jingga.
"Tidak. Tapi aku mencintaimu Jingga" tandas Kenzo.
"Cinta? Bullshit" tukas Jingga ketus.
"Cinta kamu itu hanya obsesi belaka. Tak mungkin kamu tega menyakitiku seperti ini" ulas Jingga.
"Aku terpaksa Jingga, agar kamu menurut padaku" ucap Kenzo.
"Omong kosong apa lagi yang akan kamu jadikan alasan" kali ini Jingga meninggikan nada suara. Jengkel juga dengan Kenzo.
__ADS_1
Kenzo mendekat, "Intinya aku tetap akan memaksa kamu menikah dengan ku Jingga. Kalau perlu, hari ini akan aku hadirkan penghulu di sini" tukas Kenzo memaksa dan mengintimidasi.
Sudah cukup sabar bagi Kenzo untuk menunggu momen ini.
Bahkan dirinya rela bekerjasama dengan orang-orang kelas atas yang sengaja menggunakan dirinya untuk menculik Jingga demi permainan kelas tinggi mereka. Ya, mereka adalah Andre dan teman-teman.
Entah tujuan apa mereka menyuruh dirinya untuk menculik Jingga. Tapi yang diketahui Kenzo, kini dirinya tak mau ikut-ikut lagi urusan mereka. Yang penting Jingga sudah aman berada di tangannya.
Terdengar ketukan pintu kamar.
"Jingga, Kenzo" panggil mama. Kenzo menarik nafas lega, karena mama lah yang mengetuk pintu kamar.
"Iya mah" jawab Kenzo.
"Ajakin Jingga sarapan. Mama tunggu di meja makan" ucap mama.
"Oke, kita makan. Tapi jangan berani macam-macam saat di meja makan" ancam Kenzo dengan tangan menggenggam erat lengan Jingga.
"Ih, sakit Kenzo" kata Jingga sembari meringis menahan sakit.
Kenzo dan Jingga tengah menikmati sarapan yang dibuat mama. Jingga lebih banyak diam atau lebih tepatnya tak ada nafsu makan.
"Ada apa Jingga? Apa masakan mama tak enak?" tanya mama.
Jingga diam tak menanggapi.
"Tuh, ditanya mama. Apa kamu tak punya mulut untuk menjawab" seru Kenzo kasar.
"Kenzo" hardik mama menatap tajam ke arah putranya itu.
Kenzo terdiam.
Sementara ayah Kenzo telah berangkat luar kota sejak pagi karena kerjaan.
Terdengar ketukan pintu dari luar.
"Ada tamu. Coba kamu bukain Kenzo" suruh mama.
Kenzo beranjak dan cepat-cepat membuka pintu serta ingin segera mengusir tamu yang datang.
Kali ini pak RT yang datang karena ingin mastiin apa Jingga berada di sana karena mandat dari Dewa.
"Oh ya Kenzo, perlu kamu ingat. Jika ada tamu menginap, sebaiknya kamu lapor minimal ke RT setempat seperti ini. Setor aja lah fotocopi identitas nya" seru pak Rt.
"Baik pak, agak siangan aku akan ke rumah bapak. Tapi ngomong-ngomong bapak tahu dari mana kalau di sini ada tamu yang menginap" bilang Kenzo.
"Loh, orang sekomplek juga tahu Kenzo. Mama kamu kan tadi pagi-pagi sudah berkoar-koar jika Jingga berada di sini. Apa itu benar jika Jingga lah yang menjadi tamu kamu" imbuh pak Rt.
Wah pak Rt nih sepertinya mau cari masalah dengan ku. Pikir Kenzo.
"Oh ya Kenzo, aku tunggu identitasnya" pinta pak Rt.
"Kita sedang sarapan pak" seru Kenzo, karena tak ingin pak RT berlama-lama di kediamannya.
Akhirnya pak RT itupun pamitan. Dan akan menunggu laporan dari Kenzo siang nanti.
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading