
Saat asyik ngobrol, ponsel Langit berdering.
"Bentar uncle, ijin angkatin telpon. Takut nggak diberi jatah jika pulang nanti" canda Langit, karena sudah tahu siapa yang menelponnya saat ini.
Arga hanya tersenyum menanggapi.
Langit menjauh dari sisi Arga yang sedang memberikan intruksi untuk anggotan tim yang berada di sana.
"Halo sayang" sapa Langit.
"Gimana pengajuan judul nya?" tanya Langit.
"Heemmm lumayan sih" jawab Jingga.
"Lumayan gimana? Disetujui kah?" tanya Langit.
"Ha...ha...pastinya, suruh ganti judul" ujar Jingga tertawa.
"Nggak di acc dong" sela Langit.
"Begitulah. Tapi nggak papa lah, masih ada beberapa stok judul yang mau aku ajuin" tukas Jingga dengan santai.
"Minta bimbingan ke aunty Tania aja, pasti lulus" usul Langit.
Daripada bumil repot mikir, mending langsung minta tutor aja ke ahlinya.
Apalagi penjurusan Jingga saat ini juga nggak jauh beda sama aunty Tania.
"Aku ingin berusaha sendiri yank" ulas Jingga.
"Boleh, tapi slow aja" saran Langit mempertimbangkan kehamilan sang istri.
"Harusnya semangatin dong" tukas Jingga.
"Kok malah suruh slow, ntar nggak lekas lulus dong akunya" imbuh Jingga.
Langit terkekeh.
"Sedang apa yank?" tanya Langit.
"Sama bunda, belajar masak" jawab jujur Jingga.
"Masak air ya?" seloroh Langit.
"Enak aja, masak coto. Coto Makasar" tukas Jingga.
"Masak apa ngangetin?" tanya Langit.
"He...he...ngangetin" seru Jingga.
"Oh ya sayang, boleh aku bicara sama bunda?" tanya Langit.
"Boleh, sedari tadi juga mode loudspeaker. Bunda juga ikut denger" seru Jingga.
"Ada apa kak?" suara bunda mulai terdengar.
"Iya bun, boleh nggak sih kalau tukang masaknya bunda kirimin satu aja ke London" rajuk Langit.
"Dua juga nggak papa" jawab bunda.
Langit terkekeh menanggapi.
"Susah juga bun nyariin menu nusantara di London" curhat Langit.
"Kalau gitu biar Jingga ikutan bunda aja, pulang ke Indo" goda Mutia.
"Idih, bunda nggak seru ah. Apa kata dunia, istrinya Langit dititipin sama orang tua" ujar Langit.
Bagaimanapun Langit tetap harus mandiri sebagai seorang kepala keluarga.
Bunda dan Jingga tertawa menanggapi ucapan Langit barusan.
"Kakak sendiri sedang ngapain sekarang?" tanya bunda.
"Tuh, ikut uncle Arga mengecek kesiapan tim. Besok baru uji coba lintasan" jelas Langit sambil menunjukkan arah kamera ke lintasan dan juga Arga yang sedang memberi pengarahan.
"Oke, hati-hari di situ. Ingat sudah ada yang menunggu di rumah. Jingga dan calon anak kamu kak" kata bunda mengingatkan.
"Siap bunda. Lope...lope...buat kalian berdua. Muuaaachhh" Langit menutup panggilan telponnya.
Langit kembali mendekat ke Arga yang sepertinya masih sibuk mengecek sana sini.
Uncle Arga yang perfeksionis jika menyangkut kesiapan anggota tim menghadapi race besok.
Terlihat kericuhan di tim Daniel. Tim yang notabene selalu diunggulkan dalam setiap seri selama ini.
"Kalian memang tak becus. Urusan sekecil ini saja kalian tak bisa" omel Daniel ke dua orang teknisi.
"Sori tuan, barang yang kita pesan memang terlambat datang. Karena kita juga masih menunggu pengajuan kita disetujui. Tuan tau sendiri beberapa sponsor menarik diri dan tim kita kesulitan keuangan" kata teknisi itu.
Daniel semakin marah.
"Tim amburadul. Percuma aku berusaha keras meraih podium, sementara kalian tak mendukung untuk itu. Kalau mau podium satu, perbaiki semua fasilitas tim" kata Daniel dengan emosi.
Sudut bibir Langit sedikit terangkat.
Ternyata untuk menghancurkan tim itu, kita tak perlu turun tangan sendiri. Batin Langit tertawa.
Andre yang sedari tadi mengawasi Langit, terlihat mendekat ke arah Daniel yang terlihat masih marah-marah.
Andre menepuk bahu Daniel agar emosinya mereda.
"Jaga emosi lo, sekarang bukan waktunya marah-marah. Tapi saatnya cari jalan keluar di saat tim kamu akan menghadapi uji coba besok" sela Andre.
"Apa yang bisa kita perbuat, waktu kita sangat lah mepet Andre?" seru Daniel.
"Ada, telpon mama kamu" usul Andre.
"Tak mungkin mama akan gelontorkan uang yang banyak, untuk tim yang menurun performnya seperti kita" tukas Daniel.
"Tau sendiri mama aku sudah pusing mikirin perusahaan yang menuju ambang kolaps" lanjut Daniel.
Andre membisikkan sesuatu ke telinga Daniel yang membuat sorot sedih Daniel berubah menjadi berbinar.
"Sekarang telponin mama kamu" suruh Andre.
"Siap bro" kali ini Daniel tak menolak saran dari Andre dan langsung menelpon mama nya.
Saat telepon tersambung, Daniel meminta sang mama untuk segera melepas perusahaan daripada ntar nilai saham akan semakin jatuh.
Tapi mama Daniel sepertinya kekeuh tak akan menjual seluruh aset tapi hanya menjual beberapa saham miliknya ke khalayak.
"Mah, tapi saat ini aku butuh biaya banyak Mah untuk keperluan balap aku" rajuk Daniel.
"Minta sponsor kamu yang lain" kata mama di ujung telpon.
"Mah, sponsor utamanya itu perusahaan mama" bilang Daniel.
Maski telah bicara lebih setengah jam, tetap saja mama Daniel yang perusahannya sebagai sponsor utama tim menolak memberikan kucuran dana.
Daniel mengacak rambutnya kasar.
Sampai detik ini dirinya bagai menemukan jalan buntu untuk mengatasi keruwetan di tim nya.
Sementara itu di paddock tim Langit, nampaknya uncle Arga nerusin obrolannya dengan Langit.
Langit yang sedang duduk jongkok sembari mengelus mobil yang membawanya ke podiun juara sebelumnya.
"Gimana kesiapan kamu sendiri Langit?" tanya Arga yang selalu saja teliti terhadap semua.
"Lebih siap daripada sebelumnya" jelas Langit.
.
Langit sudah berada dalam mobil, bersiap untuk uji coba lintasan sekaligus latihan.
Hari ini Langit ingin fokus ke race. Ponsel pun bahkan dimatikan oleh nya setelah bertukar kabar dengan sang istri.
Bendera telah berkibar di depannya, tanda untuk dirinya bersiap.
__ADS_1
Saat bendera terangkat Langit menginjak gas terdalam.
Lintasan di negara ini baru Langit jamah saat ini, karena seri sebelumnya Langit absen akibat kecelakaan yang dialaminya waktu itu.
Kelokan tajam menjadi ciri khas sirkuit di negara maju ini.
Putaran pertama Langit lewati tanpa hambatan, putaran kedua lebih lancar. Putaran ketiga Langit sudah menguasai lintasan itu sepenuhnya.
Meski belum ke babak kualifikasi, Langit tetap fokus dengan lintasan di depannya. Lap demi lap dia lalui. Di akhir lap, catatan waktu yang diukir Langit lumayan bagus lah meski tak di posisi pertama.
"Uncle, kualifikasi diadakan besok atau lusa?" tanya Langit saat turun dari mobil kesayangannya itu.
"Sepertinya lusa. Besok masih dilanjutkan dengan uji coba lintasan bagi yang hari ini belum ikut" beritahu Arga.
"Oke lah" Langit masuk ruangan untuk berganti baju.
"Acara lo habis ini apaan?" tanya Arga.
"Balik hotel, mau ngapain lagi?" ucap Langit menanggapi.
"Hidup lo monoton amat Langit, kurang seru" olok Arga.
"Malam ini ke kasino yuk, mumpung di sini" ajak Arga.
"Ogah gue" tolak Langit.
"Issshhh biar seru lah. Lo lihat aja juga nggak papa" paksa uncle Arga.
"Ogah uncle. Lagi mager nih, males ke mana-mana" tetap saja Langit menolak ajakan Arga.
"Yaaccchhh Langit emang nggak seru" ujar uncle Arga lemas.
"Ha...ha... Anggota tim yang lain juga banyak uncle, jadi ajak aja mereka" tukas Langit terbahak.
Langit pamitan setelah berganti baju kasual yang tadi dipakainya waktu berangkat.
Dengan kacamata hitam sudah nangkring di pangkal hidung mancungnya dan juga topi warna merah yang semakin membuat aura ketampanan Langit muncul, maka fans garis keras Langit pun ternyata banyak yang menunggu di pintu keluar.
Langit yang saat itu tak pakai masker, tak menyangka jika banyak fans yang menunggunya di sana.
Langit hendak balik kanan, tapi para cewek muda itu tak segan mengejarnya. Meski hanya sekedar minta tanda tangan dan foto bersama.
Lebih tiga puluh menit Langit berada di sana dan tak bisa pergi.
Makin berjubel aja yang antri di depan Langit.
"Waduh, gimana nih? Kenapa makin banyak aja" gumam Langit.
Panitia yang ada sampai kewalahan.
Langit membisikkan sesuatu, minta tambahan panitia untuk membantunya pergi dari area itu.
Tanpa mengecewakan yang telah antri, Langit menyelesaikan semua tapi meminta panitia untuk menghentikan yang baru datang.
Pegel juga nih tangan. Keluh Langit dalam hati.
Inginnya mager dengan ngendon di kamar hotel sambil ngobrol dengan sang istri malah Langit sibuk dengan tanda tangan bersama fans sekarang.
Uncle Arga yang tadi memilih pulang belakangan malah sekarang melenggang bebas seolah mengolok Langit dengan berjalan di tepian kerumunan itu.
"Sialan, gue malah keduluan nih ceritanya" gerutu Langit dalam hati.
Langit diarahkan oleh panitia untuk melewati pintu khusus agar bisa keluar dan terbebas dari kerumunan.
Langit bisa menarik nafas lega setelah berada dalam mobil yang akan membawanya balik ke hotel.
Dilihatnya uncle Arga yang duduk menyilangkan kaki di lobi. Dan sepertinya sedang menelpon uncle Arka.
"Ogah gue kalau disuruh mengatur manajemen dan sponsorsip. Lo tau sendiri kalau passion gue di tekniknya bro" tolak Arga karena disuruh Arka untuk memanage semuanya.
Langit ikutan gabung. Dan tak lama panggilan itupun terputus.
"Mau nerima sponsor baru?" tanya Langit penasaran.
Arga menggeleng.
"Panapion dan sedikit Blue Sky aku rasa sudah cukup. Dirgantara aja yang mau masuk nggak dibolehin bos besar" terang Arga.
"Harusnya uncle Arka tuh mulai mikirin usaha otomotif uncle" usul Langit.
"Ha...ha...bisa digantung Arka sama Bara. Anak cabang Dirgantara salah satunya ada perakitan mobil" kata uncle Arga menjelaskan.
"He...he..." Langit terkekeh.
Di pintu masuk, terlihat Daniel yang masih uring-uringan.
"Dia nginep di sini juga?" gumam Langit yang baru tahu Daniel juga sehotel dengannya.
"Alamakkk cang" seru Langit menepuk jidat.
"Ndre, aku nggak tahu gimana cara lo. Besok pagi tim kita harus dapat sponsor baru" tandas Daniel.
"Gara-gara ulah kedua orang tadi, aku nggak bisa uji coba hari ini" seru Daniel dan didengar Langit dan Arga.
"Maksimal besok aku harus bisa turun lintasan" Daniel terus saja ngedumel saat berjalan ke lift dan tak tahu jika Langit sedang memperhatikannya.
"Kemana manager yang selalu menemani Daniel pergi? Kok berganti Andre sekarang?" kata Langit.
"Dipecat kali" sela Arga.
"Kondisi tim Tiger sepertinya sedang genting kali ini?" imbuh Langit.
Arga pun mengiyakan.
Langit beranjak, "Uncle balik kamar nggak nih? Kalau nggak aku duluan dech, mau mandi" Langit melangkah menjauh.
Belum juga sampai kamar, ponsel Langit berdering. Dan ada nama Dad Tian di sana. Ada juga nama bunda dan Mega.
Panggilan grub nih. Batin Langit.
Langit mereject panggilan terlebih dahulu sebelum dirinya sampai kamar.
Dan benar saja, panggilan kembali berdering saat Langit sudah mulai rebahan.
Bilangnya ingin mandi ke Arga nyatanya sekarang malah rebahan.
"Halo Dad, halo bunda, halo Mega, halo sayangku" sapa Langit ke semuanya.
"Awan ke mana?" kata Langit yang belum melihat keberadaan sang adik.
Dad Tian mengalihkan arah kamera, dan terlihat Awan yang sedang fokus dengan buku.
"Wah, tumben adik gue yang paling bungsu pegang buku" olok Langit.
"Hei Awan, lo nggak salah makan kan?" Mega pun ikutan.
"Kalian kakak-kakak yang sombong. Adik sedang menderita begini malah diolokin. Gimana sih?" sungut Awan.
Saat ini pasti Dad tengah memaksa Awan untuk belajar sekaligus menyuruh mendengarkan obrolan keluarga.
"Nggak papa lah dik, kewajiban pelajar adalah belajar" imbuh Mega.
"Kalau kalian mau ngolokin gue, mendingan gue pindah aja ke kamar" Awan semakin menekuk mukanya dan akan beranjak berdiri.
"Berani pergi, Dad potong jatah sebulan" seru Dad dari balik kamera.
"Dad, jahat banget sih sama Awan" bibir Awan semakin panjang aja.
"Dad, nggak usah galak-galak dong ke Awan" bela bunda.
"Tuh, tim pembela kamu sudah datang" ucap Dad.
"Bunda, Awan dianiaya Dad nih" rajuk Awan.
"Manja....manja...." timpal Mega.
Begitulah kalau keluarga Sebastian tengah ngobrol online, selalu ada saja celaan dan candaan.
"Langit, kapan kamu balik dari Amerika?" tanya Dad.
__ADS_1
"Habis turun lintasan lah Dad" jawab Langit.
"Oke, kalau begitu Dad sendiri yang akan susulin bunda ke London Awan juga ikut. Mega kamu juga nyusul. Kita kumpul di London aja" perintah Dad.
"Dalam rangka apa ini kumpul-kumpul?" tanggap Mega.
"Ingin aja" ucap Dad Tian.
"Aku tahu" tiba-tiba Mega berteriak.
"Apa?" Langit menjeda seruan Mega.
"Stop, intinya Dad ingin jemput bunda. Titik" potong Dad, agar Mega tak meneruskan kata-katanya. Menurut Dad, hanya Mega yang kali ini ingat ulang tahun bunda nya.
"Oke Dad, Mega pasti ikut" ujar Mega.
Obrolan itu berakhir saat Jingga telah menguap beberapa kali.
Padahal yang waktunya tengah malam adalah Dad, Awan dan Mega. Tapi yang mengantuk malah Jingga duluan.
Dad datang ke London, pasti ingin mengakuisisi perusahaan garmen itu. Pikir Langit.
Di obrolan tim, rame dibahas tentang tim Tiger yang seperti kehilangan taring saat ini.
Sampai sore hari, berdasar info yang didapat belum ada satupun sponsor yang datang.
Perusahaan yang selama ini sebagai sponsor utama pun belum mau menggelontorkan dana nya lagi.
Beberapa foto Daniel sempat-sempatnya dibuat meme oleh beberapa orang di grub itu.
"Aneh-aneh saja mereka ni" gumam Langit.
.
Babak kualifikasi akan digelar hari ini.
Babak uji coba berlangsung lancar meski beberapa tim ada yang kesendat karena beberapa problem. Termasuk salah satu diantaranya tim Tiger.
Tim Tiger berhasil ujicoba nomor dua terakhir.
Meski saat uji coba, tim Tiger masih jauh dari target mereka sendiri.
Tim Langit mendapat giliran keenam untuk babak kualifikasi kali ini. Dan sesudah giliran Langit maka giliran Daniel berikutnya.
Di seri ini, sepertinya Daniel tak banyak tingkah seperti sebelumnya.
Tapi Arga memerintahkan agar tim waspada akan segala pergerakan semua tim. Tidak hanya tim Tiger.
Pedro mendekat ke arah Arga.
"Tuan, ada sesuatu yang mau aku laporkan" Andre pun membisikkan sesuatu ke Arga.
Arga pun mendekat ke Langit.
"Pakai baju kamu yang ada di box sebelah kiri, dan jangan pakai baju yang sudah disiapkan di atas" kata Arga.
"Kenapa?" tanya Langit.
"Sudah jangan banyak nanya, pakai aja kostum kamu yang ada di box seperti yang aku bilang tadi" suruh Arga.
"Mereka sangat lah licik ternyata" gerutu Arga.
"Licik dan tak punya modal" imbuh Arga dalam gumaman.
Langit mengambil kostum balap seperti yang dibilang oleh Arga dan segera memakainya karena sebentar lagi giliran tim nya yang akan maju babak kualifikasi.
Daniel yang mendapat giliran setelah Langit pun juga sudah bersiap dan saat ini menghampiri Langit.
"Gimana perasaan lo?" tanya Daniel sok akrab seperta biasanya.
"Biasa saja" tukas Langit dan berlalu menjauh.
Daniel masih mengikuti Langit.
"Eh, leher lo kenapa merah-merah?" kata Daniel mengalihkan perhatian.
"Biasa saja" Langit kembali mengatakan hal yang sama dengan yang tadi.
"Lo kenapa ngikutin gue? Mobil lo di sebelah sana" tunjuk Langit ke arah mobil Daniel yang berada lumayan jauh dari keberadaan mereka saat ini.
Daniel pun menjauh, seperti menatap heran ke arah Langit.
"Ada apa sih dia? Aneh?" gumam Langit merasa aneh dengan Daniel yang selalu menempel ke dirinya.
Arga yang giliran mendekat.
"Si Daniel pasti ingin mastiin, apa lo gatel pakai kostum ini" kata Arga menjelaskan.
"Maksud uncle?"
"Daniel ingin lo pecah konsentrasi karena kegatelan saat mengemudikan mobil di babak ini"
"Ha...ha... nggak modal amat sih dia" Langit terbahak.
"Kan lo tahu, timnya sedang seret sekarang. Makanya dia cari trik yang tak padat modal alias murah" ulas Arga.
Langit tak habis pikir, kok ada aja ide yang dipakai Daniel.
Saat ini Langit tengah berada di garis start. Tiba giliran dirinya untuk ikut mengikuti babak kualifikasi.
Langit melintasi lap demi lap dengan fokus dan konsentrasi tinggi.
Mobil yang dipakainya makin hari semakin mulus saja. Babak kualifikasi kali ini bisa dilewati Langit dengan lancar dan sukses.
Langit turun minum setelah mendapat waktu terbaik untuk sementara. Menunggu semua peserta ikut babak kualifikasi.
Tentu sambutan pertama Arga yang didapat Langit.
"Sudah kuduga. Hari ini pasti lo akan dapat yang terbaik" kata Arga.
"Jangan kepedean, semua peserta belum turun" kata Langit menimpali ucapan Arga.
"Oke, istirahatlah. Aku akan mantengin hasil yang lain" Arga beranjak mendekat ke monitor yang disediakan untuk setiap tim.
Dengan masih memakai atribut lengkap, Langit nelpon Jingga yang saat ini pasti sedang bersama bunda dan juga Linda.
"Baru selesai kah?" sapa Jingga yang melihat sang suami masih memakai baju kebesaran seorang pembalap itu.
"Hhemmm" gumam Langit.
"Di mana nih?" tanya Langit.
"Diajakin bunda spa" jawab Jingga.
Jingga yang sedang dilulur bersama bunda dalam satu ruangan.
"Pilih yang aman untuk ibu hamil. Jangan lupa itu" kata Langit mengingatkan.
"Siap tuan" tukas Jingga.
Hampir dua jam Langit berada di pinggir lintasan. Menunggu hasil babak kualiafikasi.
Langit ogah balik ke hotel duluan. Sepi yang menjadi alasannya kali ini.
"Gimana?" Langit ikutan duduk dekat Arga.
"Tetap terbaik" ucap percaya diri Arga.
"Masih berapa yang belum turun?"
"Tinggal satu. Dan sekarang berada di lap terakhir" balas Arga.
Sorak sorai terdengar dari luar paddock.
Semua anggota tim masuk dan beryel-yel dengan kompak karena tim ini dinyatakan mendapatkan pole position terbaik.
"Selamat, start pertama lagi" Arge menyalami Langit dan selanjutnya saling peluk.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1
To be continued, happy reading