Langit Dan Jingga

Langit Dan Jingga
Makan Malam


__ADS_3

Sementara itu terjadi kehebohan antara Langit dan Mega di mobil.


"Kak, aku ini sudah mahasiswi loh" kata Mega jengah.


"Terus ngapain kalau sudah mahasiswi?" tukas Langit.


"Aku juga udah ijin dad Tian" sambung Mega.


"Terus?"


"Aku tadi tuh masih ngerjain tugas kelompok. Kakak gangguin aja sih" kata Mega sewot.


Menjadi anak perempuan satu-satunya membuat Mega menjadi agak manja. Dan Dad Tian juga selalu posesif terhadap Mega.


"Tugas kelompok apaan? Kamu sengaja kan bohongin Dad" seru Langit.


"Enggak, kata siapa? Jangan asal nuduh dong" sela Mega semakin sewot.


"Sore tadi aku nyusulin bunda, tapi kalah duluan sama daddy. Yaacchhh akhirnya aku nerusin lah tugas kelompok aku yang ketunda di kos tempat Jingga" jelas Mega yang mulai turun nada suaranya.


"Lain kali ijin, biar kakak nggak repot nyariin" imbuh Langit memberi nasehat.


"Siap kakak ku yang paling tampan" puji Mega dengan nada nyinyir.


"Pujian kamu kedengar nggak ikhlas" tukas Langit.


Sampai di rumah, terlihat Dad Tian berjalan mondar mandir di ruang tengah. Menunggu kedatangan putri semata wayangnya.


"Dad, kok seperti gangsingan aja sih. Duduk dulu napa?" tanya Awan putra bungsunya yang sekarang duduk di sekolah menengah atas.


"Biarin. Daddy nungguin kakak kamu" seru Dad Tian.


"Tapi Daddy gangguin konsen aku main game online nih" balas Awan.


"Lagian kamu tuh, bukannya belajar tapi malah main game mulu" kata Sebastian menasehati.


"Mulai dech ceramahnya" gerutu Awan.


Tak lama setelahnya, Mega masuk mansion.


"Mega, jangan buat Daddy kuatir dong sayang. Kalau lagi belajar sama teman ijin dulu" kata Dad Tian.


"Daddy sama kak Langit sama saja" kata Mega.


"Sama gimana?" tanya Dad Tian.


"Sama-sama suka ceramah" lanjut Mega dan langsung masuk kamar.


"Setuju kak Mega" sela Awan yang sedari tadi masih rebahan di posisi semula.


Sebastian hanya bisa geleng kepala melihat kelakuan putrinya, yang hampir mirip dengannya sewaktu muda. Semakin diatur maka akan semakin membangkang.


"Ada apa sih Dad?" tanya sang istri menghampiri.


"Biasa lah sama Mega" ujar nya.


Mutia pasti paham keributan apa antara sang suami dan putrinya.


'Langit mana?" tanya Mutia.


"Iya bun" jawab Langit yang barusan masuk.


Langit yang hobi otomotif, selalu saja membersihkan mobilnya sendiri kala selesai dipakai dan sering menghabiskan waktunya untuk datang ke bengkel milik Uncle Arga.

__ADS_1


"Mega tadi kamu jemput di mana?" tanya bunda.


"Di tempatnya Jingga" timpal Langit dan berlalu menuju kamar nya. Ternyata Langit tahu juga nama teman adiknya.


"Mega tuh tadi nyusul bunda di kantor Dad. Berhubung bunda sudah dijemput sama daddy, Mega terus nganterin Jingga ke kos nya. Tadi dia sudah ijin sama bunda, tapi baru kebuka pesannya" jelas Mutia dengan sabar.


"Tuh, salahin bunda aja Dad" sela Awan.


"Issshhhhh, bisa libur seminggu Daddy kalau marahin bunda" tukas Daddy.


Mutia hanya bisa tertawa.


Mutia memanggil semua putra-putrinya untuk makan malam.


Meski semua sibuk, Mutia selalu berharap kala makan malam mereka duduk bersama di meja yang sama.


"Kak, tugas akhirnya gimana?" tanya Mutia kala sudah ngumpul.


"Nunggu jadwal sidang aja bun. Hari ini tadi konsul terakhir dengan dosen pembimbing" terangnya.


"Heemmmm, semoga lancar yaa" kata bunda.


Kata-kata bunda lah yang selalu buat adem suasana rumah.


"Mega boleh cerita bun?" sela Mega.


"Issshhhh..." Langit dan Awan sama-sama mendesis.


Kalau Mega cerita pasti tiada akhirnya.


"Apa sayang" Dad Tian menimpali.


Langit dan Awan kompak menepuk jidat dan hendak berdiri.


"Mau ke mana kalian?" hardik Dad Tian.


"Duduk" suruh Dad Tian tanpa mau dibantah. Keduanya membanting pantatnya masing-masing ke tempat duduk, tentu saja dengan menggerutu.


Mega tersenyum penuh kemenangan karena ada Dad Tian yang selalu membela.


"Ceritalah!" sela Langit.


Mega menjulurkan lidah ke arah Langit. Ganti Awan yang mendelik pada Mega.


"Kapan mulai ceritanya?" sela Dad.


"Ini juga mau dimulai Dad" kata Mega.


"Bun, kenal Jingga kan?" tanya Mega.


"Teman kamu yang cantik kan?" sahut bunda.


"Cocok nggak bun sama kak Langit?" tanya Mega.


"Banget tuh" seru bunda.


"Jangan jadi kompor" sela Langit ketus.


"Kenalin dulu ke daddy. Urusan kakak belakangan" kata Sebastian.


Mutia mendelik ke arah sang suami.


"Bukan itu maksudnya bun. Kenalin ke kita berdua" ralat Dad Tian.

__ADS_1


"Ha...ha....dasar Daddy STI" seru Awan.


"Apaan tuh?" tukas Dad penasaran.


"Suami Takut Istri" sambung Awan. Sebuah sendok melayang ke arah Awan.


"Bun, Daddy KDRT lho" rengek Awan.


"Sudah...sudah...lanjutin Mega" lerai Mutia.


"Jingga tuh dikhianatin tunangannya bun, sampai dia nggak berani bilang ke orang tuanΓ½a jika sudah putus" kata Mega.


"Lah, kenapa?" tanya Mutia penasaran.


"Intinya sih perjodohan bun" jawab Mega.


"Kalau aku jadi Jingga sih, ogah dijodoh-jodohin" ucapnya.


"Lagian siapa yang mau ngelamar loe kakak. Kena tatapan tajam Dad aja pasti cowok sudah balik kanan. Ya kan Dad???" imbuh Awan.


"Sudah belum nih acara nggibahnya?" Langit beranjak. Bosan dengan tema yang dibicarakan Mega.


"Kak, minggu depan ke negara sebelah yuk. Nonton balapan formula" ajak Awan.


"Kalau gratisan aku mau" seru Langit meninggalkan meja makan. Awan mencibir kakak nya.


Mutia kadang sampai bingung dengan anak pertamanya yang seolah tidak mau kenal cewek itu.


Sampai sekarang tidak ada satupun cewek yang dikenalkan padanya.


Kemana-mana hanya Bintang yang selalu menemani.


Menurut kak Catherine, Bintang malah sering gonta ganti pacar. Lah Langit, tak sekalipun. Mutia kadang takut ada yang tak wajar pada diri putranya. Tapi buru-buru ditepis pikiran buruk itu.


Tinggal Dad, bunda dan Mega yang ada di meja makan. Awan pun sudah balik ke kamar.


"Sayang, kenapa kalau ngerjain tugas kuliah nggak di rumah aja. Ajakin tuh Jingga ke sini" saran bunda.


"Wah, kalau di sini nggak seru bun. Kalau di kos Jingga banyak teman-teman meski beda jurusan" sahut Mega.


"Sekali-kali ajakin aja. Biar rumah ramai. Kakak sama adik kamu sudah sibuk dengan hobinya. Kak Langit dengan otomotif, Awan sama game online nya. Bunda kesepian" alesan bunda.


"Kan sudah ada Dad?" sela Mega.


"Kalau sama Dad, yang diobrolin kerjaan mulu" ulas bunda.


"Heemmm kalau begitu kita bikinin adik aja buat mereka bertiga bun" sela Dad.


"Nggak lucu. Usia sudah hampir setengah abad, suruh hamil lagi. Ogah" tukas bunda.


Dad Tian terbahak.


"Lucu kali bun, kalau bunda hamil lagi" tandas Mega.


"Nggak lucu" seru bunda menimpali.


"Dad, temenin Mega nonton drama korea" ajak Mega.


"Hah, drama yang ada nangis-nangisnya itu? Itu bunda yang cocok Mega" seru Dad.


"Makanya ajakin Jingga ke sini. Biar nontonnya seru" rayu bunda. Yang sebenarnya ada udang di balik batu.


"Ntar kalau malam libur aja bun. Moga aja Jingga suka sama drakor" seru Mega.

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading


__ADS_2