
Langit kembali menyalami Arka dan Tania sebelum berlalu menuju hotel.
Tentu saja untuk packing dan kembali ke London secepatnya.
Padahal Bintang dan juga Awan, masih ikutan berpesta pora di antara tim dan penonton di bawah podium kemenangan.
Sampai hotel Langit mencoba menghubungi Bintang.
"Halo" teriak Bintang menyapa karena suasana riuh di sekitarnya. Membuat Langit menjauhkan ponsel dari telinga.
"Lo balik sekarang apa nanti? Aku sudah di hotel dan packing. Aku mau ke London secepatnya" kata Langit.
"Hah? Apaan? Aku nggak dengar?" kembali Bintang teriak.
"Isssshhh..." sebal juga Langit.
Panggilan itu ditutup dan secepatnya dia mengirim pesan ke Bintang dan juga Awan.
Jika dalam setengah jam belum bersiap, maka akan Langit tinggalin.
Pesan telah terkirim.
Ponsel Langit kembali berbunyi dan kali ini Dad Tian yang menelpon.
"Halo Dad" Langit langsung menggeser ikon hijau ponselnya.
"Selamat ya atas kemenangan kamu. Selamat juga telah menghadiahkan cucu buat Dad" ujar Dad penuh semangat.
Panggilan Dad dialihkan ke video, dan terlihat Dad yang sedang menggendong putranya.
"Dad, ganti aku dong. Baby LJ juga keponakan aku loh" ucap Mega yang masih kedengaran di telinga Langit.
"Baby LJ????" tukas Langit bengong.
"LJ itu artinya Langit dan Jingga. Gitu aja nggak tahu" olok Mega.
"Dad, mana? Aku juga ingin gendong keponakan aku" pinta Mega kembali.
"Issshhh kalian kok rebutan sih? Putraku biar sama bunda aja" ujar Langit menyela saat Dad dan Mega rebutan sang baby yang nampak tenang meski disekitarnya ribut.
"Putramu itu cucuku" ujar Dad.
"Keponakanku juga" Mega ikutan.
Bunda meminta ponsel yang dipegang Dad.
"Kak, langsung bandara aja. Pesawat sudah dikirim Dad sejak kemarin. Biar kakak bisa istirahat nanti" jelas bunda.
"Makasih bun. Bunda selalu yang ngertiin Langit" balas Langit.
__ADS_1
"Heh, Dad ya yang ngirim ke sana. Tanpa Dad suruh mereka tak akan berangkat" sela Dad tak terima.
Langit terbahak, suka sekali menggoda Dad nya.
"Oke bun, Dad aku masih nungguin Bintang sama Awan nih. Aku yang menang mereka berdua yang repot selebrasi" kata Langit.
Panggilan itu terputus setelah Langit mencium putra dan juga Jingga meski by online... He... He....
Perjalanan selama 13 jam lebih akan Langit tempuh kembali untuk balik London.
Bintang dan Awan datang tergesa karena masing-masing terlambat membaca pesan dari Langit.
"Lima menit waktu berkemas" seru Langit.
"Nggak pake. Kita kan naik pesawat pribadi" tukas Bintang.
"Semua sudah siap menunggu di bandara. Kalau lama, naik aja pesawat komersil" imbuh Langit memperjelas.
Langit melenggang keluar kamar meninggalkan dua cowok yang sedang berkemas bagai dikejar maling saking cepatnya.
"Aku tunggu kalian di lobi. Dua menit lagi" seloroh Langit.
"Issshhh kau ini apaan sih? Keluar sana! Gangguin orang berkemas saja" tandas Bintang, jengah karena diriwehi oleh Langit saat dirinya berkemas.
.
Setelah tiga belas jam an berada di atas awan, kini Langit, Bintang dan Awan sudah berada dalam mobil jemputan yang disetirin oleh Agus.
"Ngapain?" ujar Bintang yang sudah tahu jika Jingga dan baby nya sudah di apartemen.
"Pakai nanya lagi??" sergah Langit.
"Tuan, nyonya muda dan putra anda telah dibawa pulang tadi" beritahu Agus.
"Nah loh dengerin tuh" sela Awan.
Langit coba cek ponsel, ternyata Jingga telah mengirim pesan jika sudah diperbolehkan pulang sejak enam jam yang lalu.
"Oke, langsung apartemen" Langit merubah perintahnya ke Agus.
Mobil melaju ke arah yang dimaksud Langit.
Bagai seorang pewarta, Bintang menyodorkan ponsel seolah melakukan wawancara.
"Tolong kesan dan pesan anda setelah menjadi juara dan juga mendapat hadiah terbesar yaitu putra anda telah lahir" tanya Bintang.
"Bahagia tentu saja" Langit berdiplomasi bagai seorang yang terkenal. Padahal Langit menjadi sosok baru yang kehidupan pribadinya akan menarik untuk dikulik oleh publik.
Konten yang dibuat Bintang dikirimkan ke tim bentukan Langit, yang selalu menayangkan cerita di balik layar tentang perjalanan tim Singa Merah hingga mendulang sukses.
__ADS_1
Sambutan hangat didapatkan Langit saat dirinya tiba di apartemen.
Ternyata di sana sudah lengkap, ada Opa Oma, papa Reno dan mama Catherine juga.
"Mana keponakan aku" Awan mendahului sang kakak untuk masuk kamar baby yang sudah disiapin Langit jauh-jauh hari.
"Eittsssss..." Dad mencegah Awan dan juga Langit yang saling mendahului.
"Dad, aku ingin lihat putraku" tandas Langit.
"Bersihin badan dulu. Apalagi kalian baru datang dari jauh" suruh Dad.
Kembali mereka berdua saling mendahului. Sementara Bintang temu kangen dengan papa mamanya.
"Issshhh, mau ketemu anak sendiri aja harus melewati barikade yang luar biasa susahnya" gerutu Langit dengan kaki tetap melangkah ke kamar nya.
Di sana Jingga tengah tertidur. Muka nya terlihat capek sekali.
Langit kecup kening sang istri, "Makasih sayang telah berjuang". Dan selanjutnya beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Terlihat binar mata bahagia Langit saat menggendong putra pertamanya.
Ada rasa yang tak bisa diungkap saat makhluk mungil itu ada dekapannya.
"Dad, begini kah rasanya jadi orang tua?" tanya Langit.
"Aku merasakan semua itu saat bunda kamu ngelahirin Mega adik kamu" jelas Dad.
"Nggak usah dibahas lagi. Semua sudah jadi masa lalu" sela Mutia yang tak ingin mengulangi kesedihan masa lalu nya. Lengkap cerita tentang Sebastian dan Mutia ada di 'Wanita Ibu Anakku'.
Langit menciumi bayi yang masih merah itu.
"Akan kamu kasih nama siapa?" tanya Opa Baskoro.
"Yang pasti ada nama Baskoro nya Opa" jawab Langit terkekeh.
.
Berita tentang kemenangan Langit bersamaan dengan kelahiran putranya menjadi trending topik di berita-berita sportainment.
Ucapan selamat memenuhi akun sosmed tim Singa Merah.
Banyak juga yang menanyakan kapan launching baby di depan publik.
Sementara Langit masih menikmati kebersamaan dengan baby barunya.
Ponsel Langit berdering siang itu.
"Share alamat kamu! Uncle di London nih" kata Arka terdengar saat panggilan tersambung.
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading