Langit Dan Jingga

Langit Dan Jingga
PHP Mega


__ADS_3

Sebuah pesta telah disiapkan oleh Arka Danendra selaku pemilik tim untuk menyambut kemenangan yang dipersembahkan olah Langit dan kawan-kawan.


Ponsel Langit berdering, saat dia turun podium.


"Ya uncle" jawab Langit.


"Selamat atas kesuksesannya. Good Job Langit" kata uncle Arka yang nelpon Langit saat masih berada di tribun.


"Makasih uncle. Ini semua atas kerja keras semua lini. Saya kan hanya tinggal makai mobilnya. Uncle Arga tuh yang hebat" jawab Langit sambil terkekeh


"Ntar malem kita pesta dech. Dan jangan lupa beritahu yang lain" ujar uncle Arka.


"Sori nih, bukan niat untuk menolak niat baik uncle. Tapi aku ingin segera balik Indo" bilang Langit sekaligus ijin.


"Oke lah, kalau begitu pestanya kita tunda aja sampai kamu ada waktu" seru uncle Arga.


"Jangan uncle, aku ngga bisa pastiin loh kapan aku bisa" seru Langit.


"Jam berapa rencana balik" tanya uncle Arka.


"Yaaaahhhh paling tidak sudah aku lepas lah nih kostum" celetuk Langit yang saat itu memang masih pakai kostum lengkap meski yang bagian atas sudah dilepas dan masih menempel di tubuh sebatas pinggang.


"Ha...ha...oke...oke...biar dianter uncle Arga ntar ke bandara" ucap Arka.


"Nggak usah uncle. Ijin aku balik hotel duluan" jawab Langit.


Langit telah balik hotel terlebih dahulu daripada anggota tim yang lain. Setelah pamitan dengan semua anggota tim dan tentunya uncle Arga tak kelewatan.


Perjalanan udara akan ditempuhnya selama satu jam ke depan.


Pesta kemenangan yang akan diadakan oleh sang pemilik tim, Langit pun melewatkannya.


Bukan tak menghargai uncle Arka, tapi lebih ingin bertemu dengan Jingga yang notabene sudah sadar berdasar kabar dari Mega.


Padahal Mega melewatkan memberi informasi kepada Langit tentang Jingga yang ditidurkan kembali saat histeris sambil menahan nyeri kepalanya tadi.


Langit keluar hotel, lengkap dengan atribut topi dan masker. Kacamata hitam menyanggong manis di hidung untuk membuat sejuk mata.


Jadwal pertandingan yang akan diadakan dua minggu ke depan membuat Langit punya sedikit waktu untuk membersamai Jingga.


Tugas akhir dan jadwal bimbingan pun Langit lakukan jarak jauh dengan dosen pembimbingnya. Akhir-akhir ini Langit agak keteteran juga membagi waktu.


Belum lagi kalau Dad Tian sedikit memaksanya untuk ikut belajar di Blue Sky.


Menurut Dad Tian, profesi pembalap tak bisa dijadikan pegangan untuk menghidupi anak orang nantinya. Makanya Langit dan Awan disiapkan Dad untuk menjadi penerus Blue Sky. Beda dengan Mega yang seorang cewek.


Hal itu sempat dikomplain Langit karena Dad membedakan perlakuan berdasarkan gender.


Bahkan Langit juga pernah mengusulkan agar Bintang juga dijadikan kandidat utama menjadi penerus perusahaan Blue Sky. Tapi oleh papa Reno, Bintang telah diarahkan sekolah spesialisasi.


Bintang sekarang juga berada di semester akhir jurusan spesialisai bedah jantung seperti papa Reno.


Kenapa dulu mama Catherine tidak masuk saja ke direksi Blue Sky, alasan yang sama buat Mega. Kalau wanita tak wajib bekerja.


Nasib Mutia Bakery pun belum tahu nanti ke depannya.


Mega yang kuliah hukum sangat ingin menjadi seperti aunty Tania. Aunty Tania lah yang menjadi kiblatnya selama ini, untuk menentukan masa depan.


Kebalikannya dengan itu, Adisty putri tunggal uncle Arka dan Aunty Tania lebih berminat ke kegiatan baking membaking. Jika diajakin bunda ke Mutia Bakery, senangnya luar biasa.


Menurut Mega meski wanita, Aunty Tania bisa menjadi lawyer yang sangat disegani pada waktu sidang.


Hanya dengan menggunakan nama besar aunty, jaminan banyak kasus menang di persidangan.


Langit berjalan sendirian di bandara. Dengan penampilannya saat ini, Langit yakin tak ada yang mengenalinya.


"Tuan Langit" sapa seseorang dari arah samping.


Langit menengok ke arahnya, setelah pemeriksaan tiket selesai.


Langit menelisik orang yang memanggilnya. Sampai detik ini Langit tak ingat siapa dia.


"Selamat ya menang balapan tadi, aku tadi lihat langsung loh. Tak nyangka bisa satu penerbangan dengan anda" serunya ceria.


Oalah dia ini salah satu penggemar aku. Makanya sedari tadi tak ingat siapa dia. Batin Langit.


"Boleh ya minta foto" serunya kemudian.


"Heemm, maaf saya buru-buru nih" tukas Langit ramah.


"Sekali aja tuan. Plissss" wanita itu sedikit memaksa.

__ADS_1


Langit akhirnya mengiyakan saja, meski dengan senyum terpaksa saat terekam kamera.


Langit yang mempunyai kharisma luar biasa dalam diam, karena itu pula banyak wanita yang mengagumi sosok Langit yang bagai es kutub.


Semakin dingin membuat semakin membuat penasaran banyak wanita. Meski dengan terang-terangan Langit menyebutkan someone spesial di sambutannya di podium tadi.


"Makasih" seru wanita tadi saat tujuannya telah tercapai. Merasa senang bisa foto dengan idola.


Langit melangkah pasti ke arah ruang tunggu para penumpang.


Masih ada sedikit waktu untuk menghubungi Mega.


"Hai kak. Di mana nih? Bandara ya?" tanya Mega saat panggilan video tersambung.


"Yap, dan sejam lagi gue jemput dong" bilang Langit.


"Kalau Awan aja gimana?" Mega menawar.


"Nggak akan, Awan belum cukup umur" tolak Langit.


"Aku mau ke rumah sakit nih" lanjut Mega.


"Ntar aja barengan sama kakak" kata Langit.


"Oke...oke..mendingan diiyain aja dech" sungut Mega.


Langit tersenyum menanggapinya.


Kalau Mega di rumah, berarti yang bersama Jingga sekarang pasti lah bunda.


Keluarga Sebastian bahu membahu saling menggantikan untuk menjaga Jingga selama Langit pergi.


Meski ada Langit pun, juga tak seterusnya berada di rumah sakit.


.


Satu jam lebih mengangkasa membuat Langit telah sampai di bandara internasional dalam negeri.


Langit kembali mengontak Mega menanyakan posisi jemputan.


Setelah memastikannya, panggilan itu pun terputus.


"Kak, selamat yaaa" panggil seseorang. Suaranya sangat dikenal Langit meski tak harus menoleh ke arahnya.


Mereka saling memeluk bak adik kakak. Emang aslinya adik kakak sih...he...he...


"Ayo buruan. Gara-gara lo kejebak macet, berasa jamuran gue di bandara" tukas Langit.


"Belum juga sejam" ledek Mega.


Seperti Mega tadi, mereka berdua kembali terjebak kemacetan yang luar biasa.


Langit membiarkan Mega yang menyetir karena dirinya lumayan lelah saat menggeber mobilnya di lintasan.


"Andai jarak bandara ke rumah sakit ada lintasan sirkuit, pasti kita akan segera sampai ya kak" celetuk Mega ngasal.


"Hhhmmm" Langit hanya bergumam menanggapi. Padahal kini matanya terpejam.


Mega menengok ke arah kakaknya. "Kok bisa jawab sih, padahal lagi tidur?" kata Mega merasa aneh.


Perjalanan dari bandara ke rumah sakit malah lebih lama daripada penerbangan tadi.


"Kak, turun nggak nih? Sudah sampai" Mega menggoyang badan kakaknya yang tinggi besar itu.


Langit terjingkat. "Sudah sampai ya?" terbangun karena tubuhnya digerakin sang adik.


"Issshh capek juga ngebangunin kakak. Mana badan besar lagi" ujar Mega sewot.


"Habis ini awas saja kalau nggak traktiran. Sudah berasa ojol aja gue" Mega semakin sewot.


Langit tertawa menanggapi adiknya yang kadang masih kekanakan karena selalu punya tim pembela. Siapa lagi kalau bukan Dad Tian.


Langit dengan santainya menggandeng Mega yang manja. Senang aja menggoda tuh cewek.


Mega menarik lengannya.


"Kenapa?" tanya Langit.


"Ntar banyak yang ngira kakak pacarnya Mega dong" seru Mega.


"Kebetulan. Biar cowok-cowok mbatalin untuk ngedekatin lo" tukas Langit.

__ADS_1


"Kak, senang ya kalau adik lo nggak laku" jengah juga dengar suara kak Langit.


"Tau nggak kak, jadi anaknya Dad itu juga beban loh buat gue" ucap Mega.


Langit menengok ke arah sang adik.


"Bener. Menjadi anak pemilik Blue Sky, pasti cowok-cowok ngeri duluan ngedeketin gue" seru Mega.


"Ha...ha...cewek premium tuh harusnya dapetnya yang premium juga" seloroh Langit membercandai Jingga.


"Hadech. Berasa menjadi beras gue. Ada yang premium ada yang biasa" Mega pun ikutan tertawa.


Tak terasa perjalanan di lorong rumah sakit menjadi cepat sampai ruang intensif karena candaan mereka berdua.


Di sana sudah ada Dad Tian sama uncle Dewa.


"Ooooii Langit, sudah datang aja lo. Betewe selamat ya. Semoga podium juara umum tahun ini jadi milik lo dech" ucap uncle Dewa.


"Siiiipppp, doanya aja uncle" tukas Langit.


"Masuk sana, panggilin bunda. Dad sudah jamuran nih nungguin kalian berdua" ucap Dad.


"Issshhh Dad macam apaan? Ngucapin selamat aja nggak" olok Mega.


"Kan belum. Nunggu kamu masuk manggil bunda duluan" alibi Dad.


Mega masuk duluan ke ruangan Jingga untuk menemui bunda.


Tak lama bunda keluar menghampiri ketiga cowok yang berbeda generasi itu.


"Kak, sudah datang? Selamat ulang tahun, semoga kakak selalu dilimpahin kesehatan dan rejeki yang berkah. Doa terbaik untuk kakak. Selamat juga ya atas kemenangannya tadi" bunda langsung saja memeluk putra pertamanya itu. Putra yang selalu mendampinginya dirinya saat dalam keadaan terpuruk pun.


"Makasih bun" Langit membalas pelukan bunda nya.


"Sudah, jangan lama-lama" sela Dad dan mengurai pelukan mereka berdua.


"Ha...ha...selalu saja posesif" uncle Dewa terbahak.


Momen itu pun rusak karena ucapan Dad dan candaan uncle Dewa.


Mutia sewot seperti biasa.


"Jangan marah sayang, aku hanya cinta kamu" seru Dad Tian.


"Isshhh, jangan mulai dech" tanggap Mutia. Membuat Dewa dan Langit ikutan tertawa melihatnya.


Sungguh diakui Langit, jika kebucinan Dad Tian sudah level tingkat tinggi. Itu juga yang mungkin menyebabkan hubungan Dad dan bunda nya langgeng.


"Langit masuk dulu" pamit Langit ke ketiga nya.


"Ntar, tolong bilangin Mega. Malam ini suruh pulang aja. Kan sudah ada kamu di sini. Biar dia juga istirahat" pesan bunda.


"Siap bun" jawab Langit dan tak membantah ucapan bunda.


"Oke Langit, kita juga mau pulang" pamit ketiganya.


Sepeninggal Dad Tian, bunda dan uncle Dewa, Langit masuk ke ruangan Jingga.


Dilihatnya Jingga dalam kondisi seperti saat Langit akan pergi.


"Loh, katanya Jingga sudah sadar?" tanya Langit menghampiri Jingga.


"Iya kak, sebelum kakak balapan tadi malah Jingga sudah ingat padaku. Nyatanya dia memanggil namaku" cerita Mega.


"Tapi maafkan aku kak. Niatku ingin memberitahunya kalau kakak sedang ikutan balapan yang tadi live di tivi. Jingga tiba-tiba mengeluh kepalanya sakit dan gelisah. Oleh uncle Bara, Jingga diberikan obat penenang lagi" jelas Mega.


"Bilang bunda sih, alat-alat yang menempel di tubuh Jingga akan dilepas gantian mempertimbangkan kondisi Jingga yang lumayan membaik" imbuh Mega.


Langit terdiam mengamati tubuh Jingga yang terbaring di atas ranjang.


Infus pun masih setia menempel erat di tangan Jingga.


Langit mendekat dan memegang tangan Jingga.


"Semoga kau kuat menghadapi semuanya nanti" ujar Langit.


Belum kondisinya sendiri yang rapuh. Saat sadar nanti, cepat atau lambat Jingga akan dihadapkan dengan berita kematian ayah dan mama nya.


***🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


To be continued, happy reading***

__ADS_1


__ADS_2