Langit Dan Jingga

Langit Dan Jingga
Intimidasi Dad


__ADS_3

"Uncle, apa yang menjadi motivasi Dad membeli perusahaan itu? Jelas-jelas perusahaan itu mau gulung tikar" tanya Langit saat sudah dalam perjalanan.


"Hhhmmmm menurut kamu apa?" tanya balik Dewa.


"Makanya aku nanya uncle, karena aku tak tahu" ucap Langit sambil mengangkat kedua bahunya.


Dewa mengatakan sesuatu yang membuat Langit tak menyangka akan hal itu.


"Dad, sampai sebegitunya?" tanggap Langit tak percaya.


"Hhhhmmm..." gumam Dewa sambil mengangguk.


"Apa Dad ingin membalas perbuatan nyonya Michelle terhadap Jingga waktu itu?" seru Langit.


"Begitulah" jawab singkat Dewa.


"Apa harus dengan cara seperti ini? Bukannya memberi efek jera saja sudah cukup uncle?" seru Langit.


"Kamu itu terlalu baik Langit? Sama seperti bunda kamu" tukas Dewa menimpali.


"Kamu belum tahu bagaimana seorang relasi bisnis bisa menjadi musuh atau musuh berubah menjadi relasi. Dan semua itu butuh pengalaman" terang uncle Dewa.


"Pesaing bisnis, tak perlu diberi ampun jika sudah berani mengusik kita. Apalagi sudah berani membahayakan keluarga atau anak buah kita" lanjut uncle Dewa.


"Dan untuk semua itu, kamu masih harus belajar banyak ke Dad kamu" imbuh Dewa.


"Apa Dad seperti itu?" tanya Langit menegaskan. Karena kalau di rumah, Dad yang terlihat bucin dengan bunda dan selalu saja bergurau dengan anak-anaknya. Apa akan sebegitunya dengan musuh-musuhnya.


Langit hanya mendengar sepak terjang Dad, tanpa tahu kebenarannya langsung.


"Kalau bukan ulah Daniel, siapa lagi waktu itu?" tanya Langit serius.


"Michelle" jawab Dewa membuat Langit menganga tak percaya.


Tentu saja tak percaya, karena dalam benak Langit sosok seorang ibu gambarannya tak jauh dengan bunda nya.


"Apa ada sosok mama sekejam dia? Apalagi pake suruhan nyulik anak orang. Lantas maksud Daniel waktu itu pernah bilang dendam ke keluarga kita itu apa ya uncle? Aku masih belum paham dengan runtutannya" telusur Langit.


"Kamu kenal Andre kan?" tanya balik Dewa.


"Hanya sekedar tahu, dan tak mengenalnya dekat" jawab Langit.


"Dia lah orang kepercayaan mama nya Daniel, dia sudah lama mengintai sepak terjang kamu. Dan selain melapor ke nyonya Michelle, Andre juga mengompori Daniel" Dewa mulai bercerita, seakan tahu benar apa yang terjadi.


"Alasan nyonya Michelle sendiri?" tanggap Langit.


"Seperti yang dibilang Daniel padamu" tandas Dewa.


"Wah, salah paham lagi kah?" tukas Langit dan dijawab anggukan Dewa.


"Aneh banget sih orang-orang. Kenapa salah paham dibiarkan bertahan puluhan tahun. Sampai mendoktrin anaknya segala untuk membenci. Hadech" kata Langit menepuk jidat.


"Itulah kehidupan. Kalau orang lurus semua maka dunia itu tak ramai" tanggap Dewa.


"Iya juga ya. Malah berasa aneh kalau isi dunia ini semuanya berisi orang baik. Maka tak ada perang, hidup damai tanpa emosi...ha..ha..." Langit terbahak.


"Bisa jadi malah hening, tak ada ramai-ramai" ucap Dewa ikutan tertawa.


"Hidup jadi monoton, ujung-ujungnya bosan...terus emosi pun datang" lanjut Langit.


"Kita ini bahas apaan sih?" kata Dewa.


"Omong kosong...ha...ha..." dan mereka terbahak bersama termasuk Agus.


"Kalau seperti itu, dunia sudah jadi surga karena tak ada lagi orang jahat tuan" Agus ikutan nimbrung bicara.


"Betul tuh apa kata kamu" timpal Dewa.


Kini mereka telah duduk di sebuah perusahaan besar.


Melihat gedung yang kokoh berdiri, pasti tak mengira kalau perusahaan ini butuh investasi yang banyak.


Seorang petugas front office menghampiri Dewa dan Langit yang sedang duduk menyilangkan kaki. Dan petugas itupun mengantar ke ruang CEO.


"Silahkan" kata karyawan itu.


Langit dan Dewa diantar sampai di depan sekretaris CEO untuk diantar ke nyonya Michelle.


Setelah melihat nyonya Michelle secara langsung, Langit cukup kaget juga. Tapi langsung ditutupinya dengan senyum dan tangan mengulur ke arah wanita setengah berumur itu. Wanita yang nampak lebih tua dari usia sebenarnya.


Meski tak tahu secara pasti usia Nyonya Michelle, tapi dibandingkan dengan bunda nya tentu wajahnya jauh berbeda.


Sebagai orang muda dan sebagai tanda hormat, makanya Langit mendahului.


Nyonya Michelle tersenyum sinis, "Inikah rival putraku? Yang akhir-akhir ini selalu mengalahkan si Daniel" ujarnya.


"Langit Putra, itu nama saya nyonya" tandas Langit tegas.


Nyonya yang dalam bayangan Langit seorang yang anggun, tapi saat bertemu ternyata nyonya Michelle cenderung seperti lady boy.


'Kenapa sedari tadi pikiranku selalu body shaming ya?' Batin Langit.


Wanita yang beberapa kali bertemu dengan Langit tanpa sengaja.


Nyonya Michele menyilahkan Langit dan Dewa untuk duduk.


Dewa pun mengutarakan niatannya.


Tanggapan nyonya Michelle sama seperti dugaan Dewa sebelumnya.


Dia langsung saja berdiri.


"Kalian sudah berani membangunkan harimau tidur tuan-tuan" hardiknya.


"Apa harimau yang bangun itu adalah harimau tanpa taring, yang bahkan sudah bertemu beberapa kali dengan ku?" seru Langit menyindir.


"Cih, kamu terlalu sombong anak muda" tandas nyonya Michelle angkuh.


Langit hanya menaikkan sudut bibirnya sebelah tak sampai terlihat.


Benar apa kata uncle Dewa, dia sudah tak berpunya tapi kesombongannya masih di atas rata-sata.


Tapi Dewa sudah punya senjata andalan untuk menekan supaya wanita di depannya menyetujui segala ucapan nya tadi.


"Sampai kapanpun saya tak akan pernah menyetujui perusahaan ini dibeli oleh siapapun" katanya mulai emosi.


"Sabar nyonya. Kami datang hanya ingin membantu anda" ujar Dewa menimpali.


"Tapi tidak dengan membeli. Saya hanya ingin investor yang datang. Bukan pembeli seperti anda" kata nyonya Michelle sengit.


Dewa masih bisa mengulum senyum.


"Siapapun investor yang akan masuk, pasti akan berpikir ulang melihat keadaan perusahaan ini" kata Dewa percaya diri.

__ADS_1


"Ha...ha... Anda bicara seolah-olah tahu keadaan di sini saja" tawa nyonya Michelle meledak.


"Sebelum saya membeli, tentunya saya sudah tahu betul kondisi di sini nyonya" sambung Dewa.


Tawa nyonya Michelle terhenti seketika.


Tatapan tajam mengarah ke Dewa.


Dewa masih berusaha negosiasi dengan sewajarnya dan tanpa memaksa.


"Bagaimana nyonya?" kata Dewa mengulangi.


Dewa menunjukkan beberapa gambar di ponsel nya ke nyonya Michelle.


"Anda mau mengancam saya?" seru nya.


"Bukan, tapi bayangkan saja. Sebuah berita akan muncul jika anda tidak menyetujui panawaran kami" kata Dewa masih dengan nada biasa.


"Berita apa?" tatapan netra marah nampak sekali di muka Nyonya Michelle.


"Pengusaha wanita melakukan penculikan kepada wanita tak bersalah" imbuh Dewa santai tanpa nada mengintimidasi.


"Bukankah itu akan semakin menjatuhkan nilai saham di perusahaan ini?" ulas Dewa.


"Makanya sebelum itu semua terjadi, setujui saja penawaran kami" kata Langit menguatkan.


"Sekarang kami masih berani membeli dengan harga segitu nyonya, tapi entah esok lusa ataupun minggu depan" imbuh Langit.


"Kalian terlalu percaya diri tuan-tuan. Apapun yang terjadi, saya tak akan menjual satu-satunya perusahaan peninggalan keluarga ini" nyonya Michelle masih bertahan dengan prinsipnya.


Langit dan Dewa pun sebenarnya tak merasa rugi seandainya wanita di depannya ini kekeuh mempertahankan.


Tapi jika setuju pun itu lebih baik.


Tapi rugi juga Dewa datang jauh-jauh jika tak berhasil mendapatkan tujuan nya.


"Tidak juga jika anda melihat ini?" Dewa kembali menunjukkan gambar terakhir yang di punya.


Gambar yang menunjukkan Kenzo dan Andre dikonfrontir oleh penyidik.


"Cih, masih saja mengancam dengan gaya lama" nyonya Michelle masih saja mengelak.


Dewa menunjukkan tangkapan gambar layar dari percakapan nyonya Michelle dan Andre yang memerintahkan semua tindakan penculikan waktu itu.


"Ha...ha...apa tendensi ku menculik cewek yang dekat denganmu wahai anak muda?" telisik nyonya Michelle masih saja mengelak.


"Misi balas dendam. Dendam karena nyonya mengira jika Frans meninggalkan anda karena wanita yang ditolak Sebastian waktu itu kan?" jelas Dewa.


"Dendam pribadi yang berawal dari salah paham, benar bukan?" tandas Dewa.


"Perlu anda tahu nyonya, wanita yang dinikahi Frans waktu itu pun sedang mengandung anak Frans juga. Apa anda melewatkan itu waktu menyelidikinya?" imbuh Dewa dengan maksud mengkonfrontir nyonya Michelle.


"Sampai di sini anda paham? Atau pura-pura tak paham?" tambah Dewa.


"Aku rasa bukan urusan anda tuan"


"Akan menjadi urusan saya, karena anda dan anak buah anda telah berani menganggu kami" tandas Dewa.


"Saya tunggu kabar dari anda, maksimal besok. Jika tak menyetujui apa yang saya sampaikan tadi, bisa jadi lusa nama perusahaan anda hanya tinggal nama" bisik Dewa ke telinga nyonya Michelle.


Tentu Dewa tak mau suaranya terekam.


Sedari tadi Langit dan Dewa berusaha bersikap sewajar mungkin agar tak begitu nampak di kamera pengawas jika sebenarnya mereka berdua sedang mengintimidasi ibu dari Daniel itu.


Setelah dirasa cukup Langit dan Dewa meninggalkan ruangan itu, meninggalkan nyonga Michelle yang menatap marah ke arah mereka.


'Ada apa gerangan dia ke sini?' alis Dewa saling bertaut.


Meski tak berpapasan langsung, dirinya yakin laki-laki yang memasuki lift di sebelah sana itu adalah Frans.


Saat di mobil, Dewa langsung saja menelpon Sebastian.


Memberitahukan jikalau Frans sudah berada di London, dan saat ini sedang menemui nyonya Michelle.


"Anak buah kita sudah ada yang melaporkan. Sengaja aku biarkan Frans bernostaligia terlebih dahulu dengan mantannya itu...ha...ha..." jawab Sebastian dengan nada santai.


"Dad kamu ini gimana sih? Mereka akan tambah bahaya kalau dibiarkan bersatu" gerutu Dewa karena kadang tak memahami rencana Sebastian selanjutnya.


"Biarkan saja uncle, Dad pasti ada pertimbangan tersendiri. Apalagi kedua orang itu sekarang dalam posisi tak ada taring nya sama sekali" Langit menimpali.


Nyonya Michelle dengan perusahaan di ambang kehancuran, sementara Frans seorang yang baru keluar lapas.


"Tapi bagaimanapun juga kita harus waspada" imbuh Dewa.


"Akan lebih baik, kita tak memberi kesempatan mereka bergerak" tandas uncle Dewa.


.


Berita keesokan hari menggemparkan di sosmed, perusahaan garmen itu menyatakan dirinya tutup dan merugi.


Semua karyawan dirumahkan tanpa pesangon.


Langit yang melihat layar televisi di ruangan setelah diberitahu Dad ikutan terkejut.


Gila nih orang. Sepertinya keputusan ini tidak murni dari nyonya Michelle.


"Dad, apa tetap akan kita beli perusahaan yang jelas-jelas bangkrut?" tanya Langit serius.


"Kondisi begini sebenarnya waktu yang tepat untuk itu. Pasti harga sahamnya menurun drastis hari ini. Coba kau cek aja!" suruh Dad.


Langit melakukan apa yang diminta Dad, dan apa yang dilihat ternyata sesuai dengan perkataan Dad tadi.


Langit meyakini ada permainan di balik semua ini.


Perkataan nyonya Michelle saat berhadapan dengan Langit dan Dewa berbeda seratus delapan puluh derajat saat berhadapan dengan wartawan pagi ini.


Di depan para wartawan, dengan sangat yakin nyonya Michelle menyatakan akan menjual perusahaan daripada terus merugi.


Sementara di background tempat wawancara, di sebuah layar monitor yang lebar nampak Langit dan Dewa seperti sedang mengatakan sesuatu.


"Nyonya, siapa kedua laki-laki yang menemui anda itu?" tanya salah satu wartawan yang duduk paling depan.


"Apa anda tak mengenal laki-laki muda itu? Coba tajamkan penglihatan anda" suruh nyonya Michelle ke orang yang bertanya tadi.


"Bukannya dia juara balap formula?" imbuh pewarta itu. Dan nyonya Michelle mengangguk.


"Kalau memang benar itu tuan Langit, lantas apa tujuan dia mendatangi anda nyonya?" seru pewarta itu melanjutkan tanya nya.


Wawancara yang disiarkan live itu pun mendapat atensi yang luar biasa dari para pemirsa. Apalagi melibatkan Langit yang notabene akhir-akhir ini menjadi idola di olahraga otomotif dan sering juga muncul di sosmed.


"Mangancam aku untuk segera menjual perusahaan yang aku punya" ucap nyonya Michelle dengan wajah sendu.


Di tempat lain, di ruangan Langit nampak Dad Tian dan uncle Dewa telah berada di sana.

__ADS_1


"Tuh kan, tetap saja licik dia. Kemarin kamu sudah kuingatkan loh Tian" seru Dewa.


"Ya biarin aja" kata Dad Tian masih saja santai.


"Ingat, nama baik Langit dipertaruhkan saat ini" imbuh Dewa.


"Wanita ini melakukannya pasti ada sebab dan tujuan nya" ujar Dad Tian menambahi.


"Maksud kamu?" ucap Dewa.


"Michelle memanfaatkan kedatangan kalian kemarin di perusahaan dengan tepat. Pertama dengan jumpa pers ini, dia ingin menaikkan pamor anaknya. Si Daniel dan juga tim Tiger. Kedua, dia ingin jual cerita bohong hari ini untuk menaikkan nilai saham dari perusahaannya" analisa Dad Tian, dan biasanya selalu tepat.


Kembali ketiganya fokus di depan layar tivi.


"Untungnya, ada seorang pengusaha yang sangat kaya mau membeli perusahaan turun temurun ini dengan harga yang lebih tinggi dari penawaran tuan Langit dan rekan" lanjut nyonya Michelle dengan mimik bersedih.


"Kenapa tuan Langit urung membeli?" tanya yang lain dari kerumunan pewarta.


"Karena saya tak setuju. Terlalu murah bagi saya" kata nyonya Michelle menambahi.


"Bisa kita dikenalkan dengan tuan yang baik hati itu nyonya?" tanya yang di belakang.


"Of course, tentu saja" kata nyonya Michelle antusias.


Frans datang bergabung ikutan duduk di samping nyonya Michelle.


Dan mengikuti acara jumpa pers sampai selesai dengan sesekali memberikan jawaban juga atas pertanyaan para pewarta.


.


Di ruangan Langit.


"Hhhhmmmm, pintar juga Michelle dan Frans" kata Dad Tian dan diiyakan oleh uncle Dewa.


"Tentu saja, dengan mengatakan ada yang membeli maka nilai saham akan naik di tangan Frans dan mencegah kita untuk mengakuisisi perusahaan bangkrut itu" ucap Dewa menanggapi apa yang diucapkan oleh Dad Tian.


"Apa Frans sekaya itu?" sela Langit.


"Aku rasa itu trik yang akan mereka mainkan kali ini" tandas Dad Tian.


"Pasti lo tak menduganya kan?" olok Dewa ke Dad Tian.


"Yess, itu di luar prediksi" kata Dad Tian sembari tertawa.


"Apa mereka akan bersatu lagi?" sela Langit.


Kedua laki-laki dewasa di depan Langit itu pun sama-sama mengedikkan bahu.


"Emang kita peramal? Ya pasti bukan lah. Makanya kita tak tahu apa yang akan terjadi nanti dan esok hari" jawab Dewa.


.


Kembali ke layar tivi, nyonya Michelle kembali menegaskan bahwa pemilik perusahaan saham baru nya ini akan tetap dan bersedia menjadi sponsor utama tim Tiger yang digawangi oleh anaknya sendiri.


"Makasih tuan Frans, anda memang baik hati" puji nyonya Michelle di depan para pewarta.


Bahkan Daniel yang tak muncul dari tadi, sekarang pun ikutan gabung di meja untuk nimbrung di konferensi pers.


"Ayo Daniel, kata-kata kamu untuk tuan Frans" suruh nyonya Michelle dengan mata mendelik.


"Makasih" hanya itu yang keluar dari mulut Frans.


"Sama-sama" balas tuan Frans tak kalah singkatnya.


Selepas acara jumpa pers dan setelah para pewarta buyar.


Frans hendak menyalami dan merangkul Daniel berakhir dengan penolakan.


"Kemana saja kamu? Kenapa baru muncul sekarang?" tanya Daniel sengit.


Saat dirinya berusaha keras mencari sosok Frans, nyatanya laki-laki itu tak mau ditemui sebelumnya di penjara.


"Karena papa di penjara nak. Makanya papa ingin segera menemui kamu setelah bebas" terang Frans.


"Apa papa tahu, siapa aku?" tunjuk Daniel ke arah Frans.


"Jelas saja tahu. Kamu putraku" tegas Frans.


Pertemuan bertiga ini menjadikan mereka leluasa untuk menentukan langkah-langkah selanjutnya.


Langkah-langkah untuk menjadikan Daniel juara umum untuk seri tahun ini.


Bahkan nyonya Michelle memberitahu Daniel untuk tak memikirkan lagi masalah sponsorsip tim Tiger. Semua akan diurus oleh Frans.


.


"Nostalgia kah mereka?" Langit pun mematikan saluran tivi itu.


"Untuk selanjutnya kita pikirkan bagaimana memulihkan nama baik Langit saat ini" usul Dewa.


"Pasti sedikit banyak, apa yang dibicarakan di konferensi pers tadi akan mempengaruhi nama baik kamu dan juga tim" imbuh Dad.


"Apa kita juga akan melakukan hal yang sama?" tanya Langit kembali.


"Tak perlu" sela Dad.


"Posting aja di sosmed, semua hal baik tentang kamu. Pasti semua orang akan kepo" imbuh Dad menambahi.


"Manfaatkan perusahaan multimedia yang kamu pimpin Langit" sela uncle Dewa menambahkan.


"Dad, apa tetap akan kita ambil alih perusahaan mereka?" tanya Langit.


"Nggak perlu! Percuma" bilang Dad.


"Lantas? Kita biarkan begitu saja? Wah, nggak seru lah Dad" ucap Langit menanggapi.


"Jika mereka sudah mempermainkan hidup Jingga, apa akan kamu biarkan begitu saja? Suatu saat mereka pasti akan mengulanginya lagi" ulas Dad.


"Sekarang waktunya kamu ambil alih Langit. Lakukan apa yang ingin kamu lakukan. Dan ingat meski memberikan efek jera, jangan pernah terlibat urusan hukum" pesan Dad.


"Kekuatan mungkin bertambah dengan bersatunya mereka bertiga. Tetap waspada. Apalagi nyonya Michelle mungkin sudah menandai kamu yang dengan beraninya datang untuk membeli perusahaannya" kata Dewa.


"Kalau perlu buat mereka memohon kepadamu, untuk mengambil alih perusahaannya itu" saran Dad tak kalah kejam.


Langit sudah memikirkan ide itu.


"Tapi apa itu nggak jahat Dad?" tanya Langit bimbang.


"Terus apa mereka orang baik, memakai berbagai cara untuk memuluskan tujuaannya. Ingat! Cukup sekali Langit" tandas Dad.


Memang benar apa yang dikatakan Dad, cukup kejadian penculikan Jingga saja. Apalagi ulah Daniel juga sudah beberapa kali membahayakan diri Langit.


Pembicaraan serius mereka bertiga berlangsung sampai sore.

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading


__ADS_2