
Ya semenjak masa nifas selesai setelah melahirkan Eka, Jingga memang belum dapat tamu bulanan rutin.
Awalnya Jingga meyakini jika tamu rutin itu tak datang karena dirinya mengasih ASI ekslusif pada Eka.
Jingga keluar hanya menggunakan kimono mandi, dengan kepala terbungkus handuk.
"Yank, aku beneran kuatir loh. Kok aku belum kedatangan tamu rutin bulanan" kata Jingga dengan duduk di depan meja rias sambil mengeringkan rambut. Sementara Langit duduk selonjoran di atas ranjang.
"Kita periksa aja sore ini. Gimana?" bilang Langit.
"Tapi aku takut. Gimana kalau aku hamil?" Jingga nampak cemas.
"Ya nggak papa dong sayang. Kan wajar? Ada suami juga" canda Langit.
"Tapi si Eka masih kecil yank" Jingga merasa belum siap jika kasih sayangnya buat Eka terbagi-bagi.
"Kalau memang diberi lagi ya kita terima dengan ikhlas yank. Anak itu amanah loh" nasehat Langit.
"Tapi..." Jingga menjeda ucapannya.
"Tapi apa? Belum siap?" tandas Langit dan dijawab anggukan Jingga.
"Apa nggak kasihan lagi kalau dibuang? Padahal orang yang ingin punya anak saja, sampai kesana kesini konsul dengan berbagai ahli agar bisa hamil. Disyukuri aja sayang" kembali Langit menasehati sang istri.
"Kamu sih enak. Padahal rasa kontraksi waktu ngelahirin si Eka saja aku masih ingat betul. Rasa yang luar biasa" seru Jingga.
"Jangan salah, aku juga ikut loh ngerasain sakitnya waktu itu" bilang Langit.
"Gimana? Kita periksa aja ya? Daripada hanya bisa menerka" kata Langit.
"Okelah" Jingga menyetujui.
.
Dag... Dig... Dug... Detak jantung Jingga saat memasuki ruang dokter spesialis kandungan. Dokter yang sama saat dirinya hamil Eka.
Dokter itu menyapa Jingga dengan ramah. Dan dia ternyata masih ingat betul dengan Jingga.
Jingga menyampaikan keluhannya.
Dan tiba saatnya Jingga naik ke tempat pemeriksaan. Sebuah probe USG telah memutar di perut Jingga.
"Hhmmmmm..." gumam sang dokter membuat Langit dan Jingga semakin penasaran.
"Ada apa dok?" seru Langit.
"Congratulation, your wife is pregnant" seru dokter cantik yang juga menangani sewaktu Jingga melahirkan.
__ADS_1
"What?" kaget juga Jingga mendengar. Meski sebelumnya dia telah menata hati akan hasil apapun.
"Berapa minggu dok?" tanya Langit.
"Fifteen weeks" jawab sang dokter.
"Hah? Jadi selesai nifas aku langsung hamil?" sela Jingga.
Dokter itu akhirnya menjelaskan kondisi Jingga yang ternyata telah hamil lima belas minggu.
Saat di ruang periksa tadi ponsel Langit beberapa kali berbunyi dan itu dari Dad Tian.
Langit menghubungi Dad, saat dirinya tengah antri vitamin buat sang istri. Sementara Jingga lebih banyak melamun.
"Halo Dad, Langit masih di rumah sakit nih" cerita Langit.
"Siapa yang sakit?" sela Dad.
"Jingga, tapi sudah baikan kok" Langit sengaja tak cerita detail kondisi Jingga. Daripada kena bully Dad Tian.
"Nih sudah mau pulang" lanjut Langit.
"Oke, kamu mampir aja bentar ke apartemen Dad" pinta Dad Tian.
"Untuk apa Dad?" seru Langit.
Saat semua sudah selesai, Langit membawa sang istri untuk ikut ke apartemen Dad nya.
"Kita ke Dad bentar ya. Nggak papa kan?" seru Langit.
Jingga diam hingga terkaget saat Langit mencoleknya.
"Apa yang?" barulah Jingga tersadar.
"Kok melamun aja sih?" seru Langit.
"Nggak kok. Cuman berpikir saja, apa bener aku hamil" kata Jingga menanggapi.
"Kita ke apartemen Dad ya?" kembali Langit mengajak.
"Iya" Jingga kembali dalam mode lamunan.
"Suatu saat kamu bisa belajar dech sama aunty Tania. Arditya sama Ardysti jaraknya juga nggak jauh" cerita Langit.
"Padahal saat itu aunty Tania sedang nanganin sebuah kasus besar" lanjut Langit.
"Tapi aku memang belum siap yank" kata Jingga dengan muka tertekuk.
__ADS_1
Langit menepikan laju mobil.
Dia rengkuh tubuh sang istri dalam pelukan.
"Ada aku yang selalu disampingmu sayang" kata Langit. Dia kecup kening sang istri.
"Jangan bilang seperti itu. Nyatanya waktu Eka lahir saja kamu nggak nemenin" tukas Jingga mengolok Langit.
"He...he... Itu pengecualian sayang" Langit pun terkekeh.
"Jadi nggak nih ke tempat Dad" sela Jingga di antara badan kokoh sang suami.
"Pasti dong" jawab Langit.
.
Di apartemen, ternyata telah berkumpul ke empat pria matang beserta istrinya masing-masing. Kecuali uncle Arga sih, jomblo sejati. Dan mereka tengah duduk di ruangan tengah dengan sangat santai.
"Gini ya, karyawannya suruh bekerja keras. Tapi nih bos-bos kok malah nongkrong di sini" olok Langit.
"Kamu juga gitu, kerja sana!" suruh Arga.
"Aku ke sini karena disuruh Dad" Langit beralesan, tapi itu memang benar adanya.
"Langit duduk!" suruh Dad.
Tapi wajah Jingga yang pucat membuat Dad menyuruh Langit untuk mengantar sang istri ke kamar kosong.
"Jingga kenapa?" telisik Dad saat Langit sudah kembali duduk di dekatnya.
"Hamil' singkat sekali Langit menjawab.
Membuat semua yang berada di sana tertegun sesaat.
"Hah?" hanya itu yang bisa keluar dari mulut mereka.
"Biasa saja bos, bukannya dulu Tania juga kebobolan abis kamu gempur tiap malam?" sela Arga untuk mengolok Arka.
"Ha...ha...selamat Tian, selamat Mutia. Langit benar-benar menjadi penerus aku" Arka terbahak.
Dan kehamilan Jingga ini hampir sama dengan aunty Tania.
Sama-sama kebobolan.
Pikiran Langit musti terpecah lagi untuk persiapan musim depan.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1
To be continued, happy reading