Langit Dan Jingga

Langit Dan Jingga
Terbang Pulang


__ADS_3

Kenzo sengaja tak pernah menelpon Jingga, karena sudah tahu karakter Jingga yang tak akan mengangkat panggilan ataupun pesan yang dikirim orang yang dibencinya.


Pakai nomor baru, Kenzo jamin jangankan diangkat ditengokpun enggak oleh Jingga.


Kenzo berangkat, sampai depan asrama Jingga didapatinya suasana asrama yang masih sepi.


"Kepagian" gumam Kenzo.


Hawa dingin yang menusuk tulang pun tak begitu dihiraukan oleh Kenzo.


Saat dirasa sudah pantas, Kenzo beranjak untuk mengetuk pintu asrama.


Dan ibu asrama Jingga lah yang pertama kali muncul.


"Who are you looking for? tanyanya.


"Jingga, Jingga Ariana" sebut Kenzo.


"Owh Jingga, from Indonesia?" tanyanya dan Kenzo pun mengangguk.


"She's not here now" beritahunya.


"Start from yesterday" sambungnya.


"Where is the farewell?" tanya Kenzo.


Wanita setengah baya itu pun mengedikkan bahu tanda tak tahu.


Karena kemarin sudah diberikan pesan oleh Langit, jika tak boleh kasih tau siapapun kemana Jingga pergi dan bersama siapa.


Kenzo menendang apapun yang ada di depannya karena kecewa tak menemukan Jingga.


"Awas saja kamu Jingga, aku akan mencarimu sampai ke ujung dunia sekalipun. Jika aku tak mendapatkan kamu, maka orang lain pun sama" tandas Kenzo.


"Kalau hari ini aku mengurus visa kunjungan kira-kira buka apa nggak ya?" pikir Kenzo.


"Aku coba aja" kata Kenzo.


Kenzo minta diantar ke tempat pengurusan surat-suratnya itu.


'Minggu depan visa kunjungan aku akan habis, aku harus mengurus secepatnya' gumam Kenzo.


Ternyata hari itu di kantor pengurusan visa masih buka.


'Untung masih buka' ujar Kenzo merasa beruntung.


Kenzo mengutarakan kepada petugas yang ada di sana. Dan tentunya dia disuruh mengantri.


'Nggak papa lah daripada bolak balik" gumam Kenzo.


Kenzo duduk di pojokan menunggu panggilan.


Kenzo tersenyum sinis kala semua telah beres.


"Waktu untuk mendapatkan Jingga lebih banyak lagi sekarang. Aku harus segera membawa Jingga sebelum semua perbekalan aku hidup di sini habis" gumam Kenzo.


Niatnya sekarang menyanggong di kampus untuk mencari keberadaan Jingga.


.


Sementara di apartemen Langit terjadi kehebohan saat pagi itu Jingga sedang video call ayah Pramono.


"Siapa?" tanya Mega yang barusan gabung saat Jingga menelpon.


"Ayah" kata Jingga.


"Siapa?" tanya ayah di layar ponsel Jingga.


"Ini yah, Mega di sini" jelas Jingga.

__ADS_1


Mega pun menampakkan muka di layar ponsel yang sempit itu.


"Yah, jangan lupa apa yang aku bilang semalam ya. Jangan sampai bocor ke Jingga" canda Mega.


"Apaan sih? Pakai rahasia-rahasia segala" sungut Jingga.


"Kapan kamu bisa pulang? Ayah kangen" kata ayah yang disampingnya juga ada mama.


"Nunggu libur semester lah yah, ayah tahu kan biaya untuk pulang pergi mahal" bilang Jingga.


Sementara Langit dan Bintang yang juga berada di ruangan itu saling tatap.


"Kapan liburnya?" sela Langit ikutan gabung.


"Wah, itu nak Langit yaaahhhh?" tanya ayah antusias.


"Kok ayah tahu?" tanggap Jingga.


"Ayah kan sudah pernah ketemu beberapa kali sebelumnya" tukas ayah menjelaskan.


Dengan seenak hatinya Langit merebut ponsel Jingga.


"Loh...loh..." Jingga pun berusaha mengambil alih.


"Pinjam bentar" Langit menggenggam erat ponsel milik Jingga.


"Awas saja rusak" Jingga reflek melotot ke Langit.


"Rusak tinggal ganti aja" ucap Langit dengan enteng.


"Beda kali ya kalau yang diajak bicara tuh sultan sedari lahir" olok Jingga.


"Yeeii...jangan salah ya. Kak Langit tuh saat masih bayi hidupnya susah. Kalau nggak percaya tanyain bunda" sela Mega membela sang kakak.


"Tapi habis itu kan semua serba ada" kata Jingga menimpali.


"Emang toserba, toko serba ada?" Bintang pun ikutan membela Langit.


"Jingga" panggil ayah yang tak nampak apa-apa kerena kamera ponsel Jingga tertutup.


Di apartemen hanya ada mereka. Sementara Dad Tian dan bunda tengah pergi untuk bertemu dengan rekan bisnis.


Jangan tanya papa Reno kemana, pastinya mengunjungi teman-teman sejawat yang juga berada di London.


"Iya yah" teriak Jingga.


Padahal di layar ponsel sudah nampak wajah Langit yang sedang tersenyum ke ayah Pramono.


"Apa kabar Yah?" tanya Langit. Sudah berubah aja tuh panggilan.


Jingga meringsek ikutan gabung.


"Yah, aku dibully oleh mereka. Padahal mereka juga tahu loh kalau aku sebatang kara di sini" keluh Jingga.


"Lebaaayyy" seru mereka semua berjamaah.


Ayah dan mama hanya tertawa melihat ketengilan calon menantu dan keluarganya itu.


Semalam sehabis mendudukkan Langit dan Jingga, Dad Tian sengaja langsung menelpon ayah Pramono.


Secara tak langsung Dad Tian meminta Jingga untuk Langit, putra pertama nya.


Sementara jawaban sepenuhnya ayah Pramono serahkan kepada Jingga.


.


Penantian Kenzo untuk bertemu Jingga seolah kandas.


Sejak kejadian saat itu, Kenzo tak pernah bertemu lagi dengan Jingga.

__ADS_1


Jingga lenyap bagai di telan bumi.


Saat dirinya menanyakan ke pihak kampus, pihak kampus pun seakan tertutup dengan data pribadi mahasiswa nya.


Padahal Kenzo sudah mengaku sebagai saudara jauh nya Jingga.


Waktu tinggal Kenzo tinggal tiga hari lagi. Visa kunjungan miliknya akan habis masa berlaku nya.


"Sial...sial... Sia-sia aku selama berapa bulan di sini. Uang aku pun tersisa hanya untuk tiket pulang aja" gerutu Kenzo.


"Mungkin Jingga memang tak ditadirkan untuk bersamaku" gumam Kenzo.


Di tempat lain, Jingga yang jadi tinggal di apartemen Langit tengah bersiap menuju kepulangannya ke negara tanah air.


Rasa suka cita terasa di dada, setelah sekian lama menunggu waktu ini.


Langit datang saat koper Jingga telah beres.


"Sudah siap?" tanya Langit yang saat ini nampak gagah di mata Jingga.


"Heeiii...kok bengong sih? Sudah siap?" Langit menyentil kening Jingga dengan gemas.


"Baru lihat orang ganteng?" tukas Langit narsis.


Awalnya kepulangan mereka akan dijemput dengan pesawat pribadi atas perintah Dad Tian. Tapi dengan kompak mereka berdua menolak tawaran itu.


Bagi mereka naik pesawat komersil tentu lebih seru. Ada mengantri cek tiket, antri untuk masuk ke pesawat.


Apalagi di bangku ekonomi, duduk saling memepet itulah seni nya. Itu versi Jingga sih.


Kalau versi Langit ya musti di kelas bisnis minimal atau first class.


Dan kali ini Jingga ikutan apa kata Langit untuk tiket. Di first class. Karena sebelumnya Jingga kalah suit dengan Langit.


Semenjak kejadian didudukkan oleh Dad Tian saat itu. Langit dan Jingga berubah laiknya sepasang kekasih.


Karena dua hari pasca kejadian itu, Langit mengutarakan cinta dan diterima oleh Jingga.


Di bandara, Jingga tetap saja tak mau menanggalkan masker.


"Kenapa nggak kamu lepas aja sih masker kamu?" tanya Langit.


"Aku nggak mau penyamaranku sia-sia kak" terang Jingga.


"Apa? Takut ketahuan Kenzo? Harusnya dia sudah balik sedari lama" ucap Langit santai.


"Kalau diperpanjang, dan dia sekarang ada di belakang aku. Bagaimana?" tukas Jingga.


"Santai aja. Nggak usah overthinking" bilang Langit.


Setelah melewati beberapa pengecekan di bandara, kali ini Langit dan Jingga sudah berada dalam pesawat. Dan kursi first class yang diduduki oleh Jingga.


Tentu saja Jingga sedikit kebingungan dengan alat-alat canggih yang ada di dekatnya.


Langit yang tahu, "Mau aku bantu?" dijawab anggukan Jingga.


Langit membenarkan semua nya agar Jingga merasa nyaman.


"Makasih" senyum tulus Jingga hingga lesung pipinya kembali terlihat.


"Kalau capek istirahat saja. Lima belas jam lebih kita aka berada di atas awan" seru Langit.


"Jangan bawa-bawa Awan dech, dia kan di rumah" canda Jingga.


Langit juga membawa tim balap nya untuk ikutan ke Indo. Mereka semua diundang oleh pemilik tim.


Siapa lagi kalau bukan Uncle Arka. Arka Danendra suami dari lawyer Tania Fahira.


Teman-teman Langit yang juga anggota tim berada di kelas ekonomi dalam pesawat yang sama.

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading


__ADS_2