Langit Dan Jingga

Langit Dan Jingga
Kerjasama Kenzo


__ADS_3

Kenzo keluar dari kediaman tuan muda yang Kenzo sendiri belum tahu namanya.


Hanya Andre yang dikenalnya saat ini.


"Tuan Kenzo, untuk selanjutnya tunggu kabar dariku. Ini nomor ponsel anda kan?" tanya Andre sambil menunjukkan nomor yang tersimpan di nomornya.


"Kok anda tahu?" ucap Kenzo menanggapi.


"Apa sih yang nggak diketahui oleh Andre?" kata Andre menyombongkan diri.


"Oke, kutunggu kabar dari anda. Mulai saat ini aku tak perlu lagi menyatroni rumah sakit" tukas Kenzo.


Kenzo meninggalkan kediaman mewah itu tanpa diantar oleh Andre.


Kenzo yang selama ini tinggal di sebuah kontrakan sederhana. Dan siang ini dia ingin beristirahat di sana.


Biasanya pagi siang sore Kenzo selalu berada di depan rumah sakit untuk manyatroni keberadaan Jingga.


Setelah dipikir-pikir oleh Langit. Alangkah bodohnya tindakannya selama ini.


Menyatroni semua orang yang keluar masuk rumah sakit.


"Bodoh...bodoh..." keluh Kenzo sambil memukuli kepalanya sendiri, melewatkan begitu saja waktu berbulan-bulan untuk menggapai Jingga.


"Padahal yang aku kenal kan cuman laki-laki muda yang dipanggil Langit dan Dad nya. Itu pun aku juga tak tahu siapa namanya" gumam Kenzo.


"Oh ya, salah satu dari mereka kan pernah bilang untuk jangan main-main dengan pemilik Blue Sky. Kalau nggak salah sih"


"Emang Blue Sky itu apaan?" tanya Kenzo pada dirinya sendiri.


Kenzo meraih ponsel, dan diketiknya tulisan Blue Sky di pencarian.


Kenzo nampak melotot melihat hasil ketikaannya.


"Sebuah perusahaan multinasional besar. Bahkan perusahaannya juga di berbagai bidang" ulas Kenzo.


"Wowww, bahkan tahun ini perusahaan itu membukukan keuntungan triliunan rupiah" kata Kenzo bermonolog.


"Bahkan yang lo hadapi sekarang adalah lawan yang tak bisa kamu tandingi Kenzo" gerutu Kenzo pada dirinya sendiri.


"Gini kok kemarin-kemarin aku mau maju sendiri. Lo ini bodoh banget Kenzo" Kenzo mengolok dirinya.


Kita tinggalin Kenzo yang sedang merutuki kebodohannya.


Di kamar rawat inap Jingga, Mega nampak baru datang dan langsung menghampiri Jingga.


"Kakak kemana?" seru Mega saat baru meletakkan pantatnyadi kursi samping ranjang.


"Tadi sih bilang mau ke ruangan dokter Bara" tutur Jingga. Meski lirih tapi sudah cukup lancar.


"Owh, mau ngapain kakak kesana? Tumben? Biasanya juga nungguin kamu dengan setia" tanya Mega.


"Nggak tahu sih, bilangnya mau nanyain keadaan gue" beritahu Jingga.


"Oke lah kalau begitu" tukas Mega terkekeh.


"Mega, ada yang mau kutanyain" tandas Jingga.


"Apa?" sela Mega. Mega yang belum tahu jika memori Jingga ada yang hilang.


"Ngapain lo repot-repot ke London untuk nungguin gue di rumah sakit?" tanya Jingga.


"Loh? London?" tukas Mega heran.


"Iya. Cuman anehnya kenapa teman-teman aku di London malah tak pernah tengokin aku" balas Jingga.


Mega masih diam. Kok Jingga aneh sih. Pikir Mega.


Pertanyaan-pertanyaan dalam hati Mega hampir sama dengan apa yang ditanyakan Langit.


"Apa kamu cuti?" sela Jingga.


Mau kujawab apa nih dia.


"Enggak sih, kebetulan aja aku libur" terang Mega.


Jingga pun mengatakan hal yang sama pada Mega seperti yang disampaikan kepada Langit sebelumnya.


Terdengar ketukan pintu, dan didapatinya Langit yang masuk ruangan.


"Kak, dibawain bekal tuh sama bunda. Makan dulu sana gih" seru Mega.

__ADS_1


"Apa bunda di London?" sela Jingga, membuat Mega menatap Langit butuh jawaban.


Tapi kedikan bahu Langit yang didapat oleh Jingga.


Dan tak lama, dokter Bara dan koleganya dokter syaraf masuk ke ruangan Jingga untuk jadwal kunjungan pasien rawat inap.


"Selamat siang nona Jingga. Apa kabar?" tanya Bara dengan ramah.


"Baik dokter. Mau nanya dok, kapan aku boleh duduk?" tanya Jingga


"Oke, kita periksa dulu ya" ujar uncle Bara.


Setelah mengecek semua, fungsi dan tonus serta pergerakan Jingga, "Langit, tolong tinggikan bed yang bagian kepala Jingga" ujar uncle Bara.


Langit raih remot untuk menaikkan ranjang seperti yang diminta oleh uncle Bara.


"Sekarang gimana Jingga? Pusing?" tanya uncle Bara setelah Jingga berposisi setengah duduk dengan kepala tetap setia menempel di bantal.


"Enggak sih dokter. Cuman agak aneh aja sekarang" tukas Jingga.


"Enggak papa. Itu reaksi normal tubuh karena kita terlalu lama tirah baring" jelas dokter syaraf yang datang bersama uncle Bara.


"Di rumah sakit ini enak ya. Dokter-dokternya banyak yang senegara. Jadi mudah komunikasinya" celetuk Jingga.


Mega menyenggol Langit.


"Uncle Bara dan temannya itu sudah tahu keadaan Jingga" bilang Langit kepada Mega.


Sementara dokter syaraf dan uncle Bara hanya tersenyum menanggapi.


"Oke Langit, habis ini akan kuhadirkan fisioterapis ke sini untuk melatih Jingga mobilisasi" kata uncle Bara.


"Siap uncle. Makasih" tukas Bara.


Ponsel Langit berdering saat uncle Bara tepat melangkah keluar pintu.


"Halo uncle" sapa Langit.


"Halo, siang ini bisa nggak datang ke bengkel? Ada sesuatu hal yang musti lo periksa sendiri Langit" beritahu Arga.


"Urgen kah?" tukas Langit.


"Mau kemana?" tanya Mega saat sang kakak menaruh ponsel di atas meja.


"Uncle Arga memintaku datang ke bengkel" cerita Langit.


"Mau cek fisik seperti biasa?" seru Mega.


"Pasti lah. Akhir minggu depan kita terjadwal di Australia" beritahu Langit.


"Ngapain ke sana?" sela Jingga.


"Liburankah?" imbuhnya.


Mega tak berani menjawab.


"Hhhmm aku ada urusan di sana dengan uncle Arga" Langit tak berani kasih tahu Jingga secara rinci.


"Owh, kirain mau ngapain? Kenapa Jingga jadi kepo gini ya?" tanya Jingga kepada dirinya sendiri.


"Kalau kepo itu sudah sifat lo sedari dulu Jingga" olok Mega membuat Jingga tertawa.


"Iya kah?" sahutnya.


"Mega, emang aku sama kak Langit pacaran ya? Kok kak Langit setia banget nungguin gue di sini? Lo juga" seru Jingga membuat Mega tepuk jidat.


"Serius lo lupa? Amit-amit dah kak, gue nggak mau ikut-ikut lagi" seru Mega.


Jingga juga menatap Langit, seolah juga meminta jawaban yang sungguh-sungguh.


'Apa benar dia lupa, kalau lah dirinya calon tunangan gue' pikir Langit.


'Berabe nih urusan kalau Jingga beneran lupa' batin Mega.


"Kak?" sela Jingga.


"Iya kita pacaran" seru Langit.


"Yeeeeeeiiiiii kalian berdua kena prank" tukas Jingga dengan sangat ceria.


Mega menggerutu ke Jingga.

__ADS_1


Bisa-bisanya Jingga bercanda di tengah kondisinya yang perlu perawatan.


Langit tersenyum lega.


"Kirain lo lupa siapa gue" celetuk Langit membuat Jingga terbahak.


"Mudah sekali ngerjain kalian" seru Jingga.


"Abis ini aku ke uncle Arga ya?" pamit Langit ke arah Jingga.


"Kak, nggak makan dulu? Bunda sudah repot buatin loh" bilang Mega.


"Pasti lah" tukas Langit tanpa ragu.


"Bunda nggak ke sini?" tanya Langit ke Mega.


"Bunda mau nemanin Dad rapat di Bali" kata Mega.


"Rapat apa honeymoon?" tukas Langit tertawa.


Dad dan bundanya itu selalu pintar mencari kesempatan di tengah kesibukan.


"Seperti nggak kenal sama Dad Tian aja kak" seru Mega.


Sementara Jingga hanya mendengarkan obrolan seru kakak beradik itu.


"Kak, sepulang dari uncle. Bawain pizza yang ada di mall itu ya" pinta Mega merajuk.


"Oke, semoga aja belum tutup. Tau sendiri kalau aku sudah di tempat uncle" kata Langit.


"Selalu lupa waktu" imbuh Mega.


"Ha...ha...hobi yang mengasyikkan sih" jawab Langit terbahak.


Langit dan Mega sedang menikmati bikinan bunda.


"Jingga, kuambilin ya. Biar disuapin kak Langit" kata Mega menawari.


Jingga tak menjawab, tapi air mata nya yang kembali menetes.


Mega beranjak melihatnya.


"Ada apaan? Ucapakanku apa ada yang salah? Kalau iya, aku minta maaf dech" sela Mega.


"Nggak kok Mega, aku cuman kangen sama mama. Biasanya kalau aku sakit begini, mama aku selalu buatin bubur untuk aku" bilang Jingga.


Langit menghentikan suapan dan memandang serius ke Jingga.


Niat hati ingin langsung memberitahu. Makanya Langit pun beranjak mendekati Jingga.


Tapi gelengan Mega didapatnya membuat Langit ragu.


"Mega, boleh pinjam ponsel kamu?" tanya Jingga.


"Untuk apa?" seru Mega.


"Nelpon mamah aku" terang Jingga.


Mega bingung musti jawab apa lagi sekarang untuk meyakinkan Jingga.


"Aku nggak nyimpen kontak mereka Jingga" bilang Mega.


"Nggak papa. Aku hafal kok dengan nomor ayah sama mama" seru Jingga.


Mau gimana lagi akhirnya Mega menyerahkan ponsel miliknya kepada Jingga.


Dengan cepat, Jingga tekan nomor mamanya. Sampai lima kali panggilan belum tersambung juga. Hanya jawaban operator yang didapati oleh Jingga.


Demikian juga nomor ayah. Tak bisa dibuhungi juga.


"Ada apa sih dengan mereka? Kompak sekali tak menjawab panggilan dariku. Sudah tahu belum ya jika anaknya sakit dan butuh perhatian. Hiks" ulas Jingga dan nampak sedih.


Sementara Langit dan Mega bisa menarik nafas sedikit lega. Sebenarnya sih dalam hati merasa iba dengan Jingga. Tapi kalau dikasih tahu sekarang apa tak terlalu menyakitkan. Banyak pertimbangan Langit untuk tak mengatakan kondisi orang tua Jingga yang sebenarnya. Khususnya untuk saat ini.


Terdengar ketukan pintu, "Siapa yang datang?" tanya Mega yang juga sedang asyik makan.


Langit beranjak untuk membuka pintu.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


To be continued, happy reading guyssss

__ADS_1


__ADS_2