Langit Dan Jingga

Langit Dan Jingga
Acar Mentimun


__ADS_3

Jingga pasti sudah di kamar karena hampir tengah malam Langit sampai.


Jingga tak ada di sana saat Langit membuka pintu kamar.


Deg...


"Kemana dia?" gumam Langit.


Langit yang parno kalau Jingga tak kelihatan. Penculikan dulu yang membuat Langit merasa takut kehilangan lagi akan Jingga.


Langit keluar kamar dan hendak menelpon Agus yang dipasrahi olehnya untuk menjaga Jingga selama dirinya bekerja.


"Yank...yank..." seru Langit masih berusaha untuk mencari keberadaan Jingga di ruangan lain.


'Tak mungkin ada penyusup di apartemen ini' batin Langit dengan tetap menenteng martabak telur yang dibelinya tadi.


Saat semua kamar dan ruangan telah ditelusur, Langit tak jua menemukan Jingga, hanya tinggal ruangan makan yang nampak gelap gulita.


"Apa mungkin di sana? Gelap sekali" celetuk Langit.


Saat akan menyalakan lampu, Langit dikagetkan dengan pergerakan seseorang dan dengan siap siaga Langit mendekat ke orang itu.


Dia malah dengan santainya berjalan ke arah saklar lampu yang diurungkan Langit tadi.


"Lama amat sih yank?" gerutu Jingga.


Langit menarik nafas lega. Ternyata dia adalah istri tersayangnya.


"Kan musti mutar-mutar dulu yank. Nyariin abang yang jualan" jelas Langit.


"Dapat?" Langit pun menyodorkan apa yang diminta oleh sang istri.


"Heemmmm..." Jingga membuka bungkusan itu dengan antusias.


Bagai menerima sebongkah berlian karena bahagianya.


Jingga meraih acar mentimun yang ada di setiap bungkus dan memakan semua nya.


"Nih, martabaknya buat kamu aja yank" Jingga menyodorkan lima kotak martabak telur untuk Langit.


"Kamu nggak makan?" tanya Langit dengan rasa heran.


"Enggak, aku hanya ingin acar mentimun yang jadi teman martabak" terang Jingga membuat Langit lagi-lagi menepuk jidatnya.


Sungguh ibu hamil satu ini sangat menguji kesabaran seorang Langit Putra Ramadhan Baskoro.


"Beneran? Nggak mau?" pertegas Langit dan dijawab anggukan Jingga.


"Panggilin Agus aja kalau begitu" kata Langit.


"Untuk?" tanya Jingga.


"Biar mereka ikutan makan juga" tandas Langit.


Dengan rasa tak bersalah, Jingga pun manggil Agus untuk memberikan beberapa kotak martabak telur untuknya.


"Makasih nyonya" kata Agus saat menerima martabak yang ditenteng sang nyonya.


"Sama-sama" tukas Jingga dengan ceria.


Sementara Langit di meja makan, memasukkan dua potong sekaligus martabak ke mulutnya.


Mau mengomel tapi istri sedang ngidam, mau dimarahin nggak tega, diam saja tapi tetap saja dongkol. Langit jadi serba salah. Dan akhirnya memutuskan makan sekotak martabak yang ada di depannya.


"Lapar yank? Belum makan kah? Mau aku siapin?" tanya Jingga tanpa rasa bersalah.


"Sudah ini aja. Martabak sekotak sudah buat kenyang nih perut" kata Langit memaksakan tawa. Tawa yang super kecut.


"Ya sudah aku ke kamar duluan. Aku siapin dulu baju ganti" kata Jingga meninggalkan Langit yang masih berada di meja makan dengan mulut penuh martabak. Sampai mau ngedumel pun tak bisa.


"Huh, anggap aja jadi suami siaga Langit. Pahalanya gedhe" kata Langit menghibur dirinya sendiri sambil mengambil potongan terakhir.


.


Hari demi hari Langit isi dengan bekerja.


Saat ini Langit sudah bisa menyesuaikan diri dengan ritme kerja di perusahaan.


Linda yang awalnya jadi sekretaris Langit, dialihkan menjadi pengawal pribadi Jingga.


Langit meminta sekretarisnya laki-laki saja, yang dianggap nya lebih cekatan dan juga tak perlu ribet dengan hal-hal detail misal make up.


Linda dan Jingga bahkan berinteraksi laiknya seorang teman. Jingga yang tak ingin dianggap bos oleh Linda.


"Sayang, Linda sudah datang tuh. Aku berangkat duluan ya" pamit Langit.


"Hari ini masuk nggak?" lanjut Langit.


"Aku libur yank, tapi mau belanja sama Linda. Dia yang lebih tau tempat di sini" tukas Jingga.


"Oke, hati-hati" kata Langit dan mencium kening sang istri.


"Yank, persiapan ke Amrik kapan dipacking?" tanya Jingga.


"Hhemmm, week end ini aja. Aku berangkat Monday. Biar uncle Arga dan yang lain duluan" beritahu Langit.


"Oke" tukas Jingga.


Jingga hari ini rencananya akan belajar masak dengan Linda yang ternyata juga mahir memasak. Meski kebanyakan menu negara nya sih, tapi ternyata Linda juga sedang konsen belajar masakan Indo.


Linda juga terbiasa curhat dengan Jingga. Linda yang punya cowok dari Indo, jadi makin tertarik dengan makanan dan budaya negara nya Jingga.


Sementara Langit yang berangkat bersama Agus sedang menerima telpon dari Dad, yang mungkin saat itu baru selesai rapat.


"Langit, gimana kerjaan?" tanya Dad yang selalu begitu pertanyaan pertamanya ke Langit.


"Lancar Dad" beritahu Langit.


"Oh ya Dad, uncle Dewa sudah beritahu ke Dad belum?" tanya Langit.


"Apa?"


"Tentang Daniel. Aku rasa Daniel ada dendam pribadi dengan keluarga kita" beritahu Langit.


"Ya biarin aja. Itu hak dia. Kita nggak usah repot. Kalau dia rese ya kita ladenin" ucap Dad Tian dengan santai.


Itu lah Dad Tian, sangat santai menghadapi suatu masalah. Tapi akan sangat jeli mengatasi meski tak terlihat serius.


"Langit" panggil Dad kembali.


"Iya Dad" jawab Langit.


"Kamu setuju nggak, Dad mau beli perusahaan garmen terbesar di situ?" kata Dad meminta pertimbangan.


Langit menautkan alis. Perusahaan garmen terbesar? Pikir Langit. Bukannya itu perusahaan milik keluarga Daniel.


Wah, Dad Tian sepertinya tak tanggung-tanggung untuk mengatasi keluarga ini sebelum bertindak terlalu jauh.


"Gimana? Setuju nggak?" ulang Dad bertanya.


"Hhhmmm bukankah itu perusahaan hanya jual beberapa sahamnya?" tanya Langit.


"Ha...ha...tak akan kubiarkan itu. Kalau tak mau jual semua, Blue Sky mundur. Tapi aku jamin tak kan ada satupun perusahaan yang mau beli saham perusahaan busuk itu" terang Dad dengan sangat yakin.


"Dad, apa Dad yakin?" tanya Langit serius.

__ADS_1


"Yakin. Ada kamu yang mewakili Dad di sana" ujar Dad Tian terkekeh.


Langit kembali menepuk jidat. Ternyata dirinya juga yang akan dibuat repot.


"Sepulang kamu dari Amerika, atasi semua nya! Uncle Dewa akan terbang ke sana untuk membantumu" kata Dad bagai perintah tak terbantahkan untuk Langit.


"Baiklah" kata Langit dengan nada lemas. Mau tak mau Langit harus mengiyakan ucapan sang Dad.


"Oh ya Langit, bunda akan terbang ke London nemanin Jingga saat kamu tinggal ke Amerika" bilang Dad.


"Mutia Bakery?" sela Langit.


"Aman. Ada aunty Dena yang bisa diandelin" balas Dad Tian.


"Oke Dad" imbuh Langit menjawab.


Langit melangkah masuk ke lobi perusahaan dengan santai.


Tak menyangka ada Daniel sedang menunggu.


Belum sempat karyawan bagian front office memberitahu Langit, Daniel telah menghadang Langit yang berjalan ke arah lift.


"Hei kau, apa gerangan yang menyebabkan tuan Daniel pagi-pagi sudah menyempatkan waktu untuk datang ke perusahaan kecil ini" sapa Langit penuh sindiran.


"Cih, sombong lo" jawab Daniel sengit.


Langit tertawa.


"Lantas apa tujuan lo ke sini?" tanya Langit tak kalah ketus.


"Gue mau lo bantu gue" ucap Daniel.


Langit terbahak mendengarnya.


"Nggak salah telinga gue? Lo butuh bantuan gue? Setelah semua yang lo lakuin ke gue" tandas Langit.


"Beneran Langit" kata Daniel masih dengan nada sombong.


"Ha...ha...lo ke sini berharap bantuan dari gue. Tapi masih saja sombong" olok Langit.


Daniel menatap tajam ke Langit, "Emang lo sekarang berada di atas Langit, tapi awas saja jika suatu saat lo berharap bantuan gue. Tak akan sudi gue bantu lo" kata Daniel terus saja berlalu meninggalkan Langit.


"Aneh" seru Langit yang saat itu masih bersama dengan Agus.


"Siapa dia tuan?" tanya Agus yang tak kenal dengan Daniel.


"Rival di lintasan" jelas Langit.


"Abis ini tolong kamu sisir lantai yang tadi didatangin si Daniel. Aku curiga dia ke sini tak benar-benar butuh bantuan aku. Tapi sengaja ingin melakukan sesuatu di perusahaan ini" perintah Langit saat mereka berdua sudah berada di lift.


"Siap tuan" Agus sudah tahu apa yang harus dia lakukan.


Langit yang tengah sibuk dengan setumpuk berkas-berkas di meja, tiba-tiba tuan Marcel datang menyusulnya.


"Pagi tuan Langit" sapa nya.


Langit pun mendongak.


"Pagi tuan Marcel. Ada yang mau disampaikan?" tanya Langit.


Tuan Marcel duduk di seberang meja, tepat berhadapan dengan Langit.


"Tuan, saya lihat anda sudah bisa pegang perusahaan ini dengan baik" kata tuan Marcel.


"Lantas?" sela Langit.


"Ijinkan saya mengundurkan diri tuan. Saya rasa, saya sudah cukup lama mengabdi dengan tuan Sebastian. Tuan Sebastian yang begitu baik" puji tuan Marcel.


"Apa saya kurang baik, sehingga tuan Marcel ingin mengundurkan diri?" lanjut Langit.


Kalau melihat tuan Marcel, memang usianya pasti melebihi usia Dad. Bahkan hampir seusia dengan Opa Baskoro.


Tuan Marcel adalah orang yang sangat loyal dengan perusahaan Blue Sky.


"Tuan Marcel aku tak bisa memutuskan hal ini. Pastinya aku musti ijin Dad dulu, kalau terkait dengan anda" tandas Langit.


"Baiklah tuan. Saya tunggu kabar baik dari anda" jawabnya dan bergegas keluar dari ruangan Langit.


Langit berpikir, apa undur dirinya tuan Marcel terkait dengan dirinya yang menggantikan tuan Marcel di perusahaan. Sehingga membuat tuan Marcel jenuh, karena semua pekerjaan bisa dihandle oleh Langit.


Langit mengabari Dad terkait pemgunduran diri tuan Marcel.


Tak dinyana, Dad Tian langsung menyetujui pengunduran diri tuan Marcel.


"Kok langsung disetujui Dad?" tanya Langit heran.


"Tuan Marcel sudah lama ingin berhenti, tapi Dad cegah sebelum kamu siap masuk menggantikannya" ulas Dad Tian.


"Karena Dad sudah anggap kamu mampu, makanya Dad ijinkan jika tuan Marcel resign" imbuh Dad Tian menjelaskan.


"Bahkan sebelum ke meja kamu pun, tuan Marcel sudah beberapa kali ijin ke Dad lagi. Makanya hari ini dia menghadap ke kamu langsung" terang Dad.


"Oke lah. Berarti aku ijinin ya?" tandas Langit.


"Hemmmm" hanya gumaman Dad yang didapat Langit.


.


Bunda Mutia datang tepat saat menjelang keberangkatan Langit esok.


Sepulang dari perusahaan, Langit sengaja menjemput bunda di bandara.


Dad Tian tak akan membiarkan bunda yang berangkat sendiri dengan naik pesawat komersil.


"Bun" sambut Langit saat sang bunda terlihat di pandangan mata.


Dia peluk bunda yang barusan datang.


"Apa kabar?" tanya bunda.


"Nggak sibuk? Kok jemput bunda sendiri?" ikbuh bunda.


"Nggak sendiri kok bun, ada Agus yang nyetirin mobil nya" gurau Langit. Padahal maksud bunda bukan begitu, kenapa Langit yang datang langsung kenapa nggak utusan aja.


"Sibuk sekalipun, kalau bunda yang datang Langit pasti mengusahakan jemput. Langit tak mau durhaka" kata Langit masih saja bergurau.


"Ya sudah, ayo pulang" timpal bunda.


Saat sampai apartemen, pas Jingga sedang sibuk packing perlengkapan yang akan Langit bawa untuk kepergiannya besok.


"Terbang jam berapa besok?" tanya bunda.


"Pesawat paling pagi bun" jawab Langit.


"Jingga gimana? Masih ada keluhan?" tanya Mutia dengan sabar.


"Nggak kok bun, cuman kadang-kadang aja masih mual. Tapi nggak sampai muntah kok" jelas Jingga.


"Ntar kalau sama bunda, jangan minta yang aneh-aneh ya. Tungguin Dad datang aja" seru Langit sambil mengelus perut Jingga yang masih rata.


Bunda banyak sekali membawa makanan nusantara yang baru saja diturunkan oleh Agus.


"Tuh Jingga, bunda bawain Coto Makasar. Cuman terpaksa bunda frozen. Takut rusak selama di perjalanan" terang bunda.


"Makasih bunda" tanpa rasa sungkan, Jingga pelukin bunda yang dia anggap seperti ibu kandungnya sendiri.

__ADS_1


"Sama-sama sayang. Mau diangetin sekarang?" tanya bunda.


"Bunda istirahat saja dulu. Ntar biar Jingga aja yang angetin" tukas Jingga.


"Hhemmm baiklah. Oh ya kak, tolong kasih tahu Dad. Bilang kalau istrinya ini sudah mendarat dengan aman di apartemen kamu" seru bunda.


"Siap bun. Tapi kalau Dad nyariin bunda? Gimana?"


"Ya tinggal bilang aja bunda istirahat. Ribet amat" sela Jingga.


"Benar tuh apa kata Jingga" Mutia ikutan tertawa melihat interaksi anak dan menantunya itu.


Sementara bunda beranjak masuk kamar, Langit melakukan apa yang menjadi perintah bunda nya.


Seperti biasa, selalu ada drama tiap kali telpon Dad Tian.


"Dad, Langit hanya menjalankan amanat bunda. Bunda sedang istirahat sekarang. Jadi kalau Dad ingin bicara langsung dengan bunda, ntar aja" kata Langit.


"Tapi Dad sudah kangen loh sama bunda" rengek Dad bagai anak kecil.


Jingga sampai melongo mendengar apa kata Dad barusan.


"Biasa saja sayang. Kalau nggak seperti ini bukan Dad namanya" jelas Langit ke Jingga saat panggilan telpon Dad masih tersambung.


"Jangan heran Jingga, Dad akan selalu seperti ini jika jauh dengan bunda" Dad Tian menimpali.


"Maafin Jingga Dad, jadi merepotkan" jawab Jingga sedih.


"Heeiiii...nggak papa. Lagian Dad juga sudah ngijinin bunda nemanin kamu selama Langit pergi" Dad Tian menjelaskan.


"Sudah ya Dad, paket data aku mau habis nih" gurau Langit.


"Isssshhh... Seorang Langit kehabisan pulsa?" olok Dad Tian.


"Ha...ha... Langit mau mandi Dad. Ntar aja telpon lagi. Saat bunda sudah bangun. Sama Mega sekalian" kata Langit.


"Situ masih enak karena sore. Di sini sudah dini hari Langit" kata Dad yang beberapa kali terlihat menguap.


"Kalau gitu, besok aja Dad telpon bunda sendiri" imbuh Langit.


"Oke" jawab Dad. Dan panggilan pun terputus.


Langit beranjak membersihkan diri sementara Jingga yang telah selesai packing ikutan beranjak.


"Mau ke mana?" tanya Langit.


"He...he... Prepare ngangetin kuah coto" kata Jingga terkekeh.


Akhirnya ngidam coto Makasar keturutan juga.


.


Jingga ingin ikutan mengantar Langit pergi ke bandara pagi itu.


Meski Langit melarang, tapi Jingga tetap memaksa. Langit tak tega karena hawa dingin menusuk tulang jika berada di luar ruangan.


"Kan bisa pakai ini sayang" kata Jingga mengeluarkan baju musim dingin dan juga syal yang dia punya.


Langit sampai geleng akan keinginan kuat sang istri.


"Aku nggak ingin kamu kenapa-napa sayang" kata Langit dengan mengusap sayang puncak kepala sang istri.


"Cuman nganter kamu ke bandara, selebihnya aku akan pulang" Jingga masih ngotot ikut.


"Biarin aja Langit, kan ada Linda sama Agus yang ikutan mengantar" sela bunda.


"Jingga, kalau memang memang sangat dingin cuacanya jangan memaksa ya" imbuh bunda.


Langit dan Jingga kompak mengangguk.


Dengan sedikit drama akhirnya Jingga tak jadi ikutan mengantar sang suami ke bandara.


Hanya ada Agus yamg mengantar.


Meski pesawat pribadi milik Blue Sky terparkir manis di bandara kota itu, tapi saat ini Langit akan terbang dengan pesawat komersil seperti biasanya.


Dan entah beruntung atau sial, kembali Langit akan satu pesawat dengan Daniel.


"Kita sepertinya jodoh ya?" seru Daniel dan Langit menanggapinya dengan senyum terpaksa.


Daniel yang tak pernah mendatangi Langit lagi setelah permintaan bantuannya saat itu, seolah-olah bersikap biasa saja saat ini.


Dan Langit pun tak ingin membahas tentang itu lagi.


"Lama tak lihat lo di kampus?" tanya Daniel.


"Pasti sibuk nih? Oh ya sampai lupa, lo kan sudah jadi direktur sekarang" kata Daniel yang terdengar laiknya sindiran di telinga Langit.


Langit hanya menyunggingkan senyumnya kembali.


"Jangan sampai drop out kuliah lo" kata Daniel menambahkan.


Langit pun masih datar aja mukanya, tak merespon ucapan Daniel.


Orang kurang kerjaan nih si Daniel. Bisa-bisa nya ngurusin kuliah drop out gue. Kata Langit dalam hati.


"Langit, gimana? Apa lo mau bantuin gue?" tanya Daniel yang tiba-tiba sok akrab dengan merangkul bahu Langit.


"Emang kita sedekat ini?" tanya Langit sambil melirik pergelangan tangan Daniel yang berada di bahunya.


"Aku tak kenal siapa lo sebelumnya, aku hanya kenal Daniel adalah rival gue di lintasan. Kita juga tak sedekat itu untuk saling memberi bantuan. Aku rasa lo salah alamat Daniel" tegas Langit.


"Jadi lo nggak mau bantuin gue. Awas saja lo Langit!!!!" kali ini mimik muka Daniel beralih dengan mode serius.


Langit pun hanya menanggapi dengan senyum sinis tanpa berkata apapun.


Pesawat yang seharusnya sudah take off nyatanya masih delay setelah Langit berada di sana hampir satu jam menunggu.


Belum ada pemberitahuan lebih lanjut jadwal keberangkatan karena cuaca buruk.


Langit mengirim pesan grub ke tim nya, jika akan datang terlambat karena jadwal penerbangan ditunda menunggu situasi kondusif.


Saat ini rombongan Arga dan yang lain sudah berada di Amerika dan tengah mempersiapkan semuanya.


Langit mencoba menghubungi uncle Dewa yang menyelidiki orang-orang Daniel di Indo.


Langit sampai lupa menanyakan karena kesibukan akhir-akhir ini.


'Ada nama Andre yang selama ini membantu sepak terjang Kenzo saat membawa Jingga saat itu" ketik Dewa.


'Sampai saat ini dia hilang begitu saja' lanjut Dewa dalam ketikan.


Di saat yang sama, saat Langit tengah membahas nama Andre bersama uncle Dewa.


"Andre" panggil Daniel ke arah seseorang yang sedang memakai topi.


"Kutungguin sedari tadi, ke mana aja lo" kata Daniel dengan merangkul cowok bertopi itu.


Tak menyiakan kesempatan, Langit pun mengarahkan kamera ke mereka dengan berpura-pura seperti orang sibuk main game.


Langit kirimkan gambar itu ke uncle Dewa.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


To be continued, happy reading

__ADS_1


__ADS_2