
Jingga tiba-tiba saja membuka mata.
"Jingga, lo sudah sadar???" ucap Mega tak percaya.
Dengan cepat Mega tekan tombol merah yang ada.
Beberapa petugas jaga datang menghampiri.
Jingga berkedip tapi pandangannya masih kosong.
"Kak, kalian lihat sini. Jingga sadar, matanya terbuka" seru Mega.
"Maaf Nona, kami akan melakukan tindakan. Sebaiknya jangan buat gaduh dulu ya" ucap salah satu petugas yang datang itu.
"Ooopppsss, maaf" tukas Mega sambil menutup mulut.
Mereka yang datang memeriksa Jingga dengan sigap.
Mega pun menutup panggilan untuk menghormati beberapa petugas yang sedang memeriksa Jingga.
"Bagaimana kondisinya dok?" tanya Mega.
"Pasien sudah sadar, tapi masih belum bisa merespon. Sering-sering aja ajak bicara Nona" suruh dokter jaga itu.
"Baiklah, terima kasih dok" tukas Mega.
"Oke, kami akan pergi. Jika perlu bantuan, panggil kembali nona" ujar dokter itu pamitan.
Mega pun mengangguk dan kembali menghampiri Jingga yang masih membuka matanya.
"Jingga, makasih banyak. Lo telah kembali. Kami semua sayang padamu" ucap Mega dengan mata berkaca-kaca.
Dia peluk erat sahabat yang masih terbaring di ruang intensif itu.
Air mata menetes di sudut kedua mata Jingga.
"Heeiii...jangan menangis. Lo layak bahagia sekarang" tukas Mega dengan menghapus air mata sahabatnya.
Ponsel Mega berdering dan ada panggilan dari Dad Tian.
"Bentar Jingga, aku angkat telpon dari Dad dulu" kata Mega dengan tangan tetap memegang telapak tangan Jingga.
"Halo Dad" sapa Mega.
"Dad sama bunda ada di luar nih. Gimana keadaan Jingga?" tanya Dad yang menyusul ke rumah sakit saat Mega tiba-tiba saja memutus panggilan tadi.
"Bunda sama Dad mau masuk? Aku keluar dulu kalau gitu" seru Mega.
"Jingga, Dad sama bunda kangen sama kamu loh. Mereka ke sini ingin tahu kabar terbaru kamu" ucap Mega.
Mega keluar, sementara Dad Tian dan bunda masuk bersamaan untuk nengokin Jingga.
Saat di depan kamar ruang intensif, ponsel Mega kembali berdering.
Kali ini Langit yang menelponnya.
"Kak, kenapa nggak istirahat. Bukannya kamu butuh stamina prima buat besok?" sapa Mega.
"Beritahu dulu kondisi Jingga" pinta Langit.
"Hhhmmm, Jingga sudah bisa membuka mata. Tapi belum bicara dan belum respon" jelas Mega.
"Terus kata dokter?" lanjut Langit dalam tanya.
"Suruh banyakin ngobrol sama dia. Biar merangsang pendengaran dan saraf bicaranya" seru Mega.
"Terus ngapain lo bicara terus sama kakak" jeda Langit.
"Hello, bukannya kakak ya yang barusan nelpon gue? Kenapa lo malah nyuruh gue ngobrol ma Jingga. Lagian kak, sekarang ada Dad sama bunda di dalam" bilang Mega.
"Iya sih" Langit terkekeh.
"Nggak lucu. Tidur sana!" seru Mega.
Panggilan terputus meninggalkan kemanyunan bibir Mega.
Langit meluruskan badannya di ranjang hotel. Menerawang atap hotel sambil melamun.
Beberapa kali dia membolak balikkan badan karena belum bisa tidur.
__ADS_1
Barulah selepas tengah malam, matanya bisa terpejam sempurna saat bunda mengiriminya pesan kalau Jingga telah membaik daripada sebelumnya.
Bunda juga menulis agar Langit jaga kondisi. Dan lakukan yang terbaik atas kesempatan dan kepercayaan yang diberikan Dad Tian kepadanya.
Sungguh bundanya adalah wanita yang sangat sabar dan bijak dalam segala hal. Setiap apa yang diucapkan selalu membuat Langit merasa adem dan nyaman. Tak ingin sekalipun Langit membantahnya.
Langit terbangun saat terdengar ketukan pintu.
"Iyaaa" jawab Langit.
"Sudah pagi. Bersiaplah!" seru dari luar. Siapa lagi kalau bukan uncle Arga, ketua tim.
"Oke uncle" teriak Langit dari dalam kamar.
Sebelum beranjak Langit raih ponsel untuk melihat jam.
Sebuah video lewat aplikasi pesan diterima oleh Langit, siapa lagi pengirimnya kalau bukan Mega.
Dalam video itu terlihat Jingga mulai senyum dan merespon candaan Mega.
"Alhamdulillah" hanya ucap syukur yang bisa keluar dari mulut Langit.
Dan itu adalah booster dirinya sebelum mulai balapan hari ini.
Langit beranjak dari tidur dengan penuh semangat. Badan yang penat kembali terasa bugar.
Dan disinilah Langit sekarang. Berada dalam mobil yang telah disiapkan dengan matang oleh uncle Arga dan tim. Semua anggota tim pun juga redy di posisi masing-masing.
Sementara Arka Danendra dan keluarga berada di tribun vvip mendukung penuh tim yang akan berlaga.
Sesuai skoring hasil babak kualifikasi kemarin, Langit berada di pole pertama.
Langit yang sedang dalam kondisi prima, dan suasana hati yang baik. Tentunya lebih yakin diri daripada kemarin.
Bendera starting telah berkibar, dan para pembalab tengah bersiap dan dalam kondisi konsentrasi penuh.
Satu...dua...tiga...Go...
Belasan mobil langsung tancap gas dengan kecepatan penuh.
Langit dengan sigap memepet laju mobil di belakang yang ingin menyalip. Tentunya Langit tak ingin memberikan kesempatan juara umum kepada pesaing utamanya yang kini berada di pole kedua. Tepat di belakang Langit.
Semua tim menahan nafas saat itu terjadi.
Mega pun menyalakan monitor televisi yang tepat berada di depan Jingga.
Jingga yang mulai bisa merespon, memanggil Mega lemah.
"Mega" panggil Jingga lirih sekali, sampai Mega perlu menajamkan pendengaran untuk mendengar suara Jingga.
"Iya Jingga, Mega masih setia menemani lo. Tuh lihat kak Langit tengah berjuang merebut posisi pertama nya lagi" seru Mega.
Jingga nampak mengerutkan kedua alisnya, dan detik itu juga Jingga gelisah seperti merasakan sakit kepala yang luar biasa.
"Kenapa lo Jingga? Kamu nggak apa-apa kan?" tanya Mega kuatir.
Bersamaan dengan itu, dokter Bara datang.
"Kenapa Mega?" tanyanya.
"Enggak tahu uncle. Tadi tuh Jingga manggilin aku, suaranya lirih banget. Habis gitu Jingga seperti kesakitan" jelas Mega.
Jingga masih bergerak-gerak tak terkoordinasi karena merasakan sakit yang luar biasa di kepala nya. Tanpa mengeluh pun Bara bisa menilai itu.
"Sori Mega, Jingga akan kutidurkan lagi untuk sementara. Biar dia tenang. Sepertinya ada hal yang mengagetkan dirinya barusan" terang uncle Bara.
Dokter Bara menyuntikkan sesuatu lewat jarum infus. Dan tak perlu menunggu lama, Jingga kembali tertidur.
"Apa karena lihat balapan tadi ya uncle? Apa kira-kira Jingga trauma?" analisa Mega sendiri sih.
"Hemmm bisa jadi" tukas uncle Bara.
"Kita bisa lihat trauma tidaknya setelah kita observasi lagi. Terlalu dini jika kita mengatakan itu sekarang" tukas dokter Bara.
"Eh, Langit bisa nyalip tuh" celetuk dokter Bara saat tak sengaja lihat layar televisi yang terpasang di dinding.
Memang di sana terlihat Langit menyalip dari sisi kiri dengan cekatan. Bahkan rivalnya pasti tak mengira jika Langit berani mengambil sisi kiri yang sudah ditutup akses olehnya.
Tepuk tangan bergemuruh di tribun saat Langit sukses mendahului.
__ADS_1
Ternyata banyak juga yang mendukung tim yang digawangi oleh Arga itu.
Tinggal beberapa putaran terakhir Langit mempertahankan posisinya.
Beberapa kali mobil di belakang berusaha menikungnya. Tapi Langit sudah tahu trik yang sering mereka gunakan. Bekerja sama untuk membuat yang lain menang.
Tentu saja Langit tak terima akan hal itu. Main sportif tetap lah yang utama.
Kejadian kecelakaannya di London bisa jadi ulah salah satu dari mereka.
Tapi Langit belum pernah bilang ke uncle Arka maupun uncle Arga. Semua masih sebatas asumsi.
Dan Langit juga tak ingin memperpanjang masalah. Kalau bisa hidup damai kenapa musti ribut.
Tapi kalau sekali lagi mereka berbuat kecurangan, tentunya Langit tak akan tinggal diam.
Langit injak pedal gas maksimal saat putaran terakhir. Dengan tenang Langit lalui kelokan demi kelokan lintasan yang sudah dihafalnya itu.
Garis finis sudah di depan mata. Dan wusssssssssss....mobil Langit melaju dengan cepat.
Sukses diraih Langit kali ini.
Podium pertama di awal musim.
Semua anggota tim menyambut dengan gembira keberhasilan Langit.
Bahkan sang bos yang berada di tribun sampai mengangkat topi atas kesuksesan Langit kali ini.
"Terima kasih Langit ucapin pada keluarga, tim dan sponsor. Tanpa mereka apalah seorang Langit. Tanpa mereka, tak mungkin aku bisa berdiri di sini. Di podium kehormatan untuk kesekian kalinya. Dan untuk someone special, love you" kata Langit bikij penasaran semua pewarta yang hadir.
Tapi Langit tak serta merta mau membocorkan. Karena itu hal yang privacy baginya.
Tapi ada salah satu pewarta yang nyeletuk dan itu terdengar oleh Langit.
"Pasti yang di London kan?" seru pewarta itu.
Langit tersenyum tipis menanggapi.
Dan benar saja berita kemenangan Langit malah kalah dengan berita tentang 'someone special' Langit.
Gambar-gambar Langit yang sedang melindungi seorang cewek saat di London menjadi topik utama di berita-berita olahraga.
Sebuah chanel khusus olahraga pun juga memberitakan tentang Langit dan seorang wanita yang sengaja dibuat blur gambarnya oleh mereka.
Di rumah sakit Dad Tian tengah berhadapan dengan Bara, temannya.
"Bara, tolong jelaskan kondisi Jingga yang sebenarnya?" tatap serius Dad Tian kearah dokter senior yang sekaligus sahabatnya itu.
"Memang harus sabar" tukas Bara sambil menghela nafas panjang.
"Perkembangan Jingga dalam dua hari terakhir lumayan signifikan. Kita observasi saja lebih lanjut. Dan alat-alat yang terpasang, sedikit demi sedikit akan aku kurangi" jelas Bara.
"Tapi kenapa saat dia sadar, malah kamu tidurkan lagi?" tanya Dad Tian.
"Jingga kesakitan Tian. Tapi aku belum menemukan penyebabnya. Karena dari hasil pindai otak yang terakhir, semua sudah membaik. Bahkan bengkak di otak nya pun sudah tak nampak" jelas Bara.
"Apa ada trauma psikisnya?" lanjut Dad Tian.
"Bisa jadi, tapi kita tunggu saja respon Jingga sesudahnya" imbuh Bara.
"Oke, thanks atas penjelasan kamu" seru Dad Tian.
"Sama-sama. Betewe selamat ya atas keberhasilan Langit. Anak lo yang satu itu moncer juga. Aku aja yang bukan bokapnya ikutan bangga" imbuh Bara.
"Ha...ha...itulah Langit. Semakin dilarang, maka akan semakin bersemangat dia. Dan dia bisa buktikan ke Dad nya ini" balas Dad Tian.
"Oke, sukses ya. Aku pamit dulu nih. Seperti biasa, mau ke Dirgantara" pamit Bara.
"Sama, aku juga mau balik ke Blue Sky" timpal Dad Tian.
Dua laki-laki yang masih tampan meski sudah berumur itu nampak keluar ruangan bersama.
Tak lupa Dad Tian menghampiri bunda yang kali ini sedang nungguin Jingga. Gantian dengan Mega.
"Bun, aku ke Blue Sky dulu. Nanti pulangnya aku jemput" pamit Dad Tian. Wanita anggun itu pun menyetujuinya.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
to be continued, happy reading
__ADS_1