Langit Dan Jingga

Langit Dan Jingga
Surprise Gagal


__ADS_3

Sorak sorai terdengar dari luar paddock.


Semua anggota tim masuk dan beryel-yel dengan kompak karena tim ini dinyatakan mendapatkan pole position terbaik.


"Selamat, start pertama lagi" Arge menyalami Langit dan selanjutnya saling peluk.


Ya, Langit meraih pole position untuk kesekian kalinya.


Selain karena Langit yang tangkas mengemudi, faktor keberuntungan juga menaungi tim yang digawangi oleh Arga itu.


Tim Tiger yang selama ini menjadi pesaing berat tim Langit, kali ini hanya menduduki start kelima.


Performa tim Tiger memang sangatlah menurun.


Selain karena konflik sponsor, anggota di tim mereka mulai tak kompak dan terpecah belah.


Itu juga yang menguntungkan bagi tim Langit mendapatkan posisi pertama start.


Itu semua sudah sesuai prediksi semua pihak.


.


Langit hendak bersiap kali ini di posisi pertama start.


Seluruh tim juga tengah bersiap, sama halnya dengan tim Tiger dan juga tim nya Langit.


Penonton juga full di tribun.


Banyak baju merah terlihat di sana. Sesuai warna tim yang digawangi oleh Arga itu.


Bendera start sudah diangkat tinggi, pertanda lomba telah dimulai.


Puluhan mobil menggeber lajunya dengan kekuatan penuh.


Suara gaungnya bahkan memekakkan telinga, tapi kalau sudah hobi mau gimana lagi.


Sesuai prediksi banyak kalangan, tim berjuluk singa merah itu pun kembali naik podium.


Tim Tiger yang selama ini menjadi saingan terberatnya, hari ini tidak ada taringnya sama sekali. Mereka hanya meraih finis satu tingkat dari start, yaitu finis ke empat.


Langit mengangkat piala yang didapatnya dan juga tim sebagai juara di seri ke empat ini.


"Thanks to Allah atas semua karunia, my little woman love you so much, my family for big support and also all my team, you're the best. Thank you" ucap Langit di pidato kemenangannya.


Sampai di pertengahan musim ini, Langit masih kokoh di posisi pertama dengan poin tertinggi.


Sementara tim Tiger saat ini masih sukses dengan merebut posisi umum ketiga, karena kegagalan hari ini dengan finis keempat mendapatkan poin yang tak cukup banyak.


"Langit, langsung cusss atau gimana?" sambut Arga saat pembalapnya itu turun dari podium.


Langit melihat jam mewah yang melingkar manis di pergelangan tangannya.


"Sudah sore, sampai London bisa dini hari. Besok aja mungkin rencana balik. Tiket juga belum aku kantongin" jelas Langit.


"Pesta?" uncle Arga menawari.


"Mager gue"


"Jawaban lo tetap saja sama" ledek uncle Arga.


"Semua nggak harus dirayain uncle dengan pesta. Donasikan aja ke yang membutuhkan, kalau perlu sih. Hanya sekedar saran" ujar Langit.


Arga menepuk bahu Langit.


"Mutia memang telah sukses mendidik kamu Langit" sengaja Arga tak menyebutkan nama Sebastian.


"Dad juga berperan penting uncle. Tanpa Dad aku tak pernah bisa jadi dewasa" bela Langit untuk sang Dad.


"Hhhhmmm" Arga menyetujuinya.


"Kita ajak seluruh team makan malam aja. Dan kali ini lo tak boleh menolak. Cuman makan malam. Sure!!!" ujar Arga.


"It's oke" Langit mengangkat jempol tanda setuju.


"Berangkat barengan aja, biar seru!" imbuh uncle.


"Siippppp" Langit berlalu meninggalkan podium yang dibawahnya banyak sekali fans yang menunggu Langit kembali untuk tanda tangan.


Saat melewati ruangan tempat Daniel berada. Tak sengaja Langit melihat seorang Daniel membanting helm.


Dia pasti kecewa sekali. Batin Langit.


Tim Tiger sedang down saat ini. Pertengahan musim selanjutnya mungkin akan lebih sulit bagi tim Daniel untuk mengejar perolehan poin tim Singa Merah tempat Langit bernaung.


Beberapa hari ini juga banyak sekali tim yang menawari Langit untuk gabung dengan tim mereka.


Tawaran mereka bahkan sangat menggiurkan.


Tapi hati Langit masih untuk Arga, yang sangat membantunya mendapat persetujuan Dad. Uncle Arka yang memfasilitasi semuanya, saat Dad Tian kekeuh tak mau Langit menjadi seorang pembalap.


Tapi kini keadaan sudah berubah. Dad sudah menyetujui meski kadang-kadang masih juga cerewet soal safety.


.


Langit berada dalam perjalanan menuju balik ke London.


Mega sudah mengirimi nya chat pribadi.


Tentu isinya adalah skenario tentang surprise buat ulang tahun bunda.


"Oooooo, ternyata ini maksud Dad kemarin. Kirain jauh-jauh ke London karena ingin mengakuisisi perusahaan garmen itu" Langit tersenyum simpul sendirian saat membaca pesan dari adiknya itu.


Mega juga kasih tahu jika dirinya dan Dad sudah sampai di London, tapi sengaja ke hotel duluan. Menunggu kedatangan Langit.


Langit ikut aja apa skenario Mega.


Menunggu jam keberangkatan, Langit coba telpon Jingga. Di london sekarang pasti tengah hari sekarang.


Awal minggu, saat ini Jingga pasti berada di kampus sekarang.


Tiga kali nelpon belum terangkat juga.


Langit hanya kirim pesan, memberitahu jika dirinya balik hari ini.


Pemberitahuan agar para penumpang naik sudah terdengar.


Langit beranjak dari duduk.


Perjalanan hampir delapan jam akan dia tempuh kembali.


Di bandara internasional London, Awan ikutan Agus untuk menjemput Langit.


"Kak, traktirin dong" ujar Awan.


"Idih, jarang-jarang ketemu. Sekalinya ketemu, nodong gue" tukas Langit.


"Kakak pelit" seru Awan.


"Biarin...weekk..." Langit menjulurkan lidah untuk meledek sang adik yang kadang jiwa kekanakannya itu muncul. Terang aja muncul, usia Awan juga belum mencapai tujuh belas.


"Nih" Langit menyodorkan beberapa lembar uang dolar untuk sang adik.


"Yeeeeiiii...." Awan bersorak riang.


"Thanks kak, abis ini kudoakan selalu agar kakak menang dech" seru Awan.


"Apa selama ini lo nggak doain?" tukas Langit.


"Doain lah, tapi belum intens" kata Awan terkekeh.


Langit mencibir adiknya.


Ponsel Langit berdering, si tukang skenario memanggil.

__ADS_1


"Kak sampai mana? Langsung ke apartemen kakak aja. Aku sama Dad akan langsung ke sana juga" terang Mega.


"Kejutannya apa nih? Kakak belum siapin apa-apa buat bunda" bilang Langit.


"Kakak juara aja sudah hadiah buat bunda. Untuk hadiah lain, biar menjadi urusan Dad" lanjut Mega.


"Isssshhh kalian ini licik kali. Apa-apa Dad yang jadi harapan terakhir" sela Dad Tian ikutan ngobrol.


"Dad, yang ulang tahun itu istrimu loh. Ingat itu!" Awan ikutan menyela.


Ketiga anaknya hanya bisa menahan tawa melihat kemanyunan seorang Dad Tian.


Langit dan Awan datang terlebih dahulu.


Tentunya bunda lumayan kaget, kok Awan bisa datang barengan Langit.


"Mana Dad? Mana Mega? Katanya mau ke sini. Terus ngapain Awan bisa barengan kamu Kak? Apa selama ini dia bolos sekolah karena lihat kamu balapan. Awas saja Awan!!!" kata bunda setelah menelisik tak ada suami dan putrinya yang datang bersama Langit.


"Kak, kenapa gue yang kena sial. Padahal ini kan skenario..." buru-buru Langit membungkam mulut adik bungsu yang kadang terlalu lemes itu.


"Kenapa sih kalian ini? Awan jelasin ke bunda!" kata bunda menatap tajam ke putra bungsunya.


Langit mengusap tengkuk, alamat gagal nih rencana Mega yang sudah disusunnya beberapa hari.


"Awan" tatapan menelisik didapat dari sorot mata bunda.


"Nggak ada apa-apa kok bun" kata Awan setelah mempertimbangkan masak-masak. Daripada nggak dapat jatah uang saku dari Dad selama sebulan.


"Awan...." panggil bunda dengan membawa segepok uang dolar.


Goyah sudah keyakinan Awan saat ini.


Awan kembali mengusap tengkuk antara bilang ke bunda atau tidak.


Mega dan Dad yang berada di luar pintu apartemen yang masih kebuka, sengaja tak muncul.


Menunggu Awan akan berkhianat atau nggak.


Sementara Jingga dan Linda juga bersiap dengan pernak-pernik pesta kejutan untuk bunda.


Ruang makan telah disulap sedemikian rupa saat bunda tengah sibuk dengan Awan dan Langit.


Jingga sebelumnya memberi kode sang suami agar berlama-lama di ruang depan.


"Kalian ini kenapa sih?" tanya bunda heran.


"Uangnya kok dimasukin lagi bun?" tanya Awan.


"Nggak jadi buat Awan nih?" lanjut Awan.


Bunda mendekat ke Awan. Pelototan Langit didapat oleh Awan.


"Nggak ada apa-apa bun" bilang Awan.


"Dad sama kakak kamu mana? Mau buat skenario apa?" ujar bunda.


"Skenario apa sih bun?" Awan menyela.


"Bunda tuh sudah hafal karakter kalian, tuh di dalam Jingga pasti sedang nyiapin semua sama si Linda. Terus Dad sama Mega pasti ada di lobi bawah. Atau bisa jadi di balik pintu depan itu" kata bunda dengan santainya.


Langit yang berdiri hanya bisa mengusap tengkuknya.


Bunda sungguh luar biasa. Batin Langit.


"Hayok, semua dipanggil suruh masuk" kata bunda sambil duduk di kursi tengah.


Langit dan Awan belum beranjak.


"Kok diam?" seru bunda dalam mode galak.


"I...iya..bun" keduanya ngacir.


Awan ke depan, dan Langit masuk menyusul Jingga.


Langit jadi serba salah. Bunda marah, Jingga pun begitu.


"Gimana lagi? Kepalang basah ya dilanjutin aja" ujar Langit.


Dad Tian dan Mega membawa kue ulang tahun yang aslinya untuk kejutan, malah berujung ketahuan terlebih dahulu.


"Happy birth day bundaaaaa" ucap Dad Tian menyanyikan syair lagu yang terakhir.


"Makasih Dad" seperti biasa bunda memeluk sang suami.


"Selamat ulang tahun...kami ucapkan...selamat sejahtera sehat sentosa...selamat panjang umur dan bahagia" Mega mendekat ke bunda dengan membawa kue yang sudah disiapkan.


"Ini mah kue buatan bunda. Iya kan?" seru bunda tertawa.


"Bukan bun, Mega pesan khusus dari aunty Dena" tolak Mega, karena itu memang bukan bikinan bunda nya.


"Sama aja, aunty kan tinggal ngikut aja resep bunda" kata Mutia tak mau kalah.


"Tapi yang bikin tetep aunty Dena" pungkas Mega tak mau debat lagi.


"Jangan salah, aku yang njagain. Sama Dad nggak boleh oleng sedikitpun tuh box kue bun" sela Awan.


"Ngapain sih kalian tuh repot. Kan tinggal beli aja di sini. Emang London nggak ada yang jualan tart?" seru bunda.


Semua yang ada menggaruk kepala, tanda setuju apa yang dikatakan bunda.


"Tiup lilinnya... Tiup lilinnya... Tiup lilinnya sekarang juga... Sekarang juga... Sekarang juga..." Langit menyela dengan menyanyi daripada melihat perdebatan tanpa arti di depannya.


"Lilinnya sudah mau leleh bun" ujar Jingga.


"Heeiii...make a wish dulu" kata Dad mencegah sang istri yang hendak tiup lilin.


"Ribet banget ya" canda Mutia.


Untuk selanjutnya saling memejamkan mata dan berdoa.


"Besar harapan bunda, agar anak-anak bahagia. Khusus untuk Jingga, semoga kehamilannya lancar dan selalu sehat. Untuk Langit bahagia selalu bersama keluarga kecilnya. Mega cepet lulus dan segera menemukan jodohnya. Dan untuk Awan kurangi itu main game, bentar lagi mau ujian kelulusan. Untuk Dad, I love you so much more and more"


"We love you too bun" seru semuanya dan saling memeluk satu sama lain.


Surprise berujung gagal, tapi sukses juga perayaan ulang tahun bunda kali ini.


Dor....dor....dor... Potongan kertas kecil-kecil bertebaran di ruangan.


Ulah siapa lagi, kalau bukan ulah Awan dan dibantu Linda.


Dad Tian dan bunda saling memeluk. "Semoga kita bisa menua bersama ya bun. Love you" kecup Dad di kening bunda.


"Cie...cie...." olok anak-anak yang sudah mulai dewasa itu.


Kebersamaan Dad dan bunda memang layak untuk dicontoh oleh ketiga putra putrinya.


"Kita makan di luar aja" ajak Dad.


"Asyiiikkk, kalau untuk bunda pasti Dad ngajakin ke resto yang mahal ini" kata Mega senang.


"Benar tuh" sela Awan.


"Bun, boleh minta kuenya?" sela Jingga yang menelan ludah melihat kue ulang tahun bunda.


"Waduh sampai lupa tuk potongin" kata bunda disambut tawa yang lain.


"Bumilnya ngidam...ha...ha..." olok Mega kepada sahabatnya itu.


Jingga makan dengan lahap kue yang dibawa dari Indo itu khusus untuk ulang tahun bunda.


"Kak, Jingga nggak makan berapa lama?" tanya Mega yang merasa aneh dengan perubahan Jingga saat ini.


"Isssh lo ini apaan sih? Rasain aja lo pas ngidam nanti" balas Langit.

__ADS_1


"Enak lo yank" kata Jingga tanpa perduli tatapan aneh dari yang lain.


"Pada enggak mau kah? Kok semua diam? Hanya ngelihatin Jingga aja" kata Jingga.


"Lihat kamu makan, yang lain sudah ikutan kenyang yank" ulas Langit.


"Kok bisa?" tanya heran Jingga. Jingga tak merasa ada yang aneh dengan dirinya.


"Yang lain siap-siap aja. Kita makan di luar" ajak Dad Tian.


.


"Langit, besok uncle Dewa akan datang" kata Dad saat semua makan di resto sesuai yang dijanjikan oleh Dad Tian tadi.


"Jadi ke perusahaan garmen?" tanya Langit memandang Dad.


"Heemmm" gumam Tian.


"Dad, apa ada sesuatu dengan perusahaan itu?" tanya Langit.


"Emang ada apa? Dad hanya ingin beli perusahaan yang kolaps. Apa itu salah? Kita harus ambil setiap ada kesempatan" tandas Dad.


"Dad tahu nggak? Daniel itu cucu dari pemilik perusahaan dan anak dari tuan Frans yang Dad jebloskan ke penjara waktu itu" imbuh Langit.


"Tahulah. Tapi Frans masuk ke penjara bukan karena Dad, tapi karena ulahnya sendiri yang membuat Frans harus bertanggung jawab. Dan perlu kamu ketahui Langit, belum tentu Daniel itu anak Frans" ujar Dad memberitahu.


"Kok bisa?" sela Langit.


Yang lain tetap saja menikmati makanan yang terhidang di meja. Sementara Tian dan Langit tetap melanjutkan obrolannya.


"Frans itu sudah lama mengalami disorientasi ****" kata Dad Tian memelankan suaranya.


Langit menatap tak percaya.


"Dan itu sudah lama" lanjut Dad.


"Tapi bisa saja kan Dad, orang seperti itu tetap menghamili" tanggap Langit.


"Bisa sih, tapi kan mana mungkin si Frans menyentuh kalau dianya tak ada hasrat?" kata Dad ada benarnya juga.


"Dikasih obat kali. Kan bisa saja seperti itu?" Analisa Langit.


"Nggak usah nggibah, mendingan kalian makan dulu dech" sela bunda di antara obrolan Langit dan Dad Tian.


"Suapin" rengek Dad ke bunda.


"Hheemmm selalu saja begitu" tukas bunda tapi tangannya tetap menyodorkan sendok penuh makanan ke mulut Dad Tian.


"Bunda tuh galaknya cuman di luar, tapi aslinya sayang banget sama Dad. Ya kan bun?" goda Dad Tian.


Bunda tersenyum menanggapi kekonyolan sang suami yang kadang bagai anak SMA sedang jatuh cinta itu.


Sementara ketiga anaknya hanya mencebik. Bosan dengan kebucinan Dad sama bunda.


Sebuah box kado disiapkan khusus oleh Dad untuk bunda.


"Dad, mana kadonya?" tanya Awan.


"Kamu kasih hadiah nggak buat bunda?" sela Langit.


"Aku pelukin bunda aja ya bun. Awan kan belum kerja" Awan memeluk sayang bunda yang duduk di sampingnya.


"Issshhh nggak modal" olok Mega.


"Emang kak Mega mau kasih hadiah apa?" Awan mencibir.


"Rahasia" seru Mega menimpali.


Dad Tian memberikan sebuah paper bag warna orange untuk sang istri.


"Wah, boleh kutebak Dad isinya apa?" seru Mega.


"Nggak, biar bunda langsung ngebuka sendiri" cegah Dad.


Acara perayaan ulang tahun bunda meski cuman dirayakan keluarga inti, tapi cukup seru juga.


.


Langit yang duduk di ruang kerja bersama uncle Dewa yang sudah datang sedari pagi.


"Semalam sampai jam berapa? Pagi-pagi sudah sampai sini?" tanya Langit saat Dewa menaruh pantatnya di kursi di depannya.


"Tengah malam" ucap Dewa menjawab.


"Jam segini sudah sampai sini? Rajin amat sih uncle?" komen Langit.


"Kalau nggak rajin, bisa dipecat sama Dad lo" tukas uncle Dewa.


"Mana tuan Sebastian?" tanya uncle.


"Ha...ha... Biasa lah. Dad kalau sedang sama bunda pasti kena sindrom bucin akut" jawab Langit.


"Jadi kita sendiri? Yang berangkat ke perusahaan Michelle itu?" dan Langit pun mengangguk.


"Uncle kenal sama mama nya Daniel?"


"Enggak sih, cuman tahu aja" Dewa pun terkekeh.


Dewa tahu setelah menelusuri masa lalu Frans saat melacak keterkaitan Daniel dengan penculikan Jingga waktu itu.


Masa lalu yang rumit menurut Dewa.


"Rasa dendam dan benci Daniel ke kamu, bisa jadi karena kesalahpahaman masa lalu" terang Dewa.


"Aku juga merasa begitu uncle" tukas Langit.


"Menurut info yang aku dapat, sepertinya Frans akan ke London dalam minggu ini" kata Dewa.


"Untuk apa? Bukannya dia tak tahu akan Daniel?" ucap Langit menanggapi.


"Makanya itu, perlu kita ikuti kelanjutannya" tandas Dewa.


"Uncle, aku dengar perusahaan itu hanya menjual beberapa saham nya saja dan tak berniat menjual semuanya" kata Langit.


"Butuh dana banyak tapi tetep saja sombong" cibir uncle Dewa.


"Kita ke sana dalam rangka apa nanti?" tanya Langit.


"Membeli perusahaan" jawab Dewa sekenanya.


Sebastian dan Dewa pasti sudah melakukan sesuatu terhadap perusahaan itu, sehingga dengan sangat yakinnya mengajak Langit untuk pergi ke sana.


"Jam berapa kita kesana?" tanya Langit.


"Lebih cepat lebih baik" ucap Dewa menanggapi.


Langit dan Dewa turun lobi. Mobil sudah disiapkan.


Langit meminta Agus untuk mengantar pergi ke perusahaan garmen milik keluarga Daniel.


"Uncle, apa yang menjadi motivasi Dad membeli perusahaan itu? Jelas-jelas perusahaan itu mau gulung tikar" tanya Langit saat sudah dalam perjalanan.


"Hhhmmmm menurut kamu apa?" tanya balik Dewa.


"Makanya aku nanya uncle, karena aku tak tahu" ucap Langit sambil mengangkat kedua bahunya.


Dewa mengatakan sesuatu yang membuat Langit tak menyangka akan hal itu.


"Dad, sampai sebegitunya?" tanggap Langit tak percaya.


"Hhhhmmm..." gumam Dewa sambil mengangguk.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


To be continued, happy reading


__ADS_2