
Tangan Langit masih menggenggam tangan Jingga erat.
"Eh, kok sudah main pegangan tangan saja" canda tuan Arga yang barusan masuk ke ruang recovery itu.
"Eh" Jingga kaget dan hendak menarik tangannya. Tapi tak bisa karena ditahan Langit yang mengenggamnya erat.
"Kok nggak bisa sih?" seru Jingga.
"Wah, Langit tahu aja kalau ada cewek cantik di dekatnya. Padahal masih kena pengaruh bius loh" gurau Arga.
Jingga menarik tangan yang digenggam Langit perlahan.
"Tuan, saya pergi dulu. Ditungguin teman-teman di depan" bilang Jingga pamitan.
"Makasih ya sudah dibantuin untuk nunggu Langit. Apa nggak nunggu Mega sekalian" bilang tuan Arga.
"Besok saya ada jadwal kuliah pagi tuan. Nanti saja kalau Mega datang akan saya chat" kata Jingga.
"Oke...oke...hati-hati ya. Sekali lagi makasih" tandas tuan Arga.
"Permisi tuan" tukas Jingga dan keluar ruangan itu.
Di depan ruangan, ada Keenan dan juga Adnan yang ternyata masih menunggu Jingga keluar.
"Loh, masih di sini kalian?" kata Jingga.
"Mana tega kita ngebiarin kamu sendiri" sahut mereka berdua bersamaan.
"Oke lah. Buruan kalau gitu. Capek nih badan" ujar Jingga mengajak dua sahabat barunya untuk balik.
"Smoga aja nggak ketahuan ibu asrama, kalau aku pulang malam gini" gumam Jingga.
"Kalau gitu tidur di di apartemen gue aja" tawar Adnan.
"Ogah gue, masak cewek nginep di tempat cowok" tolak Jingga mentah-mentah.
"Eh kita bukan tinggal di Indo ya. Jadi sudah hal biasa kalau cewek nginep di tempat cowok. Lagian aku juga nggak bakalan ngapa-ngapain kamu" imbuh Adnan.
"O-G-A-H" tandas Jingga dengan mengeja hurufnya membuat Keenan terbahak.
"Ha...ha...baru kali ini gue lihat Adnan ditolak" ujar Keenan.
"Sialan lo" umpat Adnan.
"Gimana pulang kita nih?" kata Adnan kala melihat mobilnya terparkir.
"Naik mobil kamu lah" sela Keenan menimpali.
"Lo mau duduk di atas stang?" tandas Adnan.
Keenan menggaruk kepala yang tak gatal, karena baru menyadari jika Adnan bawa mobil sport dengan dua penumpang.
"Jingga duduk di kaki gue aja" usul Keenan.
"Yeei..nggak usah ya" kembali Jingga menolak.
"Gini aja dech. Aku naik kereta cepat aja. Mumpung belum terlalu malam juga" imbuh Jingga.
"Enggak boleh, mendingan Keenan aja tuh yang naik kereta" hampir setengah jam mereka berdebat dengan hal sepele. Tapi tak terselesaikan.
Kebetulan Arga lewat.
"Loh, kok belum pulang Jingga?" tanyanya karena melihat Jingga bersama dua pria yang terlihat memperdebatkan sesuatu.
"Masih nungguin debat live mereka selesai tuan" tukas Jingga.
"Owh, kau datang dengan mereka berdua?" tanya Arga.
"Aku bersama Adnan, cowok yang agak tinggian itu" terang Jingga.
"Kok nggak langsung pulang aja?" tanya Arga kembali.
"Mobilnya nggak cukup Om" seru Jingga.
"Ya sudah, kamu balik bareng aku aja. Kebetulan aku dan tim sengaja menginap di pusat kota London" beritahu Arga.
__ADS_1
"Owhhh, jauh sekali menginapnya?" tanya Jingga.
"Iya" jawab singkat Arga.
"Sana dulu atuh neng, pamitan sama teman-teman kamu" ujar Arga yang merupakan orang kepercayaan tuan Arka Danendra itu.
"Kak Keenan, Kak Adnan gue duluan" pamit Jingga ke keduanya yang masih saja berdebat
Keenan dan Adnan saling pandang, kemudian menengok ke arah Jingga.
"Lo sama siapa?" tukas Keenan berusaha menghalangi.
"Tuh" arah mata Jingga ke arah Arga.
"Siapa dia?" telisik Keenan pada laki-laki setengah baya, meski tampan sih.
"Beliau ini tuan Arga, ketua dari tim nya kak Langit" kata Jingga mengenalkan Arga.
Keenan dan Adnan pun mendekat. Suatu kebanggaan sendiri bisa mengenal sosok Arga.
"Sudahlah, kalian berdua aja. Jingga biar bersamaku dan rombongan" saran Arga pada akhirnya.
"Jangan Om, mendingan Keenan aja biar bersama kalian. Aku yang pertama kali ngajakin Jingga ke sini" tolak Adnan.
"Sedari tadi debat mulu, terus kapan pulang?" seru Jingga menengahi.
"Aku barengan tuan Arga beserta rombongan aja dech" keputusan Jingga tak bisa diganggu gugat.
"Hhhmmm baiklah" Keenan dan Adnan berjalan gontai menuju mobil Adnan.
"Kok tuan Arga tinggalin, kakak Langit?" tanya Jingga.
"Tenang, di tim ku juga ada tenaga dari kalangan medis yang stay dua puluh empat jam" beritahu Arga penuh ketenangan.
Jingga pun akhirnya diantar Arga agar bisa masuk asrama.
Entah apa yang disampaikan oleh tuan Arga kepada ibu asrama, nyatanya Jingga langsung bisa masuk tanpa banyak pertanyaan.
.
Hari-hari Jingga berikutnya semakin disibukkan dengan jadwal perkuliahan yang lumayan padat.
Sejak kejadian itu, Jingga juga belum sempat pergi ke tempat Keenan walau untuk kongkow barang sejenak.
Adnan juga menghubungi Jingga beberapa kali untuk ngajakin ngumpul, tapi selalu berujung penolakan dari Jingga.
Jingga mengambil lumayan banyak mata kuliah dan memadatkannya dengan tujuan agar cepat selesai.
Hingga suatu pagi, ibu asrama menggedor pintunya.
"Jingga" panggilnya.
Jingga melongok keluar untuk melihat siapa yang datang.
"Someone is looking for you" kata nya.
"Who?" bilang Jingga.
"I don't know Jingga" lanjut bu asrama.
"It's okey, I'm going there to meet him" kata Jingga menjawab.
"Good" seru ibu asrama dan langsung meninggalkan Jingga meninggalkan tanya dalam benak Jingga.
Siapa orang yang mencarinya pagi-pagi gini? Enggak tahu orang lagi rempong begini. Gerutu Jingga dalam benak.
Jingga keluar setelah bersiap sekalian untuk pergi kuliah.
Di ruang tamu ada sosok laki-laki dengan posisi yang membelakangi Jingga.
"Morning sir" sapa Jingga di ramah-ramahin, walau dalam hati penasaran akan siapa yang datang.
Melihat bentukan bahu nya sih bukan Keenan ataupun Adnan. Batin Jingga.
Jingga menepuk bahunya, karena orang itu tak kunjung berbalik kala Jingga menyapanya.
__ADS_1
"Pagi juga Jingga" balasnya menyapa.
Alangkah terkejutnya Jingga saat melihat tuh muka orang yang mencarinya.
Kenzo, gumam Jingga dalam benak.
Bagaimana dia bisa tahu aku di sini? Apa selama ini di menguntitku? Kalau iya, nekat sekali dia. Batin Jingga bergejolak.
"Jingga, aku ke sini karena sudah tak tahan untuk menyapamu" seru Kenzo.
Jingga masih bengong, syok juga melihat sosok laki-laki yang sangat ingin dilupakannya itu.
"Aku datang ke kota ini, tepat saat kamu juga tiba" beritahu Jingga.
'What? Apa dia juga sepesawat denganku?'
'Gila nih orang' seru Jingga masih saja di benak.
"Sori, gue mau kuliah nih" Jingga beranjak dan hendak berbalik arah tapi keburu tangannya dijegal oleh Kenzo.
"Tunggu! Beri kesempatan aku ngomong Jingga" mohon Kenzo.
"Apa lagi yang mau kamu bicarakan? Bukannya semua sudah jelas" Jingga menolak ajakan Kenzo.
"Please Jingga" mohon Kenzo sekali lagi.
Di Indo sudah ada Rima yang mendatanginya, kenapa sekarang ada dia yang menganggu.
"Lekaslah!" kata Jingga ketus.
Perkataan Jingga berasa angin segar bagi Kenzo meski Jingga mengatakannya dengan nada yang tak enak didengar.
"Jingga, aku sudah pisah dengan Rima. Aku telah dibohonginya. Anak yang dia kandung ternyata bukan lah anakku" Kenzo mulai bercerita serius.
"Lagu lama, aku sudah tahu" sela Jingga.
Jawaban Jingga membuat Kenzo tak percaya, ternyata mantan tunangannya itu masih kepo dengan dirinya. Tentu saja hal ini membuat Kenzo senang.
"Jangan pede kamu, aku tahu juga barusan. Kala kak Rima ke rumah dan cerita semuanya. Cerita kalau kamu tega ninggalin dia saat putranya tengah berjuang dalam keadaan sakit" tandas Jingga tak ingin bertele-tele.
"Kamu masih sama Kenzo, plin-plan dan tak bertanggung jawab" seru Jingga dan berlalu meninggalkan tempat itu, tak memperdulikan panggilan dari Kenzo.
Sepulang kuliah Jingga langsung ke tempat Keenan.
Kali ini Jingga lebih bersikap hati-hati.
Takut Kenzo akan mengikutinya seperti yang sudah-sudah.
Bagaimana aku bisa tak tahu kalau selama ini dia ada di dekat ku. Batin Jingga dengan sejuta tanya.
Jingga geleng kepala membayangkan jika saja Kenzo berbuat nekat.
Amit-amit Jingga, fokus saja dengan kuliah kamu. Bisik hati nya.
"Jingga, kemana aja? Kirain sedang bertapa lo?" seru Adnan yang ternyata sudah berada di kedai Keenan.
"Lo ini kuliah nggak sih? Sudah di sini aja?" tukas Jingga.
"Dosen gue baik-baik, selalu kasih dispen buat gue" canda Adnan.
"Keenan mana?" seru Jingga kala belum menemukan keberadaan Keenan.
"Dia shift sore, bentar lagi juga datang" imbuh Adnan, dan mempersilahkan Jingga gabung di mejanya.
"Gue butuh bantuan lo sama Keenan" bisik Jingga.
Wajah Adnan pun didekatkan ke arah Jingga untuk mendengar apa yang akan dikatakan Jingga nantinya.
"Apa?" timpal Adnan.
"Tunggu kak Keenan dulu" pending Jingga.
"Issssshhhh lo ini. Gue sudah pasang telinga, eh malah lo tunda tuk bicara" kata Adnan jengah.
"Haa...ha...sabar bos. Aku haus nih" ucap Jingga sembari mengangkat tangan untuk pesan minuman yang di mau olehnya.
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading