Langit Dan Jingga

Langit Dan Jingga
Hari Pertama Kerja


__ADS_3

Pagi sekali Langit sudah rapi.


"Yank, tolong bantuin" ujar Langit menyusul Jingga yang tengah berada di dapur.


Langit membawa dasi yang disiapkan Jingga tadi di atas ranjang.


"Cieee yang mau kerja" canda Jingga.


Langit yang sebenarnya masih setengah hati dengan paksaan Dad semalam, semakin dibuat sewot oleh candaan sang istri.


"Plissss dech yank, jangan buat mood aku tambah buruk dech" rajuk Langit.


"Oke...oke...sini aku bantuin" ujar Jingga setelah mencuci tangannya.


"Bikin apa?" tanya Langit saat Jingga kembali sibuk dekat perapian.


"Buat sarapan" bilang Jingga.


Langit yang merasa aneh melihat macam-macam sayuran di atas tungku.


"Mau buat sayur? Atau apa nih?" tanya Langit.


"Apa ya? Aku juga bingung" kata Jingga sambil garukin kepala yang tak gatal.


Akhirnya Langit dan Jingga duduk di meja makan dengan menu sandwich dan segelas susu hamil menemani buat Jingga.


Sayur yang dibuat tak bisa dimakan alias gagal total.


"Yank, ntar dianterin Agus ya sebelum dapat pengawal wanita buat nemenin kamu" kata Langit saat akan mengunyah sandwich yang ada di mulutnya.


"Sama Agus juga nggak papa kok" tukas Jingga.


"Nggak, paling lama nanti siang sudah ada yang nemenin kamu tuk pergi kemana-mana" imbuh Langit.


"Kalau ada Agus, ngapain repot nyari lagi sih yank" ucap Jingga menimpali.


"Enggak... Aku ingin pengawal wanita yang akan nemenin kamu. Dan tak ada penolakan" tegas Langit.


"Gitu kok bilang kalau Dad pemaksa, padahal kamu sendiri juga gitu" sewot Jingga.


"Demi kebaikan kamu yank" ulas Langit.


"Kalau begitu, Dad juga demi kebaikan kita. Iya kan?" sela Jingga.


"Berangkat jam berapa?" tanya Langit mengalihkan pembicaraan daripada berujung perdebatan.


"Jam sepuluh" terang Jingga.


"Oke, abis ini aku bilangin si Agus. Aku berangkat dulu sekarang!" Langit beranjak dengan membawa sebotol air putih.


Langit berangkat ke perusahaan anak cabang Blue Sky untuk pertama kalinya sebagai CEO di sana. Sebelumnya pernah ikut tapi hanya ikut-ikutan saja, tapi sekarang dia lah yang akan menjadi tampuk pimpinan tertinggi di perusahaan itu.


Ternyata semua staf dan juga karyawan yang mayoritas asli warna negara di situ menyambut kedatangan Langit sedemikian rupa.


Sambutan hangat yang diterima Langit tentu saja meningkatkan mood Langit yang tak begitu bagus karena paksaan Dad Tian.


"Mr. Langit" sapa tuan Marcel yang menjadi wakil pimpinan, tapi karena menunggu Langit siap tuan Marcel lah yang mengendalikan semua.


"Hhheemmm morning mister" sapa Langit.


Langit diajak oleh tuan Marcel untuk melihat ruangan CEO yang siap ditempati oleh Langit nantinya.


"Welcome tuan Langit, semoga anda betah di sini" sambut tuan Marcell saat mereka berdua masuk ke ruangan CEO.


"Aku harus mulai dari mana tuan?" tanya Langit, karena tuan Marcel tenyata paham dengan bahasa keseharian Langit.


"Tuh, berkas di meja. Ada laporan bulanan, triwulan" kata tuan Marcel memberitahu.


Langit mengiyakan saja.


Dan mulai hari ini, dirinya harus terbiasa dengan semua itu.


"Selamat tuan Langit" kata tuan Marcel menyalami Langit dan hendak keluar ruangan.


Langit duduk di kursi dan mulai membuka berkas-berkas untuk dipelajari.


"Gile bener, segini banyak dan segitu rumitnya" gumam Langit.


"Kenapa Dad bisa betah kerja seperti ini ya?" ucap Langit heran.


"Ini masih satu anak cabang. Sementara Dad ngurusin semuanya. Hebat juga Dad" akhirnya Langit mengakui juga kehebatan Dad Tian.


Ponsel Langit berdering saat dirinya mantengin laporan triwulan pertama perkembangan perusahaan.


"Halo" sapa Langit.


"Kerja yang benar, jangan angkat telpon kalau nggak penting" Langit pun langsung mantengin kembali berkas laporan yang tadi dan telpon dimatikan. Langit sudah tahu siapa yang menelpon sekarang.


Kembali ponselnya berdering, dan ada suara Dad lagi yang ada di ujung ponsel.


"Ya nggak musti langsung kau matiin lah Langit" kata Dad.


"Katanya tadi kerja yang benar, jangan angkat telpon kalau nggak penting" tukas Langit.


"Gimana? Sudah kuasai belum perusahaan yang akan kamu pegang?" tanya Dad.


"Anggap aja perusahaan itu istri kedua kamu, pasti kamu akan totally di situ" nasehat Dad.


"Nggak mau aku, tetap saja akan aku jadikan istri ketiga saja" tolak Langit.


"Istri ketiga?" timpal Dad Tian.


"Hhmmmmm, istri kedua aku tetaplah mobil balap" seru Langit.


"Terserah saja, yang penting kamu nggak lupa akan kewajiban kamu untuk menafkahi calon cucu Dad" lanjut Dad Tian.


"Baiklah" kata Langit menjawab Dad yang selalu menyebut calon cucu dan bukan calon putranya Langit.


Langit menyandarkan kepala nya ke kursi saat panggilan dari Dad terputus.


"Heeemmmm, apa memang sudah waktunya ya aku bantuin Dad" gumam Langit.


Saat ini gantian uncle Dewa yang menghubungi. Pasti akan membahas kerjaan di sini dech. Tebak Langit.


"Halo uncle" sapa Langit seperti biasa.


"Sore Langit, gimana kesan hari pertama kerja?" tanya uncle Dewa yang notabene bagai CEO kedua di Blue Sky setelah Dad Tian.


"Biasalah uncle, banyak yang aku belum paham di sini" jawab Langit jujur.


Meski sudah sering juga Langit diajakin Dad rapat, tapi selama ini Langit masih kalah dengan nama besar Sebastian Putra penerus utama keluarga Baskoro.


"Belajar perlu proses, nggak bisa instan. Dad kamu dulu juga begitu" ujar uncle Dewa memberi semangat.


"Kenapa uncle nggak kasih jabatan lain? Nggak langsung CEO begini. Jadi aku bisa belajar dari bawah nggak hanya ngandelin nama besar keluarga" terang Langit.


"Kelamaaen bro. Mau tak mau kamu harus biasa dengan kondisi kamu sekarang. Dan jangan lama-lama untuk berproses menuju bisa" ulas uncle Dewa.


"Iisssssshhhh sama aja uncle dengan Dad, pemaksa" gerutu Langit dan dijawab dengan tawa lebar oleh uncle Dewa.


Terdengar ketukan pintu, Langit pun menghentikan suaranya.


"Masuk" suruh Langit.


Di sana ada Linda masuk. Linda dengan tinggi semampai, hidung mancung dan rambut pirang bekerja sebagai sekretaris Langit.

__ADS_1


Linda memberitahu jika akan ada pesta penyambutan, atas kedatangan Langit sebagai CEO baru di perusahaan itu.


"Linda, lama nggak? Aku ada janji jam tujuh belasan" jelas Langit.


"No sir, thirty minute" beritahu Linda.


"Oke" Langit mangangkat jempolnya ke atas tanda setuju.


"Oke uncle, sudah dengar kan apa yang sekretaris aku bilang" kata Langit melanjutkan panggilan dari uncle Dewa.


"Baiklah" tukas uncle Dewa.


"Oh ya Langit. Kata Dad kamu sedang nyariin pengawal cewek buat Jingga, tuh Linda bisa juga lo rekrut. Beladirinya mumpuni" lanjut uncle Dewa.


"Oh ya? Cewek feminin barusan?" ucap Langit tak percaya.


"Uji saja dia, pasti lo akan takhluk duluan" olok Dewa.


"Nggak usah, gue percaya aja sama uncle" kata Langit yang tak mau bersusah payah.


"Kebiasaan kamu tuh, langsung main percaya aja sama uncle" kata Dewa.


"Sudah ah, aku mau ke ruang pertemuan sebentar" pamit Langit dan panggilan itu pun berakhir.


Saat acara penyambutan, ponsel Langit beberapa kali berdering. Ada nama Adnan di sana.


Saat Langit naik ke podium untuk penyambutan, kembali ponsel itu berdering bahkan beberapa kali.


"Maaf, aku angkat telpon dulu" kata Langit.


"Halo Adnan, share lok aja. Gue masih di kantor" kata Langit setengah berbisik.


Sementara para karyawan sudah riuh rendah bersorak agar Langit segera naik podium.


Bahkan mereka tengah bersiap dengan membawa kamera masing-masing untuk mengambil gambar Langit.


Beberapa karyawan wanita malah meringsek ke depan untuk mengambil gambar secara jelas, "Ternyata bos kita yang baru adalah pembalap terkenal" ujar salah satu nya.


Langit kembali ke atas untuk melanjutkan sambutan di depan.


Status pernikahan yang belum diketahui khalayak membuat Langit bertambah famous dan banyak karyawan yang ngefans pada Langit.


Saat Langit turun podium, banyak yang akan minta tanda tangan. Tapi Langit menolak dengan halus, karena sore ini dia buru-buru menemui Adnan.


Sebelum mobil jalan, Langit cek lokasi Adnan lewat ponsel.


Suatu tempat, yang mungkin khalayak umum jarang mengetahuinya.


Langit melajukan mobil ke sana.


Tak lupa Langit ngabarin Jingga untuk tak menunggunya makan malam, karena masih akan menemui Adnan. Ada sesuatu yang penting yang musti dibicarakan dan Jingga menyetujuinya.


Langit menaruh pantat dengan keras di kursi kosong yang berada di antara Adnan dan Keenan.


"Huh, capek gue" keluh Langit.


"Hhhmmmm, mendingan capek bekerja bos daripada capek mencari kerja" sela Adnan.


"Lagak lo" tulas Langit yang aslinya juga membenarkan kata Adnan barusan.


"Gimana-gimana? Adakah kemajuan?" tanya Langit.


"Kakak tahu nggak, kalau sponsor tim Tiger salah satu nya adalah perusahaan milik keluarga Daniel" kata Adnan mulai serius sementara Langit masih menatap ke arah Adnan.


"Perusahaan garmen itu kah?" sela Langit.


"Iya, perusahaan warisan kakek Daniel yang sekarang dikelola oleh mama nya Daniel" imbuh Keenan.


"Hheeemmm aku tahu itu. Keberadaan tuan Frans bagaimana?" tanya Langit.


"Apa papa nya Daniel sudah tahu status Daniel?" dan dijawab gelengan Adnan.


"Apa kakak juga sudah tahu, perusahaan garmen milik keluarga Daniel juga sudah mulai oleng" lapor Keenan.


Dan Langit menjawab dengan gelengan.


"Kalau kakak bersedia, saham perusahaan itu sepertinya mau dijual ke publik juga" seru Adnan.


"Kalau ada jual menjual, pasti ada defisit yang lumayan besar dong" komen Langit.


"Terus apa kalian sudah tahu kenapa Daniel membenciku?" tanya Langit dan keduanya menjawab kompak.


Makanan yang dipesan oleh mereka barusan datang di meja.


"Aku tuh merasa aneh aja dengan rasa benci Daniel yang tak berdasar padaku" ulas Langit.


"Pasti ada sesuatu kak. Aku yakin itu. Tak mungkin rasa benci datang karena hal-hal sepele" tukas Keenan.


"Sudah biarin aja. Terus gimana proposal lo yang sudah aku setujui itu. Kapan lo mulai semua?" tanya Langit ke Keenan.


"Awal bulan gimana kak? Aku mau bersihin tempat nya dulu" seru Keenan.


"Oke, tapi sori kalau awal bulan gue nggak bakalan datang. Aku ada di Amerika saat itu" terang Langit.


"Grand opening nya nungguin kakak aja lah" bilang Keenan.


Sebuah notif pesan masuk ke ponsel Langit.


Sebuah nomor tak dikenal kembali masuk, memberi ucapan pada Langit atas diangkatnya Langit sebagai pimpinan di salah satu anak cabang perusahaan Blue Sky.


"Selamat atas jabatan yang lo dapat secara instan" lanjut nya dalam bahasa ketikan.


Langit menautkan alisnya.


'Bagaimana orang ini seolah-olah tahu atas apa yang terjadi hari ini. Apa orang ini termasuk salah satu kawanan Daniel? Atau orang ini sebenarnya sudah berada di dekat aku, tapi aku tak menyadari akan hal itu. Gumam Langit dalam hati.


"Ada apa?" tanya Keenan memandang aneh ke arah Langit.


"Biasalah, gangguan kecil" tukas Langit.


"Orang tak dikenal, bisa jadi fans garis keras gue" celetuk Langit bercanda.


"Belum pernah ketemu Daniel lagi kah kak?" tanya Adnan.


"Belum, sejak dia kalah dari gue di race terakhir kemarin" bilang Langit.


"Tuh dia" tunjuk Adnan ke suatu tempat di ruangan resto itu.


"Biarin aja" ucap Langit tak perduli.


Tapi Daniel sepertinya melihat keberadaan Langit yang membelakanginya.


"Haiii bro...ketemu juga sama juara lintasan di sini" seru Daniel dengan mengeraskan suara.


Langit tersenyum sinis, "Ada yang salah kah?" tandasnya.


"Enggak sih. Tapi nasib baik kenapa selalu berpihak pada lo bro? Mulai juara race pertama kedua ketiga, dan bukannya hari ini lo jadi CEO di perusahaan multimedia di sini" ada nada nyinyir di suara Daniel.


"Ada yang ngiri nih sepertinya?" sela Keenan.


"Siapa lo, nggak usah ikut campur" hardik Daniel hendak menonjok Keenan.


"Sabar dong, jangan hanya bisa cari masalah" Langit menghalangi gerak Daniel.


"Awas saja kalian!" ancam Daniel sembari menatap tajam ke arah Keenan dan Adnan.

__ADS_1


Keenan dan Adnan melakukan hal yang sama dengan Daniel.


"Daniel" Langit menahan Daniel yang akan pergi.


"Apalagi? Mau buat masalah?" tanya Daniel dengan melipat lengan bajunya ke atas.


"Lo punya masalah apa sama gue? Aku sekalipun tak pernah menyalahi dirimu apalagi tim kamu" kata Langit dengan menatap tajam ke arah Daniel.


"Asal lo tahu, karena lo anak dari Sebastian Putra. Anak dari orang yang ngejeblosin papa gue ke penjara" terang Daniel.


"Jadi benar apa yang menjadi gosip tentang lo?" tukas Langit.


Sementara Adnan dan Keenan terdiam dan mendengarkan apa kata mereka berdua.


"Apa gosip gue?" sela Daniel.


"Lo anak di luar nikah dari tuan Frans kan?" seru Langit.


"Gara-gara Dad lo, aku harus kehilangan masa yang lumayan panjang untuk bisa bersama dengan papa ku. Bahkan mama ku dengan setia menunggu papa" terang Daniel.


'Kenapa Daniel malah jujur padaku???' pikir Langit.


"Oh ya Langit, papa meninggalkan mama ku yang sedang hamil tepat saat papa akan menikah dengan wanita jal4ng yang juga ditolak oleh Dad kamu" ulas Daniel.


"Itu kejadian sudah puluhan tahun loh. Jika kamu terus menyesali itu, maka hidup kamu tak akan maju Daniel. Aku jamin itu" tukas Langit.


"Lo bilang seperti itu sama gue, apa papa lo yang terhormat itu juga tahu kalau mama lo sedang hamil? Aku rasa enggak. Lantas papa lo sudah tahu jika dirinya punya anak di sini?" tegas Langit.


"Urus saja keluarga kamu. Jangan bawa dendam yang lo sendiri belum tahu kebenarannya" sambung Langit.


"Hati-hati aja untuk kedepannya" seru Daniel.


"Lo ngancam gue lagi? Nggak salah?" seru Langit.


"Keluarga gue tak akan bertindak selama tak diganggu duluan. Itu sudah prinsip. Camkan itu!!!" Langit kembali duduk bersama dengan Adnan dan Keenan.


"Papa gue sudah bebas, dan aku akan segera menemuinya. Ingat itu!!!" seru Daniel dan akan pergi menjauh dari tempat duduk Langit.


"Silahkan bernostalgia. Bukankah sampai sekarang lo belum pernah ketemu? Pasti akan sangat mengharukan tuh suasananya" kata Langit membuat Daniel kembali emosi.


"Santai bro, jangan kebawa emosi. Yang dikatakan kak Langit itu benar adanya" lerai Keenan menghalangi Daniel yang hendak menonjok Langit dari belakang.


Akhirnya Daniel pergi begitu saja dari meja tempat ketiganya duduk.


"Sudah ada jawaban kak?" sela Keenan.


"Hhhmmm" Langit mengangguk.


"Dendam keluarga yang tak beralasan" imbuh Langit.


"Bisa dibuat judul sebuah novel tuh, atau minimal sebuah puisi dech" seru Adnan tertawa.


Ponsel Langit berdering dan itu dari Jingga.


"Wah pasti panggilan alam tuh untuk segera pulang" sela Keenan.


Langit menaruh jari telunjuknya di depan bibir. Meminta Adnan dan Keenan supaya diam.


"Halo" sapa Langit.


"Yank, pulang jam berapa? Boleh nitip sesuatu?" tanya Jingga di ujung telpon.


"Nitip apa?" tanya balik Langit.


"Hhhhmmmm..." Jingga nampak menjeda ucapannya dan sepertinya sedang berpikir.


"Apa? Ini aku mau balik" terang Langit.


"Martabak telur" kata Jingga menjawab.


Langit kembali mengusap tengkuk menanggapi permintaan sang istri.


"Aku cariin dulu" seru Langit.


Panggilan itu terputus.


"Martabak telur" ucap Langit seakan tahu maksud tatapan Adnan dan Keenan ke arahnya.


"Beli di mana kalau di sini?" sela Keenan.


Langit coba menscrol layar ponsel untuk mencari keberadaan tempat penjual martabak telur.


Demikian juga Adnan dan Keenan.


"Ketemu" teriak Adnan, dan yang lain pun ikutan melihat.


"Noh...sudah tutup" imbuh Keenan.


"He...he...iya juga ya" Adnan menggaruk kepala yang tak gatal.


"Aku cari sambil jalan aja, moga aja ketemu" Langit beranjak.


Lagian mencari penjual martabak telur di kota ini bagai mencari jarum dalam tumpukan jerami.


"Oke lah kak. Kudoakan semoga kakak sukses mencari nya" seru Keenan.


"Jangan lupa kak, kalau sudah ketemu beli saja abang sama gerobaknya sekalian" Adnan mengucapkan kata yang konyol seperti biasanya.


Langit meninggalkan tempat itu, dan akan dihadapkan dengan misi selanjutnya. Mencari keberadaan martabak telur seperti yang diminta oleh sang istri.


Langit menelusuri sebuah jalan kecil yang nampak lengang.


"Harusnya di sini kalau melihat map di hp" gumam Langit.


Baru bererapa meter maju, Langit pun menemukan kedai yang menjual apa yang dimaksud oleh sang istri.


"Kecil begini tempatnya, makanya banyak yang enggak tahu" kembali Langit bergumam.


Langit memesan lima kotak martabak telur dengan macam varian isi nya.


Saat Langit lihat jam di pergelangan tangan, "Hah, ternyata hampir jam sepuluh malam. Semoga saja Jingga sabar nungguin" harap Langit dalam hati.


Tak perlu ngantri karena hanya orang-orang Indo saja mungkin yang menjadi langganan di sini.


Abang penjual itu sangat fasih bahasa Indo dengan logat daerah yang masih kental.


"Semangat bang" kata Langit dengan meninggalkan beberapa lembar uang yang melebihi pesanannya.


"Kelebihannya terlalu banyak ini mah" serunya kembali.


"Nggak papa bang, anggap aja rejeki anak istri abang" bilang Langit.


Asal abang tahu, karena abang lah ngidam istriku akan terpenuhi. Batin Langit.


Langit masuk ke apartemen dengan senyum bahagia karena sukses membelikan martabak telur sesuai keinginan sang istri.


"Yank...yank..." panggil Langit langsung menuju kamar.


Jingga pasti sudah di kamar karena hampir tengah malam Langit sampai.


Jingga tak ada di sana saat Langit membuka pintu kamar.


Deg...


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


To be continued, happy reading


__ADS_2