
"Tuan...tolong ke sini sebentar!" panggil abang yang ngebenahin mobil milik ayah Jingga.
Arga dan Langit pun mendekat.
"Ada apa bang?" seru Arga.
"Ini tuan. Sedari tadi sudah kusambungin, tapi kok belum bisa nyala" seru abang montir pegawai Arga.
Arga kembali menghadap ke sang pemilik mobil, ayahnya Jingga.
"Tuan, maaf. Kalau untuk langsung jadi sepertinya nggak bisa. Ada alat yang baru bisa dibeli besok" terang Arga.
"Baik tuan. Nggak papa. Lagian kita juga nggak langsung balik" jelas ayah Pramono.
"Kalau begitu kita langsung balik aja. Makasih" imbuh tuan Pramono.
"Terus anda menginap di mana?" tanya Arga. Karena daerah tempat bengkelnya ini jarang dilewati taksi. Taksi online pun jarang yang ambil. Enggak tahu kenapa.
Melihat plat nomor yang berasal dari luar kota, tentu Arga bisa menebak jika suami istri ini tak begitu mengenal daerah ibukota.
"Langit, nebeng dong. Tolong anterin tuan dan nyonya ini" kata Arga.
"Loh...loh...maaf. Saya sama istri bisa naik taksi online saja" tolak halus tuan Pramono.
"Di daerah ini susah nyari taksi tuan" bilang Arga.
"Hhhmmm begitu ya?" tukas tuan Pramono.
"Tuan rencana menginap di mana?" tanya Arga.
"Belum tahu, tadi niatnya sih nyari sekalian check in. Keburu mogok duluan" sahut tuan Pramono sembari tersenyum kecut.
"Oke Om, bareng saya aja" sela Langit yang tak terbiasa memanggil tuan kepada siapa saja.
"Asal nggak merepotkan" seru tuan Pramono.
"Nggak kok, ntar aku cari nya hotel yang searah dengan aku jalan" bilang Langit.
Akhirnya tuan Pramono dan nyonya ngikut mobilnya Langit.
Langit membelokkan ke sebuah hotel bintang lima, sementara tuan dan nyonya Pramono saling pandang. Hotel begini mewah, tarif semalam nya pasti mahal. Batin mereka berdua.
"Silahkan Om" kata Langit.
"Oh ya, makasih nak...?" seru tuan Pramono.
"Panggil Langit aja Om" tukas Langit.
"Baiklah, aku pergi dulu" kata Langit dan langsung memutar balik laju mobilnya ketika memastikan tuan dan nyonya Pramono telah turun dari mobil.
"Yah, apa nggak mahal menginap di sini?" tanya mama ragu.
"Pastinya" seru ayah.
"Mau tidur aja repotnya" bilang mama.
__ADS_1
"Kita cari taksi lagi aja Mah, cari penginapan yang terjangkau di kantong" canda ayah.
"Iya, mendingan gitu. Sisa uangnya bisa buat tambahan uang saku Jingga" sambut mama.
Ayah dan mama akhirnya menginap di sebuah hotel yang bintangnya sedikit lebih rendah daripada hotel yang tadi ditunjukin oleh Langit.
.
Pagi hari ayah dan mama telah sampai kos putrinya.
"Loh, mobil kalian mana Yah?" tanya Jingga.
"Mogok" seru ayah.
"Terus?"
"Ya di bengkel sayang" sela mama.
"Kalau belum jadi? Pulangnya mundur dong" kata Jingga.
"Lihat nanti. Semalam tuan Arga bilang kalau hari ini diusahakan jadi" bilang ayah.
"Hhmmmm, bengkel di sini bagus-bagus juga ya. Tak seperti di kota kita, kalau benahin mobil bisa berminggu-minggu" singgung mama.
"Nyari alat nya jelas lebih mudah di sini Mah" sela ayah.
"Kalian sudah makan belum?" tanya Jingga.
"Sudah dong, di hotel tadi" kata mama.
"Pamerrrr" olok Jingga.
.
Serba serbi kunjungan orang tua ke putri tunggalnya yang sekarang tinggal jauh di luar kota.
Sore hari ayah dan mama pamit pulang, setelah siang tadi dikabari tuan Arga jika mobilnya sudah jadi.
"Hati-hati ayah mama" kata Jingga kala ayah dan mama telah bersiap meluncur.
"Kamu juga sayang. Sudah jangan pikirin. Masalah dengan Om Wawan biar ayah yang nyelesaikan" pesan ayah.
"Ayah sih, pake ngundang kak Kenzo ke sini. Percuma aku pindah kos" seru Jingga sewot.
"Abis aku gemas sama kamu, nggak diselesaikan eh malah menghindar" ujar ayah malah tak segera melajukan mobilnya.
"Jadi pulang nggak nih?" sela mama.
"Jadi dong Mah. Kalau nggak pulang, kerjaan kita apa kabar" gurau ayah.
Kos an kembali sepi sepeninggal ayah dan mama. Karena Jingga belum begitu akrab dengan penghuni kos yang lain.
Ponsel Jingga berdering, siapa lagi kalau bukan Kenzo.
"Hhhhmmmm dia lagi" bilang Jingga dan menaruh ponsel kembali di atas meja. Malas untuk mengangkat.
__ADS_1
Beberapa kali ponsel nya berdering, tapi Jingga biarin.
Setelah jeda beberapa saat, ponsel Jingga berbunyi lagi.
"Siapa lagi?" gerutu Jingga.
Dia lihat, ternyata Mega yang nelponin.
"Heeeiiiiii... Loe ini ke mana aja? Ditelponin sedari tadi" teriakan Mega memekakkan telinga Jingga.
"Issshhhh bisa nggak sih nggak pake teriak" ujar Jingga sewot.
"He...he...kalau teriak bisa bikin kita lega, kenapa enggak" seru Mega.
"Jingga, hang out yuk. Ayah sama mama sudah balik kan? Pasti kamu kesepian sekarang" tanya Mega.
"Nggak, gue baca novel online" bilang Jingga.
"Ha...ha....nggak mungkin. Nyatanya kalau loe baca, panggilan dari gue pasti sudah loe angkat sedari tadi" ujar Mega yang sudah tahu akal bulus Jingga.
"Emang kamu juga dibolehin sama bunda, lagaknya mau hang out segala" olok Jingga.
"Bun, aku mau diajakin Jingga. Boleh yaaaa???" terdengar suara Mega minta ijin ke bunda Mutia.
"Loh...loh...kok aku sih yang dijadiin tameng. Awas saja kamu Mega" ancam Jingga di telepon.
"Yaahhhh bun. Boleh ya?" kata Mega masih berusaha ngerayu bunda nya.
"Horeeee...bunda ku emang cantik. Nggak rugi Dad dapetin bunda" teriakan Mega masih kedengaran bagai toa di telinga Jingga.
Jingga matiin aja panggilan telpon dari Mega daripada telinga nya kena polusi.
Dan tring, sebuah notif pesan masuk ke ponsel Jingga. Siapa lagi tersangkanya kalau bukan Mega.
"Gue jemput loe, tiga puluh menit lagi. Dan tidak ada penolakan" ketik Mega.
Jingga tak membalas dan langsung aja bersiap menunggu kedatangan Mega.
Pesan dari Kenzo pun dia lewatkan begitu saja.
Jingga keluar dengan baju seadanya. Biasalah kaos dengan denim dan sepatu sneaker. Rambut pun hanya dikuncir kuda.
Jingga langsung keluar kala Mega menyuruhnya untuk keluar.
"Haiiii, sebelah sini" seru Mega dari dalam mobil yang keparkir.
Kok Mega ada di belakang, siapa yang pegang kemudi. Pasti sopir nya lah, siapa lagi. Pikir Jingga dan melangkah menuju mobil yang dinaikin Mega.
"Yuk kak berangkat!" seru Mega kala Jingga selesai menutup pintu mobil.
"Kak?" sela Jingga melongo.
"Iya, gue dianterin kak Langit" celoteh Mega.
Jadi tambah merasa bersalah gue. Sudah dijadiin tameng, eh malah sekarang dianterin kak Langit segala. Habis ini ogah gue diajakin Mega. Janji Jingga dalam hati.
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading