Langit Dan Jingga

Langit Dan Jingga
London, I'm coming


__ADS_3

Dengan diantar ayah dan mama, Jingga kini tengah berada di bandara internasional terminal khusus penerbangan luar negeri.


"Jingga, jaga diri baik-baik di sana. Hati-hati sama orang tak dikenal" nasehat ayah.


"Iya ayah, semalam ayah sudah bilang berapa kali kalimat itu" timpal Jingga.


"Ha...ha....ayah hanya mengingatkan sayang" imbuh ayah Pramono.


"Jingga sudah dewasa Yah" Jingga menambahkan.


"Kalau dewasa, bentar lagi nikah dong" ujar ayah.


"Aamiin" ibu yang biasanya jadi penengah, sekarang ikut mengaminkan doa ayah.


Jingga bersungut menanggapi.


"Katanya sudah dewasa, diledekin gitu aja marah" ledek ayah kembali.


"Biarin" seru Jingga tetap sewot.


Membuat ayah dan mama malah menertawakan Jingga.


Panggilan untuk segera masuk ke bandara telah didengar oleh Jingga.


"Saatnya pamitan" kata Jingga kembali memeluk mama dan ayah bergantian.


"Jangan bilang kalimat yang sama Yah" kata Jingga saat sang ayah hendak memeluknya.


"Ha...ha...ayah akan selalu kangen sama putri cantik ayah" kata ayah Pramono dengan bibir tersenyum. Tapi air mata tak bisa dikondisikan, menetes begitu saja dari pelupuk mata.


"Jingga berangkat Mah. Jaga ayah. Jangan biarkan ayah makan telat. Love...love...buat kalian" seru Jingga mulai menyeret koper yang dibawanya.


Ayah dan mama melambaikan tangan untuk putrinya yang akan meraih asa jauh di negeri orang.


"Sukses selalu putriku" gumam ayah bergumam.


"Doakan yang terbaik buat putri kita Yah" ujar mama menimpali.


Sementara Jingga telah masuk ke pesawat jenis Boeing yang akan mengantarkannya ke tempat tujuannya yang berada di belahan bumi lain. Tempat yang terpaut delapan jam rentang waktunya.


Jingga mencari kursi sesuai tiket yang dipegang olehnya.


"Hhhmmm ketemu juga" gumam Jingga kala sudah menemukan nya.


Jingga tersenyum simpul dengan orang yang akan duduk di sampingnya.


Melihat bentuk wajahnya sih, sepertinya dia masih senegara dengan Jingga.


Dan kebetulan Jingga dapat tempat duduk dekat jendela.


"Nih" kata orang di samping Jingga menyodorkan sebuah botol minuman.


"Makasih kak" balas Jingga.


"Keenan" katanya memperkenalkan diri.


"Jingga" ucap Jingga.


"London?" tanyanya seakan bertanya tujuan Jingga.


Jingga pun mengangguk.


Jingga yang cuek dan ekstrovert tak perlu waktu lama untuk kenal dan ngobrol panjang lebar dengan laki-laki muda di sampingnya.


"Owwhh, jadi lo baru pertama kali ke London?" tanya Keenan. Dan dijawab anggukan Jingga.


"Kuliah di mana?" tanya Keenan.


Jingga menyebutkan nama kampus yang akan menjadi tempatnya menempuh pendidikan selama di London.


"Pintar juga kamu, bisa kuliah di sana. Beasiswa lagi" puji Keenan.


"Kakak sendiri?" tanya Jingga sebaliknya.


"Aku juga kuliah, tapi sembari kerja. Otak gue nggak seencer lo" sambungnya.


"Ngandelin kiriman orang tua nggak cukup...he...he..." sambung Keenan.


"Mau tinggal di mana nantinya?" lanjut Keenan.


"Asrama kak" jawab Jingga.


Keenan manggut-manggut.


Meski akan sama-sama ke London, nyatanya memang mereka berbeda kampus.

__ADS_1


"Kakak?" Jingga menanyakan alamat Keenan.


Keenan menyodorkan sebuah kartu nama.


"Gue kerja di situ. Kalau kangen boleh dech nyariin" canda Keenan.


Obrolan mereka akhirnya merambah ke mana-mana. Tapi untuk masalah pribadi, Jingga tak terlalu memgumbarnya.


"Hhhmmm ternyata status kita sama. Jomblo...ha...ha..." Keenan terbahak menanggapi.


Sementara di pojok kanan belakang, pandangan mata nya tak lepas sedikitpun ke arah kursi yang diduduki oleh Jingga.


Jingga yang tertawa lepas dengan seseorang yang baru dikenal membuatnya mengepalkan tangannya erat.


Jingga terlihat berdiri dan melewati laki-laki muda di sampingnya. Dan berjalan ke arah belakang, membuat seseorang itu membenarkan posisi topi yang dipakai untuk menutupi sebagian besar wajahnya.


Jingga melewatinya begitu saja dan berjalan ke arah toilet pesawat.


"Masih berapa jam kak, untuk sampai London?" tanya Jingga setelah kembali dari toilet.


"Lumayan lah. Kamu masih bisa tidur nyenyak" seru Keenan.


"Tidurlah, ntar kalau sampai aku bangunin" seru Keenan.


"Belum ngantuk kak" tolak Jingga.


Keenan memberikan sebelah headseat, "Dengerin, bentar lagi pasti lo ngantuk" ucap Keenan.


"Eh, nggak usah kak" tolak halus Jingga.


"Bentar aja" Keenan sedikit memaksa.


'Wah, nggak bener nih' batin Jingga.


"Jangan salah sangka, aku hanya ingin kasih tahu kalau lagu yang kudengerin nih lagu kenangan mantan" jelas Keenan yang tahu kalau Jingga tak nyaman akan paksaannya barusan.


"Owh" Jingga hanya menanggapi dengan senyuman.


Entah berapa jam di udara, akhirnya pesawat landing juga di bandara internasional London.


"Jingga, kalau kamu ingin ke alamat kamu tadi. Naik aja taksi" beritahu Keenan.


Dengan bahasa Inggris yang masih terbata, Jingga menanyakan ke seorang sopir taksi yang stanby.


Keenan tak tega, akhirnya membantu Jingga.


"Apa nggak ngrepotin kakak" sela Jingga.


"Anggap aja pengiritan biaya taksi" seloroh Keenan penuh canda.


"Makasih kak" tukas Jingga.


"Jangan banyakin makasih. Kita satu negara. Dan kalau di negara orang kita berasa keluarga" imbuh Keenan.


Taksi yang ditumpangi Jingga dan Keenan telah meluncur meninggalkan bandara, menyisakan seseorang yang sedari tadi menguntit Jingga. Dia kembali mengepalkan tangannya erat.


.


Jingga mulai disibukkan dengan kegiatan perkuliahan. Meski sudah ambil strata dua, tak mengurangi waktu kuliah. Hanya week end dan libur aja yang bisa membuat Jingga bisa menikmati suasana kota London.


Pagi ini Jingga menghubungi Keenan dan akan mengunjunginya.


Biasalah ingin mengucapkan terima kasih telah banyak membantu Jingga.


Keenan meminta Jingga untuk datang saja di tempatnya bekerja.


Sebuah kedai yang juga jual makanan khas, yang tak bisa dijumpai di sekitaran kota London.


Ternyata di kedai Keenan banyak juga mahasiswa yang berasal dari Indo sama seperti Jingga.


"Keenan, tangkepan lo yang baru kah?" tanya cowok cakep yang menghampiri Keenan yang sedang ngobrol sama Jingga.


"Kenalin tuh" tukas Keenan.


"Jingga" sebut nama.


"Gue, Adnan. Dari Indo juga" katanya menambahkan.


"Makanya Jingga, kalau week end waktunya kita ngumpul-ngumpul di sini" seru Adnan.


"Iya kak" tukas Jingga.


"Jangan panggil kakak dong, berasa tua gue" seloroh Adnan menanggapi.


"Oke Adnan" jawab Jingga.

__ADS_1


"Adnan, besok nonton kak Langit yuk" ajak Keenan.


'Langit?' Batin Jingga.


"Mumpung lagi di sirkuit sini" imbuh Keenan.


"Bukannya kak Langit balik hari ini?" bilang Adnan.


"Enggak, hari ini bilangnya sih prepare buat besok. Makanya dia tak ke sini hari ini" jelas Keenan.


"Oke dech, gas besok" ucap Adnan menyetujui ajakan Keenan.


"Siippp" tukas Keenan.


"Jingga, ikut yuk. Biar kenal London lah" ajak Adnan.


"Rugi kalau libur nggak ke mana-mana. Jangan seperti Keenan yang di kedai mulu" olok Adnan yang melihat Keenan sedang menyeduh kopi buatnya.


"Ha...ha.... Gue nggak pergi aja udah banyak yang ngapelin" seru Keenan menimpali dengan candaan.


Baru kali ini Jingga berasa di tempat seperti di Indo, karena teryata banyak juga mahasiswa yang belajar di kota ini.


"Jingga, mau ikut nggak besok? Come on beb" seru Adnan.


"Gue bayarin dech. Asal lo mau. Jarang-jarang cewek suka nonton beginian" seru Adnan.


"Loh, emang nonton apaan? Sedari tadi aku tak ngeh apa yang kalian bahas" tukas Jingga.


"Issshhhh, besok kusamperin lo di asrama. Mau tak mau lo harus ikut kita" kata Adnan yang sepertinya berasal dari kalangan berbeda daripada Jingga dan Keenan.


"Lo itu ambil jurusan apa sih? Suka maksa banget" sela Jingga.


"Haa...ha....gue ambil jurusan Kalibata Cikampek" jawab Adnan ngasal membuat sebuah box tisu melayang ke arahnya. Box tisu yang berasal dari lemparan Keenan.


"Sialan lo" umpat Adnan.


"Kok nggak dijawab sih, tanya ku tadi?" sela Jingga di antara perdebatan kedua laki muda itu.


"Adnan tuh pindah-pindah jurusan Jingga. Makanya sampe sekarang strata satu aja dia belum lulus" olok Keenan.


"Bangkai lo!!! Jangan buka kartu gue dong Keenan" umpat Adnan.


Seru juga melihat keduanya. Mengingatkan Jingga kepada Firman dan Mega yang ibarat Tom and Jerry bila bertemu.


'Hhhhmmmm sampai asrama ku chat aja mereka' gumam Jingga dalam hati.


Perkenalan Jingga dengan beberapa mahasiswa senegara berakhir sampai menjelang sore.


Sebagai orang baru, Jingga lebih banyak mengamati.


"Jingga, balik nya kuanterin yuuk" seru Adnan.


"Wah, mulai ambil kesempatan lo" olok Keenan.


"Tenang kak, kak Adnan bukan type gue" kata Jingga mulai mengimbangi gurauan mereka berdua membuat ketiganya tertawa bersama.


Sore itu Jingga beneran dianterin Adnan untuk pulang ke asrama. Bukannya aji mumpung, tapi Jingga belum terlalu hafal dengan kota yang besar itu.


"Kak, sudah lama di sini?" tanya Jingga kala mereka berdua dalam mobil mewah.


"Lumayan lah. Enam tahun gue di sini" jawab Adnan. Jingga pun mengangguk.


"Hhemmm lumayan juga ya. Kalau sekolah dasar, sudah lulus tuh" bilang Jingga.


"Yaapppp, tapi karena beberapa kali salah jurusan. Akhirnya aku kesesat dech" tukas Adnan.


"Emang sekarang di jurusan apa?" tanya Jingga.


"Hukum" tukas Adnan singkat.


"Wah, kita sejurusan dong" kata Jingga semangat.


"Hah? Gue berasa jadi yunior lo sekarang" timpal Adnan terbahak.


"Siap belajar senior" imbuh Adnan meneruskan candaan.


Sampai di asrama, Jingga mengechat grub kampusnya yang di Indo.


"Apa kabar mereka semua ya?" gumam Jingga dan mulai mengetikkan pesan chat di grup.


Begitu tombol kirim ditekan, hanya dalam hitungan detik sudah ada beberapa notif pesan masuk ke ponsel Jingga.


Padahal apa yang diketik Jingga nggak penting-penting amat. Hanya ingin saling bertukar kabar saja.


***🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


To be continued, happy reading***


__ADS_2