
Langit langsung dilarikan ke rumah sakit karena muntah yang tak jua mereda setelah dilakukan tindakan pertama.
Tropi juara yang seharusnya Langit terima diwakili oleh Arga.
Di atas podium, Arga merayakan bersama Daniel yang berada di posisi dua serta ada juga pembalap lain yang mendapatkan posisi tiga.
Sementara Arka dan juga Dad Tian menemani Langit yang berada di ambulance bersama tim medis.
"Kamu ini kenapa Langit? Nggak salah makan kan? Untung bisa sampai finis. Tentu ini sangat membahayakan kalau balapan dalam kondisi begini," oceh Dad Tian.
"Tian, bisa diam nggak sih? Yang penting Langit sudah tertangani sekarang" sanggah Arka.
"Besok-besok, menghadapi seri berikutnya. Lo harus pastiin tim kesehatan bekerja maksimal. Aku tak mau lagi ada kejadian seperti ini terulang" kata Tian kepada Arka. Dad Tian mengatakan semua itu pasti karena cemas akan kondisi sang putra.
"Sudahlah Dad, jangan omelin uncle. Sebelum turun semua pembalap juga sudah diperiksa. Dan kondisiku juga baik. Cuman pas lap terakhir perutku berasa diaduk dan pening," jelas Langit.
Di sebuah IGD rumah sakit yang sama dengan Jingga, Langit masuk ke sana.
Semua pemeriksaan awal telah dilakukan dan hasilnya tak ada yang menunjukkan kelainan.
"Semua normal. Tapi mual muntahnya kenapa tak juga mereda" keluh Langit.
Di depan IGD, Dad Tian memberitahu bunda jika dirinya sekarang berada di rumah sakit mengantar sang putra.
Mutia datang tergopoh menghampiri sang suami.
Dengan mimik muka cemas, takut terjadi apa-apa dengan sang putra di lintasan.
"Langit kenapa sayang? Apa yang terjadi di sana? Dia nggak apa-apa kan?" berondong tanya bunda ke sang suami.
Dad Tian mengangkat bahu, sampai sekarang belum ketemu diagnosa sakit putranya itu.
"Gimana sih? Kok nggak tahu" ucap Mutia.
"Dokter belum menemukan sakit Langit, semua hasil pemeriksaan bagus semua," jelas Dad.
"Apa keluhannya?" Mutia heran. Pikirnya sang putra mengalami sesuatu di lintasan.
"Putra kamu mengeluh mual muntah berlebihan dan juga pusing. Untung saja keluhan itu muncul saat di lap terakhir" beritahu Dad Tian.
"Mual? Muntah? Pening? Jangan-jangan Langit mengalami kehamilan simpatik?" kata Mutia.
"Keluhan Jingga juga dikeluhkan oleh Langit," lanjut Mutia.
Dad Tian baru teringat dirinya dulu, juga mengalami hal yang sama dengan yang dialami oleh Langit.
"Wah, kenapa aku bisa melewatkannya?" Ucap Tian sembari menepuk jidat.
Mutia mendekati Langit yang sudah terpasang infus tapi masih mengalami gejala mual dan muntah meski sudah diberikan obat anti muntah.
"Dok," panggil Mutia ke arah dokter yang lewat.
__ADS_1
Mutia menanyakan kondisi Langit dan juga menceritakan hal-hal yang mungkin saja membantu menegakkan diagnosa sang putra.
"Baik nyonya, terima kasih. Setelah ini tuan Langit akan kita pindahkan sekamar dengan istrinya. Mungkin dengan berada dekat dengan sang istri akan membantu pemulihan," ucap sang dokter.
Benar dugaan Mutia, saat berada dekat Jingga gejala muntah tadi langsung berkurang seketika.
Malah Langit lebih bersikap manja daripada Jingga yang sedang hamil.
"Kita aja kalah somplak dengan mereka," kata Tania saat melihat kebucinan Langit.
"Ha...ha... Kita bagai pasangan tak dianggap, lebih baik kita balik aja. Ayo Mutia, Tian" kata Arka.
Mereka berempat meninggalkan Langit yang sekarang malah tidur seranjang dengan sang istri.
.
Jingga menjalani kehamilan bersamaan dengan tugas akhir masa kuliah dan tetap memantau tumbuh kembang putra pertamanya.
Sementara Langit sibuk pegang perusahaan dan juga konsen dengan balapan demi balapan di musim tahun ini.
Saat akan menghadapi laga pertengahan musim, Jingga mengalami kontraksi karena usai kehamilan sudah menginjak sembilan bulan.
Langit langsung membawa sang istri ke rumah sakit.
Sampai di rumah sakit, Jingga telah mengalami pembukaan empat.
Tak seperti proses kelahiran putra pertamanya. Saat ini Langit bisa menemani mulai dari datang sampai sekarang Jingga telah berada di pembukaan sempurna.
"Nyonya, ikuti instruksi saya" kata sang dokter sambil memperagakan cara mengedan yang benar.
Saat perut berkontraksi, sambil menahan sakit yang luar biasa Jingga mencengkeram lengan Langit sembari mengedan.
Sementara Langit meringis, menahan sakit karena kuku Jingga yang menancap manis di lengan atas nya.
"Apa dulu bunda juga begini ya? Saat nungguin lahirnya Eka" gumam Langit.
Jingga mengikuti dengan benar instruksi sang dokter.
Setelah berusaha beberapa kali, lahirlah baby mungil.
"Wow cewek nyonya" ucap sang dokter.
Langit dan Jingga menarik nafas lega. Saat periksa hamil tak sekalipun baby menunjukkan jenis kelamin saat diperiksa.
Terlihat bulir bening menetes di pipi Langit.
Terharu bisa menikmati momen perjuangan sang istri melahirkan putrinya.
Tak henti-hentinya Langit kecup kening sang istri.
"Makasih sayang" ucap Langit.
__ADS_1
Lengan Langit baru terasa perih saat dirinya keluar dari kamar mandi, karena disuruh Jingga cuci tangan sebelum menggendong putrinya.
"Perih banget yank," bilang Langit.
"Maaf, tadi nggak sengaja" balas Jingga.
Langit menggendong baby yang masih merah itu.
"Dia mirip sekali sama aku" bilang Langit antusias.
"Gimana nggak mirip, kamu kan penanam saham terbesar" ujar Jingga menimpali.
Langit pun terkekeh.
"Yank, besok aku berangkat ke Amerika" Langit mengingatkan.
"Iya, aku ingat kok" jawab Jingga.
"Betewe, putri kamu pintar loh yank. Mau lounching aja minta ditungguin sama kamu" ujar Jingga.
"He... He... He... " Langit terkekeh.
Langit juga bersyukur, bisa menunggui proses persalinan sang istri kali ini.
Kebahagiaan keluarga Langit dan Jingga lengkap sudah. Dikaruniai putra dan putri yang sehat, meski jarak keduanya tak sampai setahun.
"Berasa punya anak kembar," canda Jingga.
.
Langit meneruskan hobi nya turun lintasan.
Daniel dan tim yang selalu diwaspadai oleh tim Singa Merah ternyata tak sengeri yang dibayangkan. Meski perform mereka lebih baik dari musim sebelumnya.
Tak ada jegal menjegal di luar lintasan seperti dugaan. Tim Daniel lumayan sportif. Mungkin karena digawangi oleh manajemen yang berbeda daripada tahun sebelumnya.
Sementara Jingga telah menyelesaikan studinya saat putri keduanya berusia enam bulan.
Saat ini semua keluarga berkumpul di London, untuk mengikuti acara wisuda Jingga setelah menempuh pendidikan strata dua di bidang hukum. Setelah seminggu sebelumnya keluarga berada di Jepang untuk menghadiri acara yang sama, wisuda Mega.
Setelah ini Jingga akan terbang bersama suami dan putra putrinya ke Indo dan juga keluarga besar untuk menghadiri pertunangan Mega dan Firman.
Keluarga bahagia menjadi impian, walau kadang dunia nyata tak seindah dunia novel.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
***The end
Semoga suka dengan karyaku yang satu ini.
Jika suka kasih bintang lima, jika tak suka skip aja.
__ADS_1
Terima kasih
Lope-lope buat kalian guysss***.