
Pelukan bunda memang tiada tara. Langit merasa adem berada di antara kedua tangan yang melingkar di tubuhnya.
Meski sudah dewasa, bunda adalah wanita pertama yang sangat dicintai oleh Langit.
"Kak...kak...akan aku dobrak kamar sebelah. Enak saja ikutan nebeng di apartemen ini" Mega teriak tak terima karena ulah sang kakak yang menerima tamu perempuan seenaknya saja.
Mana rela Mega mengetahui kakaknya membawa wanita yang tak jelas asal usulnya.
"Kau tahu darimana kalau ada cewek di kamar sebelah?" tanya Langit.
"Tadi aku tak sengaja melihat saat buka pintu, dan dengan seenaknya dia tidur. Pakai ileran lagi" seru Mega menjelaskan.
"Isssssshhh...terus ngapain lo dobrak sekarang? Kan tinggal buka aja tuh pintu" sahut Langit.
"Eh iya ya...ngapain repot" jawab Mega.
"Oon" olok Langit membuat Mega semakin sewot.
"Kak, pokoknya wanita yang dekat dengan kakak. Harus melewati seleksi dariku dulu" tegas Mega.
"Emang siapa lo?" tukas Langit.
"Adik lo" jawab Mega ketus.
"Aku harus ke sana sekarang" tandas Mega dan langsung balik kanan.
Langit menanggapi dengan senyum khasnya. Sebentar dan mahal.
"Emang siapa sih gadis itu kak?" tanya Mutia
"Ntar bunda lihat aja siapa dia" jawab Langit dengan santai.
Sekalinya bawa anak gadis orang ke rumah, malah sudah ketahuan aja sama keluarga besar nya.
Dad balik dari kamar pak Agus.
"Langit, kali ini Dad percaya sama kamu. Tapi sebagai hukumannya kamu harus nikahin dia" suruh Dad yang sebenarnya sudah tahu siapa yang ada di kamar sebelah setelah pak Agus cerita.
"Dad???" panggil bunda.
"Anak laki mu ini bun, sekali-kali harus dikasih pelajaran. Enak aja bawa masuk anak orang ke rumah. Apa kata dunia, anak Sebastian Putra tidur seatap dengan cewek tanpa ikatan resmi. Bisa malu keluarga kita bun" ujar Dad Tian.
"Dad, bicara baik-baik dulu. Aku tahu tindakan Langit tidak bisa dibenarkan. Apalagi kita belum tahu siapa gadis itu" kata bunda seakan keberatan.
Senyum smirk terlihat di wajah Dad Tian.
"Pokoknya Langit harus nikahin tuh gadis. Dan nggak ada penolakan" suruh Dad menegaskan.
"Isssshhhh mulai dech tuan pemaksa ni" tukas bunda.
.
Sementara itu di kamar sebelah, Mega dengan penuh semangat membuka pintu.
Malah sebagai follower di belakangnya ada Bintang, Awan dan Uncle Reno.
Mereka siap jadi suporter untuk meramaikan suasana. Agar cewek yang dibawa Langit terkaget tentunya.
"Heh... Bangun lo" teriak Mega di telinga cewek yang sedang tidur dengan posisi membelakangi mereka semua.
Cewek itu seperti terkaget saat mendengar teriakan Mega yang bagai toa tempat ibadah itu.
"Siapa sih ganggu aja" gumamnya seakan nyawanya belum terkumpul.
"Siapa kamu? Main masuk aja ke apartemen ini" kembali Mega berteriak.
Dia menelisik ruangan, seakan belum menyadari jika dirinya tidur di tempat Langit.
"Heeeiii...lihat sini" perintah Mega. Mega merasa kesal karena berasa dicuekin oleh cewek yang tengah duduk di tepian ranjang.
Dengan tak sabar Mega menghapiri cewek yang masih belum bergerak sedari tadi.
"Sialan lo, berani-beraninya melawan perintah gue" ucap sebal Mega.
Mega pegang bahu cewek itu dari belakang dengan kasar. Dan Mega balikkan badan cewek itu dengan paksa.
__ADS_1
"Hah? Kamu Jingga?" Mega berasa tak percaya karena melihat Jingga lah yang tidur di apartemen kakak nya.
"Bagaimana bisa? Mereka berdua tak saling dekat meski saling kenal" gumam Mega menilai hubungan kakaknya dengan Jingga. Sementara Jingga malah tertidur dalam duduk.
"Ha...ha...ternyata Jingga hampir mirip sama kamu Mega. Tidur sambil duduk pun bisa" olok Bintang sambil terbahak.
"Wah, aku harus bilang Dad kalian nih. Nggak bisa dibiarkan ini. Langit sudah berani bawa anak gadis orang" sela Uncle Reno.
"Jingga....Jinggaaaaaaa" panggil Mega di telinga sang sahabat.
"Eh...hantu...hantu...kuyang" tukas Jingga, kumat deh latahnya.
"Sial lo. Malah nganggep gue hantu lagi" ucap Mega sebal.
Jingga mengucek matanya yang baru bangun.
"Loh, Mega. Kok sudah di sini aja? Apa aku ada di Indo sekarang? Kok ada kak Bintang juga di sini?" ucap Jingga setelah sadar.
"Bangun lo! Cuci muka sana!" suruh Mega.
"Jingga, jangan lupa bersihin tuh ileran kamu" sela Bintang mengolok Jingga.
"Siap kakak. Awas saja ntar kalau kakak terpesona dengan aku" ulas Jingga tanpa beban.
Jingga baru nyadar kalau dirinya berada di apartemen kak Langit.
"Matih gue, berarti sekarang anggota keluarga Mega pada ngumpul dong" Jingga baru sadar penuh posisinya sekarang.
"Bagaimana ini? Apa aku ijin pulang aja ya?" gumam Jingga saat di kamar mandi untuk cuci muka.
"Jingga, jangan coba-coba mikir cara melarikan diri dari sini" ancam Mega seakan tahu jalan pikiran sahabatnya itu.
"Sialan Mega" umpat Jingga dari dalam kamar mandi.
"Keluar lo, jangan sampai masuk kloset. Susah nyariin ntar" Mega masih saja berkoar dari luar kamar mandi.
Jingga keluar dengan wajah manyun.
"Harusnya aku tadi tak mau saat ditawari kak Langit nginap di sini" sesal Jingga.
"Mega, jangan gitu dong. Aku nggak ada maksud apa-apa sama kakak kamu. Aku terima bantuan kakak kamu, karena Kenzo selalu menguntitku" bilang Jingga beralasan.
"Apa Kenzo?" ketegasan Mega berubah menjadi kekepoan hakiki.
"Iya, ternyata dia datang ke sini berbarengan satu pesawat dengan ku" Jingga mulai bercerita.
"Terus sekarang dia di mana?" tukas Mega.
"Kenzo sudah bagai hantu aja, kemanapun aku berada dia selalu ngawasin. Bahkan tak jarang dia memaksa aku untuk balik padanya" cerita Jingga.
"Istri sama anaknya?" tanya Mega penuh rasa ingin tahu.
"Mereka sudah cerai tak lama setelah anaknya meninggal" kata Jingga.
"Eh, kok mudah sekali mereka bercerai?" tukas Mega tak habis pikir.
"Kenzo baru tahu kalau anak yang dikandung kak Rima bukanlah anaknya" lanjut Jingga.
"Dan datanglah kak Langit untuk membantuku. Hari ini aja aku rencana inap, besok mau cari tempat tinggal baru. Eh malah ketahuan sama kamu" celetuk Jingga menjelaskan kronologis sampai dia menginap di apartemen Langit.
"Dan sekarang bersiaplah. Kamu ditunggu Dad dan bunda di meja makan. Kak Langit juga sudah di sana" beritahu Mega.
"Isssshhhh percuma dong aku cerita ke kamu barusan. Habis ini pasti aku diinterogasi lagi" seru Jingga manyun.
"Kirain lo mau jadi pembela aku" lanjut Jingga berharap mendapat pembelaan dari Mega.
"Lo kan tahu, typikal Dad seperti apa" kata Mega mengingatkan.
"Wah, bisa berakhir tak baik nih. Aku sudah gangguin pemilik Blue Sky dan Mutia Bakery" kata Jingga lesu dan terduduk lunglai di ranjang.
"Kak, kak Jingga ditunggu Dad sama bunda tuh di meja makan" seru Awan menghampiri mereka.
Jingga menatap Mega mengharap ada bantuan dari adik Langit itu.
Tapi reaksi Mega sungguh di luar dugaan Jingga. Mega tak bisa membantunya kali ini. Itu isyarat yang diberikan oleh Mega.
__ADS_1
Jingga berjalan diantar oleh Awan.
Sementara Mega tak beranjak dadi ranjang tempat dia duduk dan langsung saja dia raih ponsel.
Untuk apa? Seperti biasa acara menggibah berfaedah dengan grub alumni kesayangan.
Tak lupa Mega juga bersay hello dengan ayah Pramono yang sudah Mega save nomornya.
Mega memberitahukan apa yang terjadi di apartemen kakaknya hari ini.
Mega juga bilang jika ayah Pramono musti bersiap jika sewaktu-waktu keluarga Baskoro akan anjangsana ke rumah.
"Untuk apa?" ketik ayah Pram.
"Silaturahim aja ayah" balas Mega.
"Oke lah. Ayah tunggu, jangan lupa kabarin dulu" pinta ayah Pramono yang belum tahu jika kedatangan keluarga Baskoro bisa jadi untuk melamar Jingga.
Di meja makan Jingga duduk dengan kepala menunduk.
"Apa kalian tahu kesalahan kalian?" tegas Dad Tian.
Jingga diam tak berani menanggapi. Menunggu Langit yang bicara duluan.
"Dad, aku kan sudah cerita semua. Apalagi yang musti aku katakan?" ucap Langit.
"Jingga, coba alasan apa yang ingin kamu sampaikan?" kata Dad Tian penuh ketegasan.
Jingga tak berani memandang langsung ke arah Dad Tian maupun bunda.
"Maafin saya Om, Jingga salah. Berani menginap di tempat kak Langit" seru Jingga dipenuhi rasa segan karena telah melakukan kesalahan.
"Mau jadi lawyer harus tegas, tak boleh melempem" sela Reno yang ikut gabung di meja makan. Gemas melihat Jingga yang berada di bawah intimidasi adik iparnya.
"Lo juga, jangan galak-galak dong jadi orang tua" cela Reno untuk Sebastian.
Nonton keponakannya yang seakan mau ditelan hidup-hidup oleh Dad nya itu Reno jadi merasa kasihan.
"Nggak usah ikut campur" tukas Tian.
"Jingga, aku nggak mau tahu. Abis ini bilang ayah kamu. Keluarga Baskoro akan bertandang ke rumah kamu" tegas Dad Tian.
"Untuk apa Om?" kali Jingga berani menatap Sebastian.
"Untuk melamar kamu. Langit harus tanggung jawab untuk hal ini" kata Dad Tian masih penuh ketegasan.
"Kenapa sejauh itu Om? Kita berdua nggak melakukan apa-apa?" Jingga takut jika Langit juga berpikiran hal yang sama dengannya.
"Apa karena kamu masih cinta dengan laki-laki penguntitmu itu?" tanya Sebastian menyela.
Jingga bengong, bagaimana laki-laki yang merupakan ayahnya Langit bisa tahu semua.
"Jangan heran, kalau nggak begitu bukan Dad Tian namanya" sela Reno.
"Apa begitu Jingga? Kamu masih cinta dengan laki-laki itu?" tandas Dad Tian.
"Eh...eh...bukan begitu Om" jawab Jingga gugup.
"Lantas?" kejar Dad membuat Jingga gelagepan.
"Aku sama kak Langit nggak ada hubungan apa-apa" jelas Jingga.
"Sama kita dulu juga nggak ada hubungan apa-apa" ujar Sebastian.
"Jangan mulai dech Dad. Bosan tahu ngedengerin kisah Dad sama bunda berulang-ulang" sela Langit.
"Jingga kan belum tahu" kata Dad Tian.
"Ntar kalau sempat, biar Jingga aku ceritain saja" seru Langit.
"Gimana Jingga, tindakan kalian berdua tidak bisa aku tolerir? Jadi mau nggak mau kamu musti bilang ayah kamu seperti yang aku bilang tadi" tandas Dad Tian terdengar tak mau dibantah dan memaksa.
Langit dan Jingga saling pandang. Tak tahu musti menjawab dan memberi keputusan apa.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
__ADS_1
To be continued, happy reading