Langit Dan Jingga

Langit Dan Jingga
Ketahuan


__ADS_3

Langit tak kasih tahu Jingga, jika keluarga besarnya dari keluarga Baskoro akan datang.


Biar saja, akan ada keterkejutan di antara Jingga dan keluarga besar.


Apalagi ketemu dengan Mega yang sefrekuensi dengan Jingga. Pasti mereka sangat senang.


Langit membayar semuanya dengan kartu debit miliknya.


Jingga menunggu di belakangnya.


"Kak, bentar" kata Jingga.


"Ada apaan?" tukas Langit menanyakan.


"Boleh nggak aku ambil mie instan rasa soto yang di sana?" tunjuk Jingga ke arah etalase dengan setumpuk mie terpajang di sana.


"Beneran Jingga? Makan mie instan nggak sehat loh" seru Langit.


"Iya sih kak. Tapi makan mie instan tuh bikin sehat nih kantong" kata Jingga terbahak sembari menunjuk kantong baju miliknya.


Langit ikutan tertawa. Membuat cewek senang ternyata sangat lah mudah.


"Kak, mi instan rasa soto satu karton. Mie goreng juga satu karton" pesan Langit.


"Banyak banget kak?" sela Jingga. Padahal dia tadi hanya minta satu bungkus aja buat memenuhi rasa kepinginnya.


"Nggak papa, biar kantongnya semakin sehat dan subur" canda Langit.


"Ha...ha...bener sekali itu kak" Jingga terbahak mendengar candaan Langit.


.


"Pak, langsung apartemen aja" pinta Langit kala mereka sudah berada di mobil.


"Kak, ke asrama dulu aja. Aku belum ijin ke ibu asrama. Takut dicariin" bilang Jingga.


"Sudah kuijinin" seru Langit.


"Hah? Kapan? Kita kan sudah bersama mulai aku pulang kuliah tadi" ujar Jingga.


"Habis ngantar kamu tadi aku putar balik untuk ke asrama. Ngijinin kamu untuk kuajak" bilang Langit jujur.


"Loh? Kok bisa? Emang ibu asrama ngijinin?" tanya Jingga heran.


"Kalau nggak ngijinin, nggak bakalan aku ngajakin kamu" seru Langit.


"Tapi nggak etis loh kak, jika cewek nginep di tempat cowok" jelas Jingga.


"Ini negara yang berbeda Jingga. Lagian kita nggak bakalan sekamar. Dan ada saksinya juga. Pak Agus" jelas Langit menyebut nama sopir nya.


"Oh ya, besok off kan kegiatan kuliah kamu?" imbuh Langit.


"Iya sih kak. Tapi tetap saja aku balik asrama. Kan nggak bawa baju ganti kak?" kata Jingga.


"Nggak takut Kenzo ada di sana menyambut kamu?" tandas Langit.


"Hhhmmmm akan kuhadepi" jawab Jingga.


"Semakin dihadepin dia akan semakin nekad" bilang Langit.


"Aku harus bagaimana?" sela Jingga. Bingung juga ngadepin orang modelan Kenzo.


Semakin menghindar dia akan semakin nekad.


"Kalau gitu aku akan nyari tempat buat tempat tinggal aja kak. Terutama yang aman. Nggak enak musti nginep di tempat kakak terus" tukas Jingga.


"Besok aku bantu nyari" balas Langit.


"Oh ya kak, kakak tahu nggak sih tempat yang ada lowongan kerja part timer gitu?" tanya Jingga.


"Buat siapa? Kamu?" Langit menanggapi.


Jingga mengangguk.

__ADS_1


"Untuk apa?" sambung Langit.


"Untuk biaya sewa sama makan lah kak" ulas Jingga.


Jingga tak mau lagi nutupin kagalauannya sedari tadi.


"Kakak ada apartemen lain yang kosong Jingga. Kalau lo mau bisa tempatin itu" seru Langit.


"Nggak lah, pasti biaya sewa nya mahal" ledek Jingga.


"Itu apartemen milik kakak sendiri, hasil nabung tiap menang balapan. Daripada kosong tempatin aja" saran Langit.


"Aku nggak mau ngrepotin kakak" Jingga merasa tak enak dengan tawaran Langit.


"Nggak apa-apa, tempatin aja. Daripada lo pusing mikirin biaya sewa. Apartemen itu nganggur" tandas Langit kembali.


"Sudah lah jangan banyak mikir. Besok pagi kita lihat" seru Langit tak mau ada penolakan. Sama typikalnya seperti anggota keluarga Baskoro yang lain, suka maksa.


"Jangan ngedepanin rasa nggak enak" sela Langit menambahkan.


"Beneran kak, aku merasa nggak enak ini" jawab Jingga.


"Sudahlah nggak usah dipikirin ayo turun. Sudah sampai nih" beritahu Langit.


Jingga ngikutin langkah Langit menuju lift.


Mereka telah sampai lantai dua belas.


"Bersih" ulasan pertama yang keluar dari mulut Jingga.


"Luas" ulasan kedua.


"Nih kamar kamu, istirahatlah" bilang Langit saat berada di depan sebuah kamar.


"Sebelah sana dapur, kalau mau air dingin atau hangat ada di sana" jelas Langit.


"Siap bos" tukas Jingga tersenyum.


Pak Agus ada di belakang. Ada kamar tersendiri untuknya.


"Rapi sekali, padahal yang tinggal cowok semua" gumam Jingga setelah masuk kamar.


"Memang ya beda kasta. Jadi kalau lihat seperti ini berasa kagum" kata Jingga dalam hati.


Nuansa interior yang dominan maskulin, barang-barang yang ada di dalamnya pun serba istimewa.


Jingga merebahkan diri di ranjang, "Empuk dan nyaman banget" serunya.


Karena hawa musim dingin atau karena lelah, tak menunggu lama Jingga sudah terbang aja ke alam mimpi. Apalagi ditambah perut yang kenyang sehabis makan tadi.


Langit yang berada di kamar, gantu baju nya setelah mandi air hangat.


"Besok pagi setelah kontrol luka, aku anterin Jingga ke apartemen aja. Semoga kelompok huru hara belum datang saat Jingga masih di sini" harap Langit.


Setelah dipikir-pikir bisa berabe juga jika mereka tahu keberadaan Jingga di apartemen. Bisa langsung suruh nikah gue. Pikir Langit.


Paling nggak kalau sudah berada di apartemen, akses Kenzo untuk masuk akan lebih sulit. Pikir Langit.


"Salah nggak sih? Apa aku terlalu ikut campur dalam urusan pribadi Jingga?" gumam Langit.


"Nggak lah, aku kan hanya sekedar bantu. Dan tak ada maksud lain" pembelaan diri Langit.


"Tapi melihatnya selalu dibuntutin, kasihan juga. Atau jangan-jangan si Jingga masih cinta sama tuh cowok. Kalau begitu untuk apa aku bantuin Jingga?" tanya Langit dalam benak.


Capek berpikir, akhirnya Langit ikutan terlelap.


Dalam mimpinya Langit berasa didatangn Dad dan bunda. Si Awan malah tak berhenti menganggungnya.


Langit terjingkat, berasa nyata sekali mimpinya.


Dan alangkah kaget Langit, semua yang ada dalam mimpinya ternyata memang nyata dan sedang bersorak dan kompak membully kak Langit yang tengah tidur.


"Kita datang, kok malah tidur aja sih kak?" sewot Awan.

__ADS_1


"Gimana keadaan kamu kak? Lukanya apa masih sakit?" tanya bunda menghampiri putra pertamanya.


"Nggak begitu bun, cuman kalau dingin begini kadang berasa ngilu" bilang Langit.


"Kapan kontrol nya?" sela Dad yang barusan gabung.


"Ini alesan Dad, kenapa dulu nggak ngijinin kamu ikut balap" imbuh Dad Tian.


"Langit nggak papa kok Dad" timpal Langit.


"Nggak apa-apa gimana? Nyatanya perlu pasang pen juga kan untuk menyambung tulang kamu yang patah itu" omel Dad Tian.


"Sudah lah Dad. Abis ini pasti Langit akan lebih hati-hati" bilang bunda Mutia.


"Nggak ada lain kali, selama kaki Langit belum sembuh" tegas Dad Tian.


"Kali ini dengerin apa kata Dad kamu Langit" nasehat bunda.


"Hhhmmm iya bun" jawab Langit menyetujui saran Dad Tian.


"Kemana yang lain? Apa cuman bertiga? Mega sama yang lain?" tanya Langit. Sejenak Langit tak ingat jika ada Jingga di kamar sebelah.


"Ikut semua. Mereka di ruang tengah, sedang asyik main game punya kamu yang terbaru" seru Dad Tian.


"Oma sama Opa Baskoro?"


"Oma nungguin Opa yang sedang tidak enak badan. Jadi mereka berdua batal ikut" terang bunda.


"Oooooo..." Langit ber O ria menanggapi ucapan bunda.


"Kaaaaakkkaaaaaakkkk" teriak Mega denga nada suara memekakkan telinga.


"Iissssshhh apaan sih si Mega tuh?" gerutu Langit.


Langit beranjak hendak nyusulin asal suara Mega.


Belum sampai ke tempatnya, Mega ternyata nyusulin Langit ke kamar.


"Siapa cewek yang tiduran di kamar sebelah?" tanya Mega dengan tatapan tajam ke arah Langit.


Bintang yang barusan ambil minum, ikutan gabung di kamat Langit.


"Ada apa sih kalian? Berisik banget" sela Bintang.


"Tuh kak, kak Langit sudah berani ngajakin cewek ke apartemen. Untung kita datang, jadi ketahuan" tandas Mega.


"Wah, akhirnya kanebo kering suka pada wanita juga" olok Bintang. Sebuah tisu segepok mengenai wajah Bintang.


"Sialan lo" umpat Bintang dan balik ke ruang tengah. Nyusulin Awan dan papa Reno yang saling bertanding game online.


"Apa benar yang kamu bilang Mega?" telisik Dad Tian dan menatap wajah sang putra.


Langit pun membalas tatapan Dad nya, karena dia pede tak merasa salah.


"Sudah berapa cewek yang kamu ajak ke sini?" tanya Dad Tian menunggu jawaban segera.


"Baru ini Dad. Kalau tak percaya tanya aja pak Agus. Tadi cewek itu kuajakin ke sini pak Agus juga tahu" Langit memberikan keterangan.


Dad Tian mencari keberadaan pak Agus di kamar belakang untuk meminta saksi atas pembelaan Langit.


Sementara Mutia mendekat ke arah Langit.


"Jangan sampai merusak kesucian seorang wanita kak" nasehat bunda.


"Aku masih tahu batas bun. Dan selalu ingat nasehat bunda" kata Langit menjelaskan.


"Bunda selalu percaya sama kamu nak" peluk bunda untuk putra sulungnya itu.


Pelukan bunda memang tiada tara. Langit merasa adem berada di antara kedua tangan yang melingkar di tubuhnya.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading guyssss

__ADS_1


__ADS_2