Langit Dan Jingga

Langit Dan Jingga
Ngidam Cilok


__ADS_3

Langit beranjak menjauh meninggalkan dua sahabat yang satu sangat senang, sementara yang satunya tengah sewot.


"Gue duluan. Bye" Langit bergegas menjauh.


"Cieeee yang mau ketemu nyonya Langit" canda mereka berdua.


"Pastilah..." kata Langit.


"Oh ya Keenan, abis ini share lok tempat-tempat yang jual makanan khas negara kita" pinta Langit.


"Wah, kalau itu mahal kak bayarannya...ha...ha..." Keenan terbahak, tapi merasa aneh dengan permintaan Langit.


"Oke lah, bisa diitung ntar. Yang penting aku sampai rumah, masing-masing alamatnya sudah aku dapetin" ujar Langit.


"Kan bisa lewat aplikasi bosss?" sela Adnan.


"Kalau ada kalian, kenapa musti repot. Bye..." seru Langit sambil mengangkat tangannya ke atas.


"Lama-lama kak Langit ternyata ngejengkelin juga" Adnan ngedumel.


"Enggak kok" bela Keenan.


"Soalnya lo butuh modal sama kak Langit, iya kan?" seru Adnan.


"Tapi nyatanya kak Langit emang beneran baik...weekkkk..." Keenan menjulurkan lidahnya.


"Tuh, ada yang manggil" tunjuk Adnan ke sebuah kursi di pojokan.


"Cakep-cakep juga tuh mereka" puji Adnan dengan mata berbinar.


"Sosor terus" olok Adnan.


"Mau gimana lagi, abis mau mepet Jingga udah keduluan kak Langit" seru Adnan menimpali.


"Ha...ha...kurang gercep lo" sambut Keenan terbahak.


Langit sudah berada dalam mobil saat Adnan membicarakan sang istri.


Jingga sudah menunggu Agus di meja makan, saat Langit datang.


"Lama amat sih beli BBMnya? Nasi padangnya dapat nggak nih?" seru Jingga tanpa menoleh.


Langit tersenyum, 'Jingga pasti mengira kalau yang datang adalah Agus' batin Langit.


"Nih" Langit menyodorkan apa yang menjadi pesanan sang istri.


Karena hanya satu kata yang terucap, dan Jingga yakin jika lengan itu bukan lah lengan Agus barulah Jingga menengok.


Melihat Langit yang berdiri terpaku, Jingga langsung saja reflek memeluk Langit.


"Kangen...hikssss" Jingga malah menangis.


"Loh, kok nangis sih?" tanya Langit.


"Nangis bahagia, tahu nggak sih? Gitu aja musti kasih tahu" jelas Jingga sewot.


Langit menggaruk kepala, jadi serba salah dibuatnya.


"Nasi padangnya mau dianggurin?" Langit mengalihkan pembicaraan.


"Nggak mau, kamu aja dech yang makan" kata Jingga.


"Loh?????" Langit bengong.


"Iya, sayang aja yang ngabisin. Aku sudah makan barusan. Nungguin Agus kelamaen, eh taunya jemput kamu. Makanya habisin aja, pasti belum sempat makan kan?" seru Jingga.


'Lah dia yang hamil, aku yang makan. Gimana sih? Belum apa-apa, sudah mulai nimbun kalori aja nih' pikir Langit.

__ADS_1


Jingga menggandeng Langit untuk duduk di meja makan.


"Makan dulu, abis itu mandi terus istirahat" pinta Jingga manja.


"Padahal aku mau ngajakin kamu periksa loh sayang" beritahu Langit.


"Besok-besok aja, biar calon papa hilang capeknya dulu" ujar Jingga.


Jingga menyuapkan nasi padang lauk rendang dengan sambal ijo yang lumayan banyak. Padahal Langit tidak begitu suka pedas.


Keringat di dahi Langit sudah sebesar butiran jagung.


"Pedes amat sih yank" bilang Langit sambil meneguk air dingin yang diambilkan Jingga dari lemari pendingin.


"Oh ya yank, gimana kalau abis ini kita telpon bunda sama Dad. Kasih surprise ke mereka atas kehamilan kamu" usul Langit.


"Boleh sih, tapi sekarang di sana masih dini hari yank" balas Jingga.


"He...he...sampai lupa. Efek kepedesan kali ya" kata Langit.


Jingga akhirnya ikutan makan saat nasi yang terhidang tinggal sedikit.


"Kenapa baru sekarang?" tanya Langit.


"Abis lihat kamu keringetan begitu, aku jadi ingin ngincip" seru Jingga dan mengambil sepucuk nasi dan sambel penuh.


"Bentar...bentar...ntar perut mu sakit loh yank. Itu namanya makan sambal lauk nasi dong" cegah Langit.


"Nggak papa, kakak aja yang belum terbiasa" Jingga memasukkan sendok yang lama dipegang itu ke mulutnya.


"Hhhmmmmm,...yummy" Jingga mengunyah sambal dengan santainya, sampai Langit ikutan menelan ludah melihat semuanya.


"Enak banget ya yank?" tanya Langit, padahal dia sendiri sudah mencoba betapa pedas sambal yang dikunyah Jingga saat ini.


"Bangeeetttttt...." tukas Jingga.


Jingga beranjak dan menyuruh sang suami bersih badan dulu.


"Kita kabarin bunda sama Dad besok pagi aja loh. Pasti kakak capek banget kan" Jingga mengikuti sang suami yang masuk kamar.


"Aku siapin air hangat ya?" bilang Jingga.


"Sudah, biar aku sendiri aja sayang" tolak Langit. Karena dia tak ingin sang istri kecapekan.


Langit masuk ke kamar mandi, Jingga mengambilkan baju ganti untuk suami, hanya celana pendek dan baju kasual rumahan.


Belum juga Langit keluar, Jingga sudah tertidur aja di ranjang.


.


Pagi saat akan mengantar Jingga kuliah.


"Yank, kita telponin Dad dulu gimana? Atau bunda aja" kata Langit.


Jingga melihat jam yang dia kenakan.


"Satu jam lagi aja gimana? Biar sekalian Dad sama bunda sampai di rumah" timpal Jingga.


Pikir Jingga, kalau sejam lagi di Indo pasti sudah jam tujuh belasan. Pas timingnya.


"Skalian aja Mega dikabarin" imbuh Jingga.


Langit mengangguk.


Ponsel Langit berdering, dan ada sang dosen yang nelponin.


"Halo Langit" sapa nya duluan. Dan Langit masih bengong.

__ADS_1


"Langit, you're the best. Dan nilai at your tesis is perfect" kata sang dosen dengan bahasa campur-campur.


"Really???" Langit tertawa senang.


Langit langsung saja memeluk Jingga karena senang dan bahagia, sementara Jingga yang tak tahu apa yang sedang dibahas sang suami dengan dosennya hanya bengong saja.


"Apaan sih?" sela Jingga yang merasa engap karena pelukan Langit yang semakin erat.


"Tesisku lulus" jelas Langit.


"Ooooo...selamat sayang" Jingga pun membalas pelukan sang suami.


Hari ini acara Langit hanyalah mengantar jemput sang istri, tapi dirinya tak akan turun lagi di kampus Jingga.


Ngeri jika berujung dengan jumpa fans seperti sebelumnya.


"Sayang, ntar pulang jam berapa?" tanya Langit saat Jingga akan keluar dari mobil.


"Cuman dua jam kok. Mau nungguin atau gimana?" ucap Jingga.


"Aku ke basecamp duluan aja. Skalian ngabarin Dad setelah kamu selesai aja" bilang Langit dan Jingga pun mengangguk.


Langit memutar balik arah laju mobil, dan yang pasti Langit sudah mengutus beberapa orang untuk menjaga Jingga saat terlepas dari pandangannya.


Belum juga jauh dari kampus, ponsel Langit berdering.


Dan itu dari Jingga.


"Halo sayang" jawab Langit meloudspeaker panggilan.


"Yank, aku kepingin cilok" jawab Jingga.


"Cilok?" tukas Langit.


"Makanan apa lagi itu?" seru Langit.


"Ntar aku kirimin gambarnya dech" ucap Jingga tak hilang akal.


"Oke" jawab Langit, pokoknya diiyain aja dulu..


Lagian di negara super besar ini, mana ada cilok yang jualan. Langit sampai dibuat heran oleh ulah sang istri.


'Ngidamnya kok makanan Indo aja ya? Benar-benar cinta produk dalam negeri atuh' pikir Langit.


Tapi kalau di sini, ya pasti bisa repot semua. Makanan yang diminta sang istri, termasuk makanan langka di London.


"Kenapa diam?" seru Jingga.


"Lagi mikirin tempat cilok yang lo inginin" tukas Langit.


Jingga mengirim share lok lokasi yang kira-kira jualan cilok, "Smoga aja tak tutup" ketik Jingga.


"Oke" jawab singkat Langit.


Saat lihat share lok yang dikirimkan oleh Jingga.


"Woowwwww, jauh bener lokasi yang istri gue kirim" gumam Langit sambil tepuk jidat pelan.


"Akan butuh waktu tiga jam pulang pergi, apa Jingga tak marah ntar" kata Langit bermonolog.


Belum juga Langit kasih kabar, Jingga sudah mengirim pesan lagi.


"Nggak jadi yank. Sudah dapat dari teman yang baru balik dari Indo. Enak banget lagi" ketik Jingga bermaksud pamer. Padahal Langit sudah separuh perjalanan ke tempat yang di share lok oleh Jingga.


"Huh, mendingan ke basecamp aja dulu" gumam Langit, lega juga rasanya karena tak perlu repot lagi nyariin cilok buat Jingga.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


to be continued, happy reading


__ADS_2