
Memang benar apa yang dikatakan Dad, cukup kejadian penculikan Jingga saja. Apalagi ulah Daniel juga sudah beberapa kali membahayakan diri Langit.
Pembicaraan serius mereka bertiga berlangsung sampai sore.
Dan baru terhenti saat bunda menelpon Dad untuk balik.
"Oh ya Langit, kapan calon cucu Dad diperiksakan. Bunda nanya barusan?" tanya Dad.
"Itu anakku Dad" seru Langit jengah saat Dad nya kembali membuat ulah.
"Tapi tetap saja cucu Dad, kamu tak bisa memungkiri itu" Tian pun tertawa.
Langit hanya bisa menepuk jidat.
"Tetap saja seperti itu, padahal sudah mau ada calon cucu" olok Dewa.
"Dad..." panggil bunda di ujung ponsel.
"Iya, ini kutanyakan sama Langit" jawab Dad.
"Langit, kapan?" tanya ulang Dad Tian.
"Harusnya minggu ini sih, tapi aku belum buat janji sama dokter" ulas Langit.
"Tuh, kamu dengar sendiri kan sayang jawaban Langit" bilang Dad Tian ke sang istri.
"Baiklah. Kalau begitu biar Jingga aja buat janji. Dan saat periksa akan aku antar aja. Biarkan saja Langit sibuk" tukas bunda membuat Langit melongo.
Sesibuk-sibuk dirinya, Langit pasti akan menyempatkan waktu dong untuk mengantar sang istri.
Apalagi ini kehamilan pertamanya.
"Enggak... Enggak. Aku tetap akan ikut saat istriku periksa" tolak Langit.
Dad Tian terbahak melihat polah Langit.
Tak menyangka putra pertamanya telah menjadi sosok yang sangat dewasa dan juga akan menjadikan nya seorang Opa sebentar lagi.
Dad Tian menepuk bahu Langit sebelum pergi.
"Dad percaya padamu" ucapnya.
Dewa mengikuti langkah Dad.
"Ingat Langit, lebih cepat lebih baik" kata uncle Dewa mengingatkan.
"Siiipppp" Langit menyetujuinya.
.
Bunda yang sudah membuat janji dengan dokter obstetri dan ginekologi, pagi-pagi sudah prepare ngebangunin Langit dan Jingga yang masih tidur saling memeluk.
Dia ketuk kamar putranya itu pelan.
"Sayang...Jingga... Sudah pagi nih. Sudah bersiap belum?" seru bunda dari luar kamar.
Jingga yang mendengar suara bunda pun mulai membuka mata.
"Iya bun" jawab Jingga dan mulai beranjak.
Meski terpejam, tapi tangan Langit menghalangi pergerakan Jingga.
Jingga alihkan perlahan lengan berotot itu.
"Mau ke mana?" tanya Langit yang ternyata sudah terbangun itu.
"Periksa sama bunda" jelas Jingga.
"Ini masih pagi yank, kenapa nggak ambil jadwal yang siang aja sih?" tanya Langit.
"Sekali aja yank. Nggak setiap saat Dad sama bunda bisa nemenin" sambung Jingga menjelaskan.
Langit menngecup kening sang istri.
Ingin sekali sebenarnya menyerang sang istri pagi ini, tapi sudah keduluan bunda yang berdiri di depan pintu kamar.
"Iya bun, Jingga bentar lagi keluar" kata Jingga.
"Oke, bunda tunggu di meja makan sama semuanya" kata bunda, terdengar menjauh dari depan pintu kamar.
Klik... Langit menyalakan peredam suara di dinding kamar.
"Eh mau ngapain?" tanya Jingga yang sudah melihat muka mesum sang suami tentu saja hafal akan maksud Langit.
"No, sudah ditungguin bunda" tolak Jingga.
"Dosa loh nolak suami" bisik Langit dengan mata yang sudah berkabut.
Langit mulai meraba tuh benda kembar di dada sang istri dan sedikit merem4snya.
"Tambah kenceng aja yank?" ujar Langit.
Jingga melenguh, mengeluarkan suara emas yang sangat ditunggu Langit.
Atau mungkin karena hormon kehamilan juga, Jingga bersikap agresif. Dan sekarang tak malu lagi memimpin permainan.
Tentu Langit sangat menyukainya.
Dad Tian dan bunda cukup lama menunggu di meja makan.
"Kita makan kapan nih? Kak Langit sama kak Jingga lama banget" sela Awan.
Dad Tian hendak beranjak meninggalkan meja makan.
"Dad, seperti nggak pernah muda aja" cegah bunda.
"Mereka sudah ngegantung kita bun" ucap Dad menimpali.
"Dad juga sering begitu" tukas Mutia.
"Oke, kalau begitu kita balik kamar aja" seru Dad.
"Nggak lucu ah" ucap bunda sewot.
"Morning all" sapa Mega yang barusan datang dari hotel.
Selama di London, Mega tak ingin menyusahkan Langit dengan menginap di hotel.
Tak menyusahkan sih sebenarnya, tapi hanya alibi Mega aja ingin bebas.
Mega peluk masing-masing mulai dari Dad, bunda dan berujung penolakan Awan.
"Kok cuman bertiga? Kak Langit sama Jingga mana?" tanya Mega.
Dan yang dibicarain pun datang dengan masing-masing masih berambut basah.
"Tuh kan, apa yang aku bilang" ucap bunda ke Dad.
Dad Tian terkekeh. Paham betul maksud sang istri.
"Apaan sih?" tanya Mega penasaran.
"Hanya orang dewasa yang paham" ledek Dad Tian.
"Isshhh nggak seru. Mega juga sudah dewasa" sungut Mega.
"Kalau sudah dewasa, lekas nikah makanya" seru Langit ke adik ceweknya itu.
"Kamu juga kak, sudah ngebiarin orang tua menunggu. Ngapain kalian tadi?" hardik Dad.
"Biasalah Dad, jangan berlagak bloon dech" jawab Langit santai, sementara Jingga bersemu merah pipinya.
Malu lah ketahuan sama mertua. Pagi-pagi sudah keramas aja.
Sementara para wanita prepare untuk mengantar Jingga periksa kehamilan.
Langit dan Dad akan kembali sibuk dengan kerjaannya.
Awan mah santuy tetap dengan game online nya.
Mutia sampai geleng kepala dengan kelakuan anak bungsunya ini.
Tapi tetap saja meski jarang pegang buku, tak pernah sekalipun tiga besar di kelas luput dari pegangan Awan.
__ADS_1
"Awan hati-hati di rumah. Kau sendirian loh" kata Mega.
"Awan sepertinya malah senang dech, bebas dia" ujar Langit.
"Ada bik Inem yang nemanin" bilang bunda.
Bik Inem yang diajak berangkat bareng oleh Dad Tian dan rombongan, karena permintaan Langit pada bunda saat itu.
Untung saja bik Inem mau kerja jauh dari keluarga untuk sementara waktu.
Mereka berpisah mobil saat ini.
Bunda, Mega, Jingga ke arah rumah sakit tempat Jingga memeriksakan kehamilan.
Sementara Langit sudah berangkat menuju ke perusahaan bersama Dad.
Dad nampak puas melihat kinerja Langit malam ini.
"Cerdas juga kamu" puji Dad.
"He...he..." Langit hanya terkekeh.
Langit melakukan semuanya sampai hampir menjelang dini hari.
Saat yang lain terlelap di atas pulau kapuk dan memeluk guling, Langit bekerja keras untuk melakukan sesuatu yang dipuji Dad tadi.
"Emang Dad tahu apa yang aku lakukan?" tanya Langit pura-pura.
"Pasti lah" ujar Dad menimpali.
Sampai di lobi, sudah ada uncle Dewa menunggu mereka.
"Tian, pagi ini akan ada rapat seluruh anak cabang kita. Dan kamu Langit termasuk juga" beritahu uncle Dewa.
"Daring?" tanya Langit.
"Hheemmmm" angguk Dewa.
"Sudah kasih tahu staf di sini?" tanya Langit balik.
"Tugas kamu lah" tandas Dewa.
"Kalau begini ada yang musti lembur kerjanya?" imbuh Langit.
"Mereka semua sudah terbiasa, makanya jangan heran. Ini mendingan Dad kamu ngajak jam kerja. Sering juga tengah malam" ulas Dewa.
"Oh ya????" tanggap Langit.
"Ayo lekas! Malah ngobrol aja di sini" tukas Dad Tian menyela.
Langit menyuruh sekretarisnya untuk menyiapkan ruang meeting segera.
Sambil menunggu siap, mereka bertiga menunggu di ruangan Langit.
"Hari ini mereka pasti kelimpungan meredam isu tak sedap yang beredar" kata Dewa terkekeh.
"Lagak mereka aja, tak punya uang tapi sok kuasa" kata Dad menimpali.
"Ingat Dad, tuan Frans juga dari keluarga berada" Langit mengingatkan.
"Kata siapa? Keluarganya bangkrut semenjak dia masuk lapas. Makanya dia kesini ada tendensi lain" tandas Dad Tian penuh keyakinan.
"Frans ke sini, mengira Michelle masih banyak uang. Tapi ternyata Michelle mengalami hal yang sama" imbuh Dad.
"Dalam sehari Dad sudah tahu semuanya?" ucap Langit.
"Tim Dad kamu itu senang bergerak dalam diam Langit" jelas uncle Dewa.
Dad Tian mengurai senyum dari sudut bibirnya.
"Lihat saja bentar lagi mereka akan terpecah belah" kata sinis keluar dari bibir Dad Tian.
Langit pun telah menyiapkan sebuah tim yang akan meliput segala kegiatan di balik layar bersama tim singa merah, seperti yang diusulkan Arga waktu di Amerika.
Itu salah satu cara untuk meredam berita yang diserukan oleh pihak Daniel untuk menjelekkan Langit.
Bahkan tim sudah membuat sebuah akun khusus untuk itu. Dan juga membantuk fanbase sekalian.
Para fans garis keras Langit tentu saja tak percaya dengan isu yang digemborkan oleh pihak Daniel.
"Permisi tuan Langit, ruangan sudah siap" beritahu sekretaris itu ke bosnya.
"Oke, makasih" bilang Langit.
Kali ini Dad Tian, Dewa dan Langit kembali sibuk dengan urusan rapat dengan semua anak cabang Blue Sky yang jumplahnya mencapai puluhan.
Dewa menjadwalkan rutin rapat seperti itu setiap bulannya.
.
Di rumah sakit, Jingga masih menunggu giliran masuk.
Masih ada beberapa lagi nomor urut di depannya.
Mega yang kepo tentang hal yang berbau kehamilan pun mendekat ke Jingga.
"Jingga, gimana rasanya ngidam?" tanya Mega.
"Hheemmm seperti apa ya?" Jingga memikirkan bahasa yang bisa dimengerti Mega.
"Seperti kamu yang sangat menginginkan sesuatu dan harus segera saat itu juga terwujud" jelas bunda.
"Hhhmmm apa seperti saat ini ya?" kata Mega.
"Apa maksud lo?" sela Jingga.
"Aku sangat ingin tas seperti yang dikasih Dad ke bunda kemarin. Dan ingin segera terwujud juga" seru Mega terkekeh.
"Itu sih bukan ngidam, tapi nafsu" olok Langit.
Bisa-bisanya Mega bercanda seperti itu.
"Lo nggak tahu sih. Tas itu benar-benar limited. Dan hanya dua diproduksinya. Satu didapat Dad, dan satunya lo tau nggak siapa yang dapat?" bisik Mega ke Jingga.
"Enggak" tandas Jingga.
"Issshhh lo ini" Mega pura-pura sewot.
Sementara bunda senyumin saja obrolan kedua anak perempuannya itu.
"Semuanya diborong Dad, dan dikasih ke bunda. Gila nggak sih Dad Tian" kata Mega manambahkan.
"Norma aja sih menurutku. Bunda adalah wanita teristimewa bagi Dad. Wajarlah Dad kasih yang terbaik buat bunda" tanggap Jingga.
"Ah lo bisa bilang begitu karena tak tahh harga tas itu kan?" cibir Mega.
"Enggak" jawab Jingga yang memang tak tahu harga nya.
"Nih" Mega menyodorkan list harga tas dengan kekhasan warna orange di paper bag nya itu.
"Lihat tuh, punya bunda kemarin yang mana" suruh Mega.
Jingga melotot saat tahu harga masing-masing tas itu. Dan sengaja dia zooming layar ponsel Mega untuk meyakinkan matanya.
Mega aja heran, apalagi Jingga yang notabene berasal dari kalangan jelata.
"Wwoooooowwwww...nggak salah nih nulis price list harganya?" komen Jingga.
Mega pun menyentil kening ibu hamil itu.
"Makanya jangan sok lugu lo. Nih, sudah tahu kan?" ujar Mega.
"Dua tas bisa beli satu unit apartemen mewah di ibukota negara kita" kata Jingga bergumam. Heran tentu saja.
Mega kembali menyentil kening Jingga.
"Isssshhh apaan sih? Sakit tau" tukas Jingga.
"Nggak usah heran, black card kak Langit kamu bawa kan? Gesek aja tuh kartu" ujar Mega mengompori.
"Emang bisa?" kembali Jingga bengong.
Apa benar Langit segitu percayanya sama dia, sampai kartu dengan isi begitu banyak dipercayakan padanya.
__ADS_1
Memang iya sih, saat ini Jingga pegang kartu seperti yang dikatakan Mega. Tapi Jingga tak yakin jika isinya unlimited seperti yang dikatakan Jingga.
"Kalau lo nggak percaya, abis periksa kita jalan. Untuk buktiin semua" ajak Mega.
"Yang ngebet belanja tuh Jingga apa kamu sih?" ledek bunda.
"Sama lah bun" ujar Mega membela diri.
"Miss Jingga" panggil seseorang dari ruang periksa, itu tandanya giliran Jingga untuk diperiksa.
"Please come in" sapa sang dokter cantik dengan ramah.
"Miss Jingga?" lanjutnya.
"Yeeessss, I'm Jingga" jawab Jingga.
Dokter itu seperti biasa menanyakan keluhan yang dirasakan Jingga, sebelum akhirnya Jingga naik ke atas bed pemeriksaan.
"It's okey. Now, ten week pregnant" jelas sang dokter.
Pergerakan janin nampak terlihat di layar monitor USG.
"Bun, calon keponakan aku lincah sekali. Seperti aunty nya" seru Mega ceria.
"Boy or girl dok?" tanya Mega.
Dengan sedikit kecewa Mega mendengarkan penjelasan dokter.
Karena di usia kehamilan sekarang, jelas saja jenis kelamin belum bisa dilihat.
Mega saja yang buru-buru menanyakan hal itu.
Dapat disimpulkan jika kehamilan Jingga sehat dan sesuai perkembangan di usia sepuluh ke sebelas minggu ini.
Dokter memberikan resep untuk pengambilan obat selama sebulan ke depan.
Rasa mual Jingga saat ini mulai berkurang banyak daripada sebelumnya, makanya dokter tak meresepkan obat mual dan hanya menuliskan vitamin yang pas buat ibu hamil dengan usia kehamilan seperti Jingga.
"Jingga, hari ini nggak kuliah kan? Ke mall aja yuk" mulai dech Mega mengompori Jingga lagi, saat mereka keluar area rumah sakit.
"Biar Jingga istirahat Mega" cegah bunda.
"Issshhh, bunda nggak asyik dech. Bukannya ibu hamil musti banyak gerak. Biar persalinan lancar?" kata Mega menimpali.
"Iya bun, sekali-kali kita jalan bertiga pasti asyik. Mumpung bunda sama Mega di sini. Jarang-jarang loh kita bisa seperti ini" Jingga menyetujui usulan Mega.
"Nah itu baru asyik" seru Mega senang dan bahagia.
Jingga meminta Linda untuk mengantar ke tempat yang dimaksud.
"Kita ke mall langsung aja" pinta Mega.
"Kita mampir ke tempat Keenan aja dulu" kata Jingga.
"Siapa Keenan?" sela bunda bertanya.
"Teman nya aku bun, dan sekarang teman kak Langit juga. Dia buat resto khusus makanan Asia. Ceritanya sih semua dimodalin kak Langit" cerita Jingga.
"Owh, begitu kah? Kak Langit masih memikirkan hal-hal seperti itu?" kata Mega tak percaya.
"Hhmmm, lo nggak tahu aja. Omset yang didapat Keenan lumayan loh. Tapi belum genap sebulan sih bukanya" kata Jingga terkekeh.
"Harus semangat dong. Kalau kamu tahu perjuangan bunda mendirikan Mutia Bakery....wow bikintl trenyuh pokoknya" ujar Mega.
"Sudah jangan dibahas, itu masa lalu bunda sama Dad. Yang penting kan kita sudah bisa melewati itu semua" kata bunda tanpa mau mengatakan aib sang suami tercintanya.
Sampailah mereka bertiga di depan sebuah resto yang termasuk sederhana kalau di negara itu.
Tapi kalau di Indo, itu sudah termasuk resto besar.
Terlihat Keenan sibuk wira wiri menyiapkan menu untuk pengunjung yang mulai berdatangan karena jam menunjukkan jam makan siang.
"Hai Keenan. Perlu bantuan?" sapa Jingga menghampiri.
"Eh lo Jingga, sama siapa nih?" tanya Keenan terlihat mencuci tangan untuk menyambut Jingga.
"Nggak usah repot, kalau sedang sibuk lanjutin aja. Aku ngajakin bunda sama adik aku nih" ujar Jingga.
Keenan memperkenalkan diri ke bunda dan juga Mega.
"Silahkan duduk dulu" kata Keenan menyilahkan. Dan dia kembali disibukkan dengan pesanan makanan yang terus saja berdatangan.
"Ide Langit bagus juga" kata bunda sambil menelisik seluruh ruangan.
"Itu mah idenya Keenan bun, kak Langit kebagian pemodalnya saja" kata Jingga terkekeh.
"Kalau begitu suami kamu pintar melihat peluang Jingga" sela Mega.
Jingga mengangguk mengakui itu.
Menu makanan nusantara sudah terhidang di depan mata.
Keenan juga ikutan duduk semeja dengan ketiga wanita cantik itu.
"Gimana bun? Kalau ada yang kurang bisa dikoreksi loh" kata Keenan ikutan memanggil bunda, dan tentu saja Mutia mengiyakan saja.
Keenan berharap cemas akan komenan bunda yang notabene termasuk pengusaha bakery terkenal di Indo.
"Nggak kesulitan cari rempah di sini?" tanya bunda.
"Aku sudah ada langganan bun. Dia juga orang asli negara kita" jelas Keenan.
"Baguslah" ujar bunda.
"Yang bagus apanya bun? Rasanya? Atau rempahnya nih?" Keenan sangat mengharapkan masukan bunda.
"Cita rasanya sudah lumayan Keenan. Hampir seperti aslinya" ucap bunda.
"Berarti ada yang kurang ya bun?" tanggap Keenan.
"Betul, bukan masalah ke bumbu. Tapi lebih banyak berkaitan dengan proses masaknya" ulas bunda.
"Maksud bunda?" tanya Keenan ingin diperjelas.
"Cara masak tradisional di negara kita, tak mungkin kan bisa dilakuin di sini. Sekedar contoh aja, buat ayam panggang. Tak mungkin juga di sini pakai arang" jelas bunda.
"He...he...benar juga ya bun" Keenan terkekeh.
"Itu juga pengaruh ke rasa. Jadi bukan perkara bumbu aja sih. Itu menurut bunda loh ya" kata Mutia menambahkan.
"Makasih bun sarannya. Belum terlintas sama sekali di benakku" kata Keenan menimpali.
"Tapi tenang Keenan. Kalau di sini, menu di resto ini sudah yang paling enak" puji Jingga.
"Nggak ingin karedok lagi?" sela Keenan.
"Sekarang ada?" tanya Jingga antusias.
"Kalau lo mau, ya dibuatin. Apa sih yang enggak buat nyonya owner" canda Keenan.
"Issshhh jangan mulai dech" tandas Jingga.
Tak perlu menunggu lama, pesenan tambahan Jingga pun datang.
Keenan sangat berterima kasih atas kunjungan bunda dan Mega ke resto yang baru dijalankannya itu.
"Doakan lancar ya bun" harap Keenan.
"Pasti" kata bunda.
"Tapo jangan sampai kuliah keteteran. Pendidikan tetap yang utama Keenan. Itu kan tujuan kamu ke sini" ulas bunda.
"Kalau keteteran, tinggal cuti aja bun" Keenan menambahkan.
"Akan dobel biayanya, kalau bisa dijalani secara balance" nasehat bunda.
"Makasih banyak bun" Keenan menyalami bundanya Langit yang ternyata sangat ramah dan keibuan itu.
Meski pernah bertemu di acara pernikahan Langit dan Jingga, tapi waktu itu Keenan belum sempat ngobrol banyak dengan bunda.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading
__ADS_1