
Langit sudah berada dalam mobil dengan pole position.
Meski pikiran tengah cemas dengan keadaan sang istri. Sudah kepalang basah, karena Jingga kerasa saat Langit sudah berada di Japan dengan segala persiapan tim yang sudah fix seratus persen.
Langit pandang lintasan yang seakan menunggu untuk dilewati dengan fokus sempurna.
Wajah Jingga yang memaksa senyum meski air mata menetes terus saja terlintas.
Langit tarik nafas panjang beberapa kali untuk menghilangkan kecemasan.
Jingga sudah berada di antara orang-orang yang tepat. Pikir Langit sambil menghibur dirinya sendiri.
"Hhmmm aku harus bisa" gumam Langit menýemangati dirinya sendiri.
Alangkah sempurna kemenangan Langit tahun ini, jika di seri terakhir dirinya kembali mendapatkan kampiun yang pertama. Jadi setiap seri tak ada sekalipun juara pertama lepas dari tim Singa Merah.
Bendera mulai meliuk tanda start.
Langit kembali fokus.
Tiga... Dua... Satu.... Go....!!!!!
Langit melesat dengan sangat cepat dan langsung memimpin di posisi pertama beberapa lap sampai Langit memutuskan untuk masuk pit stop. Isi BBM dan ganti ban mobil.
Hanya perlu beberapa detik untuk berhenti di sana.
Langit kembali melesat.
Tim Tiger yang digawangi oleh Daniel saat ini memimpin lap ini.
Tapi Daniel belum memutuskan untuk mengambil pit stop. Terlalu beresiko sebenarnya.
Satu demi satu, pembalap yang belum ambil pit stop terlewati oleh Langit.
Sampai akhirnya semua ambil pit stop, maka Langit kembali memimpin lap hingga akhir lintasan.
Bendera telah meliuk-liuk tanda menjelang finis.
Dengan jarak yang lumayan jauh hingga beberapa detik, memperlihatkan jika Langit menguasai seri terakhir ini.
Juara umum Langit disempurnakan dengan kemenangan terakhir Langit di seri ini.
.
Bersamaan dengan itu, Jingga yang telah melewati sakitnya pembukaan.
"Bun, tiap kali kontraksi kenapa berasa ingin buang air besar ya?" tatap Jingga ke bunda.
"Sakitnya sih sudah nggak begitu bun, tapi berasa ingin ke toilet aja" lanjut Jingga.
Bunda beranjak, memanggil dokter.
"Mungkin sudah waktunya" seru bunda.
Dokter datang memeriksa Jingga.
"Hhmmmm andai punya pasien kooperatif semua seperti nyonya tentu menyenangkan sekali ya" kata sang dokter.
"Oke nyonya, pembukaan sudah sempurna. Sekarang saatnya" dokter mulai mengajari cara-cara melewati proses persalinan.
Jingga mulai mengedan dengan layar tivi tetap on menayangkan acara Langit.
__ADS_1
Saat di lap terakhir, Jingga mengedan sekuat tenaga dan tepat Langit melewati garis finis maka lahirlah putra pertama Langit dan Jingga.
Momen yang manis.
Langit langsung saja turun setelah memastikan dirinya menjadi kampiun pertama di seri terakhir ini.
Bukannya naik podium, Langit malah meraih ponsel yang sedari tadi di simpan di loker tempat barangnya berada.
Belum juga menekan panggil kontak Jingga, sebuah notif pesan masuk ke ponsel Langit. Dan itu dari bunda.
Langit meneteskan air mata saat melihat gambar yang dikirimkan oleh bunda.
Dia sudah sah menjadi orang tua sekarang.
"Langit, dicari kemana aja. Ditunggu tuh di podium untuk terima piala" kata Arga menghampiri yang sedang duduk di paddock.
"Aku sudah terima piala terbesar uncle" ucap Langit memeluk Arga.
"Anak lo sudah lahirkah?" tebak Arga dan Langit pun mengangguk.
"Wah, selamat bro. Jaga amanah itu baik-baik" Arga menyalami pembalapnya itu.
"So pasti uncle" Langit tersenyum dan sesaat kemudian Langit melangkah ke podium.
Sorak sorai penonton yang menyeruak ke dekat podium saat Langit muncul.
Senyum lebar nampak di muka Langit sekarang.
Senyum yang jarang sekali muncul saat Langit tampil di muka umum.
Hari yang sangat istimewa bagi Langit. Selain sebagai juara umum, Langit mendapatkan anugrah putra yang sangat tampan hari ini.
Tidak tahu mendapatkan sumber dari mana, saat Langit menyampaikan pidato telihat di layar besar sebuah foto bayi yang sengaja di blur dan dikenalkan sebagai putra pertama Langit.
Daniel menghampiri saat Langit turun podium. Daniel gagal mendapatkan posisi tiga besar tahun ini dan harus puas mendapatkan posisi ke lima.
"Selamat bro. Lo memang layak mendapatkan semua" kata Daniel menyalami Langit.
Langit tersenyum, "Makasih. Aku tunggu lo di musim berikutnya". Dan Daniel mengangguk pasti.
Langit meninggalkan begitu saja keberadaan Daniel.
Di bawah podium semua anggota tim menyambut kemenangan yang pertama bagi mereka sebagai juara umum.
Yel-yel diserukan oleh mereka, bahkan penonton yang juga menggunakan kostum dengan dominasi warna merah pun ikutan.
Jadi makin meriah lah suasana.
Langit mencoba mencari celah untuk menghindari kerumunan pesta kemenangan itu.
Dan ingin segera melihat wajah sang istri.
Berada di paddock sendirian, sementara yang lain tengah pesta pora.
Langit menghubungi nomor Jingga.
Dan panggilan ke dua barulah panggilan itu tersambung.
"Selamat yank, jadi juara" ujar Jingga begitu panggilan tersambung.
Langit tersenyum.
__ADS_1
"Gimana rasanya jadi ibu?" lagak Langit sok jadi wartawan. Dalam hati ada rasa tak puas karena tak bisa mendampingi saat sang istri saat berjuang di antara hidup dan mati, melahirkan buah hati.
"Mana Langit yunior?" tanya Langit sesudah nya.
"Nih" Jingga mengarahkan kamera ke baby yang dengan lahap sedang mengulum pucuk ceri.
"Wah, itu punyaku" sergah Langit.
"Dan sekarang tidak lagi" ledek Jingga.
Cukup lama Langit ngobrol.
"Yank, abis ini aku packing. Aku cari penerbangan yang paling dulu untuk balik London" kata Langit.
"Oke, nggak usah buru-buru. Aku baik-baik saja. Kata dokter, besok sudah boleh pulang" terang Jingga.
"Baiklah" panggilan itu berakhir setelah saling mengucapkan kata sayang di antara mereka berdua.
Arka sudah berdiri di depan Langit saat Langit menutup panggilannya.
Arka merangkul Langit yang berasa putranya sendiri.
"Selamat, sudah menjadi kebanggan tim" ucap Arka menepuk bahu Langit.
"Makasih uncle" balas Langit.
"Selamat juga, telah mendapat amanah baru" lanjut Arka.
Langit memeluk erat uncle yang sangat mengerti dirinya itu. "Makasih sekali lagi uncle. Dan maaf seperti biasa, aku tak bisa ikut merayakan kemenangan tim kita" kata Langit mengulum senyum.
"Tak apa. Jingga dan putra kamu harus jadi prioritas sekarang" ulas Arka.
Aunty Tania ternyata juga ikut berada di Japan dan memberi selamat kepada Langit.
"Kapan-kapan kita ke London dech, nengokin ponakan ganteng" seru Aunty Tania.
"Jingga pasti akan menunggu aunty" tukas Langit yang tahu sang istri sangat ngefans dengan lawyer cantik di depannya ini.
"Ha...ha... Kalau lulus, suruh gabung aja Jingga ke tempat aku" Tania menawari.
"Pikirkan nanti aja aunty. Biar fokus aja ke proposalnya dulu dia, apalagi ada baby sekarang" seru Langit.
"Ntar kalau sudah lulus. Apa kalian mau tinggal di London aja? Wah, bisa tak tahu tuh anak kamu rasa ketela" kata Tania yang tetap saja ceplas ceplos seperti biasanya.
"Ntar minta dikirimin ketela sama Aunty dong" tanggap Langit ikutan konyol.
"Harga ketela berapa, ongkirnya berapa?" sela Arka membuat Tania dan Langit tergelak.
"Betewe makasih uncle, aunty atas dukungannya. Tanpa dukungan kalian, apa lah aku ini" kata Langit sekalian bersiap.
"Sama-sama. Rencana balik sama siapa nih?" tanya Arka.
"Ada Awan dan juga Bintang" terang Langit.
Langit kembali menyalami Arka dan Tania sebelum berlalu menuju hotel.
Tentu saja untuk packing dan kembali ke London secepatnya.
Padahal Bintang dan juga Awan, masih ikutan berpesta pora di antara tim dan penonton di bawah podium kemenangan.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
__ADS_1
To be continued, happy reading