
Langit dan Jingga saling pandang. Tak tahu musti menjawab dan memberi keputusan apa.
Bingung dengan keadaan.
Mau jawab iya, tapi tak ada ikatan apapun di antara mereka.
Mau bilang tidak, pasti Dad Tian tak terbantahkan.
Jadi diam saja adalah langkah terbaik buat mereka berdua untuk saat ini.
"Langit, Jingga apa kalian tak dengar apa kataku tadi?" tegas Dad.
"Dad, come on. Apalagi yang musti dijawab. Apa dengan aku menjawab iya, Jingga akan menyetujuinya. Kami tidak ada hubungan apa-apa Dad" tandas Langit.
Jingga masih terdiam.
"Jingga" tatapan Dad Tian beralih ke Jingga.
"Saya ikut kata kak Langit saja" tukas Jingga.
"Hhhmm oke fine. Kita pulang lamarkan Jingga untuk Langit" ucap Dad Tian.
"Loh?" Langit dan Jingga kembali bengong.
"Di awal Langit bilang iya... Sementara Jingga ikut kata kak Langit. Otomatis kalian setuju akan ide Dad dong" ungkap Dad Tian.
"Wah, berasa kena prank nih" sela Bintang mendekat ke arah meja makan untuk mengolok sepupunya itu. Langit yang tak pernah pacaran, sekali ngajakin cewek ke rumah malah kena grebek orang tuanya.
Jingga masih syok mendengar semuanya. Berasa mimpi atas apa yang terjadi hari ini.
Berada di antara keluarga orang terkaya di negara nya.
Langit menatap Jingga, seakan meminta keyakinan dari Jingga.
"Aku masih bingung kak" seru Jingga.
"Oke, aku tak akan mendesak kamu. Pikirkan dua hari ke depan" himbau Langit.
"Jadi kakak serius?" ucap Jingga menegaskan.
Langit mengangguk.
Dad Tian bangga akan Langit.
"Nah, jadi laki itu musti gitu Langit. Gentle" seru Dad Tian.
"Horeeeeee....berhasil....berhasil...." teriak Mega dari dalam kamar sembari terlonjak gembira.
Langit dan Jingga menengok ke arah Mega yang menghambur ke arah Jingga.
"Selamat ya, bentar lagi lo jadi kakak gue" serunya senang.
Jingga hari ini sering sekali dibuat bengong oleh ulah keluarga ini.
"Daddy memang the best" ujar Mega dengan mengacungkan dua jempol untuk Dad Tian.
"Apa maksud semua ini?" tukas Langit mulai paham dengan alur kemodusan Dad dan adiknya.
"No, keputusan sudah dibuat. Kamu tak bisa meralatnya lagi" tandas Dad Tian.
"Bun" Langit perlu pembelaan kali ini.
"Kamu dan Jingga kan sudah mutusin tadi kak. Dan jika kamu jadian sama Jingga, bunda pun pasti setuju" terlihat senyum tulus di sudut bibir Mutia.
Kriteria utama Langit untuk mendapatkan pendamping, pastinya tak jauh dengan karakter bunda. Dan itu sedikit banyak ada di diri Jingga.
"Gimana Jingga? Pendapat kamu?" tanya Mutia dengan sabar.
"Aku belum bisa jawab tante. Kejadian hari ini terlalu mengagetkan buat aku" terang Jingga.
Dad Tian sudah berjibaku dengan sang putri. Tentu saja mereka membahas acara lamaran Langit ke orang tua Jingga.
__ADS_1
Reaksi mereka berdua bahkan melebihi daripada reaksi Langit dan Jingga sendiri.
"Jingga, sini!" panggil Mega.
"Hhhmmm gimana kalau lamaran kalian diadakan dua minggu lagi? Selesai jadwal tengah semester" urai Mega.
Jingga semakin bengong.
"Jingga, telmi sekali sih hari ini?" olok Mega.
"Itu karena ulah lo, ngagetin dia mulu" bela Langit.
"Tuh, sudah mulai kebentuk chemistry nya. Dibelain kakak aku tuh" olok Mega kepada Jingga.
"Apaan telmi?" tukas Jingga.
"Tel-mi...telat mikir" sambung Mega.
"Isssshhhh" Jingga bersungut.
"Kak, punya stok makanan apa? Lapar nih" seru Awan dari meja dapur.
"Ada tuh, mie instan" kata Langit.
"Di mana?" teriak Awan yang sudah berada di dapur.
"Masih utuh dalam karton" beritahu Langit.
Jingga menatap Langit, 'Pasti itu mie instan yang dibeli tadi siang' batin Jingga.
"Besok kubelikan lagi" kata Langit yang mengerti arti tatapan Jingga.
"Beliin apa nih? Mau dong?" sela Mega menimpali.
"Ikut-ikut aja" ledek Langit.
Sementara Mega menatap Jingga mencari jawaban.
"Beli mie instan Mega. Lo mau? Di Japan nggak ada ya?" gantian Jingga mengolok Mega.
Malam itu mereka ramai-ramai makan mie instan di apartemen.
Dad dan bunda serta uncle Reno mengurungkan niat nya tidur di hotel. Istri Reno, mama nya Bintang tak jadi ikut karena menemani Opa dan Oma di rumah.
Mereka bercengkerama sampai menjelang dini hari karena esok hari Jingga pun libur kuliah.
Dad dan bunda malam ini tidur di kamar putra kesayangan.
Sementara uncle Reno tidur di kamar yang tadi ditempatin Jingga.
Terus yang lain di mana. Kalau itu jangan dibicarain lagi.
Karena lama tak saling bertemu. Langit, Bintang dan Awan meneruskan main game online tanpa mengenal waktu.
Sementara Jingga dan Mega melihat chat grub yang tak mereka sentuh mulai sore tadi.
Ribuan chat masuk di ponsel masing-masing.
"Jangan bilang apapun di grub" larang Jingga.
"Biarin" jawab Mega.
"Awas saja lo lakuin, kuaduin ke kak Langit" ancam Jingga.
"Dih, sudah berani ngancam ya?" sindir Mega dengan bibir manyun.
"Salah siapa pakai datang sekarang, semua malah berujung diinterogasi Om sama Tante" tukas Jingga.
"Tapi kan endingnya bagus, kak Langit ngelamar kamu" tanggap Mega.
"Eh Mega, aku kok jadi merasa aneh. Kenapa kak Langit mau-mau aja disuruh Dad Tian melamar aku. Padahal nyata-nyata aku bukan apa-apanya" kata Jingga.
__ADS_1
"Sini kubisikin" kata Mega dengan bahasa tangannya.
"Apa?" tukas Jingga.
"Hhmmm kak Langit itu sebenarnya ngagumin kamu selama di kampus dulu. Dengar kamu dapat beasiswa di sini semakin membuatnya tak mau pergi dari kota ini. Meskipun nantinya dia lulus" bisik Mega lengkap dengan bumbu-bumbunya.
"Ih, masak sih?" imbuh Jingga. Tentu saja Jingga tak percaya dengan perkataan Mega barusan.
"Tak percaya? Kutanya kakak langsung ya?" canda Mega.
"Yeeeiii, nggak usah kali. Gue kan jadi malu" seru Jingga.
"Ooooooiiiiii....Mega.....ooooiiiii.....Jingga....." ketik Firman dalam pesan chatnya.
"Kuintip online loh, tapi kok mereka diam saja yaaaa. Jangan-jangan pingsan atuh" seru yang lain.
"Apa mereka menikung kita ya? Reunian sendiri?" sela Firman.
Mega melihat chat kembali.
"Tuh lihat, ramainya mereka" ujar Mega tertawa.
"Apa mereka tak kerja? Pagi-pagi sudah menggosip" ujar Jingga.
"Bener juga ya, bukannya kalau di sana sekarang sudah jam sepuluh pagi?" sela Mega.
"Kerja....kerja...aku mau kuliah nih" ketik Mega. Dan nyata sekali kalau Mega sedang bohong. Kemarin Mega sendiri telah pamitan jika akan pergi ke London, bagaimana bisa lupa.
"Bohong aja dipelihara. Kuliah darimana, lupa kalau kemarin bilang mau pergi reuni dengan Jingga. Mana Jingga?" Firman menanggapi.
Mega mengirimkan emoji tertawa menanggapi ketikan Firman.
"Sudah ketemu belum dengan Jingga?" tanya Firman dalam ketikan.
Makanya sekarang Mega mengajak berselfie Jingga untuk dikirimin ke grub.
"Apaan sih?" sela Jingga.
Dan tring, notif pesan dari Mega masuk juga ke ponsel Jingga.
"Wah, wajah butek begini lo kirim juga?" tandas Jingga ketawa. Lucu juga saat wajah mereka polosan tanpa pulasan make up.
"Heh, kalian nggak ngantuk? Jam segini masih ngobrol aja" seru Bintang dari kursi sebelah.
"Situ ngapain?" Mega menimpali.
.
Di rumah sewa Kenzo, dia pun belum bisa memejamkan mata.
Kenzo berusaha mengingat laki-laki yang bersama Jingga siang tadi.
Tapi sampai sekarang belum menemukan jawaban.
"Siapa dia? Aku seperti pernah melihatnya. Wajahnya memang tak asing" gumam Kenzo bermonolog.
"Aku besok harus ketemu Jingga, sebelum laki-laki itu datang lagi ke asrama Jingga"
"Harus dengan cara apa untuk mendapatkan Jingga kembali?"
"Kalau memang tak bisa dengan cara baik, cara tak baik pun akan tetap kugunakan" Kenzo masih saja berbicara sendiri. Padahal waktu sudah menunjukkan dini hari. Menjelang Subuh malah.
Padahal mata belum terpejam sama sekali, tapi Kenzo malah bersiap untuk pergi.
Kemana lagi kalau bukan ke asrama Jingga.
"Aku harus cepat ke sana, sebelum keduluan laki-laki kemarin" ujar Kenzo beranjak dari tempat tidurnya.
Kenzo sengaja tak pernah menelpon Jingga, karena sudah tahu karakter Jingga yang tak akan mengangkat panggilan ataupun pesan yang dikirim orang yang dibencinya.
Pakai nomor baru, Kenzo jamin jangankan diangkat ditengokpun enggak oleh Jingga.
__ADS_1
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading