
"Ingat, apapun akan mereka tempuh untuk memuluskan tujuan nya. Maka aku harap perkuat kerjasama tim kalian. Jangan sampai terpecah karena hasutan. Kesolidan kalian semua adalah kunci sukses" kata-kata Arka untuk memompa semangat tim nya.
Semua anggota tim mengucapkan yel-yel yang menjadi maskot tim dengan penuh semangat pada hari minus dua sebelum perlombaan.
Langit balik kamar sesaat setelah acara pertemuan ditutup oleh Arga.
Dia raih ponsel yang sengaja ditinggalin di kamar.
Langit cek barangkali ada pesan masuk.
"Apa aku hubungin bunda aja ya?" pikir Langit sesaat setelah sampai kamar.
Mau menghubungi Jingga langsung tentu saja belum bisa. Karena ponsel milik Jingga masih diamankan oleh Langit.
Langit scrol layar ponsel untuk mencari kontak bunda.
Tut...tut...tutttttt...suara telpon yang belum tersambung.
"Kemana ya bunda?" panggilan ketiga pun belum tersambung membuat Langit khawatir.
Ponsel Langit berdering setelahnya.
"Halo bun" sapa Langit.
"Tadi nelponin bunda? Ada apa kak?" tanya bunda.
"Nanya aja bun, kabar bunda" bilang Langit.
"Tumben nanyain kabar bunda. Kabarnya bunda apa kabarnya Jingga?" olok Mutia ke putra pertamanya itu.
"He...he...dua-duanya bun" jawab Langit.
"Mau bicara sama Jingga?" sela bunda.
"Jingga sudah dibolehin pulang nih sama uncle Bara. Bunda juga baru selesai dari admin rumah sakit" terang bunda.
"Beneran bun?" tanya Langit tak percaya. Setelah sekian lama akhirnya Jingga diijinkan keluar rumah sakit.
"Bentar, ini bunda sedang jalan balik ke kamar rawat Jingga" kata bunda.
"Oke bun" jawab Langit sambil menunggu bunda sampai kamar terlebih dahulu.
"Jingga...Jingga...nih Langit mau bicara" seru bunda yang masih kedenger suaranya di ponsel Langit.
"Halo kak" sapa Jingga.
"Darimana barusan?" terdengar suara bunda yang sepertinya mengajak ngobrol Jingga.
"Taman belakang itu loh bun. Ternyata view nya bagus banget" jelas Jingga kepada bunda.
"Emang dari mana?" Langit menyela.
"Dari taman belakang" jelas Jingga.
"Kata bunda sudah dibolehin pulang? Ikut bunda kan?" tanya Langit.
"Kira-kira aku musti balik ke mana?" tanya balik Jingga dengan kata sendu.
"Sori...sori...bukan itu maksudku" kata Langit meralat bicaranya.
__ADS_1
"Aku minta maaf" lanjut Langit.
"Nggak papa kak. Aku harus kuat memang" terdengar helaan nafas panjang dari bibir Jingga.
"Nah, gitu kan lebih baik. Aku jadi tenang di sini" ucap Langit bahagia.
"Hati-hati kalau mau pulang. Berlaku juga buat bunda" tukas Langit.
"Pasti...pengawal aja sudah bejibun di depan pintu" canda Jingga.
"Ha...ha...kau harus biasa dengan hal-hal yang disiapkan oleh Dad Tian. Apalagi kalau urusannya terkait dengan bunda. Nggak boleh ada yang membantah" bilang Langit.
"Kamu juga begitu. Di sana hati-hati" pesan Jingga.
"Siap sayang" jawab Langit.
"Hah? Kakak bilang apa?" Jingga masih merasa aneh, kata-kata langka itu keluar dari mulut seorang Langit.
"Tidak ada pengulangan" ujar Langit yang sebenarnya merasa malu.
"Iissshhh ya udah kak, aku balik dulu sama bunda" ujar Jingga mengakhiri panggilan Langit.
Langit merasa plong dengan keadaan Jingga yang telah diperbolehkan pulang.
.
Di rumah sakit, Jingga yang masih duduk di kursi roda hendak didorong pengawal untuk keluar kamar rawat yang selama beberapi ditinggali oleh Jingga.
Sementara bunda sudah terlebih dulu jalan, karena ada aunty Dena berada di depan nyusulin untuk minta tanda tangan.
Seorang petugas bagian gizi menghampiri Jingga.
"Buat kakak aja" seru Jingga.
"Jangan kak, ini sebenarnya menu spesial buat nona" tukasnya.
"Kamu ini aneh, mana ada di rumah sakit menu spesial. Yang ada tuh menu diet pasien menyesuaikan keadaan masing-masing" jelas Jingga.
"Nah itu yang aku maksud Nona. Silahkan dibawa aja daripada nggak kemakan" kata nya menyerahkan nasi box untuk Jingga.
Jingga terima saja. Ntar masih bisa dikasihkan ke salah satu pengawal. Batin Jingga.
Dibukanya box itu sedikit saat Jingga didorong menuju tempat parkir.
"Eh, kok ada bakwan jagungnya sih. Ini kan kesukaan aku" celetuk Jingga.
Jingga ambil dan langsung dikunyah olehnya.
"Enak, seperti masakan mama" jadi sedih lagi Jingga, teringat mama nya.
Tak perlu menunggu lama, makanan itu pun tandas oleh Jingga.
Tanpa memperdulikan sekitar, pikiran Jingga masih saja berkutat dengan kehilangan sosok mama.
Hingga Jingga tak menyadari jika yang mendorong kursi rodanya bukan lagi pengawal yang tadi dan telah digantikan orang lain.
Jingga baru sadar saat dirinya tak dibawa ke arah depan di mana bunda berada, tapi malah di bawa ke sisi rumah sakit yang nampak sepi.
"Eh bang, mau ke mana ini?" seru Jingga mencoba menahan laju kursi roda.
__ADS_1
Jingga kesulitan menengok ke arah orang itu.
"Bang...bang...kok diam aja sih?" tanya penasaran Jingga. Laju kursi roda tak berhasil Jingga hentikan.
Sebuah mobil tiba-tiba berhenti di ujung lorong seakan menunggu kedatangan Jingga.
Jingga yang belum mengetahui keadaan, tiba-tiba merasakan sakit yang luar biasa di kepala. Hingga belum juga kursi roda sampai di mobil, Jingga sudah pingsan duluan.
Dengan sigap mobil itu melaju cepat dengan membawa Jingga.
.
Di lobi depan, bunda tengah ngobrol dengan aunty Dena tentang rencana Mutia Bakery buka anak cabang lagi.
Rencana yang sudah dipikirkan lama oleh Mutia.
"Sewa tempat dan semuanya sudah siap kak. Tinggal kakak kapan ke sana untuk melihat" bilang Dena.
"Oke, setelah Jingga boleh pulang nih waktuku pasti akan lebih luang" jelas Mutia.
"Betewe Jingga mana kak? Sedari tadi para pengawal itu kok belum nampak batang hidungnya" tanya aunty Dena, karena mereka telah ngobrol selama lima belas menitan tapi belum tampak Jingga datang.
"Iya juga ya. Kenapa lama kali mereka?" sambut Mutia.
"Apa kita balik aja ke dalam" usul Mutia.
"Lima menit lagi aja, kalau belum datang kita samperin" tukas Dena.
"Oke" setuju Mutia.
Sudah lewat lima menit, Jingga dan pengawal belum juga nampak membuat Mutia dan Dena serta pengawal yang lain menyusul kembali ke dalam.
Sampai di depan kamar Jingga, kamar telah kosong.
"Loh, dimana mereka?" sela Mutia.
"Pak, kamu telpon teman kamu yang jagain Jingga" suruh Mutia.
"Baik nyonya" jawabnya sigap.
Sementara pengawal-pengawal lain segera berpencar ke seluruh rumah sakit mencari keberadaan Jingga.
"Gimana pak?" tanya Mutia.
"Mati nyonya" seru pengawal itu.
"Innalillahi..." seru Dena.
"Maaf nyonya bukan orangnya yang mati tapi ponselnya" jelas pengawal itu sambil menggaruk kepala nya yang tak gatal.
"Bilang dong dari tadi" cela Dena sewot.
Mutia mencoba menghubungi suaminya. "Smoga aja diangkat dan rapatnya sudah selesai" gumam Mutia.
Hingga datanglah salah satu pengawal yang berpencar tadi dengan tergopoh.
"Ketiwasan nyonya..." serunya.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1
To be continued, happy reading