Langit Dan Jingga

Langit Dan Jingga
Kepindahan Jingga


__ADS_3

"Maaf tuan, tak ada nama atas nama Jingga Ariana" serunya.


Sebastian dan Langit saling pandang.


"Korban kecelakaan tadi siang?" tandas Langit.


"Coba aku teliti kembali" ucap petugas itu.


"Yang ada ini atas nama Tuan dan Nyonya Pramono" beritahu petugas itu, Langit yang mendengar ikutan lesu.


Kedua orang tua Jingga telah meninggal.


"Terus atas nama Jingga?" sambung Langit.


"Kalau di kamar jenazah ini tidak ada atas nama itu. Bisa jadi yang tuan cari masih hidup dan sekarang masih di IGD" beritahu petugas itu.


"Oke Langit, kamu cari Jingga di sana. Sementara jenazah orang tua nya akan Dad urus semuanya" bilang Dad.


"Oke Dad" Langit berjalan ke arah ruangan yang disebutkan petugas tadi.


Langit menghampiri petugas jaga.


Melihat ada pemuda tampan menghampiri, mereka sigap menghampiri. Apalagi sudah tampan, penampilannya saja berkelas. Semua yang dipakai Langit sekarang kalau diuangkan bisa puluhan juta. Jam tangan yang tersemat aja mencapai ratusan juta.


"Bisa dibantu kak?" tanya perawat yang paling cantik di antara yang lain.


"Oh ya, aku nyariin korban kecelakaan tadi siang" bilang Langit.


"Atas nama?" serunya .


"Jingga Ariana" sebut Langit.


"Bentar aku lihat dulu kak" terangnya.


Perawat itu membolak balik berkas rekam medik yang ada di meja ruang jaga.


"Ada tidak?" tukas Langit tak sabar, karena melihat sang perawat yang mencoba berlama-lama menjawab.


"Ada kak, itu di ruang sana" tunjuknya ke arah ruangan dengan dominan warna merah itu.


Langit bergegas ke ruangan yang ditunjuk.


Sekarang nampak di depan Langit, Jingga yang terbaring dengan berbagai selang yang menempel di tubuhnya.


Dengan wajah sendu Langit terus saja menatap kekasih sekaligus calon tunangannya.


"Keluarga pasien Jingga" panggil seseorang yang sepertinya dokter jaga.


"Saya dokter" Langit mendekat.


"Oke, silahkan duduk. Saya akan jelaskan keadaan Nona Jingga Ariana" kata dokter memulai pembicaraan.


Langit menatap serius sang dokter.


"Kalau boleh tahu, anda siapanya pasien? Karena saya harus bicara terutama dengan penanggung jawab biaya pasien" imbuh dokter itu.


"Saya tunangan pasien dok. Untuk segala biaya jangan kuatir, saya yang akan jadi penanggung jawab utamanya. Orang tua nya juga dinyatakan meninggal di tempat kejadian. Jadi pasien sekarang tidak ada keluarga terdekat" bilang Langit.


"Baik tuan. Setelah saya jelaskan semua, silahkan nanti konfirmasi ke bagian admin" ujar dokter menambahkan.


"Sekarang, jelaskan kondisi Jingga dok" pinta Langit tak sabar.


"Oke, nona Jingga mengalami cedera otak yang lumayan parah. Apalagi ada riwayat cedera sebelumnya, itu memperparah keadaannya sekarang" bilang sang dokter.


"Meski tubuh luarnya semua utuh, hanya ada luka lecet. Dan ada lebam di beberapa tempat akibat benturan. Tapi yang jelas cedera kepala nya yang perlu perhatian serius" jelas sang dokter.


"Dan begini tuan, rumah sakit kami mohon maaf jika seandainya kondisi nona Jingga bertambah parah, maka segera akan kami rujuk. Karena keterbatasan tenaga dan fasilitas di sini" imbuhnya.


"Untuk sementara kami menjaga agar pasien tetap stabil" terang sang dokter.


"Apa kondisi pasien sekarang memungkinkan untuk dipindah rumah sakit?" tanya Langit.


"Kalau pasien stabil dengan rentang waktu enam jam ke depan, saya rasa pasien bisa alih rawat ke rumah sakit dengan fasilitas lebih lengkap" tukas dokter itu.


"Mau di rujuk ke mana nantinya? Apa anda sudah ada gambaran?" tanya dokter sebelum beranjak dari duduk untuk menangani pasien lain.


Langit menyebutkan nama sebuah rumah sakit swasta terbesar di ibukota. Membuat sang dokter terbengong sebentar.


Dokter itu merasa jika mau masuk ke sana, harus ada koneksi yang sangat kuat. Apalagi rumah sakit itu terkenal dengan rumah sakit langganan orang berduit.


"Maaf tuan, tapi rumah sakit ini belum pernah ada akses ke sana" tukas dokter itu.

__ADS_1


"Saya sendiri yang akan menelpon pemiliknya" kata Langit penuh keyakinan.


"Hah?" sang dokter dibuat terbengong oleh kata Langit barusan.


"Apa anda saudaranya?"


"Bukan dok. Kebetulan aja aku kenal dengan Uncle Bara" jelas Langit.


"Apa yang anda maksud dokter Bara? Bara Saputra?" dokter itu semakin penasaran.


"Betul" jawab singkat Langit.


"Wah, aku kagum sekali akan sosok beliau. Dokter yang tak pernah lelah melayani pasien-pasien darurat" dokter itu malah mengajak ngobrol Langit.


"Dok, itu sepertinya ada pasien yang membutuhkan anda" kata Langit yang juga merasa capek diajakin ngobrol melulu.


Langit menelpon Dad Tian, apa urusannya sudah selesai.


Nyambung tapi tak segera mendapat jawaban.


"Dad kenapa ya? Kok nggak diangkat panggilan dari ku. Apa aku balik lagi aja ke sana" gumam Langit.


Langit bergegas untuk menemui Dad Tian.


"Loh, uncle Dewa kok di sini?" tanya Langit heran karena sudah ada Dewa yang sedang fokus ngelihatin ke arah depan kamar jenazah.


"Iya nih, nganterin berkas yang musti ada tanda tangan Dad kamu" jelas Dewa.


"Di sana ada apa ya uncle?" tanya Langit penasaran karena tak melihat keberadaan Dad Tian.


"Ke sana aja, Dad kamu ada di antara mereka. Aku akan lihat dari sini" terang Dewa.


Langit pun mendekat ke arah Dad yang sepertinya sedang berdebat dengan seseorang.


"Jangan salah tuan, almarhum Pramono selain akan menjadi besanku dia dulunya adalah sahabat aku. Maka aku lah yang lebih berhak untuk tanda tangan di berkas itu" celetuk laki-laki yang sepertinya lebih tua dari usianya.


Di sampingnya juga ada Kenzo, membuat Langit terkejut.


"Silahkan kalau begitu" tegas Dad Tian dengan penuh wibawa. Akan dia awasi sejauh mana mereka akan bertindak.


"Oh ya pak, boleh saya tahu di mana tunangan saya? Dengar-dengar dia tak sadarkan diri. Aku sangat cemas" Kenzo ikutan bicara.


Langit hendak maju, enak aja ngeklaim dirinya tunangan. Tapi keburu dicegah oleh Dad. Langit menoleh menatap Dad, "Semakin kamu emosi, semakin menunjukkan kebodohan kamu" ulas Dad pelan.


"Baiklah tuan, karena andalah yang bertanggung jawab. Silahkan tandatangani ini" kata petugas kamar jenazah.


Bahkan dengan bangganya tuan Wawan ayah Kenzo menandatangani semua berkas yang disodorkan. Karena di sana juga hadir beberapa tetangga yang nantinya akan ikutan membantu dalam membawa jenazah pulang untuk dikebumikan.


"Berhubung semua berkas sudah ditanda tangani, sekarang silahkan tuan menghadap ke bagian admin untuk menyelesaikan pembayaran semua biaya pemulasaran kedua jenazah" terang petugas itu.


Tuan Wawan dan Kenzo sedikit terkejut, tapi sesaat bisa langsung mereka tangani rasa keterkejutannya.


"Oke, aku akan ke sana. Kamu tunggu di sini saja Kenzo. Menunggu jenazah calon mertua kamu" kata tuan Wawan dengan pongah.


Melewati Dad Tian begitu saja dan berjalan mengikuti arahan petugas tadi, tuan Wawan berjalan ke tempat yang dimaksud.


Ditunggu hampir satu jam, tuan Wawan belum kembali juga.


Dewa menghampiri Dad Tian dan membisikkan sesuatu.


Tak lama Dad Tian menghampiri petugas yang tadi.


"Pak, bisa kuambil alih untuk mengeluarkan jenazah keduanya. Sepertinya orang yang tadi tak mampu bayar biaya semuanya" tegas Dad Tian.


"Siapa lo, mau ikut campur?" Kenzo mendekat.


"Heeiii...sekarang bukan waktunya debat anak muda. Kasihan jenazah kalau tak segera dikuburkan" seru Dewa menarik baju Kenzo dari belakang. Mencegah Kenzo melakukan sesuatu ke bos nya itu.


Petugas itu bingung.


"Kasih berkas baru, biar tuan saya tanda tangan" kata Dewa penuh ketegasan.


Dad Tian pun membubuhkan tanda tangannya di sana.


"Mau main-main sama bos nya Blue Sky kamu" bisik Dewa ke telinga Kenzo. Meski bisik-bisik tapi cukup jelas di telinga Kenzo.


"Blue Sky" gumam Kenzo lirih.


"Wa, cepetan kamu urus semuanya. Jangan sampai lama" perintah Sebastian.


Langit akui, jika Dad dan asistennya itu selalu bertindak cepat dan tepat jika terjadi sesuatu.

__ADS_1


Tuan Wawan kembali dengan tangan kosong dan wajah yang ditekuk.


Tetangga pun banyak yang memandang sinis ke tuan Wawan.


Tetangga yang juga tahu, jika Kenzo bukan lagi tunangan Jingga anak almarhum tuan Pramono.


"Tuan-tuan, saya harap bantuan semuanya untuk mengebumikan almarhum dan almarhumah dengan layak. Jika ada sesuatu yang diperlukan, silahkan hubungi Tuan Dewa asisten saya" tegas Dad Tian.


"Terima kasih tuan. Kami para tetangga mengucapkan terima kasih atas bantuan tuan..?" tukas pak RT.


"Panggil saja Sebastian" tukasnya.


"Baiklah tuan Sebastian. Kami pamit dulu" ujar pak RT mewakili yang lain.


"Langit, apa kabar Jingga?" tanya Dad Tian yang belum sempat menanyakan kabar Jingga sedari tadi.


"Koma" hanya itu yang bisa diucapkan oleh Langit.


"Terus?"


"Kalau kondisi stabil terus, maka Jingga akan dirujuk. Dan aku tadi minta ke rumah sakit Uncle Bara Dad" jelas Langit.


"Apa kita bisa nengokin?" tanya Dewa.


"Hanya bisa lihat dari luar Uncle. Tidak dibolehin masuk" imbuh Langit.


"Oke kita ke sana" ajak Dad Tian.


Kenzo yang masih berada di sana pun mengikuti langkah ketiganya.


Langit membiarkan saja, karena saat ini prioritas Langit adalah kesembuhan Jingga.


Kenzo berlagak sedih saat melihat Jingga terpasang alat-alat medis.


"Cepatlah sembuh sayang, kamu janji kita akan menikah kan?" seru Kenzo sengaja mengeraskan suara agar terdengar oleh Langit.


Langit mulai mengeratkan giginya kuat.


"Langit, biarkan saja anjing menggonggong. Kalau capek mereka akan berhenti dengan sendirinya" sindir Dewa.


Langit tersenyum menyeringai.


"Betul Uncle, daripada buang-buang energi" Langit tertawa meski pelan, karena masih di lingkungan rumah sakit.


"Tuan Langit" panggil dokter yang memberikan penjelasan tadi.


"Iya dok" Langit pun menoleh ke arah sumber suara.


Dokter itu pun menghampiri Langit yang masih berdiri di tepian kaca ruang Jingga berada.


"Mau aku tunjukkan hasil pemeriksaan Nona Jingga, apa anda ada waktu?" tanya sang dokter sebagai penanggung jawab utama pasien.


Langit pun mengangguk.


"Aku ikut" sela Kenzo.


Sementara Dad Tian dan uncle Dewa akan kembali ke hotel untuk beristirahat sejenak.


"Maaf tuan, karena anda bukan penanggung jawab utama pasien maka kami tak bisa membiarkan anda masuk" terang perawat membuat Kenzo mengepalkan tangannya erat.


"Sialan" umpat Kenzo dalam hati. Saat Langit mengikuti langkah sang dokter masuk ruangannya.


"Tuan, kemungkinan nona Jingga akan kami rujuk secepatnya. Kalau anda ada akses untuk ke rumah sakit yang anda minta tadi, tolong segera dihubungi pihak sana" jelas dokter itu.


"Oke" jawab Langit.


"Terus aman tidak jika kita ambil jalur udara?" tanya Langit.


"Asal untuk resque, pastinya aman" seru dokter menanggapi.


Langit disibukkan dengan kepindahan Jingga. Awalnya Langit menghubungi uncle Bara dan minta bantuan untuk mengirim heli khusus untuk membawa pasien.


Setelah disetujui oleh Bara, kini Jingga mulai dipersiapkan untuk proses kepindahannya.


Kenzo menghampiri dan menarik krah Langit.


"Jangan macam-macam sama Jingga" ancamnya penuh intimidasi.


"Pakai mindah perawatannya segala. Jangan sok-sok an kamu" seru nya.


Langit tersenyum sinis tanpa mau menjawab.

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading


__ADS_2