Langit Dan Jingga

Langit Dan Jingga
Kabar Terbaru


__ADS_3

Mobil yang dikendarai ayah Pramono mental beberapa meter karena terdorong oleh laju truk sebelum sang sopir truk menginjak rem dalam.


Tempat kejadian menjadi ramai karena kemacetan, efek dari kecelakaan yang begitu dahsyat itu.


Beberapa saksi mata miris melihat mobil yang kegencet oleh bodi depan truk.


Sopir truk yang hendak melarikan diri, berhasil ditangkap dan berujung diamuk massa.


Sopir itu babak belur saat beberapa petugas datang dan langsung diamankan.


Melihat kondisi mobil yang ringsek dan penyok sana-sini banyak yang yakin jika penumpang di dalamnya tak akan selamat kegencet bodi.


Ramai orang yang menonton.


Tak lama petugas ambulan datang untuk mengevakuasi korban kecelakaan.


Penumpang dan pengemudi depan sangat sulit dievakusi karena tergencet parah oleh kap mobil yang meringsek ke dalam.


Petugas kesehatan memeriksa terlebih dahulu korban yang berada di depan. Dengan sangat meyakinkan, mereka menyatakan meninggal.


"Kalau yang belakang bagaimana?" tanya petugas berwajib.


"Masih ada tuan, tapi melihat kondisinya kecil kemungkinan dia bertahan. Kita harus hati-hati untuk mengevakuasi karena besar kemungkinan korban mengalami cidera kepala" terang sang petugas kesehatan.


"Baiklah, kita bantu. Tolong anda beri komando" ucap sang petugas berseragam cokelat itu.


Cukup lama proses evakuasi. Laju kendaraan di jalan perempatan itu pun akhirnya diberlakukan buka tutup.


Hampir satu jam para korban berhasil dievakuasi. Dua jenazah yang berhasil dievakuasi pun juga langsung dilarikan ke rumah sakit.


Satu korban lainnya dilarikan ke IGD untuk segera mendapatkan pertolongan.


.


Langit masih duduk termangu, sambil memainkan ponsel nya.


Menunggu kabar dari Jingga adalah sesuatu yang berasa lama.


Padahal baru beberapa jam mereka berpisah tadi.


"Kak, ponselnya kok dibiarin aja? Bergetar tuh" seru bunda.


"He...he..." Langit terkekeh karena saat dilihatnya memang ada panggilan dari uncle Arga masuk.


"Halo Uncle" sapa Langit setelah panggilan tersambung.


"Heh lo apa kabar? Gimana trauma kaki kamu?" selalu itu yang ditanyakan oleh uncle semenjak kejadian kecelakaan itu.


"Kata dokter sih dinyatakan sudah sembuh Uncle" jelas Langit.


"Untuk musim depan, gimana? Lanjut nggak? Dad lo ngijinin?" tanya uncle.


Kali ini sengaja dibahas, karena persiapan untuk musim depan tinggal dua bulan lagi.


Maka saat ini semua anggota tim dikumpulkan di Indo agar lebih mudah koordinasinya.


"Besok saja saat rapat dengan uncle Arka kita bicarakan. Untuk ijin Dad Tian, aku bicarakan lagi. Uncle pasti tahu lah, akan lebih sulit sekarang meminta ijin daripada sebelumnya" terang Langit.


"Makanya, bicarakan dulu baik-baik sama Dad lo" saran Uncle Arga.


"Siap uncle" tukas Langit.


"Siapa?" tanya Dad yang menghampiri Langit yang sedang duduk di ruang tengah mansion.


"Uncle Arga Dad" bilang Langit.


"Apa? Mau ngajakin balapan lagi? Dad tak akan kasih ijin" Dad Tian menanggapi dengan suara yang mulai naik.


Langit menghela nafas panjang. Perkiraan nya akan sulit merayu Dad ternyata benar adanya.


"Itu passion Langit Dad. Langit juga sudah dewasa sekarang" Langit menimpali.


"Setelah semua yang terjadi, kamu tak kapok. Bahkan nyawa kamu taruhannya Langit" sergah Dad.


"Orang meninggal bisa di mana dan kapan saja Dad, tidak musti di arena balap" argumen Langit.


"Dad tahu. Tapi kalau bisa ngehindarin bahaya akan lebih baik" tutur Dad Tian.


"Maut nggak bisa dihindarin Dad" Langit masih tak mau kalah dengan Dad nya.


"Ada apa ini? Kok ribut aja" sela bunda yang barusan dari dapur menghampiri mereka berdua.


"Langit mau ijin balap lagi" jelas Dad Tian.

__ADS_1


Mutia diam belum menanggapi. Karena posisinya tak menguntungkan jika membahas tentang hal ini.


"Langit, sudah ada kabar dari Jingga belum? Dia dan keluarga sudah nyampai belum?" tanya bunda untuk mengalihkan perdebatan ayah dan anak itu.


"Belum tuh bun. Jingga belum kirim pesan atau apapun" jelas Langit.


"Kamu telponin lah, jangan nunggu dia kasih kabar" sela Dad Tian.


"Aku coba" bilang Langit.


Langit coba cari nomor Jingga yang tersimpan di memori ponsel.


"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif" selalu jawaban operator yang didapat Langit setelah beberapa kali menelpon.


"Kok nggak aktif ya bun?" Langit masih berpikir positif.


"Coba aja kamu kirimin pesan. Low bat aja kali" tukas bunda menimpali.


Langit mengikuti apa kata bunda, mencoba mengirim pesan ke Jingga.


Hanya pesan centang satu yang didapati.


"Coba nanti Dad hubungin tuan Pramono aja dech. Harusnya dua jam yang lalu mereka sampai" sela Dad Tian.


"Sekarang aja Dad hubungin" ujar Langit tak sabar.


"Masih centang satu?" tukas bunda.


"Iya nih bun" seru Langit.


Bunda sangat tahu kekhawatiran yang di rasa Langit saat ini.


"Dad, tolong hubungin sekarang aja" pinta bunda.


Tak ada yang ditolak jika istrinya yang meminta. Meski anak mereka sudah besar-besar tak mengurangi kadar kebucinan Dad Tian kepada sang istri.


Dad Tian raih ponsel yang tergeletak di meja.


Dia coba tekan nomor tuan Pramono yang pernah Tian hubungin sesaat setelah selesai mendudukkan Langit dan Jingga di London.


Sama halnya dengan Langit. Ponsel tuan Pramono pun tak aktif.


"Kok sama ya?" tanya Langit heran.


"Halo putri cantik Dad" jawab Dad saat panggilan video tersambung.


Langit pun hendak beranjak, karena jika Mega sudah menelpon maka yang lain pun tak akan digubris oleh Dad Tian.


"Mau ke mana? Duduk sebentar. Pembicaraan kita belum selesai Langit" cegah Dad Tian saat Langit akan melangkah ke kamarnya.


"Suruh dengerin orang ngobrol Dad?" tanya Langit.


"Bentar aja. Pokoknya duduk dulu" ucap Dad tak mau dibantah.


Langit pun menaruh pantatnya kembali di kursi dekat Dad.


"Loh, kak Langit sudah datang kah? Berarti Jingga juga sudah dong" seru Mega.


"Tadi siang kak Langit nya datang" bilang Dad.


"Kalau gitu, aku pulang besok aja" tukas Mega ingin mempercepat jadwal kepulangannya.


"Sudah tak ada jadwal kuliah?" tanya Dad.


"Dad, besok aku bolos aja ya. Mata kuliahnya cuman satu. Plisssss Dad" rayu Mega di sana.


"Nggak boleh, emang kuliah kamu gratis?" sela Langit di antara obrolan Dad dan Mega.


"Bener tuh apa kata kakak kamu" tanggap Dad Tian.


"Issshhh kalian sama saja" ujar Mega sewot membuat Dad terbahak.


"Kalau lo tak kuliah besok, apa jam penerbangan ke sini akan dimajukan oleh maskapai?" olok Langit.


"Ya enggak lah. Mega kan bukan presiden" ujar Mega semakin sewot.


"Ya Dad" rayuan Mega masih berlaku untuk Dad Tian.


"Enggak, Dad nggak ngijinin" tegas Dad Tian.


"Huh, kalian nggak asyik" ucap Mega bertambah sewot. Bahkan bibirnya aja bisa dikuncir sekarang.


Dad Tian semakin terbahak saja.

__ADS_1


Bersamaan dengan itu, sebuah panggilan tak terjawab masuk ke ponsel Langit.


"Dad, siapa ya?" tanya Langit sambil menunjukkan layar ponsel ke arah Dad.


Dad mengedikkan bahu tanda tak tahu.


"Angkat aja" seru Dad.


"Hhemmm" Langit menyutujui apa kata Dad.


Icon telepon berwarna hijaupun Langit geser.


"Selamat sore, dengan siapa? Ada yang bisa dibantu?" tegas Langit.


"Selamat sore tuan. Apa anda mengenal orang yang bernama Jingga?" tanya orang itu.


Deg.


Siapa laki-laki ini? Apa yang terjadi dengan Jingga? Atau jangan-jangan dia Kenzo? Pikiran Langit sedikit kacau.


"Betul. Dengan siapa dan di mana?" tanya balik Langit.


"Baik, saya coba hubungin anda karena riwayat panggilan terakhir di ponsel nona Jingga adalah nomor anda tuan" beritahunya bertele-tele.


"Ada apa tuan? Jangan buat aku kuatir" seru Langit, karena masih penasaran dengan apa yang terjadi.


"Nona Jingga dan keluarganya mengalami kecelakaan. Proses evakuasi jenazah telah selesai dirampungkan dan sekarang tinggal mengantar ke rumah duka" ujar sang penelpon.


Kaki Langit berasa lemas setelah mendengar semuanya.


"Ada apa?" tanya Dad penasaran karena melihat reaksi Langit yang terduduk lesu kala menelpon.


"Jingga Dad" ucap lirih Langit.


"Jingga kenapa?" panggilan telpon dari Mega pun dikesampingkan melihat Langit yang lunglai.


"Kakak kenapa Dad? Apa yang terjadi dengan Jingga?" tanya Mega yang panggilannya masih on dengan Dad.


"Jingga kecelakaan" beritahu Langit dengan sisa tenaga. Syok mendengar berita.


"Tuan...tuan...apa anda masih di sana?" tanya sang petugas yang menelpon Langit.


"Iya tentu tuan" jawab Langit.


"Sebaiknya anda segera menyusul ke rumah sakit. Untuk secepatnya memproses pengambilan jenazah dari sana" jelasnya.


"Baik tuan" kata Langit. Panggilan pun berakhir.


Terlihat Dad Tian menelpon Dewa.


"Wa, kamu siapin heli sekarang!" perintah Dad Tian kepada uncle Dewa sekaligus asistennya.


Dewa yang sudah tahu karakter Tian pun segera melakukan tanpa membantah.


Tak sampai setengah jam heli sudah siap di landasan.


"Bunda ikut Dad" seru Mutia saat suaminya hendak berangkat.


"Di rumah aja bun. Apapun hasilnya nanti selekasnya aku kabarin" ujar Dad Tian melarang istrinya ikut.


"Heemmm baiklah. Semoga kabar itu tidak benar" ujar Mutia masih dalam tahap denial akan berita yang diterima Langit tadi.


Langit berangkat bersama Dad Tian menuju ke kota tempat tinggal Jingga.


Tak sampai satu jam mereka telah tiba di sebuah landasan pacu sebuah hotel yang mewah.


"Kita langsung ke rumah sakit aja Dad" ajak Langit setengah terburu.


"Tenang Langit, semua masalah tak akan terselesaikan jika kamu kacau begini" nasehat Dad.


"Oke Dad" tukas Langit tanpa membantah.


Sampai di rumah sakit, Langit langsung menuju kamar jenazah untuk mencari keberadaan jenazah keluarga Jingga.


"Pak, kami keluarga dari pasien atas nama Jingga Ariana. Ke sini mau ambil jenazah. Bagaimana prosedurnya?" tandas Dad ke seseorang yang bertugas di sana.


"Baik, akan kami cek dulu" petugas itu meneliti semua nya.


"Maaf tuan, tak ada nama atas nama Jingga Ariana" serunya.


Sebastian dan Langit saling pandang.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


To be continued, happy reading 😊


__ADS_2