Langit Dan Jingga

Langit Dan Jingga
Kabar Bahagia


__ADS_3

Belum juga melihat Jingga kembali, Langit sudah balik ke kamar mandi.


Bintang menyusul Langit ke kamar, hendak memberi kabar jika Jingga akan melahirkan.


Bintang baru membaca pesan Mega barusan.


Sebuah kabar menggembirakan didapat Langit.


Sebuah chat grup masuk ke ponsel, saat Langit menahan rasa mulas yang kembali datang.


"Lo ini kenapa sih?" tanya Bintang karena melihat Langit meringis sambil meremas perut.


"Nggak tahu, perut aku rasanya melilit" jawab Langit.


"Salah makan kali" tebak Bintang.


"Enggak lah, kalau aku salah makan harusnya lo juga begitu. Kita kan makan makanan yang sama" tandas Langit.


"Oh ya ya. Kenapa gue oon sih" tukas Bintang sambil menepuk jidatnya sendiri.


"Gue aja heran, kenapa lo bisa jadi dokter spesialis bedah jantung. Oon gitu" olok Langit.


"Ngapapin lo ke sini?" tanya Langit yang sedang ngolesin minyak angin ke perut itu.


"Gue tuh mau ngabarin, kalau tadi Mega kirim pesan kasih tahu kalau istri lo mau lahiran" kata Bintang menjelaskan.


"Sudah tahu, nih ponsel gue on cam terus" jawab Langit menunjukkan layar ponsel.


"Naaahh, gue tahu jawabannya sekarang" seru Bintang saat sekilas melihat Jingga dengan ekspresi biasa.


"Apaan?" tatap Langit dengan muka meringis menahan perut yang melilit.


"Lo itu ngalamin kontraksi seperti yang dirasain Jingga" bilang Bintang.


"Isshhh sok tahu lo" ujar Langit tak percaya.


"Idih, nggak percaya amat sih sama gue" sungut Bintang.


"Karena lo nggak layak dipercaya" canda Langit.


"Sialan lo" umpat Bintang.


"Ha...ha...mumpung lo ke sini. Olesin nih minyak angin di punggung gue" pinta Langit.


"Wah, ngemanfaatin gue nih ceritanya" seloroh Bintang.


"Heemmmm, sapa suruh kemari" Langit terkekeh sambil menahan nyeri yang kembali datang.


Sampai tengah malam Langit masih merasakan nyeri hilang timbul. Bahkan Bintang sampai menguap beberapa kali.


Tangannya tak berhenti mengusap pinggang Langit terutama saat nyeri kembali melanda.


Yang mau lahiran siapa, yang merasakan nyeri siapa. Dan yang dibuat repot tuh siapa.


"Sampai kapan penderitaan gue berakhir?" gumam Bintang dengan mata terpejam dan tangan berada di pinggang Langit.


"Semoga saja kalau nanti istriku melahirkan, akan menyiksa kamu lebih parah dari ini Langit" gumam Bintang berseloroh.


"Keras dikit dong, lemah amat sih jadi laki" kata Langit saat pijatan tangan Bintang mulai nggak berasa.


"Awas saja lo, anakku pasti akan membalasnya" ancam Bintang.


"Cari istri sana dulu, soal anak pikir belakangan" imbuh Langit.


"Pacar aja belum punya pakai nyuruh anak segala" tandas Langit meledek.

__ADS_1


Langit baru bisa tertidur menjelang dini hari, Bintang pun langsung ambruk di samping Langit.


Langit lupa jika ponselnya masih tersambung dengan Jingga.


Di London, Jingga saat ini tengah berjuang keras menghadapi pembukaan yang masih lima centi.


Bunda tak henti-hentinya menyemangati Jingga.


"Tiap kali sakit, tarik nafas panjang dalam sayang" kata bunda dengan mengelus kepala menantunya itu.


Keringat yang menetes, bunda usap pelan.


"Sakit bun" keluh Jingga dengan air mata mulai menetes.


"Sabar sayang, tinggal separoh lagi pembukaannya" kata bunda menguatkan.


Di luar ruang bersalin, Dad berjalan mondar mandir menunggu kabar dari bunda.


Padahal sebelumnya, bunda sudah menyuruh Dad dan juga Mega untuk tidur aja di apartemen.


Ntar kalau perlu sesuatu bunda akan menelpon mereka langsung.


Tapi sepertinya keluarga memang ingin menunggu Jingga sampai lahiran.


.


Langit terbangun saat alarm keras terdengar. Saat melihat jam di layar ponsel, Langit keburu bergegas ke kamar mandi.


"Sialan, gue kesiangan" gumam Langit.


Terdengar ketukan pintu kamar dengan suara keras.


Dengan celana pendek dan kaos rumahan Langit membuka pintu.


"Tuan, anda ditunggu uncle Arga dari sejam yang lalu" kata karyawan hotel itu.


Karena buru-buru ke sirkuit, Langit sampai lupa tanya akan keadaan Jingga. Suami macam mana pula, istri mau melahirkan kok begitu. Sudah tak nemenin, nanya kabar aja terlupa. Untung Jingga istri yang sabar, seperti author kali ya...ha...ha... Pas lahiran, suami pas tak ada di tempat. Hanya teman-teman sejawat yang nemenin di kamar operasi... Sabar... Sabar... ha... ha...


Padahal di rumah sakit kontraksi Jingga semakin bertambah.


"Bun, pembukaan berapa ini? Sakitnya luar biasa" tanya Jingga lirih.


"Kamu yang sabar sayang, banyakin berdoa ya. Semoga dilancarin" ucapan bunda menenangkan sekali.


"Mau kutelponin suami kamu?" ucap bunda menawari.


"Nggak usah bun, kak Langit pasti sedang fokus ke balapannya. Aku nggak ingin konsentrasi kaka Langit pecah karena mikirin kita di sini" tolak Jingga.


"Bun, boleh nggak sih tivinya dinyalain?" lanjut Jingga bertanya sambil meringis menahan nyeri kontraksi yang kembi datang.


"Mau lihat apa? Apa nggak berisik tuh?" ucap bunda menimpali.


"Tapi aku ingin lihat live nya kak Langit bun" kata Jingga penuh harap.


Kebetulan di ruang tindakan itu tak tersedia apa yang diminta oleh Jingga.


Pihak rumah sakit menyediakan mendadak apa yang diminta Jingga. Maklum pasien vvip.


"Dok, ini sudah sakit banget. Pembukaan berapa?" air mata Jingga sudah meulai menetes, meski dirinya tak terisak.


"Bentar lagi ya kita periksa" kata dokter yang mendampingi.


Layar televisi sudah nyala.


"Dok, cariin chanel sport" pinta Jingga.

__ADS_1


"Emang mau lihat apaan nyonya?" mungkin baru kali ini ada pasien mau melahirkan tapi ingin nonton acara sport.


"Balap formula dok" seru Jingga kembali mendesis menahan sakit.


.


Langit yang masih berada di paddock tengah bersiap.


"Lo udah makan belum? Tadi kelihatan buru-buru banget" tanya Arga menghampiri Langit yang tengah berganti kostum khas nya.


"Belum uncle. Mau makan takut perut sakit lagi" Langit menceritakan apa yang terjadi, hingga Bintang datang menyela.


"Habis ini lo harus bayarin gue, anggep aja bayar klaim asuransi" kata Bintang.


"Kok bisa?" tanya Langit dengan alis bertaut.


"Pegel tangan gue, nggosokin pinggang lo semalaman" terang Bintang.


"Sampai sebegitunya?" Arga heran.


"Hhhmmm" Bintang mengangguk mantap.


"Capek uncle" keluh Bintang. Dan Bintang membisikkan sesuatu ke uncle Arga.


"Lantas, gimana kabar Jingga sekarang?" tanya Arga penasaran membuat Langit tepuk jidat.


Saking buru-burunya sampai lupa nanyain kabar sang istri saat bangun tidur tadi.


"Eh Bintang, kok lo nggak ngingetin gue sih?" ucap Langit.


"Ngingetin apa?" lanjut Bintang.


"Nelpon Jingga lah. Sudah tahu aku ketiduran, kok nggak lo ingetin" ucap Langit sengau.


"Lo yang lupa, malah nyalahin gue" Bintang tak terima disalahin.


"Sudah... sudah... Mumpung masih ada waktu. Lo telpon Jingga dulu gih" suruh Arga melerai daripada ada baku hantam di paddock karena ulah saudara sepupu an itu.


Langit melakukan apa yang diminta oleh Arga.


Saat ini di sana pasti masih tengah malam.


Kali ini suara bunda yang terdengar.


"Bun, gimana kondisi Jingga?" tanya Langit.


"Tenang aja, Jingga dalam kondisi baik" terang bunda.


"Kok nyuruh tenang aja sih bun" Langit mengalihkan panggilan video.


Di kamera terlihat Jingga yang memaksakan tersenyum, meski rasa sakit menyerang kembali.


"Sayang, fokus ya" pinta Jingga.


"Keadaan kamu gimana sayang?" Langit dengan raut muka cemas.


"Seperti yang kamu lihat, sakitnya wowwwww nikmat banget" kembali Jingga memaksakan senyum, tapi air matanya meleleh.


"Maafin aku ya" kata Langit jadi merasa bersalah.


"He...he... Nggak papa. Kita saling nyemangatin online aja ya" seru Jingga memaksakan senyum.


Karena akan turun ke lintasan, Langit terpaksa menutup panggilannya dengan Jingga.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


To be continued, happy reading


__ADS_2