
Jingga buru-buru kala jam kuliah selesai. Jingga tak ingin bertemu dengan Kenzo yang sudah pasti menunggu dia keluar kelas.
Tadi pagi Jingga selamat dari cekalan Kenzo saat mereka berpapasan dengan Rima.
"Jingga, loe mau ke mana?" teriak Mega yang berusaha mengejar langkah Jingga yang terlalu cepat.
"Hussstttt, aku mau nyari tempat kos baru" bisik Jingga kala Mega berhasil menyusul jalannya.
"Kenapa?" sela Mega.
"Aku ingin ngehindarin kak Kenzo" bilang Jingga.
"Heemmm, aku tahu tempatnya" tukas Mega.
"Kalau kamu yang nyaranin, pasti mahal. Aku nyari yang pas di kantong aku aja. Aku nggak mau nyusahin orang tua aku" terang Jingga.
Benar juga apa yang dikatakan Jingga. Mana tahu Mega akan hal-hal seperti itu. Yang dia tahu tentu saja apartemen yang disewakan.
"Kamu duluan aja Mega, ntar aku lama loh" sahut Jingga untuk menyuruh Jingga duluan.
"Yaaacchhh padahal mau kuajak kamu ke rumah" kata Mega.
"Besok kan masih ketemu Mega?" seru Jingga.
"He...he...iya juga sih" imbuh Mega terkekeh.
Hanya dengan Jingga, Mega merasa sefrekuensi. Hanya satu yang beda, masalah cinta.
Selama ini Mega belum kenal cinta, karena dia sendiri belum mau berkomitmen dengan cowok.
"Ya udah dech gue duluan. Ntar malem libur tidur di rumah gue yukk. Diajakin bunda nonton drakor" seru Mega.
"Hah? Drakor?" heran Jingga.
"Kamu nggak suka ya?" tanya Mega.
"Enggak, aku sukanya film sekali nonton selesai" jelas Jingga.
"Kita bahas nanti aja, aku keburu nih" seru Jingga.
"Oke dech. Hati-hati! Bye Jingga" kata Mega berlalu ke arah parkiran kampus. Niat hati ingin langsung nyusul bunda mumpung pulang agak siangan.
Kali ini Mega ngechat dad Tian agar tak menjemput bunda, karena Mega sudah ke sana.
"Ah, ajakin bunda ke mall kayaknya seru dech" ide Mega muncul begitu saja.
.
Jingga menuju parkiran sepeda motor, karena pagi tadi dia telat bangun. Alhasil dia harus bawa sepeda motor agar cepat sampai kampus.
__ADS_1
"Bawa ini membantu juga. Tak perlu bayar mahal-mahal untuk ojek online" gumam Jingga sembari menepuk jok tempat duduk di sepeda motor itu. Ayah sama mama nya lah yang mengirimkan sebuah unit motor itu, agar Jingga tak kesulitan kalau pergi ke mana-mana.
Jingga masuk gang-gang di jalan belakang kampus untuk mencari sebuah tempat kos.
Keamanan yang menjadi syarat utama Jingga untuk pindah kali ini.
Menjelang sore, barulah Jingga mendapatkan sebuah tempat kos yang sesuai kriterianya.
"Heemmmm lumayan. Kamarnya juga lebih besar daripada sebelumnya. Kamar mandi dalam juga bersih" ujar Jingga setelah melihat semua.
Apalagi di depan juga terpasang gerbang, yang tentu saja akan aman bagi penghuni kos. Dan ada pos kampling juga di sampingnya.
"Berapa per bulannya pak?" tanya Jingga karena sudah merasa suka dengan kamar yang dilihatnya itu.
"Murah nak. Kelas mahasiswa kok" jawab bapak pemilik kos.
"Iya, berapa?" tandas Jingga.
"Sejuta aja perbulan" jawab bapak kos.
Setelah memikirkan beberapa saat Jingga pun menyetujui. Meski terpaut dua ratus ribuan, tempat ini lebih bersih dan luas daripada tempat Jingga sebelumnya.
"Oke pak, aku setuju. Per awal bulan ya pak pindahnya" seru Jingga.
"Besok juga nggak papa nak pindah. Hitung aja bayar kos nya awal bulan depan" kata bapak itu.
"Beneran pak?" kata Jingga antusias. Karena sebenarnya dia ingin segera pindah, tapi memikirkan biaya satu bulan untuk kos yang baru kan butuh pengeluaran dobel.
"Makasih, kalau begitu mulai besok barang-barang mulai saya pindahin ya pak" imbuh Jingga.
Selepas ngobrol basa basi dengan bapak pemilik kos, Jingga pamitan.
Saat hendak memegang sepeda motornya, ponsel Jingga berdering.
Kali ini orang tua nya kembali menelpon.
"Halo ayah, ini Jingga" sapa Jingga kala menerima panggilan.
"Jingga, kamu ke mana saja. Jam segini belum sampai kos. Kenzo bingung tuh nyariin kamu" seru ayah.
"Oh...oh...Jingga belajar kelompok Yah. Besok sudah deadline" Jingga bohong dech pada ayahnya.
"Oke, tapi jangan lupa kabarin Kenzo. Kalau sampai malam minta tolong Kenzo untuk jemput. Jangan pulang sendiri" nasehat ayah.
Ah, ayah belum tahu aja bagaimana kelakuan Kenzo yang sebenarnya.
Bagaimana cara mengungkapkan? Bingung Jingga dengan dilema.
" Jingga, kok malah diam?" seru ayah di ujung sana.
__ADS_1
"Ini juga mau balik kok yah" jawab Jingga, berharap jangan sampai ayah bilang ke Kenzo untuk menjemput.
"Hati-hati di jalan. Jangan lupa makan" kata ayah saat mengakhiri panggilan.
Jingga mengiyakan saja apa yang menjadi pesan ayah.
Saat sepeda motor telah menyala, kembali ponsel Jingga berbunyi.
"Siapa lagi sih" gerutu Jingga dan setelah dilihat ternyata Kenzo lah pelakunya.
"Kali ini aku harus jawab dia. Enak aja pakai bawa-bawa ayah segala" gerutu Jingga.
"Halo, mau ngapain lagi? Kita sudah tidak hubungan. Stop kamu gangguin hidup aku" seru Jingga kala yakin kalau panggilan telah tersambung.
"Jingga dengerin gue. Loe di mana sekarang? Aku susulin" seru Kenzo di ujung telpon.
"Enggak. Aku... enggak... mau...!!!" tandas Jingga.
"Jingga, aku harus ngejelasin sesuatu ke kamu" kata Kenzo terdengar serius.
"Stop kak, tidak ada yang perlu dijelasin. Hubungan kita berakhir kala kakak mengkhianati Jingga" terang Jingga.
"Dan tolong kakak, jelasin ke ayah dan mama aku juga. Bahwa kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi" ujar Jingga mengakhiri panggilan.
Jingga melajukan sepeda motor bukan lagi menuju ke arah kos nya yang lama, tapi ke arah tengah kota di mana alun-alun berada. Jingga ingin melepas penat di sana.
Sambil menikmati mie goreng gerobak yang dimasak dengan arang kayu, sungguh nikmat tiada tara.
"Bang, sekalian bungkusin satu nasi goreng ya?" pesan Jingga.
Melihat orang lalu lalang di alun-alun kota sedikit demi sedikit mengurangi beban pikiran Jingga.
Jingga sampai kos lama lebih dari jam sepuluh malam. Sengaja menghindari Kenzo yang sepertinya sesore tadi menunggu kedatangannya.
Setelah membersihkan diri Jingga menidurkan badan nya di ranjang.
"Apa sebaiknya aku bertemu sama kak Kenzo aja ya?" pikir Jingga ragu.
"Biar semua jelas dan aku tak terbebani untuk menjelaskan ke orang tua aku" gumam Jingga.
"Tapi kalau bertemu, aku pasti tak tega dengan mata puppies nya itu" kembali Jingga membatin.
"Akan kuingat aja pengkhianatannya, biar aku tega" kata Jingga lirih.
Jingga pun mengechat Kenzo dan memintanya bertemu saat jam istirahat kedua di kantin kampus.
Tak perlu menunggu lama, Kenzo langsung membalas dan bersedia untuk bertemu sesuai waktu dan tempat yang ditentukan oleh Jingga.
"Baiklah, aku harus siap untuk mengakhiri semua secara resmi" gumam Jingga.
__ADS_1
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
To be continued, happy reading