Langit Dan Jingga

Langit Dan Jingga
Orang Ketiga


__ADS_3

Dengan dibantu Mega, Jingga membawa beberapa barang dan dua koper pakaian untuk pindahan.


"Alhamdulillah beres juga. Tinggal angkut ke kos yang baru" kata Jingga ketika selesai berberes.


"Hanya segini???" tanya Mega heran. Jingga pun mengangguk.


"Ini mah sekali angkut selesai Jingga" seru Mega. Mega yang biasanya tinggal bilang daddy apa maunya, dan besok semua akan redy.


Melihat Jingga yang melakukan semua sendiri tentu saja membuat Mega kagum.


"Ternyata kamu mandiri sekali Jingga" puji Mega.


"Kesedak makanan apa kamu? Tumben-tumbenan muji aku" kata Jingga terbahak.


"Beneran" tandas Mega.


"Perlu kamu ingat, aku di sini sendiri jauh dari ayah dan mama. Kalau enggak ngelakuin sendiri lantas bagaimana?" tukas Jingga yang juga dibuat heran oleh ulah Mega.


"Kan bisa suruhan orang Jingga" sela Mega.


"Daripada uang saku nya abis buat dikasih orang, apa nggak mendingan dibuat hangout aja" seru Jingga.


Dia bahkan berpikir penghematan, aku malah tak berpikir sampai di situ. Mau apapun tinggal nggesek kartu yang diberi kan Dad aja. Pikir Mega.


"Yuk ah. Katanya mau bantuin, kok malah melamun sih?" tanya Jingga sembari menepuk bahu Mega.


Butuh waktu tak lama untuk tiba di kost baru Jingga.


Barang-barang Jingga titipkan di mobil Mega, sementara Jingga sendiri naik motor seperti biasa.


Mereka berdua merebahkan diri di kamar yang baru di tempati itu.


"Lumayanlah, kali ini ada ac nya" seru Jingga.


"Jadi betah dech di kamar" sambung Jingga.


Yang diajak ngobrol diam tak menyahut.


Jingga pun menengok, "Eh, sudah tidur aja Mega" ucap Jingga.


Ponsel nya berdering dan itu berasal dari ayah.


"Halo ayah" sapa Jingga.


"Halo sayang. Kamu sehat kan?" tanya ayah.


"Alhamdulillah. Jingga baik yah. Ayah dan mama?" tanya Jingga.


"Ayah dan mama juga baik. Alhamdulillah kalau kamu baik, mama tadi yang minta tolong buat nelponin kamu. Perasaannya nggak enak, takut terjadi apa-apa denganmu" terang ayah.


Perasaan mama nya sangat lah peka. Memang terjadi sesuatu yang cukup mengguncang di hari-hari Jingga belakangan ini.

__ADS_1


"Oh ya sayang, tadi Om Wawan sama tante mampir ke rumah. Kalau kamu setuju, mereka ngusulin agar pernikahan kalian diajukan" bilang ayah.


Pernikahan, kata yang menjadi jauh saat ini dari target Jingga.


"Aku masih ingin serius di study ayah" jawab Jingga tak ingin melukai hati kedua orang tua nya.


"Ayah tadi juga bilang begitu. Tapi Om Wawan sepertinya menyetujui itu karena permintaan Kenzo. Kamu tak mengkhianati Kenzo bukan?" tanya ayah serius.


Dia yang khianat, kenapa aku yang seolah jadi pelakunya. Sialan tuh Kenzo. Umpat Jingga dalam hati.


Aku berasa jadi obyek penampung kesalahan. Batin Jingga.


"Enggak lah yah. Aku ingin fokus kuliah dulu. Inginnya sih biar cepat selesai" hanya itu alasan yang dirasa pas saat ini buat Jingga.


"Pilihlah yang menurut kamu benar nak. Ayah akan menyetujui itu jika pilihan kamu tepat. Ayah dan mama hanya bisa berdoa dari rumah" ucap ayah menambahkan.


Setelah mama ikutan ngobrol, panggilan itu pun diakhiri.


Sekarang ganti ponsel Mega yang bunyi. Bunda calling.


"Mega...Mega...bunda kamu nelpon tuh" Jingga berusaha ngebangunin Mega yang terlelap.


Sampai panggilan terhenti Mega belum bangun juga.


"Mega...bangun dong. Bunda kamu telpon tuh" Jingga tetap berusaha membangunkan Mega, yang nyatanya Jingga baru tahu jika Mega sangat susah dibangunkan.


Jingga meletakkan ponsel Mega di dekat telinga kala ada panggilan masuk lagi.


"Halo bunda" sapa Mega masih dengan mata terpejam.


"Iya, Mega mau pulang" jawab Mega lemas karena sepertinya dia disuruh pulang sekarang.


"Padahal aku sudah ijin ke bunda tadi. Tetep aja daddy nyariin" kata Mega bagai sarang tawon, ngedumel tiada henti.


"Jingga, gue pulang duluan. Week end ini kita wajib nonton. Ada film baru yang akan lounching" seru Mega sambil meraih tas miliknya yang tergeletak di ranjang.


"Oke lah, bisa diatur" jawab Jingga dan mereka pun terbahak.


Kamar Jingga kembali sepi kala Mega sudah pulang.


"Kupakai berberes aja" gumam Jingga.


Saat menata buku-buku kuliah miliknya, tak sengaja Jingga menemukan diary miliknya.


Saat membaca lembar demi lembar, Jingga malah merasa jadi anak alay dan tertawa sendirian.


Saat dia buka di lembaran paling tengah, terselip foto Kenzo di sana.


Tanpa menunggu lama, Jingga robek foto itu hingga tak berbentuk.


"Bodoh...kamu memang sangat bodoh Jingga" kata nya penuh sesal.

__ADS_1


"Berapa tahun waktu yang telah kamu buang untuk membersamai laki-laki penuh laknat itu???" gumam Jingga menyalahkan dirinya sendiri.


"Baiklah, besok aku harus jadi Jingga yang berbeda. Jingga yang tak bersedih karena putus cinta" janji Jingga.


Jingga terlelap di antara barang-barang yang belum selesai dirapikan.


Jingga terbangun kala alarm perut nya tak bisa dikondisikan.


"Iya ya, aku kan belum makan sedari pulang kuliah" gumam Jingga dengan tangannya meraih heater.


"Buat mie instan saja" ucap Jingga bermonolog. Biasalah anak kost, pasti cari menu yang merakyat. Tak perlu repot dan bayar mahal, tapi bisa untuk mengganjal perut untuk sementara.


.


Keesokan hari, di grub mahasiswa ramai membicarakan cinta segitiga yang melibatkan Jingga.


Di obrolan chat grub, seolah-olah Jingga lah yang jadi orang ketiga di antara hubungan Kenzo dan Rima.


Saat Jingga berjalan menuju kelas nya pagi ini, semua pasang mata mengarah ke Jingga.


Jingga yang memang tak tahu ceritanya, melangkah dengan cuek di depan mereka semua.


Bahkan foto-foto Jingga yang dia simpan di akun sosmed miliknya, tersebar di mading kampus.


"Jingga...Jingga" panggil Mega tergopoh dari arah belakang Jingga.


"Kenapa? Buru-buru amat?" telisik Jingga.


"Kamu sudah buka ponsel?" tanya Mega.


"Belum. Tadi aku nggak sempat pegang ponsel. Pagi tadi masih nerusin acara aku menata kamar aku yang baru...he...he..." kata Jingga jujur.


"Jadi belum buka chat grub kampus?" tanya Mega heran.


"Ya belumlah. Kan nanti kalau banyak chat, tinggal ketuk tulisan bersihkan chat" jawab Jingga.


Firman pun mendekat, ikut gemas atas apa yang terjadi pada Jingga.


Banyak chat yang membully Jingga di sana, karena Jingga seolah menjadi pelakornya.


Mega pun menceritakan atas apa yang terjadi di grub chat kampus pada Jingga.


"Aku harus bagaimana Mega, Firman?" tanya Jingga yang baru tahu ceritanya karena diberitahu Mega barusan.


"Kalau aku akan cuek aja. Buktikan kalau omongan orang itu tak benar" saran Mega.


"Kalau aku, akan aku unggah video kamu di kantin itu" sela Firman.


"Video mana?" tanya Jingga.


"Waktu wanita itu datang dan menunjukkan kalau dia hamil. Pasti pihak kampus akan menyuruh mereka berhenti kuliah" kata Firman ikutan gemas.

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


To be continued, happy reading


__ADS_2