
Kenzo tetap memaksa Jingga, sementara tangan Jingga berpegangan erat dengan stang sepeda motornya yang terparkir.
"Lepas!" Jingga mengibaskan tangan Kenzo dengan kuat saat Kenzo lengah.
Dan segera naik dan melajukan motor menjauhi mobil Kenzo sebelum Kenzo terbangun.
Kenzo sempat jatuh terjengkang tadi saat Jingga mendorongnya tadi.
Tanpa menunggu lama Kenzo segera masuk dalam mobil dan mengikuti laju motor Jingga.
Jingga yang menyadari jika mobil Kenzo telah berada di belakangnya berpikir keras bagaimana cara melarikan diri dan menjauh dari kejaran Kenzo.
"Hhmmm di jalan depan itu ada gang, aku belok di sana aja" pikir Jingga.
Dan benar, Jingga membelokkan laju motor ke kiri memasuki gang sempit di daerah padat penduduk.
Tentu saja Kenzo kesulitan menyusul karena mobil tak bisa masuk ke sana. Kenzo memukulkan tangan ke stang bundar yang ada di depan dadanya itu.
"Sialan" umpat Kenzo saat itu. Kenzo yang mencintai Jingga merasa terjebak dengan jeratan kehamilan Rima. Dan dalam hati Kenzo berjanji tak akan melepaskan Jingga begitu saja.
Sementara itu Jingga merasa lega bisa lepas dari kejaran Kenzo.
"Huh..." Jingga membuang nafasnya kasar.
Saat ada penjual minuman di ujung gang, Jingga menghentikan laju motornya.
"Eh...eh...hati-hati non" seru abang penjual kala sepeda motor Jingga hampir saja menabraknya.
"He...he....maaf ya bang. Remnya kedalemen. Waktunya service" ujar Jingga terkekeh.
"Bang, es teh lemonnya satu. Es nya banyakin, terus gulanya dikurangin" pesan Jingga.
"Oke Non. Siap!" jawabnya.
"Bang, ini daerah mana sih? Terus kalau mau ke daerah ini aku musti lewat mana?" tanya Jingga yang bingung karena abis melewati gang yang berkelok-kelok. Entah berapa kali dia membelokkan laju motor matic nya tadi. Jingga menyebutkan daerah tempat dia kos.
"Owh...lumayan jauh atuh Non. Bisa setengah jam an dari sini. Non pegang ponsel kan? Kenapa nggak pakai aplikasi di hape aja" seru abang penjual.
"Wah, abang pintar juga tuh. Makasih sarannya ya bang" tukas Jingga tertawa karena sudah menemukan jawaban.
"Sama-sama Non" bilangnya.
"Berapa nih bang?" tanya Jingga kala si abang sudah selesai membungkus es pesanan Jingga.
"Heemmm untuk non, goceng aja dech" serunya.
"Goceng berapa itu bang?" tanya Jingga yang memang belum kenal bahasa itu.
"Lima ribu atuh Non" jawab abang dengan bahasa medoknya.
"Oke bang. Makasih" Jingga menyerahkan sejumlah uang yang disebutkan si abang.
__ADS_1
Jingga kembali mengegas matic yang setia mengantarnya kemanapun tujuannya akhir-akhir ini.
Saat asyik minum kala tengah berkendara, tiba-tiba saja ada bola yang nyasar begitu melewati roda depan Jingga.
Jingga yang terkejut berusaha menghindari bola itu. Tapi sial di saat yang sama dari arah depan sebuah mobil melaju dengan lumayan kencang.
Jingga kembali membanting setirnya ke kiri. Karena tak seimbang, roda depan Jingga pun menabrak trotoar hingga Jingga terpelanting lumayan jauh dari motor. Dan semuanya menjadi gelap.
.
Selepas dari kantin kampus, Langit dan Bintang seperti biasa akan pergi ke tempat uncle Arga.
"Langit, jadi ikutan acara besok Minggu?" tanya Bintang kala Langit menggeber mobil sport ke arah bengkel Arga.
"Jadi lah" seru Langit.
"Sudah ijin Uncle Tian?" ujar Bintang.
"Entar aja" tukas Langit.
"Jangan ntar mulu. Dad lo pasti tak akan suka kalau lo tak ijin" saran Bintang.
"Lo sendiri tahu, gimana kalau uncle Tian marah" imbuh Bintang.
Langit sangat paham akan karakter Dad nya, yang selalu menentang jika dirinya ijin untuk balapan.
Meski balapan resmi dengan sirkuit yang berstandar international pun, Dad akan sulit untuk mengijinkan sang putra ikut.
Hanya bunda yang mengerti akan kemauan putra sulungnya itu, meski untuk hal yang satu ini bunda juga belum bisa untuk meluluhkan suaminya.
"Kali ini aku akan tetap pergi. Aku sudah melewati semua tahap seleksi Bintang" tukas Langit masih fokus menyetir.
Saat melewati sebuah jalan, terlihat jalanan ramai sehingga sedikit banyak mengganggu arus lalu lalang kendaraan yang lewat.
"Pelankan dikit, sepertinya ada kecelakaan di depan" seru Bintang.
Langit memelankan laju kendaraan, karena memang lalu lintas padat.
"Ada apa pak?" tanya Bintang ke arah bapak-bapak di pinggir jalan. Bintang sengaja membuka kaca pintu mobil.
"Ada kecelakaan tunggal mas. Kasihan itu mbaknya, jatuh. Dengar-dengar sih ngehindarin bola yang ditendang oleh anak-anak di ujung gang sebelah sana tuh. Dan bersamaan dengan itu di depannya ada mobil yang hampir menabrak dan mbaknya itu jatuh" cerita bapak itu.
"Tapi kok sampai macet sih pak?" imbuh Bintang.
"Nggak tahu atuh. Orang-orang yang di sana bukannya pada nolong, tapi malah sibuk buat konten" seru bapak itu melanjutkan.
"Sama aja pak, bapak juga nggak nolongin. Malah nyinyirin" olok Bintang.
"Yeeiiii mendingan gitu. Bapak takut berurusan sama bapak-bapak berseragam coklat yang ngurusin kecelakaan di jalan itu. Takut dijadiin saksi" katanya beralasan.
"Sama aja boong pak" sambung Bintang untuk mengolok.
__ADS_1
Perlahan Langit mulai bisa memajukan mobilnya meski masih pelan jalannya.
"Stop Langit" seru Bintang mengagetkan Langit.
"Ada apaan sih?" tukas Langit.
"Heh, bukannya itu Jingga?" ulas Bintang menunjuk ke arah korban kecelakaan.
Langit ikutan menengok. Dan melihat seorang gadis tergeletak dengan bersimbah darah dari pelipisnya.
"Heemmm, tepikan mobil lo" seru Bintang kepada Langit agar menepikan mobil mewah dengan kapasitas dua orang itu.
Bintang segera saja turun, untuk memastikan apakah itu benar Jingga teman seangkatan adik sepupunya Mega.
Bintang memanggil Langit yang masih ada dalam mobil.
"Heh, es batu cepetan ke sini" greget rasanya Bintang karena melihat Langit tak segera mendekat.
"Minggir...Minggir...ini teman kami" suruh Bintang untuk menyuruh orang-orang menjauh.
"Kalian ini bukannya menolong" hardik Bintang.
"Kan sudah ada petugasnya sendiri, ngapain kita repot" ucap salah satunya.
Miris juga mendengar jawaban mereka barusan.
Langit segera saja memeriksa denyut nadi dan luka Jingga, sementara Bintang sibuk menghalau orang yang berkerumun dan menyuruh mereka semua pergi.
"Husst...husssttt....pergi kalian!" suruh Bintang.
"Bintang, sepertinya ada trauma di kepala nya" beritahu Langit.
"Kok bisa helm nya dia terlepas?" tukas Bintang.
Langit mengangkat kedua bahunya, karena memang tak tahu jawaban yang ditanyakan Bintang.
"Kita bawa aja ke rumah sakit" saran Bintang.
"Kalau kita angkat, takut traumanya tambah parah" tukas Langit.
Bintang yang kuliah di kedokteran mengikuti jejak sang papa pun mengeluarkan sedikit ilmunya.
"Isshhhh kamu ini, selalu saja pidato" kata Langit yang sudah memberikan pertolongan pertama untuk melindungi pergerakan kepala Jingga agar tak terjadi penambahan trauma lebih parah.
"Kamu stop in taksi dong" suruh Langit.
"Kita bawa pake mobil kamu aja" tukas Bintang.
"Mana bisa? Kamu tak ingat mobil apa yang aku bawa" imbuh Langit.
"Wah benar juga apa kata kamu" ujar Bintang sembari menggaruk kepala yang tak gatal.
__ADS_1
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
To be continued, happy reading