Langit Dan Jingga

Langit Dan Jingga
Licinnya Daniel


__ADS_3

Pagi itu saat weekend, Jingga bangun pagi-pagi dan segera menyiapkan baju sang suami yang akan maju sidang tesis.


Malam sebelumnya Langit sampai harus begadang untuk menyiapkan semua bahan presentasi.


Tentu saja dengan bantuan Jingga.


Topik yang akan dipresentasikan tak jauh-jauh dari dunia balap.


Bisnis menjanjikan di jalur lintasan balap, itu yang akan dibahas Langit.


Ide itu muncul begitu saja, saat Opa Baskoro dan Dad Tian tak menyetujui pilihan cucu dan anaknya itu terjun ke dunia olahraga yang menguras adrenalin itu.


Opa dan Dad meyakini jika pilihan Langit tak menjanjikan untuk masa depan.


Hanya uncle Arka yang mempercayai hal itu, sehingga untuk mengembangkan bakat Langit dirinya mendirikan tim yang bahkan sekarang mendapat julukan tim debutan yang sukses.


Tesis yang dibuat Langit tentu saja dibuatkan berdasarkan riset dan penelitian yang tak gampang.


"Yank, semua sudah disiapkan?" tanya Jingga memastikan.


"Harusnya sih sudah" tukas Langit karena semalam dia sudah memberesi semua.


"Di kamar ada flashdisk di atas nakas? Kepakai nggak?" tanya Jingga.


"Oh ya, hampir aja aku lupa" seru Langit saat mereka berdua di meja makan.


Jingga libur kuliah hari ini dan rencananya akan ikut sang suami untuk ujian.


"Gimana perasaan kamu sayang? Gugup kah?" tanya Jingga saat dirinya menyerahkan barang yang ketinggalan tadi.


"Lumayan lah. Tapi tetap harus berusaha setenang mungkin" terang Langit.


Langit mengemudikan mobilnya ke arah kampus tempat dirinya belajar selama ini.


"Semoga saja lancar yank dan diberikan yang terbaik" doa Jingga saat mereka di jalan memecah jalanan London.


Langit pun mengaminkan doa sang istri.


Tak menyangka sahabat adiknya kini telah bersanding dengannya, dan sekarang menjadi support system bagi Langit.


"Makasih ya. Aku harap kamu akan selalu ada buat aku" ujar Langit.


Wanita cantik nan anggun menawan itu tersenyum menanggapi perkataan sang suami.


"Enggak nyangka, ternyata jodohku kakak. Pria yang aku anggap dingin, sedingin es di kutub...he...he..." celoteh Jingga terkekeh.


"Kalau aku es, maka kamu yang jadi sirup nya yank" tukas Langit menimpali. Mereka pun tertawa tergelak.


Genggaman tangan Langit tak lepas menggandeng Jingga saat mereka berjalan menuju ruangan tempat ujian berlangsung.


Tak seperti kampus Jingga, yang apapun akan jadi perhatian jika dirasa ada yang janggal.


Tapi di kampus Langit, semua sibuk dengan kesibukan masing-masing dan cenderung cuek.


Jadi melihat Langit itu suatu hal yang biasa, dan tak ada jumpa fans seperti yang terjadi di kampus Jingga.


Langit memasuki ruangan saat tiba gilirannya.


Sementara Jingga menunggu di luar ruangan. Bibirnya tak luput bergerak untuk mendoakan Langit agar lancar di dalam.


Padahal yang terjadi di dalam, seandainya Jingga tahu. Langit sangat santai dan rileks menghadapi dosen-dosen yang laiknya temannya itu.


Langit sangat lancar mempresentasikan semua, dan bisa menjawab pertanyaan dan juga mempertahankan pendapat tentang sesuatu yang telah ditulisnya.


Tak terasa satu jam terlewati.


Jingga bolak balik melihat jam yang melingkar di tangan.


"Lama kali dia di dalam" ujar Jingga lengkap dengan mondar mandirnya.

__ADS_1


Langit keluar pura-pura dengan wajah kusut.


Jingga jadi tak tega melihat muka sang suami yang nampak kecewa itu.


Jingga peluk tubuh Langit, "Kalau gagal coba lagi yank. Jangan patah semangat" kata Jingga sembari mengeratkan pelukan untuk menguatkan sang suami.


'Wah, Jingga sepertinya ngira kalau aku gagal' pikir Langit.


"Siapa yang gagal?" celetuk Langit masih dalam pose pelukan.


Ada seorang dosen menghampiri.


"Hei bro, sukses" serunya.


"Thanks" jawab Langit singkat.


"Jadi.... Kamu lulus yank?" tanya Jingga memastikan dan dijawab anggukan pasti Langit.


Jingga kembali memeluk Langit yang sempat diurainya barusan.


"Suamiku memang the best" puji Jingga.


"He...he... Kasih hadiah dong" seru Langit.


"Oke, sampai apartemen akan kubuatkan masakan paling enak dech" jawab Jingga.


"Kutunggu ya" imbuh Langit tersenyum. Dia teringat akan masakan Jingga yang selalu keasinan selama ini.


Tapi untuk menyenangkan sang istri, Langit selalu menghabiskan makanan yang dibuat oleh Jingga. Padahal Jingga sendiri kadangkala tak memakannya.


.


Di negara Indo, di sebuah bandara internasional semua anak buah uncle Dewa tengah berjaga.


Mereka mendapat perintah dari sang bos untuk menyambut kedatangan Daniel, tentu saja tak menampakkan diri secara nyata tapi hanya sebagai bayang-bayang yang akan terus mengikuti kemana perginya Daniel selama di negara ini.


"Ke mana juga ini si Langit" gumam uncle Dewa bermonolog.


"Langit mungkin repot saat ini" gumam uncle Dewa dan kembali menaruh ponsel di atas meja.


Orang yang ditunggu pun akan tiba di bandara tempat anak buah Dewa berposisi di tempatnya masing-masing. Hal itu diketahui saat pemberitahuan di layar, jika penerbangan dari London akan landing sebentar lagi.


Melalui earphone yang terpasang di telinga masing-masing, para anak buah Dewa bersiaga dan berposisi supaya tak mencolok dan menimbulkan kecurigaan.


Menurut prediksi Dewa, tak mungkin Daniel berani datang sendirian.


Tentu dia akan lebih waspada apalagi dia datang ke negara di mana rivalnya berasal.


Pasti sebelum melakukan hal picik terhadap Langit. Tentu saja orang ini sudah menyelidiki Langit sedemikan dalam.


Daniel lebih tahu tentang Langit, tapi tak berlaku kebalikannya. Langit dan tim masih meraba siapa Daniel dan orang-orangnya itu.


Daniel terlalu pandai menyamar, atau memang dirinya membatalkan keberangkatan.


Sampai penumpang terakhir, para anak buah Dewa tak menemukan wajah penumpang seperti yang dishare di grup chat. Salah satunya melaporkan ke Dewa.


Dewa memukul mejanya keras, mendengar laporan anak buahnya.


"Tak menyangka licin juga si Daniel" gumam Dewa dengan mengepalkan tangannya erat.


Panggilan ponsel Dewa kembali terdengar.


"Kalau nggak ketemu, suruh anak buah kamu itu menyingkir" terang Arga.


"Oke" sahut Dewa.


"Aku yakin dirinya keluar lewat jalur private. Karena bisa dipastikan orang itu naik pesawat yang sama, pesawat yang ditunggu anak buah kamu di bandara" lanjut Arga.


Arga telah meretas cctv yang ada di bandara.

__ADS_1


"Bentar, jangan suruh balik dulu anak buah kamu Wa" seru Arga bertolak belakang dari yang tadi.


"Tahan semua di posisi masing-masing! Aku melihat pergerakan seseorang yang mencurigakan. Dari kamera sepuluh, anak buah kamu yang terdekat suruh melihat ke arah jam satu" perintah Arga dengan gamblang.


"Kalian dengar???" seru Dewa ke semua nya lewat alat komunikasi canggih yang mereka miliki.


"Baik tuan" seru semuanya.


"Lihat orang yang duduk dengan topi menutupi muka dan kacamata hitam. Aku rasa dialah Daniel" kata Arga menegaskan.


Untuk hal retas meretas, kemampuan Arga sangatlah mumpuni. Tania yang seorang pengacara terkenal saja, sangat mengetahui hal itu.


Dewa memerintahkan agar separuh anak buahnya fokus ke orang yang disebutkan Arga barusan.


Dan setengahnya lagi tetap fokus ke area lain, karena tak boleh lengah dengan segala kemungkinan.


Dewa, Arga dan para anak buah masih disibukkan dengan pencarian Daniel.


Sementara Langit dan Jingga berjalan hendak ke area parkir kampus, setelah sukses ujian tesis.


Hingga mereka dikagetkan oleh seseorang yang dengan sengaja menyenggol Jingga.


Jingga yang hampir terjatuh, membuat Langit reflek menahan beban tubuh sang istri.


"Ooopppssss, sengaja" katanya.


Langit membelalakkan mata saat melihat orang itu. Orang yang sama, yang sedang dicariin uncle Dewa dan para anak buahnya di bandara.


"Ngapain lo bengong lihat gue? Seperti melihat hantu aja" tuturnya bercanda.


"Gue pindah kuliah di kampus ini. Bosen di kampus sebelumnya" terang nya.


"Biar bisa jadi sohip lo juga sih" canda nya. Sementara Langit masih diam tak menjawab.


Ternyata dia ini sangatlah licin, belut aja masih kalah licin. Batin Langit saat melihat Daniel malah muncul begitu saja di hadapannya, di tengah isu dirinya pergi ke Indo untuk mencari papa kandungnya.


"Lo heran lihat gue di sini?" sela Daniel.


"Enggak heran. Apalagi lo punya uang" tanggap Langit.


"Apapun jalan yang ingin lo lewatin, pasti akan lo terjang kan?" imbuh Langit sinis.


"Ha...ha..." Daniel terbahak.


"Singkirin semua anak buah lo, sebelum anak buah gue bergerak!" bisik Daniel di telinga Langit.


"Ha...ha...pintar juga lo Daniel. Dan yang pasti lo itu kepedean" olok Langit.


"Tak semua yang lo rencanain akan berjalan lancar. Dan gue salah satu penghalang lo" balas Langit dengan membisiki telinga Daniel.


"Jangan pernah libatin orang lain, jika lo ada masalah sama gue. Kita selesaikan secara gentle. Kutunggu lo di lintasan" kata Langit penuh penekanan.


Langit menggandeng Jingga kembali, berjalan menjauhi keberadaan Daniel yang sedang mengepalkan tangannya erat. Tentu saja dirinya tak terima dengan ucapan Langit barusan.


Di mobil, Langit segera menghubungi uncle Dewa.


"Halo uncle, bubarkan semua orang-orang kita di bandara. Daniel sudah mencium semua gerak gerik kita, dan dia membatalkan kepergiannya ke Indo. Buat rencana yang lain" beritahu Langit.


"Darimana lo tahu?" tukas uncle.


"Barusan aku ketemu di sini" jelas Langit membuat uncle Dewa menepuk jidat. Karena hari ini waktunya banyak tersita untuk fokus ke penyambutan Daniel.


"Uncle, rencana lain harus cepat kita susun. Seperti yang aku bilang tadi, Daniel sudah tahu semua yang menjadi plan kita" terang Langit menegaskan kembali.


"Oke, Arga biar aku info tentang ini" tukas uncle Dewa.


Panggilan itu telah berakhir, dan Langit mengajak Jingga untuk langsung balik aja ke apartemen.


To be continued, happy reading

__ADS_1


__ADS_2