
Tinggal Langit yang duduk di depan IGD sembari main ponsel. Menunggu Jingga yang entah kapan siumannya.
Hampir satu jam Langit duduk di sana.
Dia bahkan berpikiran, untuk apa duduk di sini. Nungguin seseorang yang nyatanya bukan siapa-siapa dia.
Saudara bukan, teman bukan apalagi pacar. Tapi rasa kemanusiaan lah yang mendasari semuanya. Itu menurut Langit sih.
"Keluarga nona Jingga" panggil salah satu petugas.
Langit bergegas dan menghampiri petugas tadi.
"Iya kak" jawab Langit.
"Heemmm, anda apa nya pasien? Kakak nya kah?" tanya orang itu membuat Langit hanya garuk kepala.
"Aku bukan siapa-siapa nya, kebetulan aja pasien adalah teman adikku. Dan kebetulan juga aku yang menemukan dia tergeletak di pinggir jalan" jelas Langit.
"Ih bilang aja pacarnya, pake nggak ngaku. Padahal kalian mirip loh. Lakinya tampan, ceweknya juga cantik" seru petugas itu.
Loh dibilangin jujur malah nggak percaya. Tukas Langit dalam hati.
"Oh ya kak, nyariin ada apa?" sela Langit.
"Nih ada resep yang musti diambil. Nanti kalau sudah dapat, serahkan ke dalam ya. Makasih" serunya sembari menyodorkan selembar kertas mungil untuk dibeli Langit.
Langit menjauh dari IGD berjalan ke apotik yang masih berada di area rumah sakit.
Tak sengaja dia bertabrakan dengan sepasang orang tua yang tengah tergesa-gesa di sebuah belokan lorong.
"Eh...maaf...maaf..." kata Langit karena memang kejadian yang tak sengaja.
Laki-laki berumur yang masih nampak tampan itupun memandang Langit.
"Loh, bukannya kamu Langit?" sapanya sembari bertanya.
Langit membalikkan badan dan menatap orang tua yang menyapanya itu.
"Om...Om..." jawab Langit sembari berusaha mengingat nama laki-laki yang pernah diantarnya ke sebuah hotel beberapa hari yang lalu.
"Panggil aja Om Pram" bilangnya.
__ADS_1
"Iya Om Pram. Apa kabar?" sapa Langit menyalami keduanya.
"Baik. Kamu ngapain di sini?" tanya Pramono, ayahnya Jingga.
"Owh. Ini Om, sedang nungguin teman adikku. Maaf Om, saya keburu nih mau ke apotik" bilang Langit.
"Oke...oke" keduanya saling membalikkan badan dan berlalu ke tujuan masing-masing.
Langit yang telah mendapatkan obat pun segera menyerahkan ke petugas yang memberinya selembar resep tadi. Dan dirinya kembali duduk di kursi tunggu depan IGD.
"Langit, apa kamu tahu di mana IGD berada?" kembali Pramono bertemu dengan Langit yang duduk di sebuah kursi panjang.
"Iya Om, itu ruangan IGD" tunjuk Langit.
"Om, mau nyariin siapa? Biar aku yang tanyakan" ucap Langit menawari bantuan.
"Heemmm, aku nyariin kamar anakku. Tadi temannya nelpon, kalau dirinya kecelakaan" beritahu Om Pramono.
Langit tak berpikiran kalau anak Pramono adalah Jingga yang juga saat ini sedang ditunggui olehnya.
"Kutanyakan di bagian informasi. Siapa nama anaknya Om?" tanya Langit yang tahu jika kedua orang tua di depannya pasti letih karena baru datang dari luar kota.
"Hah?" Langit bengong.
"Jingga Ariana nak" sambung om Pramono memberitahu.
"Nggak usah nanya ke bagian informasi dech Om. Kalau nama itu yang Om cari, aku juga tahu" imbuh Langit.
"Kok bisa?" sela ayah Jingga heran.
"Ayo!" ajak Langit.
Langit pun masuk ke ruangan Jingga, yang sementara belum boleh dipindah dari ruang observasi itu.
Mama Jingga langsung menghampiri putrinya yang belum sadarkan diri dan menggenggam tangan Jingga.
"Apa yang terjadi nak? Jangan buat mama kuatir" ucap mama lirih.
"Sudahlah Mah, semoga Jingga tak apa-apa" tukas ayah Pramono.
"Jingga masih dioservasi. Besok baru dilakukan pemeriksaan lengkap. Dugaan sementara karena benturan akibat pelindung kepala terlepas saat Jingga jatuh" beritahu Langit.
__ADS_1
"Loh, kok kamu tahu kronologisnya Langit?" tanya ayah Pramono heran.
"Jangan bilang kamu di sini karena nungguin anak Om" tukas ayah Pramono menimpali.
"Iya Om. Om Pramono orang tuanya Jingga?" tandas Langit.
"Iya" jawab om Pramono.
Setelah itu nampak keduanya telah akrab dan mengobrol.
"Om, karena Om dan tante telah datang. Saya pamit duluan" kata Langit, karena jam sudah menunjukkan hampir tengah malam.
"Baiklah Langit. Terima kasih banyak telah membantu anak kami" seru mama.
"Sama-sama tante" Langit bergegas pergi dari IGD setelah berpamitan dengan orang tua Jingga.
Tak dinyana sepasang suami istri yang ditolongnya beberapa hari yang lalu adalah orang tua nya Jingga.
Sesaat Langit teringat wajah pias Jingga yang diangkatnya tadi. Langit menggeleng berusaha menghilangkan bayangan itu.
"Issshhh kok malah wajah Jingga yang melintas sih" ucap Langit dalam hati.
Langit menggeber mobil sport yang ditinggalin Bintang karena Bintang barengan dengan uncle Reno.
Langit terlonjak kaget kala bunda muncul tiba-tiba dari arah dapur.
"Baru pulang? Gimana keadaan Jingga?" tanya bunda. Mendengar suara bunda, buat adem suasana.
"Tadi sih belum siuman bun. Tapi karena ayah dan mama Jingga sudah datang, aku pulang" bilang Langit.
"Ya sudah. Kamu istirahat aja" suruh bunda dengan lembut.
"Siap bunda cantik" tukas Langit.
"Siapa lagi nih yang ngerayu istriku di tengah malam? Pakai kata cantik lagi" ucap Dad Tian yang barusan gabung membuat Langit jengah dengan keposesifan Dad nya.
"Bun, aku ke kamar" Langit segera berlalu melewati Dad Tian.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading
__ADS_1