
Start telah ditekan. Semua pembalap menggeber gas mobil nya dengan sangat keras.
Jingga menutup kedua telinga. Tak menyangka jika akan sebising itu.
"Berapa desibel nih suara-suara knalpot" gerutu Jingga dalam hati. Maklumlah baru pertama kali nonton balapan live langsung dari sirkuit.
Keenan memberikan headset untuk Jingga.
"Pakailah!" suruhnya.
"Oke, siap kakak" teriak Jingga di telinga Keenan.
Penonton bersorak kala mobil dengan start nomor tiga berhasil menyalip laju mobil Langit.
Sementara Keenan and the gank menepuk jidat sembari mengeluh.
"Yaaaaaaccchhhhh, kesalip" kata mereka bersamaan.
"Semangaaattttt kak Langit" sela Adnan sekalian memberikan semangat untuk suporter yang lain.
"Kak Langit, kak Langit emang siapa dia?" kata Jingga.
"Kamu akan terpesona jika lihat dia" seru Adnan.
Jingga menjulurkan lidah tak percaya.
"Jika lo sampai tak terpesona dengan kak Langit, fix lo pasti punya kelainan" olok Keenan.
Jingga meninju sekuatnya lengan Keenan.
"Gila lo, gini-gini gue normal tahu" balas Jingga.
Putaran ke sepuluh, Langit masih berada di posisi tiga.
Barulah menjelang finis, Langit tengah berusaha menaikkan kecepatan laju mobil.
Semua yang melihat ikut menahan nafas.
Dan saat menjelang finis, Langit berhasil melewati dua mobil di depannya tepat di detik terakhir.
Jingga yang melihat, akhirnya terbawa dengan ketegangan detik-detik kemenangan Langit.
Semua orang di sekitar Jingga ikut bersorak, sepertinya mereka ikut dalam rombongan suporter tim Langit.
Banyak juga cewek berpenampilan seksi ikutan menjadi suporternya. Nyatanya mereka penuh semangat bersorak kala mobil Langit mendapat finis pertama.
Kejadian tak disangka terjadi.
Braaaaakkkkkk, suara benda berbenturan dengan sangat keras.
Jingga mencari sumber suara. Demikian juga yang lain.
Semua terkaget kala mobil yang dikendarai Langit menabrak tembok pembatas, oleng dan sampai terlempar lumayan jauh dengan posisi terbalik beberapa kali.
Jingga sampai tak bisa bernafas, teringat kala dirinya terlempar dari sepeda motor yang waktu itu dikendarai.
Tim mekanik dan juga tim kesehatan berlarian ke arah mobil yang dalam posisi terbalik itu.
Semua penonton yang hadir ikutan menahan nafas, kala salah satu pembalap idola mereka mungkin saja meregang nyawa sekarang.
Suasana hening seketika, menunggu detik-detik evakuasi pembalap yang barusan mendapatkan finis pertama itu.
Semua terlihat di layar besar yang disediakan di arena.
Juru kamera di sana mengabadikannya dengan sangat epic, sehingga penonton dan semuanya ikut terbawa suasana.
Harusnya kemenangan pembalap itu, membuatnya melakukan selebrasi. Tapi hal itu tidak terjadi kala dirinya tergeletak dalam mobil yang terjengkang di arena.
Proses evakuasi sedikit sulit, karena kaki sang pembalap ada yang terjepit.
Jingga bisa melihat.
Kala tim kesehatan membuka helm pelindung kepala, alangkah kaget dirinya.
Langit yang dibicarakan oleh Keenan dan Adnan adalah kak Langit, kakak nya Mega yang juga pernah nolongin Jingga kala dirinya kecelakaan dulu.
__ADS_1
"Jingga, kok malah bengong sih?" Keenan menepuk bahu Jingga.
"Jadi pembalap yang kalian bicarakan itu kak Langit?" ujar Jingga.
"Loh, emang kak Langit. Kemana aja lo?" tukas Keenan.
"Maksud aku, kirain kak Langit yang lain. Kalau kak Langit ini aku kenal" terang Jingga.
"Hebat dong lo, bisa kenal dengan kak Langit yang super dingin itu" sela Adnan.
"Lo dimana kenal nya?" taya Adnan penasaran.
Keluarga Langit bukan keluarga sembarangan, hanya orang tertentu saja yang bisa kenal dengan mereka.
"Adiknya kak Langit itu teman gue" sambung Jingga.
"Eh, jadi teringat Mega. Aku kabarin aja kabar kak Langit terkini" gumam Jingga dan hendak menekan nomor Mega.
Tapi terdengar pengeras yang memberitahukan jika Langit memerlukan darah golongan AB. Dan diutamakan dari orang dengan kewarganegaraan sama. Untuk meminimalir reaksi pemberian transfusi. Note dari tim kesehatan.
Dari semua penonton banyak juga yang maju dan ikhlas memberikan apa yang dibutuhkan Langit.
Tapi dari sekian banyak orang belum ada yang lolos. Karena kebanyakan bukan senegara dengan Langit.
"Andai golongan darah aku sama, pasti akan kuberikan untuk kak Langit yang sudah mengharumkan bangsa" kata Keenan.
"Loh, golongan darahnya apa?" sela Jingga.
"Lo hari ini telmi banget Jingga" olok Adnan.
"AB" seru Keenan dan Adnan bersamaan.
"Ooooooo...sama dong dengan gue" timpal Jingga tanpa merasa bersalah.
"Wah, gila lo. Kenapa nggak sedari tadi bilang sih?" sela Keenan gemas.
"Emang kenapa?" sahut Jingga.
"Jingga, kak Langit sekarang butuh darah yang sama dengan punya lo. Jadi mau nggak lo menjadi pendonornya?" jelas Adnan sejelas-jelasnya.
Dengan diantar Keenan dan Adnan, Jingga ikutan mendekati tim medis.
Adnan lah yang memberitahukan semua.
Bahkan kini Jingga telah berada di rumah sakit untuk menjalankan serangkaian tes untuk memberikan darah buat Langit.
Langit pun telah berada di ruang operasi, untuk penanganan tulang yang patah akibat kecelakaan.
Jingga memenuhi syarat untuk diambil darahnya. Dengan memejamkan mata Jingga takut saat akan ditusuk untuk proses pengambilan darah.
Jingga belum sempat mengabari Mega, karena keburu menjalani serangkaian tes untuk proses donornya tadi.
Ketua tim yang menaungi Langit, menghampiri Jingga untuk mengucapkan terima kasih.
"Boleh aku lihat keadaannya?" tanya Jingga dalam bahasa Indo, karena melihat jika yang mengajak bicara tadi mempunyai garis wajah seperti dirinya.
"Owh, silahkan" tukas nya dengan ramah.
"Tuan Arga, Langit sudah dipindah" seru orang itu kepada orang yang mengajak bicara Jingga tadi.
"Oke" jawabnya.
"Nona, kalau mau ikut bareng sama saya saja" bilang Arga.
"Panggil Jingga saja tuan" pinta Jingga.
"Mari" serunya kemudian.
Jingga yang barusan dilepas jarum yang menusuk lengannya ikutan bangkit perlahan untuk mengikuti langkah Arga.
Saat di lorong rumah sakit yang mewah itu, Arga mendapatkan telpon.
"Sori...Sori...Tian..Langit sudah dapat penanganan nih. Tidak ada trauma kepala. Tapi ada beberapa fraktur di tulang kaki" beritahu Arga.
'Apa itu Dad Tian?' pikir Jingga.
__ADS_1
Di ruang recovery terlihat wajah tenang Langit yang tertidur pulas karena pengaruh obat bius saat di kamar operasi.
"Tuan, apa kak Langit itu kakaknya Mega?" sela Jingga.
"Hei, kamu kenal Mega juga?" sela Arga.
"Teman kuliah" bilang Jingga.
"Kebetulan. Boleh aku minta tolong Jingga" tukas tuan Arga.
"Apa tuan?" kata Jingga.
"Tolong tungguin Langit sebentar, aku akan membereskan tim di lapangan" bilang Arga.
"Loh?" Jingga bengong, kenapa orang ini langsung percaya saja sama dirinya yang notabene baru dikenal oleh Arga.
Jingga yang masih sedikit lemas, menaruh kepala nya di sisi tempat tidur di mana Langit terbaring.
Jingga yang baru pertama kali melakukan donor darah.
Jingga terbangun kala kepalanya terasa tak nyaman dengan posisinya saat ini.
"Huh, capek juga ternyata" gumam Jingga.
Ponselnya berdering, ada nama Keenan di sana.
"Jingga, lo di mana. Kita nyariin lo sedari tadi" bilang Keenan.
"Sori kak, aku barusan ketiduran" beritahu Jingga.
"Yaelah Jingga, kita semua khawatir sama lo. Eh malah lo nya tidur" tandas Keenan.
"Aku di ruang pemulihan" lanjut Jingga.
"Oke, kita meluncur ke sana" sambung Keenan.
"Oke kak" balas Jingga dan langsung menutup panggilan dari Keenan.
Terlihat pergerakan tangan Langit dan membuat Jingga terkaget.
Jingga beranjak dari duduk hendak memanggil yang jaga di depan.
Tapi tangan Langit keburu menggenggam lengan Jingga berusaha menahan.
"Jangan pergi!" katanya lirih tapi bisa didengar jelas oleh Jingga.
Jingga beringsut dan kembali duduk.
Mungkin saja Langit sekarang sedang mengigau karena pengaruh obat bius.
Jingga menunggu tuan Arga yang berjanji hendak balik secepatnya. Tapi sampai hampir dua jam belum nongol juga.
Berita kecelakaan Langit yang sedang bertanding pun sampai juga di grub chat teman kuliah Jingga.
Banyak yang menanyakan kepada Mega tentang kondisi terkini kak Langit.
Tapi tak ada respon apapun dari Mega membuat semuanya ikutan kuatir.
Balasan Jingga cukup melegakan semua, karena Jingga memberitahu seolah-olah dia lah yang menunggu kakaknya Mega itu.
"Lo emang sekamar dengan kak Langit, Jingga?" tanya Firman.
"Kok tahu banget kondisi kak Langit?" tukas yang lain.
"Loh, aku memang sedang nungguin kak Langit yang belum sadar" ketik Jingga.
"Nggak percaya gue. Adiknya aja belum muncul sampe sekarang" tandas yang lain.
Jingga hanya membalas dengan emoji muka orang marah.
Tangan Langit masih menggenggam tangan Jingga erat.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading
__ADS_1