Langit Dan Jingga

Langit Dan Jingga
Podium Again


__ADS_3

Langit dan tim menyiapkan dengan sebaik-baiknya untuk babak kualifikasi hari ini.


Dia tak ingin diintimidasi oleh Daniel dan timnya.


Meski Langit barusan mendapat kabar dari Dad pagi ini, kaki tangan Daniel banyak juga yang berseliweran di Indo.


Siapa Daniel yang sebenarnya belum tuntas diusut oleh orang-orang nya Langit dan juga Dad.


Sejauh ini hanya tahu sebatas Daniel adalah anak biologis Frans yang menjadi musuh Sebastian di masa lalu.


Yang baru-baru ini keluar dari penjara.


Bahkan Frans menghilang begitu saja sesaat setelah bebas.


London yang menjadi tempat tinggal Daniel juga sudah diubek-ubek oleh orang-orang Sebastian di sana. Seperti ada tabir yang memang belum bisa terkuak sampai saat ini.


"Uncle, gimana persiapan hari ini?" tanya Langit menghampiri Arga yang sudah terlebih dahulu datang di sana.


Arga mengangkat jempolnya tanda semua sudah siap.


Babak kualifikasi hari ini Langit mendapat giliran kelima.


Menunggu gilirannya, Langit melakukan video call dengan Jingga.


Kemarin sampai lupa mengabari Jingga karena terlalu disibukkan dengan misi mencari anggota tim yang disandera.


"Halo istriku" sapa Langit tersenyum.


Tidak ada jawaban, hanya melihatkan muka kusut Jingga.


"Loh, baru bangun?" tanya Langit heran.


Tak seperti biasanya Jingga seperti itu. Jam segini pasti bersiap ke kampus.


"Nggak ke kampus kah?" tanya Langit.


"Iya, harusnya begitu sayang. Tapi kalau di sini waktunya udah kelewat" tukas Jingga.


"Kenapa? Sakit kah?" tanya Langit kembali.


"Enggak kok, cuman bawaannya malas aja. Dan selalu ingin rebahan" jelas Jingga.


"Makan aja malas, apalagi ngampus" seru Jingga.


Langit merasa aneh dengan perubahan Jingga yang menurutnya cukup signifikan.


"Makan lah yank, jangan sampai aku pulang cuman ngelihat tulang terbalut kulit loh" canda Langit.


"Malas yank. Aku sebenarnya ingin karedok, tapi beli di mana kalau di sini" ucap Jingga.


"Karedok???" baru kali ini Langit mendengar nama makanan itu.


"Yank, ngapain ini?" tanya Jingga tetap dengan posisi rebahan.


"Nunggu giliran tampil" jawab Langit.


"Sudah seperti artis saja pakai tampil segala" kata Jingga receh.


"Asal kamu tahu, suami kamu ini orang terkenal loh. Nyatanya waktu nyamperin kamu ke kampus ada yang minta tanda tangan" jawab Langit sesuai kenyataan.


Bibir Jingga mencibir.


"Mau kugigit?" tukas Langit.


"Apaan nih, pakai acara gigit-gigitan. Noh di sana sudah mau giliran ke lima" tunjuk uncle Arga ke lintasan.


Langit pun terbahak. Panggilannya dengan Jingga terpaksa diputus sementara, karena sekarang tiba giliran Langit untuk bersiap.


"Bye sayang" ucap Jingga dengan pipi bersemu merah karena olokan uncle Arga barusan.


Langit pun beranjak, dan memakai kostum kebesarannya.


Langit bertekad untuk tampil sempurna di babak kualifikasi kali ini.


Lap demi lap Langit lewati hingga di lap terakhir menunjukkan waktu paling tercepat di antara keempat pembalap sebelumnya.


"Aku rasa waktu kamu cukup baik kali ini. Bahkan rekor sebelumnya yang bertahan hampir satu dekade telah berhasil kamu pecahkan hari ini" kata uncle Arga.


"Really?" tanya Langit tak percaya.


"Iyessss bossss" canda uncle Arga.


Kali ini pembalap terakhir yang mengikuti babak kualifikasi adalah Daniel.


Dirinya harus puas dengan posisi ke tiga untuk perlombaan besok.


Daniel terlihat menendang bodi mobil, karena hasil hari ini tak memuaskan baginya.


Langit punya kesempatan untuk membalas Daniel. Dan menghampirinya

__ADS_1


"Ingat tantangan lo waktu di pesawat kemarin" kata Langit.


"Aku pasti ingat. Tunggu saja besok" balas Daniel.


Daniel pergi menjauh dari Langit.


Hasil babak kualifikasi hari ini memang sangat memuaskan untuk tim Langit.


Mendapat pole positition yang pertama, tentu akan menjadi poin tambahan untuk memudahkan jalan naik podium lagi.


Sorak sorai seluruh anggota tim saat Langit masuk ke ruangan di mana tim berkumpul.


"Setelah yang kita alami kemarin, hari ini Langit sudah lakukan yang terbaik" puji uncle Arga.


Langit juga mengucapkan terima kasih atas dukungan semuanya.


Esok hari dia janji akan melakukan yang terbaik, untuk mendulang kesuksesan ulang.


.


Langit menelpon Jingga saat dirinya akan bertanding pagi ini.


Jingga menunjukkan sesuatu di layar ponsel.


"Apa itu yank?" tanya Langit.


"Surprise" tukas Jingga.


"Apaan? Jangan buat penasaran dong" tanggap Langit.


"Ini" Jingga menunjukkan sebuah benda mirip pengukur suhu badan dengan strip dua di tengahnya.


"Itu apaan?" Langit memang tak tahu alat yang dibawa Jingga.


"Aku positif" bilang Jingga penuh semangat.


"Positif apa?" kejar Langit, membuat Jingga tepuk jidat. Ternyata suaminya yang cerdas itu tak mengetahui alat tes pack yang dibawanya.


"Beneran tak tahu?" Jingga menegaskan.


Gelengan Langit lah yang didapatnya.


"Ini tes pack yank" beritahu Jingga.


"Terus kok hasilnya positif, maksudnya apa?" Langit masih saja bertanya.


"Tentu saja aku hamil sayang" jelas Jingga.


"Kok bengong sih? Beneran ini" seru Jingga membuat Langit melonjak kegirangan.


Semua pandangan anggota tim mengarah ke Langit.


Aneh aja, Langit yang biasa bagai es balok bisa segirang itu.


"Ada apaan sih?" kata Arga menghampiri dan langsung memegang kening Langit.


"Gue sehat uncle" Langit memindahkan tangan uncle Arga yang pasti mengira jika dirinya kurang sehat.


"Tapi kenapa lo bertingkah aneh barusan?" tanua Arga yang ikut penasaran juga.


Jingga masih ikut mendengar gurauan Langit dan rekan-rekan tim nya.


Bahkan Jingga juga ikut mendengar Langit yang bercerita dengan semangatnya kepada rekan se tim kalaulah istrinya hamil.


Semua mengucapkan semangat ke Langit.


Jingga ikut senang mendengarnya.


"Sayang, I love you" bilang Langit ke arah layar ponsel setelah semua temannya memberinya ucapan selamat.


"Love you too. Jaga fisik dan fokus ke perlombaan sayang" kata Jingga menyemangati.


"Tentu" tukas Langit tak kalah semangat setelah mendapat berita baik dari sang istri.


Dengan berbinar Langit menuju mobil yang akan membawanya ke podium juara lagi. Semoga.


"Kali ini tak perlu kita ragukan lagi semangat pembalap kita" seru uncle Arga.


Suasana hati Langit amat sangat baik hari ini.


"Tapi ingat, tak boleh lengah sedikitpun bro" sambung uncle Arga.


"So pasti" kata Langit penuh semangat.


Langit telah bersiap, sembari mengangkat jempolnya ke arah tim Langit melajukan mobil perlahan dan menempati pole pertama.


Dengan tetap fokus Langit menunggu aba-aba di depannya. Saat bendera terangkat, Langit injak pedal gas dalam-dalam dan dia geber mobilnya.


Mobil yang digawangi oleh Langit langsung saja melesat dan terus memimpin perlombaan sampai Langit masuk pit stop yang pertama untuk isi bahan bakar dan juga ganti ban.

__ADS_1


Tim Langit masuk yang tercepat dalam urusan di pit stop.


Langit kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.


Di beberapa tikungan dia berhasil menyalip mobil di depannya.


Mobil-mobil yang belum masuk ke pit stop tentunya.


Kembali Langit memimpin yang paling depan.


Sampai di lap terakhir, Daniel yang kini berada di urutan kedua tepat di belakang Langit beberapa kali mencoba menikung untuk menyalip Langit dari berbagai arah.


Langit masih dalam mode waspada, dia tak akan membiarkan Daniel dengan mudahnya menuju podium utama.


Apalagi saat ini Langit tidak berada dalam situasi tertekan seperti race sebelumnya.


Dengan santainya dia menggeber mobil dan seperti disengaja untuk menghalangi Daniel dari segala posisi.


Tinggal seratus meter terakhir dalam track lurus Langit injak pedal gas dalam, Daniel pun demikian.


Hingga sampai garis finis, jarak Langit dan Daniel hanya berjarak setengah mobil dan sampai hampir beriringan.


Langit berhasil mempertahankan posisi pertamanya dan Daniel juara kedua.


Selalu saja begitu sampai di race ketiga.


Bahkan Daniel tak mendapatkan kesempatan naik podium saat race kedua di Aussie.


Langit naik podium dengan tawa super lebar.


Selain dapat piala, hari ini dirinya dapat kado terindah dari sang istri yang memberinya kejutan sebelum Langit turun ke lintasan.


Jingga yang hanya dapat melihat melalui saluran televisi live, tentu saja bangga saat melihat Langit naik podium ketiga tahun ini.


Sampai berkaca dirinya melihat itu. Langit nampak gagah sambil mengangkat piala tinggi-tinggi.


Saat mengucapkan terima kasih, Jingga dia sebut sekilas. Karena Langit tak ingin membahayakan Jingga suatu saat.


Dan Jingga tahu akan hal itu karena pernah mengalami penculikan yang membuat dirinya sebagai korban saat itu.


Langit langsung menelpon sang istri saat turun dari podium.


Semua bersorak untuknya.


Langit tertawa lebar ke arah semua pendukung yang hadir di tribun.


Saat dekat dengan tribun vip, Langit lempar buket bunga yang dipegang dengan tetap mendekatkan ponsel ke telinga menunggu panggilan tersambung.


Tapi sepertinya Jingga sedang tak pegang ponsel, hingga pangilan Langit beberapa kali mati dengan sendirinya.


Pasti dia mager lagi. Tebak Langit.


Gegap gempita kemenangan Langit kali ini, disambut hangat oleh anggota tim yang ada.


"Ntar malam harus kita rayakan kemenangan ini. Dan khusus untuk Langit tak boleh pergi duluan. Tak afdol jika sang bintang utama tak ikut serta nanti malam" ucap uncle Arga yang sepertinya memaksa Langit untuk ikut.


"Aku harus ijin perdana menteri dulu dong uncle" jawab Langit belum mengiyakan.


"Perdana menteri?" tukas yang lain.


"Iya. Jingga Ariana perdana menteri aku" ujar Langit, membuat yang lain tertawa menanggapi.


Semenjak menikah ada aura positif yang mempengaruhi Langit, sehingga nampak berbeda.


Langit lebih sering senyum dan semakin tak irit bicara.


Langit kembali menelpon Jingga dan sekali lagi hanya suara operator ramah yang bisa didengar oleh Langit.


Hingga kembali ke hotel, sampai Langit ketiduran karena saking capeknya panggilan Jingga belum juga masuk ke ponsel Langit.


.


Di apartemen badan Jingga terasa lemas karena muntah barusan.


Jingga buat teh hangat manis untuk mengurangi sisa rasa mual yang dirasa.


Karena merasa lemas, Jingga rebahkan dirinya di ranjang hingga dirinya terlelap.


Hampir dua jam Jingga tertidur.


Barulah dia teringat akan ponsel yang dia tinggalkan begitu saja di depan tivi tadi.


Saat hendak berdiri, gantian pening melanda.


Jingga pun mengurungkan niatnya untuk mengambil ponsel dan kembali merebahkan diri.


Pening itu berangsur menghilang.


"Apa begini rasanya hamil ya? Kenapa mulut terasa pahit juga" keluh Jingga sambil menatap langit-langit kamar.

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


To be continued, happy reading


__ADS_2