Langit Dan Jingga

Langit Dan Jingga
Jingga Hilang


__ADS_3

Mutia mencoba menghubungi suaminya. "Smoga aja diangkat dan rapatnya sudah selesai" gumam Mutia.


Hingga datanglah salah satu pengawal yang berpencar tadi dengan tergopoh.


"Ketiwasan nyonya..." serunya.


"Apa maksudnya?" sela Dena.


"Kita kecolongan nyonya, nona Jingga belum ditemukan. Sementara teman saya pingsan di depan toilet ruang vvip tempat Nona dirawat.


"Gimana ini Dena?" Mutia mulai cemas.


"Pengawal begitu banyak, tapi kok masih kecolongan juga ya kak?" celetuk Dena heran.


"Tinggal pulang saja, kok ya ada-ada saja" tukas Mutia menepuk jidatnya sendiri.


"Pasti yang nyulik Jingga sudah lebih dulu tahu celah kak. Nyatanya pengawal banyak juga belum bisa menjamin keamanan Jingga" seru Dena.


"Dewa ini gimana sih? Ngirim anak buah nggak becus semua" kata Dena sengit menyalahkan Dewa. Padahal Dewa suaminya sendiri loh.


"Husssssttt...semua sudah terjadi. Sekarang tinggal bagaimana kita mencari Jingga" sela Mutia.


"Lagian kamu juga ngapain pakai nyusul ke sini segala? Semua yang kita bicarakan tadi harusnya dibahas di kantor aja. Iya kan? Aku kan bisa ndampingi Jingga. Jadi hal seperti ini nggak akan terjadi" seru Mutia.


"Kakak kok malah nyalahin gue. Semua sudah terjadi kak" imbuh Dena.


Ponsel Mutia berdering. Kali ini suami tersayangnya yang balik nelpon. Baru selesai rapat sepertinya.


"Halo sayang" suara Sebastian terdengar di ujung ponsel.


"Sayang, Jingga hilang" kata Mutia langsung pada intinya.


"Jangan bergurau dech. Bukannya Jingga sudah dibolehin pulang" imbuh Dad Tian.


"Kok tahu? Aku kan belum ngasih tau" tanya Mutia heran.


"Notif M banking lah" seru Dad Tian.


Di ponsel Mutia, terdengar suara Dewa yang juga memberitahu jika Jingga hilang.


Salah satu anak buahnya ditemukan pingsan di toilet ruang vvip.


"Kalau Dewa yang laporan, baru percaya kan?" tegas Mutia.


"Aku juga percaya sama kamu kok yank. Langit gimana? Sudah tahu?" tanya Tian.


"Apa sebaiknya Langit jangan dikasih tau dulu? Aku takut pecah konsentrasi Langit menghadapi pertandingan" usul Mutia.


Dad Tian belum menjawab tapi yang terdengar di telinga Mutia adalah "Dewa, kerahkan banyak anak buah untuk mencari keberadaan Jingga" perintah Sebastian.


"Enak aja, mau ngajak main-main mereka" lanjut kata Sebastian dengan sengit dan terdengar masih ngobrol dengan Dewa.


Mutia menutup panggilan telpon dengan sang suami. Mendengar sang suami sudah memberikan mandat untuk Dewa dan berharap Jingga segera ditemukan.


Berita hilangnya Jingga di area rumah sakit sampai juga ke telinga Bara.


Kejadian seperti ini seperti mengulang masa lalu, yaitu hilangnya Tania istri Arka Danendra.

__ADS_1


Tapi Jingga bukan lah Tania, yang punya berbagai macam cara untuk mengelabui sang penculik.


Bara menghampiri Mutia istri Sebastian yang masih mondar mandir di depan area rumah sakit.


"Jingga hilang? Kita lihat di pusat cctv aja dulu" ajak Bara.


"Sudah kabarin Tian?" tanya Bara.


Mutia mengiyakan sembari mengikuti langkah Bara.


Dilihat dari rekaman cctv, pergerakan wanita yang melumpuhkan pengawal yang mendorong Jingga hanya dalam waktu detik. Pengawal itu jatuh tak berkutik tepat di depan toilet. Sama dengan tempat ditemukan oleh rekannya tadi.


Pengawal yang banyak pun masih kurang jika penculik Jingga sangatlah cepat pergerakannya.


Jingga terlihat masih mengunyah makanan, yang tak lama kemudian terlihat Jingga pingsan. Semua terlihat di cctv. Kecuali wajah wanita bermasker yang mendorong Jingga.


"Siapa dia?" gumam Mutia.


Bara memukul meja. Dia merasa kecolongan lagi karena kejadian ini.


Mutia juga merasa bersalah karena membiarkan Jingga hanya bersama pengawalnya saja.


Sebastian terlihat menelpon Bara.


"Tolong telusuri mobil apa yang bawa Jingga pergi. Aku akan mulai dari situ" sigap Dad Tian.


Meski sedikit terlambat karena kejadian lebih dari tiga puluh menit yang lalu.


Dewa mengumpulkan seluruh pengawal yang siaga di rumah sakit saat baru sampai di sana.


Intinya Dewa kecewa dengan sepak terjang mereka. Kenapa tak siaga saat Jingga akan dibawa pulang.


Diare secara bersamaan.


"Ini aneh" gumam Dewa.


'Apa ada yang sengaja meracuni mereka dengan makanan?' tanya Dewa dalam hati.


"Apa sebelum kejadian ada yang makan sesuatu?" tanya Dewa.


Semua nampak berpikir.


"Oh ya tuan, aku tadi dikasih gorengan oleh salah satu penunggu pasien. Nggak mewah sih, hanya bakwan jagung" ujar salah satu.


"Kok bisa sama, aku juga ada yang kasih sih" seru yang lain.


Yang lainnya lagi ikut bengong karena merasa sama. Mendapat makanan yang sama pula.


Dewa membuka ponsel karena ada sebuah pesan dari bos nya untuk mencari siapa sebenarnya wanita yang ada dalam gambar dan nampak sekali jika itu cewek.


"Apa wanita ini yang berikan kalian bakwan?" tanya Dewa kepada para pengawal. Dan semuanya mengangguk.


Menurut analisa Dewa, pasti wanita ini sudah mengenal siapa saja orang yang ditaruh Dewa di rumah sakit.


Otaknya pintar juga, sebelum membawa Jingga. Dia lumpuhkan dulu para pengawal.


"Hhhmmm pintar dan licik" gumam Dewa.

__ADS_1


"Jelas orang ini sengaja cari masalah" lanjut Dewa dalam gumam.


Dewa membalas pesan Sebastian dan siap untuk melaksanakan perintah sang bos.


"Huh, mau main-main sama Blue Sky" gerutu Dewa lagi.


Bara yang barusan dari ruang cctv bersama Mutia, "Sudah dikirimin Tian sosok yang diduga pembawa Jingga kan?" tanya Bara.


"Sudah, dan terduganya adalah seorang wanita. Gila nggak tuh" seru Dewa.


"Oh ya nyonya Mutia, sebaiknya anda pulang dulu aja. Sudah kusiapkan pengawal lain yang lebih siaga kali ini" kata Dewa.


"Oke. Dena juga biar bersama aku sekalian" kata Mutia.


Dena yang sedari tadi ikutan sibuk membantu mencari menyetujui usulan Mutia.


"Iya, aku barengan kak Mutia aja. Abis ini kamu pasti akan sibuk banget dengan urusan sama tuan bos" seru Dena kepada sang suami.


Dewa tersenyum kecut menanggapi.


Bara mendekati Dewa.


"Wa, lihat ini!" bilang Bara menunjukkan layar ponsel sepeninggal Mutia dan Dena yang telah pulang duluan.


Dewa pun mendekat ke arah Bara dan ikutan melihatnya.


"Apa kamu tak curiga dengannya?" tanya Bara.


"Wanita ini? Jelas saja. Gambar wanita ini kan yang kamu share ke bos tadi?" tukas Dewa.


"Coba amati lagi pergerakannya" suruh Bara.


"Nggak ada yang aneh" kata Dewa.


"Coba amati lagi" tandas Bara.


Dewa melakukan apa yang diminta oleb Bara. Dan detik berikutnya Dewa memandang Bara.


"Sudah ngeh apa yang aku maksud?" tanya Bara dan Dewa pun mengangguk.


"Bodohnya semua, bisa dikelabui oleh wanita jadi-jadian ini" gerutu Dewa.


Dewa menghubungi temannya yang bisa melacak keberadaan sebuah plat nomor kendaraan.


"Sori Wa, nopol yang kamu kirim barusan setelah aku cek ternyata nomor bodong" bilangnya dalam sambungan telpon.


Dewa menepuk jidat, akan semakin sulit misi pencarian Jingga.


.


Jingga mulai menggerakkan badan yang terasa berat.


Jingga memicingkan mata karena silau akan cahaya ruangan.


Jingga hendak memijit kepalanya yang masih terasa pusing. Tapi pergelangan tangannya serasa sulit bergerak.


"Kenapa badan aku sulit banget bergerak?" gumam Jingga.

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


to be continued, happy reading


__ADS_2