
Kehamilan Jingga ini hampir sama dengan aunty Tania.
Sama-sama kebobolan.
Pikiran Langit musti terpecah lagi untuk persiapan musim depan.
Jingga pun demikian. Antara tugas akhir kuliah, tumbuh kembang Eka dan juga kehamilan yang sebenarnya tak terencana itu.
"Kita harus bagaimana sayang?" Jingga masih nampak bimbang.
"Kita jalani saja dengan ikhlas. Bagaimana lagi, itu amanat yang diberi sama yang kuasa" nasehat Langit.
.
Meski sudah lebih tiga bulan hamil Jingga masih saja mengalami mual muntah, sehingga untuk konsul ke pembimbing diberikan dispensasi untuk konsul online saja.
Sementara Langit tengah bersiap untuk menghadapi balapan dan juga fokus dengan kerjaannya.
Meski tak lupa Langit untuk memanjakan sang istri jikalau senggang.
Meski tak semanja waktu hamil pertama, Langit tetap saja mendampingi sang istri saat periksa kehamilan.
"Sayang, aku berangkat dulu" pamit Langit pagi itu.
"Jadi latihannya?" seru Jingga yang juga tengah sibuk menggendong sang putra.
"Jangan sering-sering buat gendong Eka, kasihan yang ada di perut" ucap Langit.
"Ini juga nggak lama-lama kok sayang. Kangen juga kalau tak nggendongin" Jingga menciumi pipi embul Eka, sementara bayi itu tergelak karena kegelian.
Langit malah ikutan nyium keduanya.
"Jadi berangkat nggak nih?" tanya Jingga saat sang suami belum juga beranjak dan bermain dengan putranya.
"He... He.... Jadi dong. Bisa digantung gue sama uncle Arga" Langit terbahak.
.
Sampai di tempat latihan, Langit sudah disodori dengan timbangan berat badan oleh uncle Arga.
"Kalau belum turun, gue suruh balik" ucap Arga.
"Ha... Ha... Gue balik aja" balas Langit dan hendak balik kanan.
Tapi keburu Arga menarik lengannya, "Jangan kabur" cegahnya.
"Tuh lihat, sudah bergeser ke kiri kan? Nggak percayaan amat" canda Langit.
"Oke. Kita mulai hari ini" Arga memberi kode ke semuanya untuk menyiapkan segala sesuatunya.
__ADS_1
Dan kini Langit telah berada di lintasan.
Setelah mengalami beberapa pembaruan, Langit merasakan kemajuan yang signifikan terutama performa keadaan mobil yang di tunggangi.
"Uncle Arga memang terbaik" puji Langit saat dirinya turun dan mengakhiri sesi latihan.
"Persiapkan dirimu sebaik mungkin untuk menghadapi seri ini" ujar uncle Arga.
"Siap bos" tukas Langit sekaligus pamit hendak pergi ke perusahaan.
.
Pagi itu Jingga mengalami mual muntah yang hebat, saat Langit akan berangkat menghadapi kejuaraan seri pertama.
"Kenapa selalu begini ya yank? Maaf, aku buat kamu banyak pikiran" ujar Jingga.
"Ke rumah sakit aja ya?" kata Langit dan dijawab gelengan Jingga.
"Kamu bisa dehidrasi loh yank, sedari malam nggak masuk apa-apa?" imbuh Langit.
"Aku pakai tiduran aja" tolak Jingga.
"Kamu berangkat aja yank. Aku nggak apa-apa kok" sambung Jingga.
Langit jadi dilema.
Seperti menghadapi persalinan Eka waktu itu. Antara berangkat dan tidak.
"Kenapa Jingga?" tanya bunda yang menyusul keberadaan suami istri itu di kamar.
"Emesis bun. Sedari malam muntah mulu" terang Langit.
"Kenapa nggak dibawa ke rumah sakit sih?" ucap bunda menimpali.
"Aku pakai istirahat saja bun" jawab Jingga dengan mata terpejam.
"Lemes begini kok mau istirahat saja. Kak, kamu berangkat aja, sudah ditungguin Dad tuh di depan. Jingga biar sama bunda aja" kata bunda dengan bijak.
"Tapi bun" Langit ragu untuk meninggalkan sang istri.
"Kamu berangkat aja yank" suruh Jingga.
"Aku telponin dokter pribadi aja dech. Kalau dia tak bisa tanganin, nanti biar bunda aja yang bawa Jingga ke rumah sakit" kata bunda.
"Ngrepotin bunda terus jadinya" ulas Langit.
"Kak. Sudah dech percaya sama bunda" tatap serius Mutia.
"Iya dech bun" meski ragu, Langit tetap berangkat bersama Dad.
__ADS_1
Seperti biasanya, pikiran Langit selalu terpecah antara lintasan dan Jingga.
Meski sebelumnya Langit selalu berhasil mengatasi semua.
"Kenapa lo? Suntuk sekali" sambut Arga.
Langit belum menjawab tapi sudah duduk aja di depan Arga.
"Kenapa dia?" tanya Arga ke Tian.
"Mikirin istrinya" seru Dad Tian.
Dad Tian yang biasanya cukup berada di tribun, kali ini ikut gabung bersama yang lain di paddock.
"Mana Langit?" Arka yang barusan masuk.
"Kalau kamu kacau, kita bisa loh mengundurkan diri" ucap Arga.
"Jangan uncle. Aku akan berusaha mengatasinya" bilang Langit.
"Emang dia kenapa?" sela Arka yang belum tahu ceritanya.
"Jingga sedang emesis" ucap Dad Tian.
"Sori Langit, emesis pada kehamilan itu fisiologis loh" ucap Arka yang juga seorang dokter itu.
"Itu aku juga tahu uncle. Tapi Jingga mulai sore kemarin muntah terus" jelas Langit.
Kenapa nih bapak-bapak malah ngobrolin masalah kehamilan yach. Padahal yang lebih penting kan persiapan turun lintasan.
Tania yang berada di sana karena ikutan Arka suaminya aja dibuat heran oleh ulah suami dan teman-temannya itu.
"Sudah jangan banyak dipikirin, aku balik aja. Biar Mutia aku temenin" usul Tania.
"Sendirian yank?" tanya Arka menegaskan.
"Hemmmm" Tania mengangguk.
"Oh ya Langit, fokus saja ke seri ini. Jingga biar menjadi urusan aunty sama bunda kamu" terang Tania sekaligus mengambil tas yang tadi sempat dirinya taruh.
"Sayang hati-hati" Arka mengantar sang istri sampau pintu keluar dan tak lupa menyuruh anak buahnya untuk mengantar.
Langit jadi lebih tenang sekarang.
"Oke, siap-siap semua" perintah Arga.
Langit juga mengambil posisi seperti biasanya.
Kali ini Langit juga mendapat pole position.
__ADS_1
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
To be continued, happy reading