
Sementara Langit masih menikmati kebersamaan dengan baby barunya.
Ponsel Langit berdering siang itu.
"Share alamat kamu! Uncle di London nih" kata Arka terdengar saat panggilan tersambung.
Ternyata selepas pesta kemenangan tim singa merah, Arka dan Tania langsung terbang nyusulin Langit.
Tentu saja ingin jenguk baby LJ yang baru dua hari lounching.
Langit mengirimkan lokasi ke ponsel Arka.
Keluarga besar dan tetangga sebelah rumah saling berkumpul di London. Tempat tinggal Langit.
Ramai pasti suasana.
Jingga yang telah pulih dari rasa capek pasca melahirkan pun ikutan kumpul bersama.
Tentu saja kehadiran aunty Tania menjadi booster sendiri bagi Jingga.
"Langit, sudah saatnya kamu umumin nama cucu Dad" kata Dad Tian di tengah abrolan.
"Nama anak aku Dad" jawab Langit.
"Sudah dibilangin sama aja" tukas Dad Tian.
Mutia hanya bisa geleng kepala mendengar obrolan suami dan anak pertamanya itu.
"Apa benda di angkasa lagi namanya?" sela papa Reno.
"Kan sudah ada nama Bintang, Langit, Jingga, Awan, Mega. Kalau cucu mau dikasih nama planet kah?" imbuh mama Catherine menimpali ucapan sang suami.
Langit dan Jingga saling pandang.
"Jangan-jangan apa yang dibilang mama Catherine betul tuh?" sela Bintang yang melihat Langit dan Jingga saling pandang itu.
"He...He..." Langit malah terkekeh saat semuanya penasaran dengan calon nama bayinya.
Jingga hendak mengucapkan sesuatu, tapi ditahan oleh Langit yang sepertinya sengaja menunda waktu untuk memberitahu semuanya. Hingga semua tak sabar dan mengeroyok papa baru itu.
Langit terbahak saat semua menggelitiki dirinya, karena gemas.
"Oke... Oke... Aku umumin" kata Langit pada akhirnya.
Dengan berpura menarik nafas dalam, Langit mengatakan sesuatu.
"Issshhh lama banget. Dad aja yang kasih nama" ucap Tian jengah.
"Apaan sih Dad? Masak kasih nama putraku juga akan dimonopoli lagi. Nggak akan" tolak Langit.
Dan akhirnya Langit mengumumkan jika nama putranya adalah "Jupiter Eka Putra Baskoro".
"Tuh kan benar apa yang aku bilang" seru Mama Catherine.
__ADS_1
"Keluarga kurang ide" olok Arka yang sedari tadi hanya diam.
"Biarin, ntar dipanggil Eka aja. Biar nama-nama benda langitnya hilang" ucap Dad Tian menyela.
.
Keseharian Langit mulai ada yang berubah sekarang.
Sebelum mengantar istrinya ngampus dan berangkat ngantor, pasti akan menyempatkan main dengan sang putra. Sementara Jingga sibuk dengan urusan pumping.
Sementara keluarga yang lain sudah pada balik dengan kesibukan masing-masing.
"Yank, hari ini full kah ke kampus? Kasihan tuh sama Eka kalau kelamaan" kata Langit yang sedang menimang bayi.
"Tinggal nunggu proposal deal aja. Abis ini sibuk dengan tesis. Sama seperti kamu dulu" jelas Jingga.
"Kamu kerasan nggak di sini?" tanya Langit tiba-tiba.
"Kok nanyanya gitu? Selama ada kamu dan adik tentu saja aku harus ada" kata Jingga menjawab.
"Ada keinginan balik ke Indo nggak?" lanjut Langit.
"Rencana awalnya sih gitu. Tapi sejak menikah, kamu dan juga Eka jadi prioritas aku dong" jawab jujur Jingga.
Langit tersenyum.
"Yuukk berangkat" ajak Langit saat Jingga telah siap.
Saat ini Langit tengah berada di masa jeda, libur panjang dalam turnamen.
Keluarga besar lah yang lebih mengalah dengan sering bolak balik London Indo hanya untuk menjenguk cucu dan buyut pertama keluarga Baskoro.
.
Di kantor, asisten nya tengah menyambut kedatangan Langit.
"Tuan, hari ini ada tamu yang hendak bertemu dengan anda" beritahunya.
"Siapa?" Langit berjalan ke arah lift.
"Tuan Daniel" jawab sang asisten.
"Daniel? Tim Tiger?" perjelas Langit.
"Benar tuan"
"Tumben?" tanya Langit.
"Katanya sih ada hal penting yang ingin disampaikan kepada anda" jelas asisten Langit yang bernama Romi itu.
"Jam berapa dia ke sini? Jadwal aku hari ini keganggu nggak?" tegas Langit.
"Enggak kok tuan, sudah kucarikan jadwal yang kosong" imbuh Romi.
__ADS_1
"Oke" Langit pun menyetujui.
Selepas makan siang, sesuai yang dijadwalkan oleh Romi. Daniel datang khusus untuk menemui Langit.
Melihat sepak terjang Daniel sebelumnya, tentu saja membuat Langit waspada.
Ada apa dengan kedatangan Daniel kali ini.
"Halo Langit" dan Langit pun mendongak untuk menyambut Daniel.
"Silahkan duduk" ujar Langit menyilahkan.
"Ada keperluan apa ya?" telisik Langit karena sebelumnya Romi sang asisten juga tak kasih tau apapun.
"Apa asisten kamu tak bilang kalau aku ke sini? Asisten macam apa tuh?" tanya Daniel.
"Pasti lah dia bilang. Kalau nggak bilang, bagaimana bisa lo duduk di sini" seru Langit.
"Cuman dia nggak bilang tujuan lo ke sini" terang Langit melanjutkan.
"Kamu tahu kan perusahaan aku yang kamu beli?"
"Pertanyaan aneh. Jelas saja aku tahu pasti. Apalagi sekarang di bawah kendali aku" tukas Langit.
"Uang hasil penjualan perusahaan warisan keluarga itu telah habis di tangan Frans sialan itu" kata Daniel dengan mengatupkan gigi-giginya.
Langit menautkan alis. Ngapain dia ceritakan semua padaku, emang aku emaknya. Pikir Langit.
"Langit, gimana dengan musim depan?" tanyanya.
"Biasa saja. Kan sudah ada yang siapkan. Sekali tempo aja kita latihan, agar tak lupa dengan lintasan" ucap Langit menjawab.
"Benar juga sih. Beruntung kamu punya tim yang solid" kata Daniel.
"Tim sudah layaknya keluarga kedua bagiku" terang Langit.
"Oh ya sebenarnya aku ke sini mau..." Daniel menjeda ucapannnya.
Langit juga diam tak menjawab.
"Mau perusahaan kamu jadi sponsor tim aku" ulas Daniel pada akhirnya mengutarakan maksud kedatangannya.
"Apa lo nggak salah orang? Bagaimana bisa lo mencari sponsor yang nyata-nyata kepunyaan rival lo" Langit merasa aneh.
"Bukannya singa merah adalah milik perusahaan Panapion? Perusahaan kamu ini kan tak terlibat sama sekali di sana?" tanggap Daniel.
"Sori gue nggak bisa" Langit langsung memutuskan.
Panapion dan Blue Sky bukanlah perusahaan saingan, tentu saja Langit menjaga persahabatan Dad dan juga uncle Arka.
Dengan dia mensponsori tim Daniel, sama saja menggugah harimau tidur. Langit akan bermusuhan dengan Arka dan juga Dad nya sendiri.
Daniel menatap tajam ke arah Langit.
__ADS_1
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
To be continued, happy reading